Eros Love

Eros Love
Semuanya Baik



Beberapa bulan kemudian...


Waktu berlalu begitu saja. Siswa siswi kelas 12 telah selesai dengan pendidikan nya, perjuangan mereka selama 12 tahun ini tak sia-sia hingga mereka sampai pada titik akhir. Usai acara pengukuhan dan perpisahan, sesi foto adalah hal yang begitu heboh.


"Selamat ya Nak" Kedua orang tua Abian menghampiri Keyla yang berdandan begitu cantik hari ini. Wanita paruh baya itu memberikan buket bunga yang begitu indah kepada Keyla.


"Mama, makasih" Keyla memeluk erat mertuanya itu dengan sayang. Ia benar-benar merasa beruntung bertemu dengan keluarga Abian yang menerimanya dengan begitu baik dan penuh dengan kehangatan.


Sang Papa mengusap sayang rambut menantunya, "Lanjut dokter ya Key?"


"Eee kalau itu..." Keyla melirik kepada Abian yang ada di sampingnya, mereka selama ini belum sempat membicarakan tentang planning ke depannya.


Abian paham lirikan mata dari Keyla, ia tersenyum begitu manis pada bidadarinya itu, "Iya Pa, Keyla lanjut kuliah kedokteran" Tutur Abian yang mendapatkan respon positif pula dari kedua orang tuanya itu.


Tak lama kemudian orang tua Keyla turut bergabung, "Foto yuk, kita gak ada foto keluarga lagi habis pernikahan itu" Tutur sang ibunda.


"Iya betul juga ayo ayo"


Mereka segera pasang posisi di samping para anak-anak mereka yang sudah menuntaskan pendidikannya di usia 18 tahun ini. Tersirat senyum begitu bahagia di wajah mereka. Ada rasa haru, juga di mata kedua orang tua itu karena anak-anakya tak terasa sudah begitu dewasa hingga saat ini mereka menyaksikan kelulusan anak-anaknya dengan penuh rasa bahagia.


Abian membungkukkan dirinya untuk menyesuaikan tinggi badannya dengan Keyla, ia berbisik di telinga gadis itu, "Mau punya anak berapa Key?" Godanya. Karena setelah saat ini, status pernikahannya dan Keyla bebas dari peraturan sekolah.


Keyla membulatkan matanya mendengar bisikan setan yang masuk ke telingannya, "Bian" Menatap kesal pada lelaki itu.


"Ahaha"


Sore hari…


Karin menginjakkan kakinya di tempat yang begitu tenang, di hadapannya sudah ada begitu banyak rangkaian salib di atas gundukan tanah. Iya, dia berada di kawasan kuburan, di tangannya sudah ada bunga mawar merah dan taburan bunga yang akan ia tabur di atas makam Akiel.


Laki-laki yang sudah memberikan organnya demi keselamatannya.


Walau ada rasa malu dan sakit yang bersamaan menumbuk hatinya, Karin tetap memperkuat keyakinannya untuk masuk dan menyapa pada Akiel. Ia melangkah mencari-cari tempat lelaki yang pernah mengisi hatinya itu dan berakhir menemukan Olivia yang sepertinya baru selesai berkunjung masih dengan pakaian yang sama dengan waktu kelulusan tadi.


Mereka saling beradu tatap.


"Karin"


"Liv" Karin sedikit bergetar kala berhadapan dengan Olivia yang merukan sahabat Akiel sedari kecil, "Lo di sini juga ya?"


Olivia tersenyum tipis lalu mengangguk, ia tahu apa yang dilakukan Karin ke tempat ini. Olivia merasakan cinta sahabatnya dengan perempuan di depannya ini bukan main kuatnya, hanya saja takdir tak ingin mereka bersama, "Udah lebih 40 hari ya Akiel meninggal" Tutur Olivia sembari menatapi makam sahabatnya itu, rasanya ia baru saja mengenal Akiel walau kenyataannya mereka lebih dari sepuluh tahun berteman.


