
"Lho Marsha? Belum pulang?" Keenan bertanya pada karyawan barunya itu yang baru selesai menyapu Garden Coffe saat malam sudah semakin gelap.
"Ini mau pulang" Tutur Marsha dengan senyum simpul pada Keenan yang menatapnya.
"Pakai apa? Kalau searah biar gue aja yang nganterin" Keenan memberi tawaran. Ia tak tega juga membiarkan adik kelasnya itu pulang sendiri.
"Gak usah Kak, ini mau pesan ojol kok" Marsha menolak dengan menggerakkan kedua tangannya. Tak enak hati jika harus merepotkan primadona sekolah itu.
Keenan masih tersenyum simpul kepada Marsha, "Lo cewek gak bagus kalau pulang malam udah gue aja yang nganterin kebetulan gue bawa mobil juga" Ucap Keenan masih dengan penawarannya untuk mengantar Marsha pulang.
"Nggak Kak, ntar ngerepotin" Menolak dengan halus.
Keenan tampak berpikir untuk waktu sejenak, "Asal searah kayaknya gak masalah deh" Menjawab lagi, sepertinya lelaki itu memang ingin mengantar Marsha pulang.
"Iya sih Kak searah" Menjawab dengan malu-malu.
"Tuh kan, udah bareng aja"
"Tapi rumah aku melewati rumah Kakak" Tutur Marsha lagi, masih tersirat rasa tak enak hati jika harus merepotkan lelaki itu.
"Udah nggak apa-apa, cancel aja kalau lo udah pesan ojol tadi"
"Iya Kak, makasih banyak ya" Mengikuti langkah kaki Keenan yang keluar dari Garden Coffe menuju mobil lelaki itu.
Sepanjang perjalanan hanya diisi oleh keheningan semata. Tak ada yang memulai percakapan yang biasanya diidi dengan pembicaraan tentang keseharian. Marsha hanya membuka suaranya kala mereka telah melewati rumah lelaki itu dan menunjukkan arah menuju rumahnya.
"Makasih banyak Kak"
"Iya sama-sama"
Keenan memperhatikan rumah sederhana milik Marsha, tampak kecil dan catnya mulai tak menempel sepenuhnya pada dinding rumah itu. Pekarangannya ditumbuhi dengan rerumputan dan terdapat beberapa pot bunga yang sepertinya sudah memasuki waktu mekarnya.
Kemudian pandangannya teralihkan pada Marsha yang membuka pintu rumah itu dan masuk ke dalam. Sebelumnya Marsha sempat tersenyum simpul pada Keenan sebelum ia menutup pintu rumah itu sepenuhnya.
Keenan juga lekas-lekas pergi dari situ dan pulang ke rumahnya.
Keesokan harinya...
"Keyla, lo gak sekolah?" Abian membangunkan Keyka yang secara tiba-tiba tak bangun dari tidurnya padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
"Eugh" Keyla mengganti posisi tubuhnya tangannya sedari tadi memegang perutnya.
"Key" Abian duduk di sudut kasur itu dan memegang bahu sang gadis, "Lo sakit?" Tanya Abian dan dibalas dengan anggukan kecil dari Keyla.
"Sakit perut?" Kini memegang perut Keyla yang sedari tadi gadis itu sentuh, "Gara-gara susu malam tadi?" Curiga dengan apa yang gadis itu konsumsi. Malam tadi kan ia mengeluh perutnya yang terasa tak nyaman sebab susu yang Keenan sajikan.
"Nggak, gue kemarin dateng bulan Bian" Menyahut dengan nada sedikit sebal sebab terus dihujani pertanyaan.
Mendengar hal itu Abian mengambil alat kompres yang biasa Keyla gunakan saat datang bulan. Lelaki itu lalu mengisinya dengan air panas lalu sedikit memasukkan air keran takut jika itu terlalu panas untuk Keyla.
"Kompres pakai ini" Memberinya pada Keyla yang masih berada di atas tempat tidur. Keyla mengambilnya lalu meletakkannya di atas perutnya, ia memperhatikan Abian yang kini kembali duduk di sudut kasur.
"Kuat gak sekolah?" Tanya Abian sembari mengusap dahi perempuan itu.
"Kuat" Tutur Keyla tapi kemudian ia merintih kesakitan sebab keram di perutnya, "Sssht"
"Udahlah lo libur aja, sini hape lo biar gue yang chat wali kelas lo" Ucap Abian yang kini mengambil ponsel Keyla dan mulai memainkannya.
