
Waktu menunjukkan pukul dua dini hari, Abian menghampiri istrinya yang terlihat begitu lelah, ia berjongkok di depan tubuh Keyla. "Keyla" Panggilnya lembutt pada gadis yabg fokus bermain dengan ponselnya dengan wajah murung.
"Hm?"
"Pulang ya? Lo harus istirahat" Bujuk Abian.
Kwyla menatap wajah Abian yang terluha begutu lelah dan matanya yang sembab, lelakiniru sudah banyak mengeluarkan air matanya. "Lo sendiri?" Tanya Keyla balik, iabtak enak hati jika harus meninggalkan Abian seorang diri di titik terendahnya.
"Gue bakal tetap di sini, sampai Akiel dipulangkan besok" Tuturnya lembut.
Keyla diam sejenak, pasti ini adalah hari yang berat bagi Abian. Ia tak bisa melarang Abian di saat seperti ini, "Ya sudah, gue pulang dulu ya"
"Hati-hati oke?" Pesan Abian sembari memberikan kunci mobil. Ia tahu perempuan itu bisa menyetir.
"Gue bisa pake taksi Bi" Keyla hendak menolak.
"Bawa aja, gue percaya sama lo"
"Oke"
Keyla berjalan menyusuri lorong UGD, tak sengaja ia menemukan Nayra yabg sedang duduk seorang diri di sebuah bangku.
"Nayra"
Nayra yang juga terlihat kelelahan itu, menoleh pada Keyla yang menyapanya. Di bawah matanya tampak lingkaran hitam.
"Operasinya berhasil?" Tanya Keyla pada Nayra yang meneguk kopinya.
"Heem" Tersenyum tipis.
"Syukurlah" Keyla mengucap syukur atas satu berita hari ini.
Di tengah keheningan mereka tiba-tiba suara perut Nayra terdengar nyaring. "Lo gak makan?" Tanya Keyla khawatir.
Nayra menggeleng.
"Gue gak ingat"
Kantin...
Keyka menbawa dua piring nasi goreng dan dua gelas teh hangat di meja yang ia dan Nayra tempati, lalu memberikan jatah milik Nayra, "Lo kelihatan kacau banget"
"Siapa yang juga bisa tenang kalau orang yang disayang lagi berjuang antara hidup dan mati Key" Nayra mengaduk minumannya dan meneguknya sedikit.
Keheningan lalu terjadi saat mereka berdua sama-sama fokus dengan makanannya. Namun tak lama kemudian Nayta1menangis tersedu-sedu dan membuat Keyla dibuat panik olehnya.
"Nayra kenapa?" Keyla lantas memberikan beberapa lembar tisu.
"Gue...gue ngerasa bersalah banget sama mereka. Gara-gara larangan gue, mereka gak bisa sama-sama" Tuturnya disela tangisnya.
"Bukan salah lo Nayra, lo cuma mau yang terbaik ke sahabat lo saat itu"
Nayara menatap Keyla dengan matanya yang berair, "Akiel gak selingkuh Key, dia yang digoda. Gue gak seharusnya..." Ucapannya terbata-bata disebabkan oleh sesak dada yang juga Nayra rasakan.
"Nayra..."
"Gue salah banget. Gue penghalang kebahagiaan mereka"
"Gue..."
Keyla memeluk tubuh Nayra erat, "Its okay Nay. Nangis aja selagi lo mampu" Ucapnya dengan begitu lembut.
Dua hari kemudian...
Setelah ibadah di gereja, kerumunan orang berbaju hitam dan beberapa pelayan gereja tampak mengantar kepergian Akiel di tempat peristirahatan terakhirnya. Ya malam itu Akiel tak bisa diselamatkan sebab kehilangan banyak darah dan hatinya didonorkan pada Karin yang pada malam itu juga kritis.
"El..."