Karin menunduk, tak tahan untuk tak menangisi kebodohannya selama ini pada laki-laki yang sebegitunya berkorban baginya yang sudah menghiraukan Akiel selama mereka bermasalah, "Gue jahat banget ya Liv ke Akiel" Tutur Karin penuh kesesakan, "...bisa-bisanya dia masih berbaik hati ke gue yang udah berkali-kali nyakitin dia"


Olivia menatap kosong pada Karin yang menangis di depannya, sebenarnya ada rasa begitu enggan untuk menatap perempuan ini tapi Olivia sadar di dalam tubuh gadis itu ada jiwa Akiel yang menempatinya hingga ia mau tak mau menghiraukan rasa geramnya, "Gue nggak akan nyalahin lo atas kepergian Akiel, walau gue rasanya mau marah tiap ingat kalau Akiel yang punya kerapuhan tersendiri harus ngorbanin salah satu organnya buat orang yang bahkan gak pernah mau dengar satu penjelasan pun dari sahabat gue" Tatapan Olivia benar-benar dingin menatap pada Karin yang sesenggukan menangis.


"...tapi gue sadar, gue gak ada hak buat marah ke lo. Akiel sesayang itu sama lo Karin, bahkan dia masih sempat mikirin keselamatan lo pas dia lagi sekarat. Gue harap lo bisa belajar dari hubungan sebelumnya ya buat hubungan lo selanjutnya"


"Sorry Oliv" Lirih Karin dalam isak tangisnya.


Olivia sadar suaranya meninggi saat menyampaikan opininya memejamkan matanya sejenak, lalu menenangkan deru jantungnya yang berdetak kencang sebab sakitnya kehilangan sahabatnya, "Bukan ke gue lo harus minta maaf tapi ke Akiel" Tutur Olivia, mengakhiri perbincangannya dengan Karin lalu pergi dari tempat itu.


Garden Coffe…


Kembali di tempat ini, tempat yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tempat yang nyaman untuk dijadikan tempat bersantai untuk remaja-remaja yang ini sudah lulus dari masa sekolahnya.


Tempat yang penuh dengan begitu banyak kenangan mulai dari pertemanan, percintaan, patah hati, depresi, stress, dan begitu banyak lagi emosi yang sudah disaksikan oleh dinding caffe itu.


Kini, tujuh remaja tengah berkumpul di satu meja yang cukup luas tengah terlihat merundingkan sesuatu. Terlihat begitu serius.


"Liburan?" Keenan yang ditarik paksa untuk berhenti sebentar dari pekerjaannya, mengernyitkan keningnya mendengar usulan dari sahabatnya itu. Ia sebenarnya tak begitu mood untuk pergi ke tempat seperti yang diceritakan oleh Andrea.


Andrea mengangguk, lalu meneguk milkteanya sebelum berucap. "Heem, masa kita pusing-pusing habis ujian gak ada healingnya sih?" tuturnya, ia merasa tahun kelulusan ini adalah tahun terberatnya, tugas yang menumpuk, ujian yang rasanya begitu cepat menderu, dan kehilangan sahabat tentunya adalah hal terberat.


"Gue mah ngikut aja" Abian berkata, ia menerima suapan red velvet dari Keyla yang sudah belepotan krim. Menggemaskan sekali di mata Abian.


"Asal tahu tujuannya sih its okay aja gue" Olivia menyahuti.


Marsha yang dari tadi diam mulai memperlihatkan gelagat anehnya, "Bali?" Keenan yang ada di samping sang kekasih menoleh pada Marsha, ia menggenggam jemari Marsha dan menatapnya untuk menenangkan lewat sorot mata.


"Boleh, gue perlu udara segar" Keenan akhirnya mengiyakan usulan tersebut. Ia harus melepas suntuknya selama ini untuk sejenak.


Lelaki itu kemudian menoleh pada sang kekasih yang diam saja sedari tadi dengan ekspresi wajah tak nyaman, "Sha?"


"Aku gak bisa, kakak aja" Marsha yang menolak ajakan healing bersama sang kekasih sang kakak kelasnya itu membuat hening seketika. Merusak suasana mungkin.


"Masalah biaya biar gue yang urus" Keenan mencoba memahami Marsha, ia tak keberatan keluar uang untuk liburan bersama sang pacar. Apalagi pergi ke Bali bukan hanya keluar uang seratus atau dua ratus ribu.