"Gak mau Bian" Merebut kembali ponsel itu dari sang suami.
Abian mrnghembuskan nafasnya sejenak, "Keyla walaupun lo siap-siap sekarang, lo bakalan terlambat" Memberi pengertian pada sang gadis.
"Tapi gue gak mau libur" Keyla memelas.
"Emang kenapa sih?"
"Gak mau sendirian"
"Manja" Berdecak sebal, Abian kemudian bangkit dari duduknya dan meraih tas sekolahnya, "...udah lo libur aja, diem di rumah"
"Aaaa Bian"
"Kalau ada apa-apa chat aja gue" Mengatakan kalimat terakhir sebelum ia keluar dati kamar itu dan meninggalkan Keyla sendirian.
"Jahat banget ninggalin gue sendiri" Cetus Keyla kesal di tengah sakitnya perut.
Rumah Andrea...
"Makasih Tante" Rama, lelaki itu mengucapkan rasa syukurnya pada Ibunda Andrea yang telah menghidangkan sarapan berupa nasi goreng padanya.
Semalam sehabis pulang dari sekolah, Rama memutuskan secara tiba-tiba untuk menginap di rumah Andrea yang tiap harinya disuguhi dengan keakraban anggota keluarganya.
"Iya Rama sama-sama, kayak sama siapa aja kamu" Ucap wanita paruh baya tersebut dengan ramah. Memamg Rama adalah teman Andrea dari kecil jadi tak heran jika hubungan Rama dan keluarga Andrea terjalin cukup baik.
"Dihh beban emang" Andrea menatap malas pada Rama yang kelihatan lahap dengan sarapannya. Ketua OSIS itu mungkin cukup disegani saat di sekolah sebab jabatannya dan ketegasannya dalam memimpin organisasi namun bagi Andrea, Rama tetaplah Rama yang ia kenal sedari kecil. Tengil dan menyebalkan.
"Mau gak Ya?" Tanya Rama dengan mulut penuh nasi goreng itu.
Andrea menggeleng lalu kembali memakan apel miliknya, "Gue lagi diet, timbangan gue naik 2 kg" Ucapnya.
"Yaelah 2 kg doang lo permasalahin" Kembali melanjutkan acara sarapannya, "Nyantai aja kali"
"Gue jaga tubuh juga buat gue sendiri kali, cowok gak paham kalori kayak lo mana paham" Ucap Andrea sembari menendang kaki Rama dari bawah meja, "Buru ah Ram, lo udah nginep sembarangan ke rumah gue, jangan sampe bikin gue telat"
"Iya-iya, marah-marah mulu lo" Rama segera menghabiskan makanannya lalu meneguk minumannya.
"Bodo amat" Andrea pergi mendahului Rama dan berpamitan.
"Pergi dulu ya Tante" Rama ikut menyusul untuk pamit
"Iya nak, hati-hati ya" Wanita itu memandang dua anak yang sudah bermain dari kecil hingga kini sudah menginjak bangku terakhir SMA.
Rama mengeluarkan motor sportnya dari dalam garasi rumah Andrea dan telah mengenakan helm full face miliknya.
"Ayo naik sayang" Ucap Rama ramah pada Andrea yang sudah menunggunya dari tadi.
"Kepala lo sayang" Ketus Andrea lalu naik ke motor besar milik Rama tersebut.
"Jangan lupa peluk gue" Rama memesan.
Mendengar hal itu refleks Andrea memukul helm Rama yang ada di kepalanya, "Dih najis"
"Terserah lo" Mulai pergi dari halaman rumah Andrea yang cukup asri dengan tanaman yang terawat rapi itu.
Sesampainya di sekolah, Andrea langsung turun dari motor sport milik Rama. Menatap kesal pada Rama yang tadi membawa motor dengan kecepatan tinggi.
"Kalau mau mati gak usah ajak-ajak gue" Omel Andrea pada Rama yang hanya tersenyum jahil pada dirinya.ì
Lelaki itu terkekeh kecil melihat wajah kesal Andrea lalu mengacak-acak rambut Andrea yang halus.
"Aya" Suara lembut perempuan memanggil. Membuat perhatian0 Andrea dan Rama tersita daripadany. Olivia, perempuan dengan rambut yang terkuncir itu menghampiri mereka. "Rama nginep di rumah lo?" Menebak karena mereka berangkat bersama jika salah satu dari mereka menginap dan Rama adalah orang yang paling sering menginap di rumah Andrea.