"Maafin Mama dan Papa ya sayang"
"Maaf kalau kami terlalu menuntut"
Seperti bagaimana Tuhan mengizinkan sebuah pertemuan terjadi, Tuhan juga membuat sebuah perpisahan. Perpisahan yang meninggalkan kenangan, duka, memori tentang almarhum semasa hidup. Orang tua Akiel terutama sang Papa begitu merasa terpukul. Apalagi teringat bagaimana Akiel yang selalu ia hajar habis-habisan sedari kecil, bagaimana Akiel tang selalu mendambakan ketenangan, kerukunan dan kebersamaan yang tak pernah ia dapat. Dan bagaimana kalimat terakhir Akiel padanya.
"Aku gak pernah menyesal kok punya Bapak kayak Papa sekarang. Selamat malam Pa. Aku janji ini terakhir kalinya Papa liat anak pembangkang kayak aku"
Semua itu terngiang-ngiang di kepala sang Papa semenjak diberitahukan kabar putranya kecelakaan. Ia menyesal tak pernah memberikan hal kecil yang selalu Akiel harapkan. Cinta.
Semua orang yang mengenal bagaimana karakter dari Akiel berduka hari itu. Sosok ramah yang gemar membantu, royal pada sesama, dan juga ramah membuatnya tak bisa cepat dilupakan.
Akiel yang memiliki senyum menawan dan juga sahabat yang berperan penting di kehidupan Abian, Keenan, Rama, Andrea, dan Olivia membuatnya begitu dipenuhi cinta kasih.
Dan dia yang rela mengorbankan organnya bagi Karin yang sudah ia anggap sebagai rumahnya sampai hembusan nafas terakhirnya. Dan pada akhirnya Akiel akan dicintai semua orang. Setelah kepergiannya yang kekal di dunia ini.
Hamparan bunga menghiasi peristirahatan terakhir Akiel. Figura yang menunjukkan bagaimana manisnya senyum Akiel tambak di samping nisan salibnya. Ia lelaki baik, Tuhan sangat menyayanginya. Di dunia yang fana ini Akiel tak mendapatkan kasih yang utuh dari rumah utamanya dan Tuhan yang lebih menyayangi anak-Nya itu memilih mengambilnya daan menyiapkan tempat terindah bagi Akiel. Ia adalah anak terkasih bagi Tuhan.
. . .
Semuanya tidak baik-baik saja. Keyla yang baru datang di kehidupan Abian merasa jika Abian benar-benar dingin setelah kepergian Akiel. Lelaki itu bahkan tak menyantap habis makanannya.
Keyla mengerti jika Abian begitu terpukul atas kejadian yang baru saja terjadi. Ia juga begitu. Akiel begitu baik dan cepat mengakrabkan diri dengannya. Akiel juga yang tahu bagaimana ia dan Abian sesungguhnya. Tak ia sangka lelaki itu lekas sekali diambil dari sisi orang-orang yang mengasihinya.
"Bian..." Keyla memanggil Abian yang baru selesai cuci piring dab tampaknya lelaki itu hendak pergi.
"Hm?" Menoleh pada Keyla yang sedang membersihkan meja makan mereka.
Keyla mendekati Abian, dan memggenggam tangan kanan lelaki itu, "Jalan yuk, sudah lama gak ngedate" Tuturnya lembut. Ucapannya sama sekali tak bersifat pemaksaan.
Abian diam sebentar sembari menatap pada mata Keyla, ia baru tersadar jika akhir-akhir ini ia terus mrmberi jarak dengan Keyla, Abian tersenyum dan mengangguk kecil tanda setuju, "Gue ganti baju dulu"
"Iya"
"Mau kemana memangnya?"
"Pantai. Mau liat sunset" Keyla berkata dengan riang pada Abian.
"Oke" Abian mengacak rambut panjang Keyla gemas.
Pantai...
Keyla dan Abian sama-sama memakai outfit putih dan baby blue. Senja mulai tampak di ufuk barat, Keyla mengambil beberapa gambar lalu berlari menuju deburan ombak kecil di atas pasir. "Wah Bian, airnya hangat" Keyla terus berlarian.
