
"Bian kok gak pake baju sih?!" Keyla syok melihat Abian yang berbaring dengan santai di atas kasur hanya menggunakan celana pendeknya.
"Panas" Sahut lelaki itu.
Keyla mengambil kaos dari dalam lemari Abian lalu melemparkannya kepada sang suami yang ganya diam melihat kelakuannya, "Pakai gak? Gue gak mau tidur sama lo" Menunjuk kaos oblong yang ia lempar ke wajah tampan Abian.
"Ya udah sih tidur aja lo di luar" Abian.menyingkirkan baju itu dan meletakkannya ke atas meja, enggan mengenakan kaos yang Keyla lempar padanya.
Keyla membulatkan matanya sempurna melihat bagaimana kelakuan suaminya malam ini, ia lalu mendekati ranjang untuk mengambil bantalnya.
"Mau kemana?" Abian menahan bantal yang hendak Keyla ambil, ia mengubah posisinya menjadi duduk bersila.
"Tidur" Ketus perempuan itu.
Abian menaikkan sebelah alisnya, "Di luar?"
"Rumah tetangga, harus banget lo nanya?" Keyla dibuat kesal dengan apa yang Abian katakan, ingin rasanya ia menimpuk sang suami dengan bantal.
"Udah di sini aja Key" Kini tangan kekar Abian naik meraih pergelangan tangan Keyla.
"Gak mau" Melototkan matanya.
"Gak bakal gue apa-apain juga, santai aja kali"
Keyla melepaskan tangan Abian yang mencekalnya, lalu mengambil dengan cepat bantal dan memeluknya, "Gak, lo pasti gak jauh beda sama sahabat lo yang kayak buaya lepas kandang itu" Menyamakan dengan ketiga sahabat Abian.
"Kalau gue ngapa-ngapain lo gak apa-apa juga kali, orang juga kita suami-istri" Tuturnya enteng.
"Tidak" Keyla tetap memilih tak percaya.
Abian menyisir rambutnya dengan jemari ke arah belakang, "Gak gue hamilin juga anj*r"
"Abian" Keyla semakin melotot mendengar hal itu keluar dari mulut Abian.
"Apaan?"
"Ah Bian" Menghentakkan kakinya kesal lalu setelah melalui segala percek-cokan Keyla akhirnya ditarik untuk berbaring di samping tubuh Abian yang kini mulai menepis jarak.
"Jangan dekat-dekat" Keyla mengancam saat tangan Abian mulai melingkari pinggangnya.
"Nggak janji"
Keesokan harinya, sekolah...
Nayra terlihat begitu kesulitan saat menyusun bukunya ke dalam loker, hingga seseorang tak sengaja menyenggolnya hingga membuat buku yang ia pegang jatuh berhamburan di lantai.
Nayra menghembuskan nafasnya pelan lalu berjongkok mengambil buku-bukunya itu, Keyla yang kebetulan lewat berempati untuk membantunya. Nayra hanya diam melihat kedatangan perempuan itu yabg ikut memungut buku.
Keyla terdiam mematung kala selembar foto yang terselip di salah satu buku Nayra terjatuh. Ia tahu siapa dua orang di foto tersebut.
"Nayra, lo..." Tangannya gemetar melihat foto tersebut.
Nayra tak memandang pada Keyla, "Apa?" Datar.
Keyla menatap pada Nayra, "Pernah punya hubungan ya sama Abian?" Mengucapkannya dengan pelan.
Nayra mengangkat kepalanya dan menatap pada benda yang Keyla pegang. Ia sebenarnya tak ingin Keyla tahu tentang itu tapi sudah terlanjur ketahuan, "Emang cowok lo gak pernah cerita?" Mengambil semua barangnya yang Keyla pegang termasuk foto itu.
"Maksudnya?" Tak paham ia ikut bangkit berdiri kala Nayra memasukkan buku ke dalam loker.
Nayra menyelesaikan dulu kegiatannya sebelum menutup pintu loker, "Iya, gue sama dia pernah pacaran" Menatap pada Keyla, "...selama kurang lebih 1 tahun 5 bulan" Memberitahu lebih lanjut.