Marsha menggeleng, kalau untuk biaya ia mungkin masih memiliki tabungan yang setiap bulannya ia sisihkan dari gajinya bekerja di Garden Coffe, tapi ini soal izin, "Bukan masalah biaya Kak, orang tua aku gak akan bolehin aku pergi terlalu jauh" Tutur gadis itu, ia selama ini hanyalah gadis biasa yang fokus dengan sekolahnya dan juga turut membantu perekonomian keluarganya tanpa pernah pergi jauh. Apalagi jika tidak dalam pengawasan orang tuanya.


Olivia melepas sedotan dari mulutnya, ia menatap teduh pada Marsha yang bertatapan dengan Keenan, "Pas berangkat biar kami yang minta izin Sha, lo tenang aja" Tutur Olivia dengan begitu ramahnya.


Marsa menggelengkan kepalanya,"Maaf Kak, aku gak berani"


"Ya sudah kalau kita ke Bogor gimana? Gak terlalu jauh juga kan Sha?" Usulan dari Keyla menimbulkan keheningan lagi dan lagi, semua berpikir. Bogor adalah tempat yang bagus juga, mereka akhirya setuju dengan usulan itu. Asalkan semuanya ikut, tak masalah jika dekat. Yang penting tak ada yang tertinggal saat ada rencana berwisata bersama.


"Please, di Bogor aja" Keenan meminta pada Marsha, ia tak ingin pergi jika Marsha juga tak bisa ikut menikmati udara segar dan melepas jenuh bersama-sama.


"Nanti aku coba bicarain sama orang tua aku dulu" Marsha mencoba. Bogor mungkin ia akan diperbolehkan, selain jaraknya tak terlalu jauh di sana juga terdapat sanak keluarganya jadi besar kemungkinan ia diperbolehkan.


"Gue ikut izin juga" Keenan berucap dengan begitu senang ini juga jadi kesempatan ia memperkenalkan diri kepada orang tua Marsha jika adalah kekasih dari putri kesayangan mereka.


"Iya Kak"


Apartemen…


Setelah seminggu dari rapat liburan mereka, malam ini Keyla dan juga Abian sama-sama berkemas pakaian untuk keberangkatan besok, abian yang sudah selesai memasukkan pakaiannya ke dalam tas punggung kini menghampiri Keyla yang tengah memilih makeup yang akan ia bawa.


Lelaki itu meletakkan dagunya di bahu kecil Keyla dengan manja, "Key” Panggilnya.


"Hm?" Keyla yang risih dengan hembusan nafas Abian di tengkuknya, mencoba menjauh dari lelaki itu.


"Kita cuma pergi lima hari" Abian memindahkan dirinya ke atas kasur lalu tengkurap disitu sembari menatap lurus punggung Keyla.


"Gue tahu"


"Bukan pindahan"


Keyla menoleh pada Abian yang terus menatap pada dirinya, ia tahu apa yang Abian ingin bahas. Perbedaan ukuran tempat menyimpan barang mereka pasti yang menjadi topik pembahasan lelaki itu, "Apaan sih Bi? Ini juga udah gue kurang-kurangin kali barang gue" Tutur Keyla sewot. Rasanya sudah seminggu perempuan itu terus marah-marah, Abian pun bingung dibuatnya.


"Gue aja cuma ini, masa lo sampe bawa koper itu?"


"Urusan cewek sama cowok beda, lo gak perlu tahu"


"Ribet emang" Gumam Abian yang terdengar di telinga Keyla.


Gadis itu menatap sinis pada Abian, "Apa lo bilang?"


"Nggak apa-apa" Abian menggeleng, takut dengan tatapan mata Keyla. Kenapa sih rasanya minggu ini ia selalu salah di mata Keyla yang biasanya manja padanya.


"Gue ribet? Perasaan kalau dibandingkan sama mantan lo itu lebih ribet dia deh"


"Kok malah bahas Nayra sih? Gak nyambung lo" Abian dibuat kesal dengan orang yang Keyla sebutkan tiba-tiba itu walau ia sendiri pun tahu jika Nayra memang lebih ribet daripada Keyla sendiri,


Keyla bangkit dari duduknya lalu menarik lengan Abian untuk keluar dari kamar, "Gak usah tidur di kamar lo malam ini" Ketus Keyla lalu mengunci pintu dari dalam. Meninggalkan sang pria di luar, malam ini tak ada drama pelukan lagi.