Abian hanya mengikutinya dengan jalannya yang terkesan santai, "Pelan-pelan Key, nanti jatuh" Pesan Abian pada Keyla yang tersandung kakinya sendiri dan hampir mencium pasir jika bukan Abian yang menahan tubuhnya.
"Ehehe"
Abian dan Keyla bermain dengan begutu seru di tepi pantai itu. Hingga matahari telah berganti shift dengan sang bulan.
Sepasang remaja itu duduk di padang pasir sembari melakukan perbincangan dari hati ke hati. Abian tak melepas genggamannya sama sekali, ia bahkan memberikan kemejanya untuk dikenakan oleh Keyla.
"Rasanya udah lama gak gini" Tutur Keyla singkat, ia menyandarkan kepalanya di pundak Abian.
"Heem"
"Bian kalau sedih secukupnya ya?" Keyla menggambar sembarabg di atas pasir dengan telunjuknya saat mengungkapkan kerisauannya beberapa hari yang lalu, "Rasanya beberapa hari ini Bian dingin banget ke aku. Rasanya ada jarak" Sedih kala diingat bagaimana Abian bersikap padanya semenjak kepergian Akiel. Keberadaan Keyla antara ada dan tidak ada di apartemen itu.
"Maaf. Gue cuma..."
"Iya gak apa, gue paham kok. Kehilangan sahabat yang kayak saudara sendiri emang rasanya nyakitin" Keyla tak ingin Abian mengatakan penyesalannya untuk hal ini yang penting Abuan sadar akan hal itu.
Abian menghela nafas berat, otaknya memutar kilas balik kenangannya bersama sang sahabat, "Gue sama Akiel banyak banget kenangannya. Dia yang terbaik" Ucapnya dengan rasa yang begitu tulus.
Keyla tersenyum mendengar penuturan Abian, "Akiel beruntung banget punya sahabat kayak kalian, gue iri" Ucapnya sembari terkekeh kecil.
"Aya pasti baik juga kan ke lo?"
"Iya dia baik, baik banget. Gue bersyukur bisa temenan sama Aya dan Oliv"
Keyla menegakkan tububnya, ia mendongak menatap langit amlam yang begitu cantik malam ini, "Liat Bi, bintangnya cantik banget" Tunjuk Keyla pada satu bintang tang bersinar sangat terang tak jauh dari sang rembulan.
Abian mengeluarkan ponselnya lalu mengambil gambar langit. Ia menatapnya dengan mata berbinar.
El, lo yang tenang ya di sana. Sorry kalau gue belum bisa jadi sahabat baik buat lo selama ini.
"Hoaaam" Abian menoleh pada Keyla yang baru saja menguap.
"Ngantuk hm?" Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam mungkin karena suasananya dingin makanya Keyla mengantuk.
"Iya, cuma mau makan dulu"
"Ya udah ayo pulang. Nanti di jalan sekalian cari makan"
"Okey"
Garden Coffe...
"Rama" Andrea menyentakkan Rama yang sedari tadi menatap kosong ke arah gelas kopinya.
Andrea tersenyum simpul lalu mengambil gelas leci tea miliknya, "Lo gak fokus" Tuturnya sembari meneguk minuman itu.
"Sorry sorry, sampe mana tadi lo ceritanya?" Rama berusaha membujuk Andrea untik kembali bercerita, salahnya karena tak bisa fokus pada satu hal di dekatnya.
"Udah gak usah, lo kelihatan banyak pikiran banget" Andrea memahami Rama untuk tak memaksakan diri. Ia lalu menyantap cheese cake miliknya.
"Memangnya lo nggak?"
"Ya gue juga kepikiran soal Akiel cuma gue gak mau terus berduka, Akiel juga pasti gak suka liatnya" Sedih dan merasa kehilangan itu pasti bagi Andrea, tapi menunjukkannya di depan umum bukanlah dirinya. Ia bukan setahun dua tahun kenal dengan Akiel. Mereka sudah berteman semenjak SMP.