"Biasalah" Melirik pada Rama yang kini berdiri menjulang tinggi di sampingnya, "...anak terlantar"
"Sembarangan lo kalau ngomong" Merangkul bahu perempuan itu
"Apaan sih? Rangkul-rangkul" Segera melepaskan diri dari rangkulan Rama. Ia menatap tak bersahabat pada Rama.
Rama menyilangkan tangannya di depan dada, "Emang kenapa sih? Kan sama calon pacar juga" Tuturnya yang membuat Olivia menaikkan sebelah alisnya.
"Bukannya lo ngedeketin Keyla?" Tanya Olivia ia juga memperbaiki rambut Andrea yang sedikit acak-acakan dengan tangannya yang lentik.
Rama menghembuskan nafasnya pelan, "Gue kayaknya gak di kasih feedback deh" Lelah juga jika harus mengejar perempuan yang sama sekali tak memberikan kepastian pada dirinya.
"Ya iyalah orang lo jelek, siapa juga yang suka" Ucap Andrea.
"Lo" Mencondongkan tubuhnya pada perempuan itu.
"Najis eww" Mendorong dada bidang lelaki itu agar menjauh darinya.
"Terus kalau lo gak bisa dapetin Keyla, lo mau ngedeketin Aya?" Olivia menatap tak suka pada Rama, sedangkan Rama mulai menatap lekat pada dirinya, "...gak bakal gue izinin buat cowok sasimo kayak lo" Cetus Olivia menunjukkan ketidaksetujuannya.
"Siapa yang ngedeketin? Orang gue udah deket kok ama Aya" Kini mengalihkan pandangannya ke arah Aya dengan tatapan menggoda, "...iya kan Aya?"
"Terserah lo, yuk Liv" Menarik Olivia agar meninggalkan area parkir.
Di saat kakinya melangkah, Olivia menyempatkan diri menatap balik pada Rama, "Awas lo, kalau sampe jadian ama Aya gue lempar lo pake sendal gue" Ancam Olivia tak main-main mengucapkannya.
Rama sendiri seperti orang yang mengejek ucapan Olivia, ia menunjukkan posisi hormat dengan tangannya yang berada di dahi pada perempuan itu, "Siap Ibu Olivia tercinta"
"Udah Oliv, orang gak waras lo ladenin" Andrea menahan Olivia yang hendak memberi pelajaran pada lelaki playboy tersebut.
Sedangkan itu, perhatian Rama teralihkan pada seorang lelaki yang baru saja memarkirkan motornya, "Yan" Menghampiri Abian yang baru saja tiba.
"Apaan?" Melepas helmnya dan turun dari motor.
"Kelas kan?"
"Ya menurut lo aja" Berjalan mendahului Rama.
"Bareng" Rama mengejar Abian yang meninggalkannya lebih dulu. Lelaki itu melilitkan tangannya pada lengan Abian hingga membuat lelaki itu risih.
"Lo kenapa sih? Gue masih normal ya" Memukul tangan Rama tak cukup keras.
Bukannya menjauhkan diri, Rama malah semakin erat memeluk lengan Abian. "Bareng doang" Kini memanyunkan bibirnya sok imut.
"Ya gak usah pegang tangan gue juga kali, kayak gay tahu gak sih?"
"Kan kita bestfriend forever" Berucap dengan nada yang menggelikan di telinga Abian.
"Gak lagi" Abian menepiskan dengan kesal tangan Rana lalu menaiki anak tangga.
"Jahat banget" Rama menyusul Abian, "Keyla mana Yan?" Tanya Rama saat langkah kaki mereka sudah sejajar.
Abian diam sejenak saat mengingat keadaan Keyla saat ia tinggal pergi tadi, "Mana gue tahu" Berucap dengan ketus. Sedikit tak suka jika Rama menanyakan keadaan istrinya.
"Kan dekat sama lo" Ucap Rama sembari tersenyum penuh luka.
"Kan bukan siapa-siapa gue" Sahut Abian lagi.
Abian membalikkan badannya dan menatap Rama yang ada di dua anak tangga lebih rendah darinya, "Maksud lo apa sih?" Mengerutkan keningnya tak paham.
Rama tersenyum simpul, "Gue tahu kok Yan kalau lo suka sama Keyla, gue tahu kok kalau lo diam-diam peduli sama Keyla, gue udah lama temenan sama lo jadi gue gak bakal bodoh buat sadar hal itu" Perkataan itu lantas membuat Abian memalingkan wajahnya ke arah lain, ia lupa fakta itu. "...ya lagipula kan Keyla juga suka sama lo. Gue kayaknya gak punya celah lagi buat jadian sama Keyla kalau kalian sama-sama suka" Sambungnya kemudian dengan lapang dada merelakan Keyla pada sahabatnya.
