Eros Love

Eros Love
Status sebenarnya



Pintu ruang tepat Karin berada dibuka oleh seseorang, "Karin" Akiel. Laki-laki itu terlihat berdiri di ambang pintu dengan sebuket bunga tulip di tangannya. Bunga kegemaran Karin.


Karin yang sedai tadi terus membuka lembar demi lembar novel yang ada di pahanya kini menatap Akiel penuh emosi. "Kenapa lagi El?" Nadanya terdengar kesal. Dari raut wajahnya sudah nampak jika ia tak menyukai kedatangan lelaki tersebut.


"Sudah makan?" Akiel mendekat lalu meletakkan bunga yang ia bawa ke atas meja kecil di samping ranjang Karin.


"Mending lo keluar deh" Mengusir tanpa menatap pada Akiel yang hendak menarik bangku lipat.


Akiel menahan kemurungannya, apakah ia masih salah di mata Karin. Karin benar-benar berubah dari perempuan yang ia kenal dulu, "Gue bawain--"


"Keluar Akiel! Gue benci tatapan lo!" Karin membentak. Ia mengambil buket yang Akiel bawa lalu melemparnya kasar ke tubuh lelaki tersebut.


"Karin, gue punya masalah di rumah, bokap gue--"


"Gue gak peduli!" Karin menatap penuh kebencian pada Akiel yang tersentak dengan bentakannya. Wajah yang begitu menyedihkan di mata Karin. "Gue udah pusing sama masalah gue, gak usah lo tambah dengan masalah lo! Gue bukan nyokap lo, sialan!" Karin tak taha lagi jika harus berlama-lama dekat dengan lelaki yang oernah menjadi bagian dari masa lalunya tersebut.


"Karin..."


"Gak bisa dengar?"


Akiel menghembuskan nafasnya pelan, "Iya gue keluar, cepat sembuh ya" Memungut kembali bunga yang Karin buang lalu membawanya pergi. Ia seperti seorang pecundang.


"Aaaargh!!"


Seminggu kemudian...


Dengan motornya, Akiel berhenti di depan toko kue yang cukup tenar di sekolahnya. Toko kue dengan rating cukup baik dan dikelola oleh teman satu sekolahnya. Nayra.


"Nayra" Tegur Akiel pada Nayra yang terlihat menikmati segelas boba di tempat kasir bekerja.


Nayra menatap malas pada Akiel, "Tumben ke sini, mau pesan kue lo?" Tanyanya sembari mengambil buku pesanan, juga pulpen. Siap mencatat pesanan pelanggannya.


"Lo tahu Karin dimana?" Bukannya mengatakan pesanannya, Akiel lebih memilih menyebutkan hal yang sudah ia simpan selama berhari-hari pada sahabat dari Karin itu.


"Hhhh chat gue aja masih ceklis" Ucap Nayra lesu. Mengingat sang sahabat sudah hampir sebulan tak masuk sekolah dengan alasan sakit, "...gak biasanya Karin begini"


"Lo gak ada niat buat cari tahu?" Tanya Akiel kemudian. Wajah lelaki itu entah mengapa ada memar di dekat pelipisnya. Kantung matanya juga terlihat dengan begitu jelas. Ia terlihat murung dan lelah.


"Gue sudah pernah datang ke rumahnya. Cuma gak ada orang" Tutur Nayra lagi.


Akiel menghela nafasnya pelan lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Memperlihatkan sosok Karin yang terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan keadaan drop.


Nayra terpaku melihat foto tersebut. Tangannya tanpa sadar melepas pulpen dan buku pesanan. Ia tertegun melihat gambar tersebut, ada rasa tak percaya dengan apa yang ia lihat, "El?"


"Karin opname di rumah sakit" Dadanya sakit saat mengatakannya, "...dia mengidap penyakit gagal hati" Sesak sekali saat mengetahui fakta tentang itu.


Nayra menggeleng, setitik air matanya jatuh membasahi pipi, "Bercanda lo yang lucu, El"


"..."


"El??"


Akiel tersenyum miris, "Gue juga baru tahu Nay" Tuturnya, "...dan dia mendadak drop, sekarang sudah dipasangi alat-alat penunjang sama pihak rumah sakit"


Rumah sakit...


"Karin" Suara itu memenuhi ruang yang ditempati Karin dan keluarganya yang menemani.


"Nayra?" Sang Papa dari Karin terkejut melihat kedatangan sahabat karib dari sang putri.


Nayra yang sudah menangis itu memghampiri Karin yang terbaring tak betdaya, "Kenapa gak bilang hah?! Lo pikir lo keren nyembunyiin ini dari gue?" Memaki-maki sang sahabat.