Mata Andrea lalu terfokus oada Keenan yang tak sengaja menumpahkan minuman milik pelanggan. Pasti lelaki itu juga sedang tak fokus. Andrea sudah memberi pesan untuk tak dulu turun lapangan jika emosi belum stabil tapi Keenan tetap memaksa. Lagipula Keenan punya karyawan yang cukup untuk melakukan pekerjaan.
"Kalian semua kelihatan kacau banget. Nggak mau rehat bentar tenangin diri?" Tanya Andrea tak tak memutuskan pandangannya pada Keenan yang kini mengambil alat kebersihan untuk membersihkan kekacauan yang ia buat.
"Gak ada waktu. Kita juga bentar lagi ujian buat kelulusan, semuanya rasanya tabrakan banget" Rama menjawab.
"Sha" Andrea memanggil Marsha yang tengah mencatat pesanan pelanggannya.
Gadis dengan kacamata yang bertengger di wajahnya menoleh pada Andrea lalu menghampirinya setelah selesai dengan urusannya, "Iya Kak?"
"Panggil cowok lo dong"
"..." Gadis utu diam seperi memikirkan sesuatu dan itu membuat Andrea bingung.
"Lo gak bakal cemburu ke gue kan? Gue gak suka kok ke Keenan" Andrea sudah was-was jika ia akan disangka pengganggu dalam hubungan asmara mereka.
"Ah nggak Kak nggak kok. Bentar ya aku panggilin dulu" Gadis itu hanya bingung dan sedang memikirkan siapa pacar yang Andrea maksud sebab seingatnya ia tak memiliki hubungan asmara dengan siapa pun. Dan ya, ia lupa soal Keenan si pacar dunia RP nya dan sekarang pacarnya di dunia nyata.
"Makasih ya"
Marsha menghampiri Keenan yang baru saja selesau dengan alat kebersihannya, "Kak Keenan" Panggilnya sopan.
"Kenapa Sha?" Tanya Keenan lembut pada sang kekasih.
"Kak Andrea mau ngomong sama Kakak. Ini biar aku aja yang beresin" Marsha ingin mengambil alih alat kebersihan yang dipegang Keenan.
"Nggak usah, lo urus pesanan yang lain aja nanti habis selesai ini gue langsung samperin Aya kok" Keenan menjauhkan alat kebersihan dari jangkauan Marsha.
"Iya Kak" Mengangguk patuh.
Keenan segera ke belakang untuk menaruh pelnya lalu segera menghampiri meja Andrea, "Kenapa?" Tanya Keenan dengan posisinya berdiri pada Andrea.
Andrea bangun dati posisi duduknya, "Duduk aja kalian berdua di sini. Tenangin diri dulu" Andrea menekan bahu Keenan agar duduk.
"Gak bisa Ya, gue ada kerjaan" Keenan ingin berdiri namun ditahan oleh Andrea.
Andrea menggeleng, "Biar gue aja yang gantiin lo. Tenangin diri kalian berdua, gue sedih liat kalian se-nggak fokus itu" Ucao Andrea lalu menyuruh Keenan melepas celemeknya dan dituruti oleh lelaki itu.
"Ya, kabar Oliv gimana?" Tanya Keenan pada Andrea yang hendak pergi.
"Oliv ya"
. . .
"Oliv" Perlahan Keyla membuka pintu kamar Olivia. Gadis itu nampak terduduk lemas di atas kasurnya, Keyla yang sedang makan malam bersama Abian menerima telepon dari Olivia yang terdengar tak baik-baik saja.
"Key..." Olivia membuka matanya yang sembab, sepertinya ia baru saja menangis. Di pelukan gadis itu ada sebuah Alkitab.
"Kenapa?" Tanya Keyla lembut.
"Akiel benar-benar pergi ya? Terus habis ini siapa yang dengar gue curhat? Habis ini siapa yang bakal gue datengin kalau gue kesepian di rumah? Siapa yang bakal gue masakin bekal sama bubur?" Tangis hadis itu pecah.
