
Dua bulan kemudian...
"Pagi Abian" Sapaan selamat pagi itu dilontarkan dari Keyla yang sepertinya tak jenuh-jenuhnya disampaikan.
Abian sendiri, dia keluar dari kamar dengan seragam lengkapnya dan juga tas di pundak. Ia menatap pada sang istri yang menaruh makanan diatas meja makan.
"Emm" Mengangguk.
"Ih sapa balik kek" Kesal Keyla sebab sapaannya sangat jarang dibalas.
Abian menghampiri Keyla lalu mencomot telur dadar gulung dan menyantapnya, "Gak berangkat?" Tanya Abian sembari mengunyah.
"Gue baru mau sarapan" Keyla duduk di kursinya dan mulai memakan makanannya.
"Sarapan mulu lo" Celetuk Abian yang selalu melihat Keyla makan pagi.
Keyla menelan makanannya terlebih dulu ia lalu menatap pada Abian yang masih dengan posisi berdirinya, "Udah terbiasa Abian, mending sini sarapan bareng gue" Mengajak sang suami.
"Gue gak terbiasa, duluan ya" Pergi setelah ia meminum air mineral dari gelas Keyla.
"Tuh kan ditinggal terus gue" Sebal Keyla.
"Dibiasain" Celetuk Abian lalu keluar dari dalam apartemen.
Abian mengambil ponselnya yang bergetar dari dalam saku celananya dan memperhatikan sebuah pemberitahuan.
Keyla birthday tommorow
Pemberitahuan jikalau ulang tahun Keyla sudah dekat membuat Abian mengerutkan keningnya.
Kapan gue ngasih cacatan ini di hape? Ah entahlah sore nanti aja mikir ini.
Rooftop sekolah...
Keyla : Dimana?
Me : ?
Keyla : Buta huruf ya?
Me : Rooftop
Keyla : Gue ke sana ya?
Me : Gue bareng yang lain
Keyla : Terus?
Me : Terserah lo
"Hape mulu lo, punya pacar ya?" Akiel menegur Abian yang saat menyantap cemilannya tadi terus menatap layar ponselnya.
Abian menatap pada Akiel lalu mengedikkan bahunya tak ingin menjawab pertanyaan dari Akiel.
"Paling chatan ama Keyla" Tutur si ketua OSIS yang juga ikut menghabiskan makanan ringan tersebut.
"Tapi bukannya..." Akiel menatap pada Rama yang baru saja memberinya jawaban dengan begitu santai. Setahunya, Rama menyukai Keyla dan bukan Abian.
"Nggak dikasih feedback gue, ama Abian ajalah. Kasian juga ntar dikira gay" Melirik pada Abian.
Abian melemparinya dengan kacang, "Sembarangan, lo yang gay" Sewotnya yang tak terima disebut penyuka sesama jenis.
"Abian" Suara perempuan yang terdengar begitu dekat berhasil mengalihkan perhatian keempat lelaki yang tengah mengobrol.
"Em kami ke bawah duluan ya, Yan?" Melihat siapa yang datang Keenan mengkode yang lain untuk menjauh dulu.
Paham dengan kodean dari Keenan, Akiel dan Rama bangkit berdiri dan menyusul kepergian pengelola Garden Coffe itu untuk turun dari roottop.
"Aku...." Perempuan itu mendekat pada Abian yang bangkit berdiri dan bersiap untuk pergi.
"Gue sibuk" Abian lantas menepiskan tangan itu kala hendak menyentuhnya.
"Dengar dulu" Pinta perempuan itu dengan sangat.
"Jauhi tangan lo itu" Menatap tajam.
Perempuan itu menggelengkan kepalanya, ia tetap mencekal lengan kekar Abian yang menatapnya tak bersahabat, "Abian, kamu nggak pernah kayak gini sebelumnya sama aku" Protes.
"Terus gue peduli?" Menepis kasar.
