Eros Love

Eros Love
Kotak Bekal



Keyla yang telah mengenakan seragamnya nampak begitu sibuk menata sarapan di atas meja makan. Lewat ekor matanya, Abian nampak keluar dari kamar dengan menggendong ransel sekolahnya. "Abian" Panggil Keyla sembari menatap pada Abian.


"Hm?"


"Gak sarapan?" Bertanya dengan senyum manis di wajahnya yang dibalas dengan wajah datar dari Abian. Monoton sekali lelaki itu.


"Nggak" Balasnya singkat, ia tampaknya tengah mengikat sepatu hitam bermerek miliknya.


Keyla mengerutkan keningnya, "Kok nggak?"


"Ya terserah gue lah, urusan lo" Membalas dengan begitu tak bersahabat. Bahkan sampai hari ini masih muncul perlakuan tak enak daripada Abian terhadap Keyla.


Keyla diam sejenak, mencoba agar tak terpancing emosi daripada suaminya, "Soalnya gue udah masak dua porsi" Masig dengan nada suara lembutnya.


"Gak ada yang nyuruh"


"Kalau gitu lo bawa bekal ya"


"Nggak usah"


"Bian ih, ini gue siapin dulu bekalnya" Dengan gesit Keyla mengambil kotak bekal yang ada di dalam lemari dan segera memindahkan sarapan tadi ke dalamnya untuk Abian bawa.


Abian nampaknya masih tak peduli dengan usaha yang telah Keyla lakukan semenjak ia masih terlelap dalam tidur nyenyaknya. Lelaki itu bangkit dari duduknya dan memainkan kunci motor yang ia pegang. "Gue pergi dulu, hati-hati lo di jalan" Ucaonya sembari keluar dari apartemen.


"Abian, bekal lo" Terlambat. Abian sudah tak lagi ada di ruang yang sama demgan dirinya.


Keyla nampak memejamkan matanya dan menghembuskan nafas berulang kali. Tatapannya kemudian berubah menjadi tatapan tajam saat memandang pintu rumah mereka.


"Astaga kalau aja tuh orang bukan suami gue, udah gue patahin tuh leher" Ucapnya penuh kegeraman. Ia kemudian menaruh kotak bekal dan botol minum yang semula akan ia beri pada Abian ke atas meja lalu mengambil paper bag untuk membungkus dua objek tersebut.


"Punya amal baik apa coba Abian bisa nikah sama cewek kayak gue yang baik hati dan tidak sombong ini" Omelnya dengan sebal.


Sekolah.....


Dengan langkah kecilnya Keyla melangkah berlainan arah dengan anak IPA lainnya, kakinya mengarah pada gedung anak-anak IPS berada. Saat akan menaiki tangga menuju kelas Abian berada kebetulan gadis mungil itu berpapasan dengan tiang listrik berjalan lainnya yang tak lain adalah Keenan yang baru saja usai mengobrol dengan teman sebayanya.


"Abian mana Nan?" Tanya Keyla pada lelaki itu.


Keenan menatap gadis mungil yang namanya vukup sering terdengar di lingkup pertemanannya itu, ia tersenyum manis. "Yaelah Key masih pagi juga lo udah nyari Abian" Menggoda gadis IPA tersebut.


"Orangnya mana?" Nampaknya Keyla tengah tak ingin bercanda pagi Senin ini.


"Ada tuh di kelas"


Perempuan itu menyodorkan paper bag oada Keenan dan diterima dengan raut bingung, "Kasih ini ke Abian ya, gue buru-buru ke kelas" Pesan Keyla lalu buru-buru pergi sebab upacara bendera akan dimulai 10 menit lagi.


"Kenapa gak sendiri aja lo kasih--" Keenan menghentikan ucapannya sebab tak ada lawan bicara siapapun saat ini. Keyla menghilang begitu saja saat ia memperhatikan isi pemberian perempuan itu, "...lah dah ilang aja tuh orang" Bergumam.


Kelas...


Sebuah paper bag menempati meja Abian yang tengah fokus bermain game di ponselnya, "Noh dari Keyla" Ucap Keenan yang membuat perhatian Abian teralihkan.


"Apaan?" Lelaki itu kemudian mematikan ponselnya dan melihat isi dari paper bag tersebut. Ia tertegun melihat isinya.


"Bekal"


"Cihh" Berdecih. Tampaknya ia tengah menyangkal dirinya sendiri yang agak tersentuh dengan tindakan manis Keyla. Bahkan Mamanya tak sampai begini untuk mengurusnya.