"Lho Key? Masa gitu aja ngambek sih? Key, buka ah" Abian dibuat sebal sebab ia akan tidur di luar hari ini. Menyebalkan tapi ia sayang.


. . .


Transportasi yang digunakan ke Bogor? Mereka lebih memilih menggunakan bis daripada harus membawa mobil, alasannya tak ada yang tahu mereka hanya mengatakan malas dan sepakat menggunakan kendaraan umum itu. "Nyenyak semalam?" Tanya Abian pada Keyla yang berjalan di sampingnya, mereka tak sempat ngobrol pagi ini sebab masing-masing sibuk dengan berbenah diri.


"Banget" Keyla menyahuti dengan wajah meledek.


"Nggak mau, gue mau sama Oliv duduknya" Keyla menolak. Ia mengabaikan kehadiran Abian yang terus meminta perhatiannya. Gadis mungil itu menatap pada Abian yang terlihat kesal mendengar jawabannya.


"Keyla, gak bisa gitu dong" Protes Abian pada perempuan itu.


Keyla dengan wajah datarnya mengendikkan bahunya acuh lalu menatap ke arah lain, "Liv"


"Sini Key" Olivia melambaikan tangannya dengan senyum yang manis pada Keyla. Sudah mengambil tempat duduk yang dianggap begitu nyaman. Keyla menjauhi Abian yang menatap sebal padanya lalu menghampiri Olivia dengan wajah tanpa dosanya meninggalkan sang lelaki.


Abian berdecak sebal melihat punggung Keyla yang menjauh daripadanya, ia dengan sebal mendudukkan dirinya di samping Rama, "Gue mau tidur, gak usah diganggu" Ketus Abian kala Rama membuka mulutnya ingin berbicara. Lelaki itu sepertinya tidak tenang jika tak berbicara.


"Gak ada tidur lo?" Tanya Rama heran. Apa yang lelaki itu lakukan hingga tak tidur semalam jika tahu akan bepergian esok hari? Abian juga bukan tipe orang yang sulit tidur setahu Rama.


"Gue gak dibolehin tidur di kamar sama Keyla"


Sialan.


Abian menyadari kesalahannya bertutur kata, ia mengumpat dalam hatinya karena telah mengatakan hal tersebut. "Hah?" Rama dan Keenan yang mendengar itu terpekik kaget. Sedewasa apa hubungan Abian dan Keyla sebenarnya? Sejauh apa interaksi pasangan itu sebenarnya?


"Lo tidur bareng Keyla?" Keenan menatap tak percaya pada Abian, pikiran tak benarnya mulai bekerja.


"Kok bisa?"


Abian berdecak mendengar deretan pertanyaan yang mencerca dirinya setelah pengakuan tak diinginkan itu keluar dari mulutnya, "Berisik ah" Ketus.


"Abian, jelasin dulu maksud lo apaan" Rama menuntut penjelasan. Ya walaupun ia sudah menyerah akan perasaannya dengan Keyla tapi tak menutup kebenaran jika ia ingin tahu kehidupan percintaan dari mantan crushnya itu dengan sang sahabat.


"Ntar kalau dah sampai aja"


"Wah gila lo" Keenan masih tak bisa berpikir jernih dengan sepenggal kalimat yang Abian tuturkan tadi. Ia menoleh pada keyla yang asik berbincang ria dengan Andrea, Marsha, dan juga Olivia dengan wajah seriusnya.


Villa…


Keyla, gadis dengan pakaian yang lebih santai daripada saat ia pergi tadi tampak menyibukkan diri di dapur dengan segala perbumbuan yang tengah ia kerjakan. Tak lama kemudian Keenan dan Rama datang dengan segala plastik perbelanjaan mereka menghampiri Keyla, "Keyla, ini pesanan punya lo" Tutur Rama.


"Taruh di meja dulu. Gue lagi ngurus buat barbeque ntar malam" Berucap tanpa berbalik badan menatap dua lelaki itu.


