Eros Love

Eros Love
Candu



"Gak salah lo makai baju itu?" Abian menatap dengan outfit yang Keyla kenakan. Crop top army dipadukan dengan jeans hitam tampak memperlihatkan bentuk paha peremouan itu cukup jelas.


"Kenapa memangnya?" Ia merasa tak salah memilih baju. Ini juga cukup tertutup. "Gue gak mau ya ganti baju" Paham dengan arah pembicaraan Abian.


"Keyla" Melotot pada perempuan itu, ia menyilangkan tangannya di depan dada.


"Bian" Tak ingin menuruti kehendak sang suami.


"Gue berusaha buat gak marah ya Keyla sama lo hari ini" Abian menurunkan nada suaranya, ia cukup lelah dengan perdebatan singkat mereka tadi siang dan ia tak ingin menghancurkan mood untuk malam ini.


"Apa sih? Bajunya kan gue juga yang makai, ini juga badan gue. Lo gak ada hak buat ngatur" Keyla tetap pada keinginannya untuk tak mengganti pakaian.


"Gue suami lo" Abian berucap dengan tegas, "...kalau gue pacar lo mungkin gak salah lo ngomong begitu" Ucapan itu membungkam mukut Keyla untuk tak berkata-kata.


"Asal lo tahu ya Keyla, biarpun gue menolak kehadiran lo di hidup gue, tapi gue gak bercanda waktu di gereja pas pernikahan kita" Berkata dengan serius lagi, "Jadi gue minta tolong ke lo buat segera ganti pakaian lo itu untuk lebih tertutup atau nggak kita gak pergi sama sekali"


"Ck, bisanya ngancam doang" Dengan raut wajah kesalnya Keyla terpaksa untuk menjadi gadis penurut bagi Abian sebab ia sudah membawa nama pernikahan mereka.


. . .


Kondisi Garden Coffe malam ini tampaknya sangat ramai kunjungan, di meja luar sudah nampak Akiel dan yang lain tengah mengobrol ringan di temani dengan alunan musik yang Keenan setel dari dalam kafenya.


"Lama banget lo berdua" Tegur Keenan pada Abian dan keyla yang datang berbarengan.


Kedatangan mereka berdua jelas mengundang rasa penasaran dari Rama yang sudah lebih dulu sampai.


"Lo kok bisa bareng sama Abian, Key?" Tanya Rama dengan penuh rasa curiga pada sahabatnya yang hanya terlihat santai mengambil tempat duduk di samping Akiel.


"Ya kebetulan aja gue pengen nebeng" Tutur Keyla sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Untung lo dibawa, selama ini yang bisa dibonceng sama tuh cowok kalau gak mantannya dulu ya paling Olivia" Andrea yang sedari tadi asik berselfie ria mengeluarkan suaranya, ia mempersilahkan Keyla mengambil tempat di sampingnya. Perempuan itu tampak cantik dengan outfitnya yang simpel.


"Lo nggak pernah?" Tanya Keyla heran, padahal kan mereka kenal cukup lama.


Andrea memukul meja saking kesalnya mengungat bagaimana Abian memperlakukan dirinya, "Nggak, nih anak ada aja alasannya kalau gue mau nebeng. Gue cuma pernah sekali ikut Abian naik motor" Berkata dengan geram sembari menunjuk ke arah Abian yang dengan santainya mengambil sebilah rokok milik sahabatnya lalu menghisapnya.


"Kita beda arah" Balas Abian santai.


"Sama Oliv juga" Masih tak terima dengan alasan yang Abian berikan. Alasan yang sangat klasik.


Abian memajukan tubuhnya, "Lo gak bisa diam pas dibonceng, sedangkan Oliv dia duduk anteng" Kini ia mulai membandingkan kepribadian kedua perempuan itu dengan serius.


"Emang Keyla duduk anteng?" Ucapan itu Andrea lontarkan sebab kepribadiannya dan Keyla tak beda jauh.


"Dia yang maksa ikut" Alibi Abian.


Andrea menendang kaki Abian dari bawah meja, "Alasan lo banyak banget ya?" Ucapnya sebal.


"Pantes lo datang, biasanya kan lo ada kesibukan" Tutur Olivia sembari melirik Abian dan Keyla bergantian.