"Kamu kok--"
Abian berdecak, ia menatap penuh amarah pada perempuan yang tak henti-hentinya mengganggu dirinya, "Kita sudah selesai, tepat disaat lo main di belakang gue" Berkata dengan penuh penekanan.
"Abian kamu--"
"Gue gak ada waktu dengar omong kosong lo" Tak ingin memperpanjang perdebatan. Abuan berlalu pergi meninggalkannya untuk kesekian kali.
Sedangkan itu, Rize tengah menaiki anak tangga menuju rooftop tak sengaja menabrak dada bidang Abian yang posisinya tengah turun tangga.
"Maaf--lho Abian? Kenapa?" Perempuan itu terkejut dengan wajah merah Abian yang terlihat menyimpan sebuah dendam yang tak ia ketahui.
"Bukan urusan lo" Berkata dengan ketus pada sang istri.
"Gue kan nanya doang" Ucap Keyla yang sebenarnya tak suka diketusi oleh Abian.
"Jangan ajak gue bicara!" Abian mengatakannya dengan tegas lalu pergi dari situ.
Bertepatan dengan berlalunya Abian, seorang perempuan terlihat juga turun dari rooftop dan menatap lekat pada punggung suaminya.
Mata Keyla membulat melihat siapa perempuan itu.
Kalian ada hubungan
. . .
"Dari datang tadi lo udah gak fokus kenapa sih?" Sambung lelaki itu.
"Lagi ada yang gue pikirin" Abian mendudukan dirinya di atas lapangan itu dan mengatur irama nafasnya.
"Soal apa?" Rama mendudukan dirinya di samping Abian.
Abian menggeleng, "Gak apa-apa"
"Ntar malam club yuk" Akiel yang tadi pergi untuk mengangkat telepon kembali lagi dengan wajah jenuhnya.
"Kenapa lo?" Keenan menatap pada sang sahabat yang kondisinya sepertinya lebih parah dari Abian. Memar di tubuh Akiel sebenarnya masih parah namun lelaki itu menolak untuk pulang ke rumahnya.
"Biasalah"
Abian tahu apa yang Akiel alami beberapa hari terakhir ini, ia juga ingin menemaninya tapi posisinya saat ini tak memungkinnya untuk pergi, "Gue kayaknya gak bisa deh" Perkataan itu menarik perhatian ketiga sahabatnya.
Besok ulang tahunnya Keyla.
"Lo sibuk apaan lagi Yan?" Rama bertanya.
"Gue ada urusan malam ini" Tutur Abian sembari memperbaiki tali sepatunya yang agak longgar.
"Kata lo banyak pikiran" Keenan berkata.
Abian mengangguk, "Ya tapi gue lagi gak mau alkohol"
"Gak biasanya lo skip kalau masalah club" Rama kembali berkata.
"Ya sekarang keadaannya sudah beda" Abian menyahut
Gue sudah punya istri.
"...buat malam ini gue skip dulu" Sambungnya yabg akhirnya disetujui oleh yang lain.
"Gue ngajak Aya sama Oliv ya?" Rama berkata dan memancing kekesalan dari Keenan.
"Jangan aneh-aneh" Berkata dengan nada suara yabg cukup tegas.
"Ya kali aja kan mau ikut"
"Kalau mereka mau pergi ya biar aja pergi sendiri, gak usah ngajak. Anak gadis orang lo rusakin" Ucap Keenan. Ia memang tak suka jika persahabatan mereka terjalin hingga ke tahap merusak perempuan.
Toko kue...
Abuan pulang lebih awal dari sahabatnya uang lain sebab ia akan mampir ke temoat ini untik membeli sebuah kue yang akan ia berikan pada Keyla di hari ulang tahun perempuan itu.
"Abian, kamu ke sini?" Seorang peremouan yang cukup manis menyambut dengan antusias kedatangan lelaki yabg tengah melihat beberapa kue yang dipajang.