"Sejauh apa sudah lo sama Bian Key?" Tak tahan lagi dengan rasa penasarannya yang mendarah daging, Keenan melontarkan pertanyaannya pada keyla sebab Abian tak kunjung memberitahunya.


Keyla menghentikan urusannya, ia menatap pada Keenan dan Rama yang memandangnya penuh selidik, "Maksudnya?"


"Ya kalian pacaran sudah sampe tahap mana?" Keenan mengulangi pertanyaannya lagi.


"Tahap serius"


Rama menatap sebal pada Keyla, merasa jika Keyla tak benar-benar menjawab serius pertanyaannya, "Jangan sampe gue cekik ya lo Key" Celetuk Rama.


"Gue laporin lo ke Bian ya mau nyekik gue"


"Siapa yang mau nyekik?" Suara itu mengalihkan perhatian dari Rama, Keenan, dan juga Keyla. Lelaki dengan kemeja biru dan celana pastel itu datang dengan wajah dinginnya ikut bergabung dalam obrolan yang sudah ia lewatkan beberapa saat.


Melihat kedatangan Abian, Keyla lantas mencuci tangannya lalu menghampiri sang lelaki dengan riang, "Es krim gue"


Abian memberikan es krim pesanan Keyla, "Ini" Dia lalu mendorong pelan tubuh keyla agar pergi dari dapur, "Udah sana lo santai sama yang lain aja, biar gue yang ngurus itu" Tutur Abian dengan lembut pada Keyla.


"Oke" Keyla mengangguk lalu pergi meninggalkan dapur dan melempar tanggung jawab kepada Abian yang menwarkan diri.


Abian melanjutkan kesibukan dari Keyla, ia juga akan menjawab semua tanda tanya dua sahabatnya selama ini. Ia sudah lulus, jadi mungkin tak ada masalah lagi jika ia memberitahukan statusnya yang selama ini ia tutupi. "Gue sama Keyla sudah nikah"


"Apa?!"


"Gila"


"Gak waras memang"


Abian memindahkan kerjaannya ke atas meja agar berhadapan dengan dua sahabatnya itu, ia siap tak siap sebenarnya menceritakan hal yang sebenarnya sedikit membuatnya malu ini, "Memang, gue aja gak pernah nyangka kalau bakal begini" Tutur Abian yang fokus membumbui beberapa bahan makanan.


"...gue sama Keyla itu benar-benar ditemui tiga minggu sebelum pernikahan berlangsung. Kami sama-sama gak kenal satu sama lain, tiba-tiba aja dijodohkan dengan tanggal pernikahan yang dekat"


Rama cukup dibuat bingung dengan penjelasan dari Abian, bagaimana bisa anak yang masih menempuh pendidikan dibuat dalam status pernikahan? Apapun alasannya, tetap tak masuk akal dalam pikiran Rama, "Tapi masa orang tua kalian gak paham kalau pas sekolah itu gak boleh nikah?"


Abian mengangkat bahunya acuh, ia jelaskan sebagaimana rupa ia menolak dulu juga tak bisa mengubah takdir jika ia sudah menikah dengan Keyla saat masih duduk di bangku SMA, "Demi bisnis perusahaan kakek gue dan orang tua Keyla, mereka bahkan berani membungkam media massa dan membuat pernikahan kami benar-benar gak diketahui oleh siapa pun kecuali orang-orang yang memang dipilih"


Keenan memijat pelipisnya pusing mendengar penjelasan rumit dari Abian, "Dunia orang kerja. Kita nggak bakal paham" Tuturnya, ia belum bisa memahami tentang dunia persahaman tanpa mempelajarinya terlebih dulu.


"Jadi selama ini gue suka sama bini orang dong?" Rama bergumam yang membuat Abian tertawa kecil. Syukur saja Rama tak menyukai istrinya lagi.


"Perasaan nggak ada yang tahu" Celetuk Abian seoalah santai saja. Padahal kalau diingat-ingat ia sangat-sangat terganggu.