Abian menatap balik Rama. Ia menatap lekat pada lelaki itu.
"Tenang aja gue gak apa-apa kok, lagian cewek gak cuma satu aja" Lagipula sepertinya Andrea lebih mengasyikan untuk didekati untuk saat ini.
"Apaan sih? Freak" Abian berbalik badan dan meninggalkan Rama di deretan anak tangga.
Rama terkekeh kecil melihat respon Abian tersebut, ia kembali mengejar Abian, "Gengsi lo masih tinggi ya Yan, hati-hati lo nt gegara denial doang" Saran Rama yang sudah hapal kelakuan Abian saat menyukai seseorang.
Gue juga gak bakal mau ngelepas istri gue sendiri kali, batin Abian.
"Terserah lo"
. . .
Keyla
Bian lagi apa? :(
Gue bosan
Perut gue sakit :(
Ayang
Ayang
Abian suaminya Keyla!
Me
Gw bljr
Keyla
Si paling rajin
Kapan pulang? Ntar lo gak main basket kan?
Awas aja lo kalau sampe keganjenan di sana mentang-mentang gue gak liat
Me
Trsrh gw
Keyla
Gue laporin lo kalau berani selingkuh
Awas aja kalau samoe gue tahu lo cari cewek lain selain gue
Awas aja lo kalau berani lirik cewe sana-sini
Gue colok tuh mata pake jari gue sendiri
Me
Gw mls
. . .
Sedangkan itu, kelas Andrea tampak ribut sebab mereka tengah jamkos. Meja Nayra tampak ramai dikelilingi anak-anak lain, "Nayra, lo beli lip serum lo yang ini dimana?" Seorang gadis dengan rambut keriting gantung tampak mengaplikasikan lip serum milik Nayra pada bibirnya.
"Oh ini udah lama sih gue makai. Di toko skincare di samping mall ada kok, bagus lho kualitasnya" Tutur Nayra dengan ramah. Ia dengan senang hati berbagi kosmetik atau skincare yang ia bawa dengan diam-diam ke sekolah.
"Mahal gak?" Tanya perempuan itu lagi.
"Kurang dari seratus ribu kok"
"Nay, kue yang gue pesan udah lo buat?" Seorang lagi bertanya.
Nayra selama menempati bangku SMA telah membuka toko kue yang rupanya cukup digemari oleh orang-orang termasuk teman sekelasnya dan itu cukup membantu uang saku perempuan cantik itu, "Oh udah tinggal ambil kok di toko. Atau mau diantar aja ke rumah lo? Gue bisa suruh orang sana" Memberi penawaran pada costumernya.
"Gak usah Nay pas pulang nanti langsung gue ambil kok"
"Okee"
Perhatian Nayra kemudian teralihkan pada Karin yang sedari tadi hanya diam saja sembari meringis kesakitan. Penyebab utamanya terletak pada perut gadis itu.
"Karin" Mendekati sahabatnya, "...lo kenapa?" Bertanya dengan khawatir.
Karin menatap pada Nayra, terlihat ada keringat yang membasahi dahi perempuan itu, "Gak tahu nih, gue dari kemarin sakit perut" Mengeluh.
"Lo dateng bulan?"
"Nggak Nay"
"Lo salah makan kali" Nayra menduga-duga.
"Iya kali ya"
"Mau ke UKS?" Tawar Nayra lagi.
Karin menggeleng. "Gak usah"
"Karin kenapa Nay?"
"Sakit perut?"
"Ke WC sana" Olivia berucap.
"Bukan mau BAB Oliv" Sebal Karin dengan memanyunkan bibirnya sebal.
"Oalah kirain" Karin kemudian menyodorkan basreng pada mereka berdua, "Mau gak?"
"Mauuuu" Karin mengambilnya dengan semangat dan mengkesampingkan sakit perutnya.
Nayra yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya menyaksikan bagaimana berbinarnya wajah Karin saat mengunyah cemilan itu.
Malam hari...
Waktu sudah menunjukkan jam tujuh malam dan seharusnya tiga jam yang lalu Abian sudah menginjakkan kakinya di rumah ini jikalau lelaki ingat untuk pulang tepat waktu.
Di depan televisi, Keyla nampak gusar sembari melipat pakaian yang tadi siang ia jemur. Televisi yang menampilkan drama Korea menemani Keyla sepanjang hari ini.