"Kan ada ayangnya"


Abian melirik ekspresi yang Rama tunjukkan, ia terlihat tak nyaman dengan pembahasan saat ini, "Apa sih? Berisik" Abian mengakhiri pembahasan mengenai dirinya dan Keyla.


Keyla yang tahu jika ucapan yang Abian lontarkan bermaksud untuk menyudahi pembicaraan hanya bisa berdecih, padahal ia suka dengan obrolan kali ini yang seperti mendukung hubungannya dengan kesayangannya Abian.


"Siapa tuh Nan? Karyawan baru?" Rama mulai memperhatikan seorang gadis dengan seragam kerja Garden Coffe yang tengah meletakkan pesanan pelanggan. Wajahnya yang tanpa make up bahkan bibirnya yang masih pink segar tampak belum pernah menjamah lipstik yang biasa perempuan lain pakai.


Keenan membalikkan badannya memperhatikan perempuan yang Rama maksud, "Iya, adik kelas kita juga" Keenan memberitahukan sedikit informasi mengenai Marsha yang kini bekerja bersamanya.


"Oh gitu" Rama menganggukan kepalanya paham, "Manis ya" Jiwa pencari belahan hati Rama mulai mengeluarkan wujudnya, si mata keranjang itu cukup mengesalkan untuk Andrea pandang.


"Ck, gak usah macem-macem lo sama karyawan gue" Menoyor pelan kepala lelaki itu.


"Iyaaaa" Rama memanyunkan bibirnya sebal, "...ngapain juga lo ngurusin gue, urus pacar virtual garis miring lo aja sana" Menegur Keenan yang bermain roleplayer.


Keenan menatap sinis pada Rama yang membahas hal tersebut, "Apa sih? Gue aja udah gak main rp lagi" Ucapnya menyahuti ucapan Rama yang mengagetkan temannya yang lain.


"Dih kesambet apa lo?" Abian bertanya dengan oenuh keheranan. Ia pikir lelaki itu tak akan mengakhiri dunia keduanya yang selama ini selalu lelaki itu bahas.


"Cewek gue hiatus"


Derai tawa pecah di meja itu mendengar perkataan Keenan, "Jiaaakh cewek gue" Ejek Rama, "Tahu muka aja nggak lo"


"Yang penting kan gue nyaman" Keenan membela dirinya.


"Love language words of affirmation emang gampang dibodohi kayaknya" Olivia ikut untuk mengejek Keenan yang selama ini betah dengan pembahasan dunia keduanya.


"Iya tuh"


"Berisik ya lo pada" Jika saja yang di depan Keenan hanyalah kenalannya semata pasti lelaki itu sudah mengakhiri pembicaraan dan menutup kafenya agar mereka semua pergi, tapi yang ia hadapi adalah sahabatnya.


"Silakan" Marsha perempuan dengan rambut yang kepang itu meletakkan beberapa makanan yang sudah lebih dulu Keenan pesan untuk sahabat-sahabatnya.


"Key" Andrea menoel lengan Keyla setelah Marsha diminta untuk melayani pelanggan lainnya.


"Hm?"


"Tinggian adik kelas daripada lo" Berkata sembari tertawa kecil.


"Buat lo gue kasih segelas susu deh Key, gratis" Keenan ikut bercanda bersama, Keyla juga tak terlalu bawa hati mengenai candaan ini. Mungkin.


"Gak usah, di rumah gue juga udah banyak susu" Ucao Keyla acuh.


"Tapi lo gak pernah minum tuh"


Perkataan yang Abian lontarkan lantas membuat mereka semua menatap dirinya dengan terkejut. Sedangkan Keyla menatap Abian dengan ekspresi menahan tawa, ia ingin tahu bagaimana Abian mengatasi ucapannya yang hampir saja mempublikasi hubungan mereka berdua.


"Tahu darimana lo?" Akiel bertanya mewakili yang lain.


Abuan diam sejenak ia menatap pada Keyla memberi kode pada perempuan itu agar membantu menjelaskannya sebab pikirannya tiba-tiba kosong tak taju harus menjelaskannya bagaimana.