Akiel menghampiri Nayra, mengelus punggung perempuan itu. Ia sama terpukulnya seperti Nayra atas kemalangan yang dialami Karin, "Nay, tenang"


"Tenang ya Nak, kamu gak boleh panik" Papa Karin ikut menenangkannya.


"Gue bingung banget lo gak ada masuk bahkan dua minggu lebih" Terus terisak kala mulut berucap, matanya kemudian terarah pada sang Papa dari sahabatnya itu, "Bahkan Om gak bilang ke aku sama sekali, kenapa sih? Apa sih alasannya?


Lelaki paruh baya itu menghembuskan nafasnya pelan, "Ini permintaan dari Karin" Tuturnya, "...dia gak mau ada yang tahu tentang kondisinya"


Apartemen...


"Apa sih serunya drakor Key, banyak kali tontonan lain"


"Cowoknya ganteng"


"Ck, gue juga ganteng kali"


"Tapi gak seganteng mereka"


"Ish ngambek ya?"


"Gak, ngapain?"


"Ututu, emang kalau gak ganteng mah pasrah aja Bi"


"Mulutnya ya"


"Siapa?"


"Biar gue"


Abian membuka pintu apartemennya, tapi tak terlalu lebar. Ia ingin tahu orang iseng seperti apa yang mengetuk pintu rumahnya jam delapan malam, "Gue numpang tidur Yan di apartemen lo" Akiel, laki-laki itu berdiri dengan wajah lelahnya. Menatap pada Abian.


"Kenapa?" Tak biasanya Akiel tak menghubunginya terlebih dulu.


"Lagi malas pulang, suntuk gue" Tutur Akiel lalu ingin menerobos masuk namun dihalangi Abian.


"Kenapa gak di rumah yang lain?" Lelaki itu sedikit panik sebab di rumahnya tak lagi ia sendiri tapi sudah ada Keyla.


Akiel menatap pada Abian, "Kan biasanya gue bareng lo" Ucapnya.


"Gak bisa"


Akiel mengerutkan keningnya, "Kenapa?"


"Ya gak bisa aja" Ucap Abian.


"Emang kenapa sih?" Akiel merasa ada yang aneh, "Lo nyembunyiin sesuatu dari kami?"


"Ya udah kalau gitu gue numpang di apartemen lo"


"Gak bisa El"


"Pasti ada sesuatu yang lo sembunyiin kan?" Akiel mamilih untuk melewati tubuh Abian dan mencari tahu apa yang membuat laki-laki itu tak mengizinkannya bermalam.


. . .


Akiel duduk di sofa rumah Abian bertatapan dengan sang sahabat yang hanya mengisap rokoknya yang hampir habis. Ia tak percaya apa yang ia lihat malam ini.


"Ini cemilannya" Keyla datang dan menyajikan beberapa cemilan dan kopi panas pada kedua lelaki itu.


Akiel mengalihkan pandangannya kepada Keyla yang hendak bangkit berdiri pergi dari ruang tengah tersebut., "Apa-apaan nih? Kok lo bisa tinggal di apartemen Abian?" Setahunya Abian tak akan pernah mau memasukkan perempuan ke dalam rumahnya, bahkan Nayra pun tidak.


Apalagi dengan pakaian Keyla yang terbilang terlalu minim untuk berduaan hanya dengan pacar.


"Em, gue--"


"Emang kenapa? Masalah buat lo?" Abian mematikan rokoknya. Menatap pada Akiel yang memandang Keyla penuh kecurigaan.


"Bian" Keyla menatap pada Abian. Dari tatapannya seperti meminta Abian untuk diam saja.


Keyla bangkit dari posisinya, ia menatap pada Akiel dan Abian bergantian, "Gue pulang dulu ya, sorry gak bisa lama mampir. Bi, gue pinjam jaket lo ya?" Sepertinya Keyla memang harus pulang ke rumah orang tuanya untuk malam ini daripada membuat repot Abian dan sahabatnya itu.


Abian mencekal tangan Keyla yang hendak pergi, ia menatap kepada sang istri, "Pulang kemana? Ini kan rumah lo sekarang" Ucapnya.


Keyla terdiam mematung mendengar hal itu. Abian sepertinya sudah gila.


"Pada kenapa sih lo berdua?"


"Gak kenapa-napa kok, Bian gue pulang dulu" Keyla melepas cekalan Abian namun tetap tak dilepaskan oleh Abian.


Abian menatap teduh pada gadisnya itu, "Pulang kemana sih? Duduk sini" menepuk sisi sofa yang masih kosong.


Akiel yang meminta klarifikasi tambah dibuat bingung olehnya, "Hah? Maksudnya?"