"Nggak apa-apa. Keyla, gue tunggu janda lo"


Abian memicingkan matanya mendengar hal itu yang keluar dari mulut Rama. Rasanya pisau yang ada di samping mangkuk yang di depannya ingin ia lemparkan ke wajah Rama yang begitu menjengkelkan untuk ia lihat.


"Ngomong apa lo barusan!" Suara perempuan itu mengalihkan perhatian mereka. Andrea datang dengan lidi tusuk yang akan digunakan untuk membuat sate malam ini. Ia menatap Rama dengan tatapan penuh selidik.


"Aya"


Andrea menatap pada Rama, "Janda, janda, siapa yang janda hah?" Meninggikan nada suaranya hingga menyakiti telinga Abian dan juga Keenan.


"Bukan siapa-siapa kok" Elak Rama, jangan sampai kepercayaan yang ia bangun kepada Andrea selama ini hancur hanya karena ucapannya barusan.


Andrea kemudian menghembuskan napasnya pelan, mengendalikan emosinya yang sempat meninggi, "Huh ngapain juga gue marah, kita kan cuma teman"


"Lo aja yang nolak gue terus-terusan" Rama menyahuti.


"Effort lo masih kurang" Andrea kemudian memberikan lidi tusuk itu pada Abian, "Nih, dari bini lo" Perkataan dari Andrea itu membuat tiga lelaki yang baru saja membahas tentang pernikahan Abian dan Keyla membulatkan matanya terkejut.


"Lo tahu?" Rama bertanya. Apa jangan-jangan Andrea mendengar obrolan mereka tadi?


Andrea menganggukkan kepalanya tanda membenarkan pertanyaan dari Rama, "Keyla udah cerita di bis tadi. Gue salut kalian berdua bisa nyembunyiin ini hampir satu tahun tanpa ketahuan siapa pun" Ia menatap pada Abian yang terus menatap lurus padanya, "...tapi kalau ingat gimana Keyla ngejar lo terus Rama ngejar Keyla rasanya agak aneh. Apalagi lo cuek banget ke Keyla" Wajah Andrea terlihat kesal mengingat hal tersebut,


"..."


"Sudahlah lagian sudah sah juga kalian gak bisa diapa-apain lagi"


Malam…


Malam ini ditemani dengan indahnya suasana langit yang berhiaskan bintang-bintang dan juga bulan purnama yang terlihat bersinar begitu indahnya menambah aura malam itu.


Abian menghampiri Olivia yang terlihat kalem mamandangi langit, di tangannya sudah ada sepiring sate ayam yang sudah matang untuk ia berikan pada Olivia. "Langitnya cantik" Celetuk Abian pada Olivia.


"Iya"


Abian menemukan sorot mata kesedihan dalam netra Olivia, ia tahu apa yang sedang dipikirkan perempuan itu saat ini, "Lo kelihatan lebih berat ngeikhlasin daripada kami"


Olivia mengambil alih bakaran yang Abian bawa baginya, ia menatap makanan itu dengan matanya yang teduh, "Dia sahabat gue dari kecil Yan, nggak mungkin lah gue gak sedih. Akiel itu apa-apa kalau ada masalah cerita ke gue, jadi gue cukup tahu permasalahannya. Gue bukannya gak ikhlas cuma masih gak nyangka aja dia secepat ini pergi"


"Gue paham" Abian mengangguk, ia lalu menatap Olivia dari samping. Perempuan itu yang lebih mengenal Akiel jauh sebelum ia, Rama, dan juga Keenan. "Akiel beruntung banget punya sahabat kayak lo, Liv" Tutur Abian dengan tulus.


"Lo juga"


"Udah ah jangan sedih-sedih lagi kita ke sini kan buat have fun"


"Iya"


Malam itu mereka bersenang-senang menikmati hari. Mengenang kenangan yang lelah berlalu, deep talk bersama, semua beban rasanya sejenak hilang saat curahan demi curahan diungkapkan dengan hati yang lapang.


Bersama-sama mereka saling bahu membahu mendukung satu sama lain. Semuanya tetap baik-baik saja.


Selama mereka melangkah, mereka mempercayakan semuanya pada Tuhan. Apapun yang terjadi baik maupun buruk, itu adalah rencana Tuhan. Dan itu yang terbaik bagi mereka.


End.