
Bulu mata lentik Keyla bergerak, disusul terbukanya mata perempuan itu. Ia menatap sayu jam dinding yang ada di dalam kamar itu, pukul lima pagi, sudah saatnya ia bangun.
Ia kemudian menoleh pada Abian yang ada di sampingnya tidur sembari memeluk guling, tidur dengan begitu tenang. Keyla menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya lalu turun dari atas kasur. Ia akan mencuci wajah terlebih dahulu.
Usai mencuci wajah ia menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Memasak nasi terlebih dulu baru membuat menu sarapan sealakadarnya. Telur gulung dan tumis kangkung menjadi menu kali ini.
Keyla menghembuskan nafasnya pelan, menjadi seorang istri diusianya yang baru menginjak delapan belas tahun benar-benar kejutan yang tak pernah terduga di hidupnya. Abuan benar-benar menjadi hadiah ulang tahun yang membuat kehidupan dirinya berubah seratus delapan puluh derajat.
Perempuan itu menoleh kala suara langkah kaki terdengar, Abian dengan wajah mengantuknya terlihat melangkah mendekati dispenser dan mengambil air dari situ. Tak biasanya lelaki itu bangun secepat ini.
Abian mengusap rambutnya yang berantakan lalu membalikkan badannya, tatapannya beradu pada Keyla yang juga menatap lekat. "Kenapa?" Bertanya dengan suaranya yang serak basah.
Keyla menggeleng, ia lalu melangkah menuju wastafel untuk mencuci piring yang tadi ia biarkan begitu saja.
Abian memperhatikan perempuan itu, kemudian tatapannya terpaku pada satu objek. Lama ia terdiam.
"Key"
"Hm? Kenapa Bi?" Menyahut tanpa menoleh.
Abian membuang muka ke arah lain, ia berdehem sekali, "Kayaknya lo tembus deh" Menegur noda merah pada pakaian yang istrinya kenakan.
Keyla beralih menarik kain yang ia kenakan untuk melihat hal yang ditegur suaminya, "Ahh iya ya" Berucap santai namun sebenarnya ia malu setengah hidup. Keyla tak menyelesaikan urusan piring kotornya, ia melangkah pergi menuju kamar mengambil handuk dan juga daleman serta pembalut miliknya lalu masuk ke kamar mandi dengan segera.
Ahh ia malu sekali.
Abian yang sedari tadi hanya diam sembari memperhatikan gerak-gerik istrinya itu kini bereaksi pada tumpukan piring yang belum selesai dibereskan. Lelaki itu terlihat melamun dengan melihat objek yang sama.
Kemudian ia melangkahkan kakinya, terus melangkah hingga berhadapan dengan pintu kamar tidur ia lebih memilih tidur dan membiarkan tumpukan piring kotor tersebut. Ia masih mengantuk.
. . .
"Hai Rama" Keyla menghadang langkah kaki Rama yang tengah menuruni anak tangga.
Rama yang awalnya terkejut dan hendak marah kini merekahkan senyumnya saat tahu jika yang menyapanya lebih dulu ialah Keyla, "Oh hai Key" Membalas sapaan perempuan cantik itu.
"Em makasih ya buat yang kemarin, jaketnya masih dicuci ntar kalau dah selesai baru gue balikin ya" Ucapnya, memang kedatangan dirinya pada Rama adalah memberitahukan barang lelaki itu masih dalam masa pencucian hingga membuatnya tak bisa mengembalikan dengan waktu yang cepat.
"Oh iya sama-sama, santai aja" Ucap ketua OSIS Smansa Taruna itu dengan pandangan yang tak lepas dari Keyla.
"Ya udah gue ke kelas dulu" Pamit Keyla tak lupa dengan senyum manisnya.
Rama menganggukan kepalanya, "Okey cantik" Terkekeh kecil.
"Bisa aja" Langkah kaki Keyla yang kecil mulai membawanya ke arah kelas dua belas IPA dua.
Rama terus memperhatikan punggung Keyla dengan tatapan kagum, ia tersenyum begitu lebar, beberapa siswa yang melintas di depannya ada yang kagum akan senyum itu ada juga yang merinding.
Abian, Keenan, dan juga Akiel yang baru melintas di koridor menangkap basah Rama yang terus menatap ke satu arah tanpa berkedip.
Akiel memukul bahu lelaki itu sedikit kasar, "Kering gigi lo ntar" Tawanya berderai.
Rama menatap sebal pada Akiel, ia balas mendorong bahu lelaki tersebut, "Ganggu aja lo" Ketusnya tak suka.