Keyla duduk sesuai dengan arahan Abian, "Bisa lo rahasiain dari Keenan sama Rama?" Abian kini menatap pada Akiel. Ia hendak memberitahukan statusnya dengan Keyla yang sebenarnya. Lagian mereka sudah ketahuan, "...kalau bisa gue kasih tahu kebenarannya" Sambung lelaki itu lagi.


"Bian..." Keyla memang ingin statusnya diketahui orang, tapi tidak dengan cara seperti ini. Saat ini, dicintai balik oleh Abian sudah cukup baginya.


"Oke, gue rahasiain" Akiel menyanggupi syarat dari Abian. Ia memgambil gelas kopinya lalu meneguknya.


Abian menoleh pada Keyla yang sepertinya khawatir, "Nggak apa-apa kok" Bisiknya menenangkan.


"Gue sama Keyla udah nikah" Memberikan pernyataan.


Akiel diam. Terpaku dengan apa yang Akiel katakan. Apakah ia salah dengar?


Hah?


Menikah?


"What?! Lo hamil?!" Akiel langsung menyimpulkan dengan otaknya yang cerdas itu. Ia menatap terkejut dan tak percaya kepada Keyla.


Keyla membulatkan matanya sempurna, ia menggelengkan kepalanya kuat, "Apa? Nggak"


"Kami dijodohin, terus nikah pas masih SMA" Terang Abian, jangan sampai Akiel salah paham dengan pengumuman yang baru saka ia katakan.


"What? Sejak kapan?"


"Tiga bulan yang lalu, iya kan?"


"Tiga bulan? Tiga bulan lo rahasiain ini dari kami?!" Akiel semakin tak percaya dengan apa yang ia dengar malam ini.


"Hm"


"Parah lo Yan, lo anggap apa persahabatan kita selama ini?"


"Setidaknya lo udah tahu kan?"


"Artinya Keenan sama Rama harus tahu juga dong"


Abian memghembuskan nafasnya pelan lalu menatap serius pada sahabatnya itu, "Lo yakin berita ini gak bakal kesebar luas, mulut Keenan yang ember terus Rama yang..." Kini menatap pada Keyla yang hanya diam dari tadi.


"Kenapa?" Tanya Keyla saat Abian menatapnya lekat.


"Gak kok" Tersenyum tipis.


"Terus sampe kapan mau dirahasiakan?"


"Setidaknya sampai lulus sekolah"


Akiel memgangguk lalu ia menatap pada Keyla yang masih bingung, "Kenapa El?" Tanya Keyla pada lelaki itu. Ia sempat melamun tadi makanya tak paham mengapa para lelaki itu menatapnya.


"Lo tahu kan Rama suka sama lo?" Menyandarkan tubuhnya, "Di satu sisi juga lo udah nikah sama Abian, bisa lo jaga jarak sama Rama?" Tutur Akiel serius. Ia tak mau persahabatannya hancur hanya karena perempuan.


"Rama yang ngedeketin gue" Bela Keyla. Ia dari awal hanya menatap pada Abian, Rama paling hanya menyempil sedikit tapi kehadirannya tak penting di hubungan asmara Keyla.


"Ya nggak usah lo tanggapi bisa kan?"


"Gak usah marahin Keyla, biar gue yang nasihati" Abian menegur Akiel yang menaikkan nada suaranya.


Akiel memutar bola matanya malas, "Lo juga, kalau tahu Keyla istri lo kenapa lo biarin dia dekat sama cowok lain, apalagi cowok itu Rama. Lo-- argh gue gak habis pikir sama lo" Bisa-bisanya ia sakit kepala sebab memikirkan tali benang kehidupan Abian.


"Iya gue salah"


"Gue salah gak ngakui Keyla, gue salah karna pura-pura gak kenal sama cewek gue sendiri"


Tumben ngaku sendiri, pengaruh Keyla sama lo sebesar itu kah?


"Sehabis lulus, lo harus kasih tahu ke Rama sama Keenan. Dan lo..." Tutur Akiel memberi ketegasan pada lelaki itu ia juga menatap pada gadis muda yang duduk di samping Abian, "Jauhi Rama"


Keyla mengerutkan keningnya heran mendengar titah dari lelaki itu, "Rama bukannya suka sama Andrea?"


Ujian sekolah Author dah selesai gaes, jadi bisa lanjutin novel. Huhuhu sedih banget baru bisa up satu, soalnya lagi buntu cerita. Yang lalu-lalu juga gak terlalu bisa up soal nya tugas semester ini benar-benar agak susah. Enjoy yaaa. Tungguin next part yaaaa. Luv you gaes.