
Weekend pagi ini Abian terlihat fokus membaca buku di sofa dengan ditemani segelas jus anggur, ditengah fokusnya ia Keyla sang istri datang mengarah kepadanya, "Bian" Lengannya langsung melilit pinggang Abian, kepalanya menempel di dada bidang Abian.
"Minggir" Abian mendorong tubuh Keyla agar menjauh. Perempuan itu mengganggu fokusnya dalam membaca. "Key, lo ganggu tahu gak sih" Decak Abian sebab perempuan itu tak menjauh sama sekali.
"Peluk doang" Keyla melonggarkan pelukannya lalu memberi jarak antara mereka berdua, ia menggembungkan pipinya sebal matanya yang teduh menatap pada Abian.
"Cih" Lelaki itu lebih memilih untuk kembali fokus dengan bacaannya. Ia sesekali mencuri pandang ke arah Keyla yang mengambil alih jus miliknya dan hampir habis diteguk perempuan itu.
"Bian mau mie gak? Biar gue bikin dua bungkus" Tanya Keyla sembari meletakkan gelas jus tadi tanpa rasa bersalah sebab hampir menghabiskan minuman milik suaminya sendiri.
"Gak, gue kenyang" Tolak Abian tanpa menatap pada Keyla yang pagi ini terlihat begitu segar.
Keyla mengernyitkan keningnya, pagi ini ia bangun agak telat dan belum sempat membuat sarapan. Lalu apa yang dimakan oleh Abian? "Makan apa?"
"Makan angin"
"Idih"
Abian melirik adanya ponsel Keyla yang dibiarkan menyala di atas meja, ia mengambil ponsel itu tanpa harus mendapat izin dari istrinya sendiri.
"Bian ihh, siniin hape gue" Keyla berusaha merebut ponsel itu dari tangan Abian namun ditahan lebih dulu oleh Abian.
"Diem" Abian menahan bahu Keyla agar tak banyak bergerak.
"Apa sih Bian? Itu privasi gue ya" Sebal Keyla saat jemari Abian membuka beberapa aplikasi miliknya yang terbilang pribadi.
"Gue suami lo" Nada suaranya terdengar meledek Keyla jika pangkatnya di rumah itu lebih tinggi.
"Balikin gak?" Suara Keyla yang biasanya lembut kini terdengar lebih tegas.
"Ganjen banget" Cibir Abian saat melihat beberapa foto Keyla yang berfoto ria bersama beberapa laki-laki yang tak ia kenal, mungkin teman sekelas Keyla dulu.
"Ya terserah dong, itu hape gue" Sewot Keyla.
"Cih" Lirikan tajam terarahkan kepada sang istri, hari ini perempuan itu terlalu berisik.
"Mantan penggoda lo?" Pertanyaan itu dilemparkan Abian sebab ia melihat beberapa foto selfie Keyla yang hanya menggunakan tank top atau pun hanya dress yang kekurangan bahan.
"Sembarangan ya Bian mulutnya" Air wajah perempuan itu berubah sebab ucapan Abian barusan. Ia tak semurah itu jadi perempuan asal Abian tahu.
"Nebak doang" Berkata dengan acuh sembari meletakkan ponsel Keyla kembali ke atas meja.
Keyla mengambil ponsel miliknya dengan tatapan datar kepada Abian, "Pikir-pikir dong kalau ngomong, gue juga punya hati kalau lo lupa" Ucapnya dengan tak bersahabat lalu bangkit dari tempat duduknya dan pergi dari samping Abian.
"Dih baperan" Cibir Abian tanpa adanya rasa bersalah kepada Keyla.
"Daripada Bian, gak punya hati" Sahut perempuan itu dengan nada kesal.
. . .
Dua jam tak terlihat di penglihatan Abian, Keyla akhirnya menampakkan dirinya dengan pakaian rapi, "Mau kemana?" Bertanya dengan nada sinis.