"Liv"
"Dia teman gue dari kecil, dia yang selalu ada buat gue dari dulu, dia teman gue yang tetap di samping gue pas gue gak ada teman"
"Dunia jahat banget"
"Siapa teman gue ke gereja habis ini?"
Keyla menyentuh tangan Olivia dan menyadari sesuatu, ia menolej pada Abian yang berdiri di belakangnya. "Bian, Oliv demam"
"Pasti dia gak ada makan lagi" Celetuk Abian, ia lalu menyentuh kening Olivia dan merasakan panas di punggung tangannya, "Lo di sini ya jaga dia. Gue beli obat sama bubur dulu"
"Cepat ya Bi"
Beberapa saat kemudian...
Abian memberikan mangkuk bubur ayam oada Keyla yang sedari tadi menyiapkan kompresan untuk Olivia, dan kini tangannya sibuk menyuapi Olivia, "Sorry ngerepotin. Orang tua gue lagi di luar kota gue gak tahu lagi siapa yang harus gue hubungin. Sedangkan Aya gak ngangkat telpon gue" Terang Olivia merasa tak enak.
"Its okay Liv. Lo gak perlu sungkan" Sahut Abian sembari tersenyum tipis. Ia menatap dua gadis yang duduk di atas kasur dengan pilu. Begitu banyak yang tersakiti setelah kepergian Akiel.
"Gue ganggu date kalian ya?" Tanya Olivia saat menyadari jika dua orang utu memakai baju rapi dan warnanya yang mirip.
Keyla menggeleng pelan, "Nggak kok. Iya kan Bi?"
"Iya nggak"
Setelah Olivia berkata kenyang. Keyla lalu memberikan obat penurun panas untuk Olivia makan, "Ya sudah lo istirahat ya. Gue sama Bian pulang dulu, besok kalau sempat gue ke sini lagi" Tutur Keyla tak nyaman juga untuk ia dan Abian ada si rumah gais itu hingga sekarang menunjukkan pukul sebelas malam.
Olivia mengangguk, "Thanks Key"
Rumah sakit...
Nayra memasuki ruangan yang di tempati Karin yang sedang dalam masa pemulihan dan keadaan mulai pulih kembali. Ia menatap sendu pada Karin yang asik menonton youtube dengan di temani buah-buahan.
"Karin" Panggil Nayra saat ua berdiri di sisi Karin, ia lalu denfan ragu menunjukkan surat yang dititipkan Almarhum Akiel padanya, "Ini dari Akiel"
"Gue gak butuh" Karim melirik surat itu tanpa minat sama sekali lalu kembali menatap drakor yang sedang ia tonton.
"Lo harus baca ini, Karin. Gue mohon" Nayra memaksa dengan sangat.
Karin berdecak kesal ia menepis surat itu agar menjauh datipadanya, "Apaan sih? Gak penting-penting amat kan"
"Penting Karin"
"Kenapa sih lo? Biasanya lo anti banget segala hal yang berbau Akiel" Karin mengatakan suatu hal yang menjadi penyesalan Nayra selama ini setelah tahu fakta yang sebenarnya.
"Ini titipannya"
"Cih"
"Rin"
"Udahlah Nay gue gak mau berurusan lagi sama tuh cowok"
"Rin ini pesan terakhirnya"
Mendengar hal itu ada sesuatu yang mengganjal bagi Karin, ia menatap Nayra bingung, "Maksud lo?"
"Dia pendonor lo" Tukas Nayra. Karin harus tahu hal ini.
"..."
. . .
Hai Karin, kalau lo baca ini artinya gue udah gak ada lagi ya. Jadi karena ini tulisan terakhir gue buat lo jadi bebas dong ya gue mau ngapain.
Jadi ini POV nya kita masih pacaran. Gak usah protes ya lo ini gue yang nulis.