"Suami macam apa sih jam segini belum pulang juga?" Mengomel saat matanya melirik jam dinding dan mengingat Abian tak kunjung pulang. Tangannya dengan lihai melipat pakaiannya dan pakaian Abian, "...gak mikir apa istri ditinggal seharian di rumah mana lagi dateng bulan gini?" Menyambung omelannya.
"Tuh orang nggak takut apa sampe rumah bisa disembur? Nyebelin banget" Mungkin jika Keyla bukan tipe orang yang penyabar ia bisa saja mencekik leher Abian saking kesalnya.
Tak lama kemudian pintu rumah terbuka, menampilkan Abian yang baru datang dengan pakaian basketnya yang tanpa lengan, "Kenapa sama muka lo?" Tanya Abian saat sadar jika Keyla menatapnya dengan tatapan tak bersahabat.
"Jam berapa ya ini?" Sindir Keyla, perempuan itu bangkit berdiri dan menyilangkan tangannya di depan dada.
Abian melirik jam di dinding, "Tujuh, lo gak tahu gimana baca jam dinding?" Ucap Abian tanpa dosa.
Keyla memejamkan matanya untuk meredam emosinya, Sabar Keyla, ini suami lo.
"Nggak ngerasa pulang telat?" Berusaha untuk tak menunjukkan amarahnya yang sudah di ujung tanduk.
"Biasa juga gue jam delapan pulang, sekarang lebih cepat kan?" Abian berkata lalu melangkahkan kakinya mendekati sang istri.
"Bian--"
Abian tanpa pemberitahuan memegang perut Keyla dengan punggung tangannya dan membuat Keyla diam tak berkutik. "Perutnya udah gak apa-apa?" Tanya Abian dengan nada penuh perhatian, lelaki itu menyesuaikan tinggi badannya dengan Keyla yang sangar mungil.
"N-nggak" Pipi mulus Keyla mendadak menjadi merah muda.
Abian menatap lekat wajah Keyla yang kini menjauhkan pandangannya, ia kemudian membuka tas sekolahnya dan mengeluarkan sesuatu, "Nih buat lo" Memberikan sebuah plastik putih pada Keyla, "...gue mau mandi dulu" Tutur Abian lalu pergi dari hadapan Keyla.
Keyla melihat isi plastik itu yang ternyata penih demgan cemilan kegemaran Keyla dan juga sebuah minuman untuk meredakan kram saat datang bulan, "Ya Tuhan, gimana gue bisa marah kalau modelannya begini yang dikasih?" Menjatuhkan dirinya di atas sofa, "...so sweet banget suami gue"
Abian keluar dari kamar seusai mengenakan pakaian santai kini menghampiri Keyla yang sedang berada di meja makan dengan beberapa menu makanan yang sepertinya masih hangat.
"Belum makan?" Tanya Abian saat melihat Keyla belum menyentuh makanan yang ada di atas meja itu.
"Tumben nanyain" Tutur Keyla.
"Ya sudah" Menarik kursi di hadapan Keyla.
"Belum, kan nunggu lo" Jawab perempuan itu.
"Ngapain? Gue udah makan di luar sama Keenan tadi"
Keyla yang tadi hendak mengambil nasi di piringnya menjadi kecewa dengan penuturan Abian, "Kok gak bilang?" Ia menjadi kesal sebab lagi-lagi ia harus makan sendiri.
"Lo gak nanya"
Keyla memanyunkan bibirnya dan memilih untuk segera makan malam walau suasana hatinya tak baik, "Terus ngapain ke sini?" Tanya Keyla karena Abian tak beranjak dari tempat duduknya.
"Nemenin lo" Ucap Abian yang memang sedari tadi menatap wajah Keyla.
Dan membuat Keyla harus menahan senyumnya sebab salah tingkah. Ia juga sadar jika pipinya pastinya sudah memerah bak kepiting rebus.
"Gitu aja salting" Kekeh Abian yang lucu melihat tingkah istrinya. Ia tak tahu sejak kapan ia mulai menyukai setiap ekspresi yang Keyla tunjukkan.
"Daripada gue salto, kan aneh" Memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.
"Kan lo emang aneh"
"Ih Bian" Kesal.
"Makan Keyla" Mengetuk piring Keyla menyuruh perempuan itu melanjutkan makan malamnya.
"Iya sayang" Menuruti apa yang Abian katakan dengan senyum yang masih terukir di wajahnya.