"Keluar"
"Lo gak ada izin"
"Lah ini?" Bukankah Abian sudah tahu jika ia akan pergi apakah ia harus mengulangi hal itu.
"Lo gak bilang daritadi" Abian memperjelas hal yang membuatnya kesal pada sang istri.
Alis tipis milik Keyla terangjat sebelah, "Emang perlu? Bian juga sering tuh gak bilang-bilang kalau mau keluar" Menyamakan dirinya dengan situasi yang sering Abian terapkan.
"Beda"
Keyla yang masih kesal dengan Abian terlihat bersedekap dada, "Apa bedanya coba? Gue istri lo, dan lo suami gue, sama aja perasaan" Hari ini ia akan bersenang-senang dan membantah Abian adalah salah satu cara agar ia bisa bersenang-senang.
"Ya setidaknya lo bilang sebelumnya" Masih tak terima sang istri akan pergi tanpa izin daripada dirinya.
"Apa sih? Gue gak bakal hilang juga" Kakinya mengambil langkah menuju pintu apartemen.
"Key" Lengan perempuan itu dicekal oleh Abian
"Udah ya Bian, gue nanti telat" Keyla melepas cekalan itu dengan santai. Seperti tak emosi dengan sang suami yang sudah marah padanya.
"Keyla!" Lelaki itu sungguh mudah dipancing emosinya.
Bukannya ikut kesal, Keyla justru tersenyum tipis, "Abian..." Tangannya mengusap bahu suaminya dengan lembut, "Lo gak perlu khawatir gue godain cowok lain, gue ingat kalau gue udah bersuami dan juga gue bukan penggoda"
Abian diam mendengar hal itu jadi sang istri saat ini sengaja melakukan pembantahan terhadap dirinya sebab ucapannya beberapa jam yang lalu?
"Paling jam sepuluh malam gue pulang. Panasin aja makanan yang di kulkas buat lo makan malam" Ucap Keyla sembari keluar dari apartemen tersebut.
Mall...
"Hai bestie" Keyla menyapa Andrea dan juga Olivia yang tengah bersantai ria di salah satu kafe di mall tersebut.
Andrea melambaikan tangannya kepada Keyla, "Sorry kecepetan gue datengnya" Berniat pamer diri karena ia kali ini datang lebih awal dari waktu janjian.
Olivia menatap malas pada perempuan yang sudah bersahabat dengannya dari lama itu, "Dih, kalau bukan gue yang ngedesak lo gak bakal secepat ini ya" Memberitahukan jika kedatangan Andrea yang cepat mendapat campur tangan dari dirinya.
"Ahaha, ya udah yuk beli tiketnya" Ajak Andrea sembari bangkit dari duduknya. Mereka bertiga lalu melangkah keluar kafe dan ingin langsung menuju bioskop.
Di tengah waktu menunggu mereka akan tiket, ponsel dari dalam sling bag Keyla terus berbunyi membuat sang pemilik ponsel kesal sendiri bahkan melihat siapa yang menelponnya membuatnya semakin jengkel.
"Siapa Key?" Tanya Olivia yang melihat peremouan mungil itu hanya melihat ponselnya sesekali dengan wajah masam.
"Nomor iseng, ya udah yuk" Sudah mendapatkan tiket yang diinginkan membuat Keyla tak ingin berlama-lama di tempatnya berdiri.
"Matiin aja kalau ganggu banget" Saran Olivia kemudian.
"Nggak ah, silent aja" Mencoba Ter lihat ceria walau hati kesal setengah mati.
"Olivia" Suara bariton itu membuat tiga gadis yang akan masuk bioskop menolehkan kepalanya, menemukan seorang lelaki dengan tubuh atletis tengah melangkah mendekati mereka.
Olivia menghadap sepenuhnya pada lelaki yang notabene sebagai kekasihnya semenjak setahun yang lalu, "Kok kamu di sini? Sama siapa?" Bertanya.