"Lo gak mau ya? Buat gue aja kalau gitu" Saat tangan Rama ingin merebut paper bag tersebut Abian lebih dulu menepisnya.


"Yang bilang gue gak mau siapa?" Bertanya demgan melemparkan tatapan tajam pada Rama yang berdecih kesal.


Menjadi Abian sungguh beruntung, pikir Rama sebab perempuan yang ia sukai malah menyukai lelaki lain.


"Haaa Abian lo suka ama Keyla?" Keenan menatap tak percaya pada Abian yang selama ini mengacuhkan Keyla sepertinya mulai menaruh rasa.


"Yang bilang siapa?" Nada suara lelaki itu naik satu oktaf.


Rama memutar bola matanya malas, "Lo mah kalau gak suka jangan ngasih dia harapan dong" Masih agak kesal karena Abian menerima pemberian dari Keyla.


"Berisik"


Di tengah keributan tiga tiang listrik itu, Akiel dengan wajah kusutnya tampak masuk ke dalam kelas dan memyita perhatian mereka. "Akiel, lo kenapa?" Rama melempar pertanyaan pada Akiel yang baru menaruh ranselnya.


"Gak apa-apa" Menjawab singkat. Kantung mata lelaki itu tampak dengan sangat. Ia juga sepertinya kelelahan.


"Begadang lagi?" Tanya Keenan yang dibalas anggukan darinya.


"Tugas numpuk" Menjawab singkat.


"Kan masih lama dikumpulnya, rajin amat lo jadi cowok" Abian ikut bersuara. Ia saja mengerjakan tugas-tugasnya kalau tidak kebut semalam ya mengerjakan di sekolah dengan bantuan contekkan temannya.


Akiel tersenyum simpul menanggapi ucapan Abian, "Tahu lah bokap gue gimana"


Mendengar hal itu, mereka hanya diam saja melihat Akiel yang kini terlihat begitu lesu duduk menaruh tasnya.


Belum sampai lima menit Akiel mengistirahatkan tubuhnya di bangku, bel upacara bendera terdengar berdering begitu nyaring. Membuat para siswa berlari menuju lapangan untuk berpartisipasi dalam upacara yang rutin di lakukan tiap pagi Senin.


Akiel dengan malas mengambil topinya dari dalam tas dan melangkah keluar bersama teman-temannya menuju lapangan sekolah.


. . .


Terik matahari terasa begitu menyengat kulit, sedangkan itu pembina upacara kali ini nampak tak peduli dengan wajah peserta upacara yang nampak tak nyaman dengan pembicaraan yang tengah ia lontarkan di tengah panasnya mentari pagi ini.


"El, lo pucat banget tuh" Seorang perempuan yang berdiri di samping Akiel menyadari ketidaksehatan dari lelaki ambis di kelasnya tersebut.


"Lo sakit?" Yang lain ikut bertanya.


Akiel gang sebenarnya sudah merasakan pusing memilih untuk menggelengkan kepalanya, "Nggak, ngantuk aja gue" Alibinya.


"Uks gih, daripada lo pingsan" Ucap perempuan yang ada disampingnya lagi.


"Bawel banget sih lo jadi cewek" Akiel mulai kesal.


"Dikasih perhatian malah nolak lo" Omelnya lalu memanyunkan bibirnya sebal.


"Gak butuh gue"


"Lo ada sarapan gak El?"


"Gak sempat, kesiangan gue bangun"


"Tapi lo masih kuat kan?"


"Iya"


Tiba-tiba saja tubuhnya ditarik dengan paksa oleh seseorang, saat ia memfokuskan penglihatannya, tampak Olivia tengah menariknya keluar dari barisan. Akiel yang sudah pusing memilih tak memberontak apalagi yang akan ia hadapi adalah Olivia.


Sesampainya di UKS, Keyla melihat keadaan yang cukup sibuk dengan beberapa anak-anak lainnya. "Shel urus yang ini" Memanggil Shela yang tengah membuat teh hangat.


"Apaan sih Liv? Gue gak apa-apa kali" Ucap Akiel mencoba untuk lepas dari Olivia yang hanya menatapnya cuek.


"Gue masih ngurus yang ini Liv" Shela menyahut yang malah membuat Olivia berdecak sebal. Mata perempuan itu kemudian terarahkan kepada perempuan berompi PMR lainnya yang tampaknya baru selesai mengurus anak lain.