"Dih" Menghapus jejak tangan Rama yang sempat menyentuh seragam sekolahnya, sombong.
Mata Rama kemudian terarah pada Abian yang sedari tadi hanya diam seperti Keenan, ia merentangkan tangannya pada sang sahabat, "Abian, kesayangan gue" Melangkah mendekat seolah ingin memeluk.
Sebelum kulit Rama menyentuh dirinya, sebuah pukulan mendarat di dada ketua OSIS itu, "Najis" Lontarnya.
Rama mengusap dadanya yang cukup nyeri, "Dih gue lagi belajar jadi softboy ya hari ini" Urai Rama yang membuat Abian bergidik ngeri.
"Ya nggak ke gue juga bege" Sanggah Abian, pagi-pagi Rama sudah berbuat yang tidak-tidak, tangannya kembali memukul Rama kini bahu sasarannya.
"Sakit astaga" Sergah Rama. Untung Abian tak menggunakan tenaga dalam untuk memukulnya, masih ada bubuk kasih sayangnya.
Keenan memutar bola matanya malas, "Dah sana patroli lo, kami masuk kelas duluan" Ucapnya lalu mengajak Akiel dan Abian untuk ke kelas lebih dulu.
"Hm" Mulai melangkah melewati koridor, berpapasan dengan warga sekolah lainnya.
"Hai Oliv" Menyapa pada Olivia yang melangkah bersama dengan Andrea. Dua perempuan itu sepertinya tengah membicarakan tentang menu makanan.
Olivia menatap pada Rama dan mengangguk, "Hai" Menyapa balik dengan keanggunannya.
Rama tersenyum tipis lalu kembali menatap ke arah depan, sengaja mengabaikan Andrea yang juga sempat menatap padanya.
Andrea menggembungkan pipinya sebal sebab hanya Olivia yang dapat sapaan. Tak terima dibedakan, perempuan itu menarik almamater OSIS Rama, membuat lelaki dengan rambut hitam pekat itu menoleh pada dirinya, "Kok gue gak lo sapa sih?!" Protes Andrea yang mengundang perhatian beberapa orang.
"Oh ada lo, gak lihat--aaww!" Niat ingin mengerjai Andrea, malah membuat amarah perempuan itu timbul. Kini rambutnya tengah Andrea jambak.
"Rasain" Melangkah pergi dengan hati yang gusar terhadap Rama.
Rama memegang kepalanya yang berdenyut sebab ulah Andrea, ia menatap Andrea dan Olivia yang masih pada posisinya, "Dirantai tuh Liv, peliharaan lo" Ucapnya.
Andrea menolehkan kepalanya pada Rama yang ternyata masih menatapnya, "Diem lo" Sungutnya.
"Aya..." Olivia mengusap punggung Andrea agar menstabilkan emosinya.
"Keyla? Nyari apa?" Keenan yang tengah berkunjung ke perpustakaan berjumpa dengan Keyla yang terlihat kebingungan di antara rak-rak buku
"Keenan?" Berbalik badan untuk bertatapan dengan sahabat Abian itu, lagi-lagi ia harus mendongakkan kepalanya pada lelaki yang memiliki tinggi 175 cm.
"Yoi" Memasarkan senyum manisnya.
"Em gue nyari buku biologi kelas dua belas" Menjawab pertanyaan Keenan sebelumnya, sebenarnya terselip niat untuk meminta tolong.
Keenan yang peka pun membantu mencarikan buku yang Keyla inginkan, ia mengambil buku dengan sampul kuning, "Yang ini?" Bertanya pendapat pasti Keyla.
"Em bukan yang dicari sampulnya warna biru" Menunjuk buku yang ia maksud, letaknya ada di rak paling atas, sangat tinggi.
Keenan meraih buku tersebut dengan begitu mudah, "Ini?" Memberikannya pada Keyla.
"Iya makasih ya" Mengambil alih buku tersebut.
"Perlu berapa? Biar gue ambil" Menawarkan diri. Ia kan baik hati.
"Dapat gak Key?" Seorang perempuan datang menghampiri Keyla dengan dua buah buku di tangannya, ia adalah Olivia.
Keyla mengangguk sebagai jawaban, lalu kembaki menoleh pada Keenan, "Satu aja cukup kok Nan"
"Okay" Mengangguk saja.
Olivia menatap pada Keenan, tak biasanya lelaki utu ada di perpustakaan, "Nyari apa Nan?" Bertanya dengan maksud berbasa-basi saja.