Andrea mendekat pada Keyla dan berbisik padanya, "Pacarnya Oliv" Memberitahukan status dua orang yang berlawanan jenis itu.
"Sendiri sih" Ucap lelaki itu singkat sembari memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
Olivia mengernyitkan dahinya, "Nggak biasanya, kamu juga gak ada ngabarin aku bakal keluar" Ada keanehan yang terjadi saat ini.
Lelaki itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Lupa" Menyahut dengan cengengesan.
"Oh iya" Olivia tak puas dengan jawaban darinya.
"Ayden"
Semua terkejut dengan kedatangan seorang perempuan cantik yang dengan antusias menghampiri Ayden, pacar Olivia, "Lho katamu sendiri? Dia siapa?" Nada suara Olivia tak sengaja naik, menunjukkan protesnya terhadap orang di hadapannya.
Tak kunjung dijawab, membuat Andrea yang awalnya tak ingin ikut campur dubuat sebal oleh diamnya Ayden, "Ayden"
"Em ada kerja kelompok hari ini, aku sekelompok sama dia" Menjawab dengan gerak-gerik tak menyakinkan tiga gadis di hadapannya.
"Gak usah negatif thinking napa sama cowok lo sendiri?" Nada suara dari perempuan yang berdiri bersisian dengan Ayden sungguh membuat emosi Olivia semakin naik, namun tetap berusaha ditahan gadis itu.
"Ck, gak usah ikut-ikutan lo" Marah Andrea pada sang pemilik suara.
"Temen doang kok Liv" Jemari Ayden mengusap rambut Olivia di hadapan mereka semua.
Bukannya menjawab, Olivia memejamkan matanya sebentar lalu menatap tajam pada lelaki di hadapannya ini. Membuat Ayden diam beberapa saat.
"Beneran sayang, teman kelompok gak lebih" Kini nada suara terdengar panik akan diamnya sang kekasih dan juga tatapan Olivia yang tajam kepadanya
"Udah dulu ya, gue harus belajar sama Ayden" Dan kini dengan tak tahu dirinya perempuan yang diakui Ayden sebagai teman sekelompoknya menggandeng lengan Ayden.
"Jauhin tangan lo" Andrea yang melihat hal itu mendorong bahu perempuan yang tak ia tahu namanya.
Ayden menatap sinis pada Andrea, ia lalu menatap pada perempuan itu, "Lo duluan aja" Ucapnya dan dituruti begitu saja.
Olivia mengatur air mukanya, lalu kemvali menatap pqdq Ayden dengqn tatqpan yqng sama seperti sebelumya, "Cuma berdua?"
"Nggak, sama anak-anak yang lain juga" Jawab Ayden yakin.
"Oh"
Ayden diam sejenak lalu menggenggam tangan Olivia dan mengusapnya lembut, "Marah, hm?"
"Bodoh, gitu aja pake ditanya" Gumam Keyla yang sedari tadi hanya diam saja menyaksikan drama di hadapannya. "Ayo Liv" Gadis itu paham situasi, ia lalu menarik Olivia agar pergi dari hadapan lelaki yang mungkin akan menghancurkan mood Olivia hari ini.
Ayden menatap kepergian Olivia yang ditarik oleh Keyla kini hanya tersisa dirinya dan Andrea, gadis itu mendekati Ayden dengan tatapan tak bersahabat, "Berani lo nyakitin Oliv--"
"Gue gak minat debat sama cewek" Ucap Ayden malas pada Andrea yang hanya akan mengancamnya.
Andrea sama sekali tak mempermasalahkannya, "Dan gue gak selera liat cowok munafik" Ucapnya sarkas yang membuat Ayden membalas tatapan tajam perempuan itu.
"Stop curiga ke gue, gue gak bodoh untuk ngelakuin itu" Ucapnya dengan nada marah.
Andrea memutar bola matanya malas lalu berlalu saja dari situ tanpa ingin menoleh ke belakang menatap pada Ayden yang sangat Olivia kasihi itu.