"Rin, lo anggota PMR kan? Ini Akiel, pucat banget nih orang sekarat kayaknya" Karin menatap pada Akiel yang memang tampak pucat. Ia kemudian menatap pada Olivia yang memaksa Akiel untuk masuk ke dalam UKS.


"Oliv" Akiel mencoba menghentikan tindakan Olivia sebab merasa tatapan Karin padanya sangat tak nyaman, "...gue balik ke barisan aja" Ucap lelaki itu dengan lemas.


"Em, oke" Ia mengikuti perintah perempuan manis itu, Olivia beranjak pergi untuk menjaga barisan.


"Nih teh hangat" Segelas teh Karin sodorkan kepada Akiel yang terus memperhatikannya sedari tadi.


"Makasih Karin" Menerimanya dengan mata berbinar, entah berapa lama Karin tak berbicara seperti ini.


Karin mengalihkan pamdangannya daripada lelaki itu, "Sama-sama, kalau lo pusing baring aja di situ tapi kalau ada yang pingsan lo pindah tempat ya soalnya ranjangnya cuma dua yang satu udah ada pasien" Menunjuk ranjang UKS yang masih kosong belum diisi oleh siapapun.


"Oke" Mengangguk patuh.


. . .


Seusai upacara selesai, Rama, Keenan, dan Abian datang ke UKS untuk melihat keadaan temannya yang pagi tadi berwajah kusut. Saat di pintu masuk mereka berpapasan dengan Karin yang akan keluar, "Teman lo gak sarapan?" Tanya Karin dengan menatap Keenan yang kelakuannya lebih waras daripada yang lain.


"Nggak ada sih katanya" Jawab Keenan sembari menatap pada Karin yang lebih rendah daripadanya.


"Oh pantes, suruh makan gih"


"Oke makasih ya Rin"


Rama yang sedari tadi mencoba mengintip ke dalam UKS menatap pada Karin yang akan beranjak pergi, "Akielnya mana?" Bertanya sebab tak menemukan batang hidung pria itu.


"Kelas kayaknya"


"Aelah tuh anak pasti salting deketan ama lo" Ucap Rama sedikit menggoda.


"Apaan sih?" Sinis, perempuan dengan sepatu hitam bermerek itu beranjak pergi meninggalkan tiga lelaki itu.


Rama memperhatikan kepergian si manis Karin dengan memikirkan sesuatu, "Bisa-bisanya Akiel masih suka ama cewek modelan Karin yang judes" Ucapnya pada kedua temannya yang lain.


"Urusan Akiel, bukan urusan lo" Ucap Keenan lalu berbalik badan menuju kelas disusul oleh Abian dan Rama kemudian.


Sesampainya di kelas, Akiel nampaknya tengah duduk di kursinya dengan membaca buku pelajaran sosiologi dengan serius, "El, disuruh makan tuh sama Karin" Celetuk Keenan sembari menarik kursi lain agar semeja dengannya.


"Cielah diperhatiin mantan" Rama ikut berucap.


Akiel memggelengkan kepalanya, "Semua orang di UKS juga Karin suruh sarapan tadi" Ucapnya tak terlalu ria.


"Udah yuk buruan ke kantin, lo harus makan" Berhubung guru ada rapat bulanan di pagi hari, jadi kelas mereka terbebas dari penugasan dan kelas pagi seusai upacara bendera.


"Nggak ah, malas gue" Menolak.


Abian yang sedari tadi hanya diam sembari menyimak pembicaraan memilih untuk membuka mulut, "El, lo pucat banget tahu gak sih?" Ikut memperhatikan sahabatnya.


"Udah ah gue mau tidur dulu" Mulai bising dengan kalimat yang sahabatnya lontarkan ia memilih untuk memejamkan matanya dan meletakkan kepalanya di atas meja.


"Yan" Abian menoleh pada Keenan yang memanggilnya, "Bekal yang tadi di kasih Keyla mana?"


Abian mengerutkan keningnya heran, "Ada, buat apa?"


"Kasih Akiel aja Yan, lemas banget nih orang"


Abian diam, di satu sisi ia khawatir dengan keadaan Akiel tapi di sisi lain ia kurang ikhlas jika bekal yang Keyla bawakan untuknya disantap oleh orang lain.


"Gak usah gue bilang" Nada suara Akiel naik satu oktaf.


Abian menghela nafas berat, ia lalu mengambil paper bag yang berisi bekal dan memberikannya kepada Akiel, "Makan aja" Singkat berucap.


"Yan" Akiel merasa Abian tak terlalu senang jika bekal tersebut dimakan oleh dirinya.