"Buku porno" Menjawab asal yang malah mendapat pukulan di bahunya, "Aww kok gue dipukul?" Mengusap bahunya yang terasa sakit.
"Jaga mulut lo ya? Ayo Key" Menarik tangan Keyla agar menjauh dari sosok Keenan yang kurang waras itu.
"Sialan tuh cewek, untung lo cantik" Bergumam. Perhatian teralihkan saat mendengar suara benda bada di letakkan, "Mau apa? Biar gue ambil" Bertanya pada seorang perempuan dengan wajah yang begitu polos tanpa balutan make up seperti teman-temannya yang lain. Perempuan itu baru saja meletakkan sebuah kursi di atas rak dengan keterangan 'Bahasa dan Sastra'.
Perempuan itu menatap pada Keenan lalu menggeleng atas tawaran Keenan, "Nggak usah Kak, aku bisa ambil sendiri" Ucapnya lalu naik ke atas kursi yang tadi ia bawa dan mencari buku yang ia inginkan.
Keenan memperhatikan postur tubuh adik kelas itu dengan seksama, pendek banget. Tapi masih pendek si Keyla sih.
Merasa terus diperhatikan membuatnya tak enak hati, ia menolehkan kepalanya pada Keenan yang masih melempar tatapan padanya, "Kenapa ya Kak?" Bertanya dengan kikuk.
"Aah nggak" Menggeleng.
Setelah mendapatkan bukunya, ia turun dari kursi. "Permisi Kak" Berpamitan pada Keenan yang belum juga pindah posisi.
"Iya" Menganggukkan kepalanya. Pikirannya melayang entah kemana.
. . .
Bel istirahat berbunyi lima menit yang lalu, suara larian kecil terdengar di koridor yang cukup sepi, "Bian" Memanggil lelaki dengan baju seragam yang dikeluarkan.
"Hai" Dengan nafasnya yang tak beraturan, menyampaikan sapa pada lelaki dengan tinggi 179 cm tersebut.
"Apa?"
"Nyapa doang kok" Ucap Keyla dengan menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajahnya. Ia mengambil jedai yang ia jepitan di tali tempat ikat pinggang berada dan mencepol rambutnya.
"Nunduk dikit kek Bi, sakit nih leher" Ucapnya sebab ia sudah lelah untuk terus mendongak, lagipula kenapa ia selalu dipertemukan dengan lelaki yang selalu menyantap tiang listrik.
"Salah sendiri pendek" Ucapnya sembari menyandarkan punggungnya di dinding, kali ini membiarkan istrinya bercakap dengan dirinya di sekolah.
"Hormon" Sahut Keyla dengan mantap.
"Kan udah cukup Bian yang tinggi, ntar kalau punya anak moga aja nurun kek Bian" Ucap Keyla pelan agar hanya mereka yang mendengarnya.
Abian menaikkan sebelah alisnya, tangannya terangkat untuk menyentil oelan dahi gadis itu, "Omongan lo gak berbobot"
Keyla mengusap keningnya sebelah tangannya menunjukkan sebatang cokelat ke hadapan sang suami, "Ini dari Bian?" Tanyanya.
"Bukan"
"Terus?" Padahal ia berharap jika yang memberikan makanan ini ialah Abian.
Abian memutar bola matanya malas, ia memasukkan kedia tangannya ke dalam saku celana, "Lo pikir gue cenayang?"
"Tulisannya gini 'hai key gue gak tahu kesukaan lo apa. Tapi semua cewek pasti suka cokelat kan?' gitu--"
Abian yang memperhatikan gaya penulisan itu akhirnya merebut paksa lalu melemparnya pada tong sampah yang berjarak dua meter dari tempatnya berdiri. Anak pemain basket sepertinya tak sulit melakukan hal itu.
"Kok dibuang sih?!" Pekik Keyla pada Abian.
Abian menundukkan kepalanya dan berhadapan langsung dengan wajah Keyla, "Ada peletnya" Ucapnya lalu melangkah pergi dari hadapan Keyla.
Keyla menatap sebal pada Abian yang kembali meninggalkannya, makanan itu dengan seenak jidatnya saja memasukkan ke dalam tempat berisi tumpukan sampah, ya walaupun Keyla tak suka cokelat tapi tak berarti harus dibuang juga kan, "Nyebelin"
"Ya udah pungut aja" Menjawab tanpa berbalik badan.
"Ogah, dasar Bian nyebelin" Pekik Keyla sebal, beruntung koridor tak banyak orang berlalu lalang sehingga mereka tak menarik begitu banyak perhatian.