. . .
Lebih dari dua jam berada di gelapnya ruang bioskop, tiga gadis itu keluar dan mulai menyusun rencana weekend mereka berikutnya, "Mampir ke Garden Coffe yuk bentar" Ajak Andrea dengan antusias, kafe milik Keenan itu memang populer di kalangan anak muda dan menjadi favorit setiap remaja.
"Boleh" Keyla menyahut.
"Gue ngikut aja" Ucap Olivia dengan senyum tipis.
Keyla mebatap pada Olivia yang terlihat seperti memendam sesuatu; "Lo gak nyamperin cowok lo dulu?" Tanya perempuan mungkin itu.
"Ayden gak suka diganggu kalau lagi belajar, ya udah yuk" Olivia melangkah lebih dulu lalu kmKeyla dan Andrea menyusunnya.
"Lo gak ngelarang cowok lo deket cewek lain, Liv?" Keyla kembali melempar pertanyaan yang sedari tadi berkelana di pikirannya.
"Buat apa? Gue bebaskan aja pertemanannya asal gak kelewatan" Olivia berkata dengan santun.
Keyla menatap sebentar pada gadis itu, "Lo kalau agresif gak jadi masalah besar juga, Liv" Sarannya, menurutnya Olivia terlalu membebaskan.
Decakan kecil keluar dari mulut Andrea, "Gue udah ngomong itu berkali-kali sama dia Key, emang gak bisa dinasihati orangnya" Berkata dengan nada jengkel akan sikap Olivia.
Olivia yang mendengar hal itu hanya tersenyum.
. . .
"Biasanya berempat, si kulkas berjalan mana?" Tanya Olivia pada tiga lelaki yang menjadi primadona Smansa Taruna tersebut.
Keenan menatap pada Olivia yang menarik bangku untuk berkumpul dengan mereka disusul dengan Keyla dan Andrea, "Tumben lo nanyain Abian" Heran Keenan yang tahu betul jika perempuan itu jarang bertanya mengenai orang-orang disekitarnya.
"Nih ngewakilin Keyla" Menjual nama sang teman yang bahkan dari tadi hanya diam saja.
"Gue diem aja padahal" Hati Keyla masih sebal mengingat kalimat yang Abian ucapkan tadi pagi padanya, maka dari itu tak ada satupun pembicaraan yang ia ungkit mengenai Abian.
"Buru jawab" Olivia menendang kaki Akiel yang sedari tadi hanya main ponsel di sampingnya.
Akiel berdecak sebal, ia mengelus kakinya yang ditendang oleh Olivia, "Apartemen, nyokap bokap katanya dateng" Menjawab dengan agak kesal.
Mata Keyla membulat mendengar hal itu, ia mengambil ponselnya dari dalam sling bag miliknya dan mengecek beberapa panggilan suara tak terjawab dari Abian serta beberapa pesan singkat yang menyuruhnya pulang.
Sial.
Keyla terus diam di tempatnya tanpa bisa fokus pada pembicaraan saat ini, ia harus menunggu beberapa saat untuk bisa pulang agar tak terlihat mencurigakan.
"Em gue balik duluan ya" Keyla bangkit dari duduknya setelah lima menit menahan diri agar tak pergi.
Melihat Keyla berdiri membuat Rama ikut bangkut dan mengundang tatapan dari teman-teman semejanya, "Mau gue antar gak, Key?" Tawar Rama yang hanya diacuhkan oleh Keyla.
"Gak usah gue lagi buru-buru" Pergi berlalu begitu saja.
"Keyla suka sama Abian, gak usah maksa deh lo" Andrea berucap sembari mengaduk-aduk minumannya, ia melirik pada Rama yang terus menatap ke arah pintu keluar.
Rama menatap pada Andrea, "Gue gak maksa" Tuturnya sebelum menghela nafas berat, "...cuma ngerasa gak adil" Sambungnya pelan yang tentu saja didengar oleh Andrea.