"Makanya gue gak suka sama lo yang sekarang bisa jadian sama dia sedangkan gue gak bisa balik"
"K-kenapa?" Keyla benar-benar tak tahu mengenai itu. Ia tak.tau mengapa Nayra mulai bersikap jutek padanya.
Nayra menatap begitu dingin pada perempuan pendek di depannya, "Karena lo yang jadi penghalang buat gue dan Abian" Mengatakan dengan penuh kebencian, "...minggir lo, dasar murahan" Menyenggol bahu perempuan itu seolah mereka memang tak saling menyukai semenjak awal.
"Oh jadi mantannya Nayra ya?" Keyla rasanya ingin menangis kala tahu informasi tersebut.
"Keyla" Suara bariton lelaki membuat Keyla membalikkan badannya dan menatap pada Abian yang menghampiri dirinya.
"Hm?"
"Kenapa?" Tanya Abian yang melihat raut wajah Keyla.
Keyla menggeleng, "Nggak kok"
"Ya udah, kantin yuk"
"Iya"
Abian memperbaiki helai rambut yang menutupi wajah sang gadis kala mereka berjalan menuju kantin, "Kan udah gue bilang tadi tunggu di kelas" Tutur lelaki itu lembut.
"Oh iya tadi habis dari wc bentar" Beritahu Keyla lagi tanpa senyuman seperti biasanya.
Abian merasakan ada yang aneh dari istrinya itu, "Mikirin apa sih?"
"Nggak kok"
"Benar?"
"Iya Bian" Keyla memaksakan senyumnya untuk memberitahukan jika ia baik-baik saja.
Taman belakang sekolah...
Andrea melangkah mendekat pada Rama yang tadi meneleponnya untuk menemui dirinya di tempat ini. Perempuan dengan cardigan yang selalu ia kenakan itu duduk di samping tubuh Rama.
"Gue mau minta tolong ke lo, Ya" Rama langsung mengatakan maksudnya memanggil Andrea. Ia menyerahkan beberapa cemilan kegemaran Andrea.
"Ya tapi gue tertarik sama nih cewek" Rama bersikeras.
"Kek cowok sasimo lo Rama, harga diri lo di mana sih? Gak ya gue gak mau ngebantu lo, usaha sendiri sana" Andrea benar-benar dibuat lelah oleh segala tingkah laku Rama.
"Lo kok gak ada pengertiannya sama sekali ke gue sih?"! Rama berdiri di hadapan Andrea membuat perempuan itu harus mendongakkan kepalanya.
Amdrea berdecih, ia memalingkan wajahnya ke arah lain, "Emang lo siapa harus gue ngertiin? Pacar bukan, keluarga bukan"
"Ya udah mulai sekarang kita pacaran aja" Andrea membulatkan matanya sempurna mendengar penuturan yang sangat tiba-tiba tersebut. Ia tak percaya jika Rama akan mengucapkannya.
"Ngaco lo, gak lucu ya Rama kalau candaannya bawa-bawa perasaan" Andrea mulai menunjukkan kekesalannya.
Rama membuang muka, "Padahal gue serius" Gumamnya.
"Apa lo bilang?" Tak mendengar dengan begitu jelas.
"Gue serius" Menatap lekat Andrea, memberikan situasi ambigu bagi Andrea seorang, "...gue suka sama lo Aya, gak tahu dari kapan" Rama mempertegas semuanya, membiarkan Andrea tahu yang sebenarnya.
Andrea bangkit berdiri, "Gue gak suka sama candaan lo" Pergi dari situ dan meninggalkan cemilan yang Rama beri padanya.
Malam...
Abian masuk ke dalam kamarnya, lalu membaringkan tubuhnya di samping Keyla dan memeluk tubuh perempuan itu dari belakang.
Keyla yang sedari tadi tak bisa tidur mengusap tangan Abian yang melingkar di perutnya, "Bian, boleh nanya sesuatu gak?" Keyla ingin mengusir apa yang menjadi beban pikirannya hari ini.
