Eros Love

Eros Love
Pulang Sekolah



Jam pulang sekolah adalah saat yang dinantikan para siswa serta guru sebab disaat itu mereka bisa pulang bertemu sanak keluarga dan beristirahat di rumah, merilekskan pikiran sejenak dari deretan kalimat yang ditangkap oleh otak.


Parkiran terlihat ramai dengan siswa yang berbondong-bondong mengambil kendaraannya dan mengendarainya agar menjauh dari lingkungan sekolah dan pergi ke tempat yang sudah direncanakan oleh mereka.


Akiel terlihat tengah membawa beberapa buku yang cukup tebal di tangannya. Menuju motornya yang terparkir rapi di sana, meletakkan bukunya di atas motor lalu memasukkannya ke dalam ranselnya yang terisi dengan banyak buku tulis.


Satu dari beberapa buku itu nampak terjatuh ke atas tanah, membuat Akiel menghela nafasnya pelan sebelum berancang-ancang hendak membungkuk untuk mengambilnya dengan beban di pundak.


"Ini" Belum sempat lagi jemarinya meraih buku tebal tersebut, sebuah tangan mungil nan halus lebih dulu mengambilnya. Ia Olivia.


"Thanks Liv" Tersenyum sembari mengambil alih buku itu dan memasukkannya ke dalam ransel. Lalu kembali memasukkan beberapa buku terakhirnya yang menganggur di atas motor sportnya.


Olivia masih tak beranjak dari tempatnya, ia memperhatikan Akiel sedari tadi dengan mata beningnya. Akiel membalas tatapan Karin namun teralihkan seketika ketika seorang perempuan melemparnya dengan tatapan datar lalu melangkah pergi menjauh.


"Eh Karin" Olivia lantas berbalik badan saat Akiel memanggil nama Karin dan melangkah menjauh daripadanya untuk menghampiri sang mantan, "...ini gak kayak yang lo pikirin" Meraih lengan Karin.


Karin menatap datar pada mantan pacarnya tersebut, ia melepaskan cekalan Akiel, "Gue gak mikir apa-apa" Berucap dengan nada suara datar serta ekspresi yang tak menggambarkan perasaan apapun.


"Ahaha gue kira--"


"Gue gak peduli" Mengabaikan tawa garing Akiel dan melangkah menjauh dari lelaki itu.


"Karin" Panggil Akiel yang tak peduli seberapa cueknya Karin terhadap dirinya.


Sebuah mobil sedan terparkir di luar gerbang sana, jaraknya tak jauh dari parkiran, kaca mobil itu terbuka menampakkan seorang lelaki dengan kemeja hitam, "Oliv" Memanggil nama sang gadis kesayangannya yang berdiri tak jauh dari Akiel.


Melihat sang pacar sudah datang menjemput, Olivia melangkah, "Duluan ya El" Tegurnya pada Akiel yang menatap kepergian Karin.


Akiel menatap pada Olivia lalu mengangguk.


Olivia masuk ke dalam mobil sedan milik sang pacar dan memasang seat belt.


Ayden--pacar Olivia itu memberikan sebuah paper bag berisikan junk food pada perempuan yang sibuk bercermin, "Makasih" Mengucapkan kata syukur itu saat Ayden menaruh paper bag di pahanya.


"Heem" Ayden--anak kuliah semester empat itu berdehem.


"Gimana sama hari ini?" Tanya Ayden dengan lembut sembari menancap gasnya untuk membawa sang pacar pulang.


Olivia memgeluarkan hamburger dari dalam paper bag tesebut, "Gak banyak yang terjadi, cuma..."


Akiel menghembuskan nafasnya pelan, "Huh"


"Bian gak usah tarik-tarik bisa gak sih?" Suara perempuan itu mengalihkan perhatian Akiel ia menoleh ke arah belakang. Menemukan Abian yang tengah menarik Keyla sedikit kasar ke arah parkiran.


"Bian sakit" Ringis Keyla sebab Abian benar-benar mencekalnya dengan keras dari kelas hingga di tempat mereka berdiri.


"Gak usah kasar" Akiel melepaskan cekalan Abian terhadap Keyla, ia menatap pada Abian yang menghela nafas kasar. "Kenapa sama kalian berdua?" Bertanya sambil mengarahkan pandangan ke arah Abian fan Keyla secara bergantian


Keyla membuka mukyt hendak berucap , ia mengambil nafas, "Abian ngajak gue pacaran tapi--"


"Jaga mulut lo" Abian menyelanya sebelum Keyla berkata yang tidak masuk akal. Perempuan itu bisa-bisa berkata sesuai kehendak lidahnya


"Huhh" Keyla bersedekap dada sambil membuang nafasnya. Beberapa saat kemudian ia kembali bersikap seperti semula, menatap pada Akiel, "Akiel kok belum pulang?" Bertanya dengan nada sopan pada sahabat Abian.


"Lagi nunggu Rama, dia nebeng gue"


"Oalah" Mengangguk paham.


Bertepatan dengan itu, Rama menghampiri mereka lebih tepatnya menghampiri Akiel yang menjadi tempat tebengannya, "Loh Key, kok belum pulang? Abian juga?" Bertanya dengan dua orang yang berdiri sampingan.


"Gue nebeng Abian" Berucap dengan begitu riang.


"Gak terima tebengan" Ketus Abian yang hanyalah pencitraan semata di depan sahabatnya jika ia menolak kehadiran Keyla yang diketahui anak-anak sekolah tengah mendekatinya.


"Kan kita satu apartemen, iya kan Rama?" Keyla meminta pendapat Rama yang menunjukkan wajah miris.


"Ahh, kalau Abian gak mau biar gue aja yang ngantar lo Key" Menawarkan diri pada Keyla setelah ia melihat wajah dingin Abian yang seolah-olah tak ingin mengakui kehadiran Keyla.


Sedangkan Akiel yang melihat hal itu malah mengerutkan keningnya heran, bukankah tadi Abian yang menarik Keyla? Ini kenapa wajah Abian seperti ingin menolak kehadiran Keyla?


"Lo aja nebeng Akiel" Sahut Keyla pada Rama.


Rama menatap pada Akiel pasti lelaki itu yang memberitahukan, "Ahh, lo yang bilang?" Tanya Rama sedikit kecewa.


"Fakta kan?" Sahut Akiel.


"Cih"


"Ayo Bi" Keyla menggenggam tangan Abian dan mengajaknya pergi dari situ tapi lebih dulu dicegat oleh Rama.


"Gue sama Akiel mau makan mie ayam dekat sekolah, mau ikut gak?" Tawarnya yang membuat Keyla menatap pada Abian yang masih berekspresi dingin. Lelaki itu diam, tapi jemarinya menggenggam erat tangan Keyla yang bertautan dengan dirinya. Seperti tak menyukai ide Rama tersebut.