Hai sayang. Kamu sehat kan sekarang? Puji Tuhan kalau gitu. Kamu tahu gak waktu aku tahu kalau kamu punya penyakit itu rasanya duniaku nyaris runtuh. Aku gak bakal tahu bagaimana keadaan ku kalau kamu benar-benar ninggalin aku. Aku gak bisa fokus belajar, nilai ku turun drastis. Aku semakin dipukul Papa. Aku kacau pas tahu hal itu.
Kamu masih aku anggap rumah sampai sekarang. Kamu tahu kan kalau kamu itu pacar pertama aku? Ahaha aku ingat banget gimana masa pdkt kita dulu. Kamu gemesin banget Karin ahaha. Waktu pertama kali aku ajak kamu jalan dulu jamu saking gamaunya sama aku sampe sengaja pake baju gak selaras warnanya dan berakhir kamu malu gara-gara aku ajak kamu ke perayaan ulang tahun perusahaan kakak aku. Untung kamu pintar jadi kamu sempatin diri ke mall buat cari dress sama make over seadanya. Kamu lucu waktu itu.
Terus waktu aku nembak kamu, ahaha rasanya canggung banget ya waktu itu. Kamu yang notabenenya dewi sekolah malah disukai anak kaku gatau stlye kayak aku. Kalau bukan karena kamu yang ajarin aku soal ootd mungkin aku bakal insecure terus pas pacaran sama kamu soalnya kan tipe kamu bukan anak yang kerjaannya belajar terus kayak aku.
Aku bahagia banget sama kamu. Soalnya selama ini aku gak pernah di sayang kayak kamu sayang ke aku. Karin? Dia sahabat aku dari kecil kami sudah kayak saudara bahkan lebih dekat dari pada saudara kandung aku. Mana pernah aku dibandingkan sama Karin kan aku selalu dibandingkan sama kakak aku yang sukses itu. Sakit banget Kar, bahkan sampai sekarang aku gak pernah dianggap berharga sama Papa aku.
Pas kita putus. Rasanya aku gak tahu harus gimana. Kamu gak mau dengarin penjelasan aku, kamu menghindar terus. Aku bingung.
Waktu itu, di club yang kamu lihat bukan yang kayak kamu pikirin. Aku sayang banget sama kamu. Waktu itu dia yang samperin aku terus duduk di samping aku. Dia yang goda aku, kamu tahu sendiri kan aku gak ada bakat buat hal yang kayak gitu.
Tapi yang mata kamu lihat mungkin memang bikin perasaanmu sakit banget ya sampai-sampai kamu langsung samperin aku terus mutusin aku. Padahal hari itu aku cuma mau nenangin diri karena aku berantem hebat di rumah dan kau sibuk sama pelajaran kamu. Aku bingung harus gimana. Ternyata aku hari itu juga malah diputusin. Rasanya gak ada yang berjalan baik buat aku.
Bodoh banget ya aku. Padahal aku tahu dapetin kanu itu susah, ngeyakinin kamu itu susah. Udah tahu susah dibikin percaya malah dikecewain, siapa pelakunya? Aku. Maaf ya Karin. Aku bodoh banget.
Mungkin dengan aku donorin hati aku, itu bisa menebus semua salahku ke kamu. Aku senang setidaknya aku akan terus hidup sama kamu walau bukan jadi soulmate kamu. Sehat-sehat terus ya. Kamu itu cinta pertama dan terakhir aku. Love you Karin.
. . .
Raung tangis terdengar begitu keras di ruangan itu. Karin memeluk surat beserta scrapbook yang Akiel buat untuknya isinya adalah foto foto mereka dan beberapa kalimat penuh kasih yang ditujukan bagi Karin. Kenapa ia tahu fakta itu dan mempercayainya saat Akiel tak ada lagi. Ia adalah yang terbodoh dalam hubungan mereka.
Ia bahkan tak ada saat Akiel hancur dan malah semakin menghancurkan mentalnya. Ia jahat. Akiel memang terlalu baik bagi siapa pun, wajar Tuhan mengambilnya sebab Akiel tak mendapatkan yang layak ia dapatkan.