"Ahahaha gue kan satu gedung apartemen tuh sama Abian, terus gue pernah nyuruh Bian mampir ya dia mungkin sempat ngeliat isi kulkas gue" Ucap Keyla dengan sedikit canggung sebab Abian terus mengintimidasi dirinya melalui tatapan mata.


"Gue tambah curiga sama lo berdua"


Abian menatap pada Rama yang melintarkan ucaoan tersebut, "Gak ada yang perlu lo curigai"


"Ya tapi kan--"


"Huh, gue kabulin ntar ada yang ketar-ketir" Ucapan itu terdengar serius. Rama dan Abian saling bertukar pandang.


Keyla menepuk kedua tangannya riang dengan ucaoan Abian, "Kabulin aja Bian, gue ikhlas kok" Ucapnya oenuh semangat. Dengan dipublikasikan hubungan mereka berdua, Keyla dengan bebas mendekati Abian.


"Gue yang gak ikhlas" Spontan Rama berkata, menunjukkan ketidaksetujuannya dengan ide tersebut.


"Kok kalian gak mau sama gue aja?" Andrea mencetus kala suasana agak memanas. Perempuan yang tengah menyantap chesecake itu menatap Rama dan Abian bergantian.


"Karena lo berisik" Sembur Abian dan Rama bersamaan.


"Anak setan" Sebal dengan ucapan kedua lelaki itu. Padahal ia diperebutkan di sekolahan sana mengapa dua irang itu tak tertarik pada dirinya.


Keenan hanya bisa menggelengkan kepalanya menyaksikan drama di hadapannya, "Ya udah list kalian mau pesan apa" Menyodorkan secarik kertas dan juga pulpen agar sahabat-sahabatnya membuat daftar menu yang ingin mereka nikmati.


"Aya espresso" Ucap Keyla sambil tertawa kecil.


Andrea membulatkan matanya mendengar ucapan itu, "Gila, mana gue bisa minum yang pahit begitu" Protes.


"Terus lo mau pesan apa?"


"Lyche tea" Berkata dengan ria.


"Always" Yang lain kecuali Keyla menyahut. Minuman itu adalah minuman yang paling sering Andrea pesan jika nerada di Garden Coffe.


"Emang napa sih?" Sebal dengan respon mereka.


"Nggak apa-apa kok, Ya" Akiel menyahut, ia mengambil alih kertas tersebut dan menulis pesanan mereka.


"Keyla susu ya" Keenan berucap saat melihat list pesanan yang tertera.


"Apaan? Gue minta ice macca latte kok" Protes Keyla.


"Ya gue tambah segelas susu buat lo, tenang gratis kok Key" Keenan masih keukeuh dengan ucapannya. Ia lalu oergi berlalu dati situ.


"Keenan ah" Keyla memandang kepergian Keenan dengan sebal.


. . .


Sesampainya di apartemen Keyla langsung terbaring lemas di atas sofa. Ia memegang perutnya yang terasa tak nyaman.


"Mabuk susu lo?" Abian melepas jaketnya, ia menatap pada sang istri yang sedari tadi mengeluh mual.


Keyla menggembungkan pipinya sebal, "Emang ada orang yang mabuk susu?" Ucapnya.


"Lo"


"Nggak tuh, cuma kembung aja gue" Membela diri. Keenan yang awalnya hanya memberikannya segelas susu malah ketagihan untuk memberinya minuman yang terdapat kandungan susu.


"Alasan" Ucap Abian sedikit membuat candaan dengan Keyla.


"Emang benar kok" Semakin kesal dengan kejahilan Abian untuk menggodainya.


"Iya iya iya"


"Ngeselin banget" Keyla kemudian bangkit dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Lo gak mau tidur sambil meluk gue lagi?" Tanya Keyla saat Abian berbaring di sampingnya.


"Panas" Ucap Abian singkat. Ia malas meladeni Keyla kala kantuknya sudah menyerang.


"Sialan lo"


Abian kemudian menatap pada Keyla, "Kenapa? Kecanduan lo gue peluk?" Tanya Abian sembari menunjukkan senyum miringnya.


"Iya, candu banget bang" Ucap Keyla yang malah membuat Abian memutar bola matanya malas.


"Jamet lo" Tuding Abian lalu memilih untuk membelakangi Keyla yang mulai menunjukkan ketidakwarasannya.