"Yang ini satu, tolong bungkusin" Tak menjawab ucapan perempuan itu sebelumnya ia menunjuk pada kue dengan balutan cream pink dan putih.
Perempuan itu memperhatikan kue yang Abian tunjuk, lalu mengambilnya dengan tanda tanya besar di kepalanya. "Buat siapa Yan? Mama kamu kan masih lama ulang tahunnya, ini juga bukan favorit beliau" Bertutur kata.
"Tinggal bungkus aja kenapa sih? Harus banget lo banyak tanya?" Abian menjawab, ia mengambil secarik kertas dan juga pulpen dan menuliskan sesuatu di atasnya.
Peremouan itu tersenyum simpul, "Gak mau request kata-kata--" Ia menatap kertas yang Abian sodorkan padanya. Request-an kata-kata yang ingin dituliskan di atas kue itu, "Oh oke" Mengambil kertas itu dan menuliskannya dengan lihai dengan cream yang sebelumnya ia buat terlebih dulu.
"Buat siapa kalau boleh tahu?" Memasukkan kue itu ke dalam kotaknya sembari melontarkan pertanyaan.
"Cewek gue"
Perempuan itu diam sejenak, "Oh udah ada pacar ya kamu"
"..."
"Kira-kira kalau bisa diperbaiki, aku masih ada tempat gak di hati kamu?" Perempuan itu ialah mantan Abian yang terus menerus meminta maaf dan ingin memperbaiki hubungan di antara mereka.
"Nggak ada"
"Ini Yan" Menyodorkan kotak kue tersebut pada Abian.
"Makasih" Langsung pergi begitu saja setelah menyerahkan uang pembayaran.
"Silakan datang lagi" Berucap dengan pelan dengan hati yang begitu sakit.
Malam hari...
Saat jam menunjukkan jam 10.00 malam Abian menarik Keyla untuk keluar dari apartemen dan masuk ke dalam mobil yang sudah ia pinjam dari rumah. Lelaki itu mengenakan sebuah kaos berwarna navy dipadupadankan dengan jaket hitam miliknya dan Keyla yang menggunakan sweater lilac dan juga celana panjang.
"Dingin Abian, kenapa malah ngajak keluar sih?" Keyla terus saja mengomel di sepanjang jalan sebab Abian yang memaksanya untuk keluar saat matanya sudah sangat berat.
"Mending tidur aja di rumah" Tuturnya.
"Sebentar aja Keyla" Abian masih fokus berkendara, "Kalau mau tidur, tidur aja dulu" Mengusap paha sang gadis yang terlihat tantrum.
"Lagian aneh-aneh aja jam 10 ngajak keluar, coba jam 7 kek keluar buat jalannya"
"Marah-marah mulu lo"
"Abian juga ngeselin banget" Menggembungkan pipinya sebal, "...tadi siang aja marahin gue" Mengingat kejadian saat mereka berpapasan di anak tangga.
"Ya kan posisinya gue lagi marah" Abian membela diri.
"Ya kan bisa gak usah marah ke gue juga" Keyla terus berkata dengan kesalnya, "Ini juga ngapain sih segala pakai mobil segala? Motor Bian kan ada" Kini kendaraan mereka yang menjadi sasaran amarah Keyla
"Bawel banget" Abian meletakkan paper bag berisi makanan kegemaran Keyla di paha gadis itu.
"Gitu kek dari tadi" Senyum Keyla merekah. Ia kini membuka isi dari paper bag itu dan mulai memakannya.
Abian terkekeh kecil melihat kecil melihat ekspresi Keyla, "Harus banget lo disogok"
"Kewajiban" Celetuk Keyla yang kini moodnya sudah cukup terkendali, "Mau kemana?"
"Nanti juga lo tahu kok" Enggan memberitahukan temoat yang akan mereka kunjungi malam ini.