"Tidur Key" Rama tak ingin mengobrol dulu.
Keyla membalikkan badannya dan menatap pada Abian yang telah memejamkan matanya, "Abian paling lama pacaran berapa bulan?" Tanya Keyla.
Tak mendapat jawaban, Keyla lalu mengusap pipi lelaki itu, "Bi"
"Gue ngantuk" Terlihat sekali Abian tak ingin membahasnya. Terlihat dari kerutan di keningnya.
"Satu setengah tahun ya?" Tanya Keyla lagi sembari tersenyum tipis. Abian membuka matanya mendengar itu ia tak tahu siapa yang memberikan informasi tersebut kepada sang istri, "Sama Nayra ya?" Sambung Keyla lagi.
Abian melepaskan pelukannya, "Apa sih?" Ia mulai tak suka dengan penyakit yang tengah dicari oleh Keyla.
"Lumayan lama juga ya haha? Terus dengar-dengar putusnya sebulan sebelum pernikahan kita ya?" Tertawa denfan hati yang terasa begitu perih.
"Darimana lo dapat info begitu?" Abian bertanya dengan nada tak suka.
"Tapi benar kan?"
"Iya" Sewot.
"Oh, sekarang pasti belum sepenuhnya ya lepas dari bayang-bayang Nayra?" Mulai menilai dengan sendirinya.
Abian berdecak kesal ia paling tak suka membahas tebtabg masa lalunya yang telah ia kubur sedalam-dalamnya tersebut, "Cukup ya Key, jangan bahas yang aneh-aneh" Abian memperingati.
"Hm" Mengangguk paham ia menatap ke dalam netra Abian, "...pantes susah dideketin" Ucapnya lagi sebelum membalikkan badannya dan tidur membelakangi Abian.
Pagi....
Abian keluar dari kamarnya dengan seragam lengkap ia menghampiri Keyla yang sudah siap dengan tas sekolahnya. Peremouan itu belum mengatakan sepatah kata pun pada dirinya pagi ini.
"Gak bikin sarapan?" Tanya Abian yang sempat melirik ke arah dapur yang terlihat sama seperti malam tadi.
"Kan Bian biasanya sarapan di kantin" Ucap Keyla tanpa menatap padanya.
"Lo gak sarapan?" Tak biasanya pikir Abian.
"Ntar di kantin"
Abian tahu jika Keyla tengah marah pada dirinya yang sebenarnya tak memiliki kesalahan apapun. Namun membiarkan perempuan itu tak sarapan sepertinya akan sangat menganggu pikiran Abian. Ia lalu menarik Keyla menuju meja makan.
"Duduk" Titahnya.
"Nggak, gue dah mau berangkat" Keyla menolak.
"Duduk, gue masak mie instan"
"Berangkat bareng gue aja"
"Gak, ntar kalau ada yang tahu status kita, Bian ngamuk"
"Dimakan" Memberikan semangkuk mie instan yang telah matang pada Keyla lalu ia menarik kursi yang ada di seberang Keyla dan duduk di situ menunggu Keyla selesai makan.
"Masih panas" Sahut Keyla menunjuk pada kepulan asap.
"Cepet makan" Abian tak suka dengan sesuatu yang lelet.
"Kalau makan cepat-cepat itu malah--"
"Makan sebelum kesabaran gue habis" Potongnya dengan wajah yang keras menahan emosi menghadapi setiap sahutan Keyla.
"Terserah" Mulai memakan mie itu perlahan.
"Darimana tahu kalau gue biasanya sarapan di kantin?" Tanya Abian setelah emosinya agak mereda.
"Dari mana-mana aja" Menyahut dengan asal.
"Serius"
"Udah kelewat serius" Nada suara Keyla naik satu oktaf.
Abian memilih diam sebelum ia lebih jauh menggunakan emosinya. Ia memperhatikan wajah Keyla yag terlihat jengkel padanya sembari menyantap mie.