Abian tersenyum simpul lalu mengeluarkan bekal itu dan menyodorkannya lada Akiel, "Gak apa-apa lagian itu dari Keyla juga, kayaknya gak sesuai selera gue deh masakannya" Ucapnya.


"Oke kalau gitu, makasih" Akiel dengan ragu mengambil sendok yang tersedia di situ dan mulai menyantapnya.


"Udah yuk kantin, kami tinggal ya El" Tutur Abian.


"Iya, makasih banyak ya Yan"


"Sama-sama Akiel" Suara perempuan itu menyentakkan mereka berempat.


Di pintu kelas tampak seorang gadis mungil yang berkuncir satu, ia adalah Keyla.


"Keyla?" Gumam Abian. Ia menatap sebuah tempat makan lainnya yang ukurannya lebih kecil di tangan Keyla, "Enak kan masakan gue?" Lontar Keyla dengan memaksakan senyumnya, "Seharusnya gue masak itu ke lo bukan ke yang lain" Ucapnya penuh kekecewaan lalu beranjak pergi dari situ..


"Hayoloh Yan, Keyla marah sama lo" Keenan berucap.


Abian meneguk salivanya sukar, "Bukan urusan gue" Ucapnya kembali menyangkal dirinya.


. . .


"Awas aja tuh orang ntar malam gue masak seporsi doang makan buat gue" Sepanjang perjalanan menuju kantin sekolah Keyla terus mengomel sebab perlakuan Abian terhadap dirinya. "Pengen banget gue tonjok tuh muka" Ucapnya dengan geram.


"Key, dicariin juga daritadi" Andrea dan Olivia mengejutkan Keyla yang sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Oh gue dari kelas atas" Ucap Keyla, ia menyimpan rapat emosinya yang tadi sempat meletup.


"Ngapain? Nemuin Abian?" Tanya Olivia kemudian demgan tersenyum.


"Iya, mau ngasih ini" Menunjukkan isi dari tempat makan yang ia pegang yang isinya adalah potongan buah-buahan yang Abian gemari.


Andrea mengambil sepotong apel dari dalamnya, "Perhatian banget lo" Ucapnya tersentuh, "Coba aja gue cowok, pasti dah jadi incaran gue lo" Memeluk teman mungilnya itu dengan gemas. Pantas saja Rama menyukainya, Keyla saja semenggemaskan ini.


"Apaan sih Ya? Ahaha"


"Ih serius Keyla"


"Iya Aya iya, udah ayo makan" Ucapnya saat langkah kaki mereka memasuki ruang kantin.


Keyla meninggalkan kotak makannya di atas meja yang akan mereka tempati lalu pergi untuk membeli makanan. Saat tengah memesan Rama datang menghampiri tiga gadis itu, "Mau gue bayarin gak?" Celetuk ketua OSIS itu dengan menatap pada Keyla.


"Mau" Andrea menjawab dengan semangat.


"Keyla, bukan lo"


"Dihh pilih kasih banget lo" Sebal.


Olivia yang melihat hal itu kini menggelengkan kepalanya, "Jangan mau lo dibayari Rama, biasanya nih orang ada maunya" Celetuknya membongkar salah satu sifat Rama.


"Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan lho Liv" Berusaha membela diri.


"Ya kan emang lo perhitungan banget jadi orang" Andrea ikut membenarkan fakta yang Olivia lontarkan tadi.


"Gak usah Rama, gue bisa bayar sendiri kok" Keyla menjawab tawaran Rama dengan singkat, ia menatap sinis pada Abian yang sedari tadi memandangnya.


"Keyla" Keenan menegur perempuan mungil itu, "Tali sepatu lo lepas"


"Sini biar gue ikatin" Rama sudah siap membungkuk untuk mengikatkannya namun segera Keyla hentikan.


"Gak usah Rama" Perempuan itu meletakkan piring nasi gorengnya dan mengikat sendiri tali sepatunya, "Yuk" Ajak Keyla pada dua sahabatnya untuk segera menjauh.


"Pasti gara-gara bekal lo tadi makanya Keyla bad mood" Tutur Rama sembari menatap punggung Keyla.


"Biarin" Abian berucap seolah tak peduli, "...dia kan gak tahu kenapa bekalnya gak gue makan. Lagian jadi cewek lebay banget marah cuma gara-gara itu"


Keyla tak tuli, ia mendengar semua kalimat yang lelaki itu katakan dan membuatnya marah untuk beberapa saat.