Eros Love

Eros Love
Dunia Roleplayer Keenan



Malam sedah semakin larut, Marsha nampak berkemas untuk pulang. Dan Keenan, lelaki tinggi itu tampak memperhatikan dirinya terus menerus. "Sha, lo main rp?" Keenan melempar pertanyaan saat Marsha mengikat rambutnya.


Marsha membalikkan badannya menatap pada Keenan yang mendekat ke arah dirinya, "Kok tiba-tiba nanya gitu ya Kak?" Marsha menjadi heran sebab ini merupakan pertanyaan langka bagi orang yang tak terlalu dekat dengannya.


"N-nggak apa-apa, nanya aja" Tutur Keenan.


"Iya aku dulu sempat main tapi udah gak lagi. Mau fokus sekolah aja dulu" Perjelas Marsha sembari memperbaiki letak kacamatanya.


"Oh gitu" Mengangguk paham.


Mersha merasa ada yang aneh pada kakak kelasnya itu yang tiba-tiba mempertanyakan hal di luar topik biasanya, "Kenapa memangnya? Kak Keenan mau main rp?" Tanya Marsha.


"Hah?" Shock dengan pertanyaan yang Marsha lemparkan. Imagenya mungkin akan rusak jika banyak orang tahu ia bermain roleplay.


"Yaelah gak usah malu kali Kak, gak bakal ku bocori juga kalau Kakak main rp" Marsha sepertinya paham dengan apa yang Keenan pikirkan.


"Gue juga main kali" Jujur Keenan namun dengan nada suara yang tak terlalu keras agar tak didengar oleh yang lain.


"Oh ya? Seriusan?!" Marsha nampak antusias mendengarnya. Setidaknya ia memiliki teman yang punya hobi yang sama dengannya.


"Heem, tapi udah nggak" Keenan berucap kemudian.


"Oalah gitu, pasti bosan ya Kak?" Tebak Marsha. Ia kini.merasa santai dengan pembahasan yang cukup ia kuasai itu.


"Ya gitu lah, gak seru lagi gue main pas cp gue hiatus ahaha" Tertawa di hadapan Marsha, senyumnya begitu manis.


"Ahaha gitu ya Kak, emang gak balik lagi tuh cp kakak?" Rasa penasaran Marsha mulai bergelonjak.


"Em tahu deh gue gak pernah cek" Ucap Keenan sembari menatap sekilas ponselnya, "...padahal orangnya baik banget" Mengenang deretan pesan yang pernah ia ketik dahulu.


"Ah ini kok jadi cerita soal rp sih?" Menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Menjadi tak enak di hadapan Marsha yang menatapnya lekat.


"Namanya Aurel Natalia Christy" Penuturan Keenan membuat bola mata Marsha membukat sempurna.


"Itu lo?" Keenan kini berkata dengan nada penuh harap jika ia menemukan sosok Aurel di dunia nyata.


"H-hah?"


"Nanya aja sih, soalnya gue gak sengaja liat wallpaper lo" Keenan berkata dengan nada serius. Ia benar-benar yakin jika Marsha adalah Aurelnya di dunia rp.


"Kalau dari gaya bahasa juga gak jauh dari gaya bahasa lo pas chating sama gue, makanya gue tadi sempat mikir kalau lo itu dia" Keenan kembali mengatakan persamaan diri Marsha dan Aurel.


"O-oh gitu ya"


Keenan mengangguk, ia sepertinya tak menemukan jawaban apapun dari Marsha. Mungkin ia hanya salah sangka saja, "Ya udah ya, gue mau ke ruangan gue dulu" Keenan pamit undur diri.


"Iya Kak"


Kak Keenan itu Revano?


. . .


"Sakit lagi?"


"Ngapain ke sini?" OIivia menatap tak suka pada Akiel yang datang larut malam seperti ini. Perempuan itu mengenakan pakaian yang begitu rapi untuk malam ini, sepertinya hendak bepergian.


"...gue udah bilang kah kalau gue sama sekali gak mau mau liat muka lo, ngapain masih jauh-jauh datang ke sini?" Tekanan darah perempuan itu sepertinya selalu naik saat Akiel menjumpai dirinya.


Akiel menghembuskan nafasnya mendengar ucapan Karin yang menunjukkan seberapa jauh perempuan itu membenci dirinya. "Jaga pola makan lo Karin" Memberikan plastik putih yabg berisi makanan kegemaran Karin.


"Gak usah sok peduliin gue" Enggan menerimanya.


"Gue emang peduli" Akiel menarik tangan Karin dan memaksa perempuan itu menerima pemberiannya.


"Urus aja nilai lo yang mulai menurun itu" Karin berucap dengan pelan. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain.


Akiel memiringkan kepalanya mendengar hal itu, "Tahu dimana kalau nilai gue nurun?" Tak ada yang tahu tentang anjloknya nilai Akiel selain guru, orang tuanya, dan teman sekelasnya.


"Tahu aja"


Akiel mengangguk, "Dimakan, gue pergi dulu" Ia lalu melangkah menjauhi Karin dan menuju motornya lalu mengenakan helmnya, setelah ia menghidupkan mesinnya ia kembali menatap pada Karin, "Gak bilang 'hati-hati di jalan El'?" Satu kalimat yang dulu sering Karin ucapkan padanya.


"Oh oke" Akiel tak ingin berlama-lama mengganggu Karin, ia lalu segera menjalankan kendaraannya dan segera pergi dari halaman rumah Karin.


Karin terus menatap kepergian Akiel yang lama kelamaan menghilang dari pandangannya, "Ayo Karin, kamu harus check up" Sebuah rangkulan menyadarkan Karin dari lamunannya, ia tersenyum pada sang Papa yang berdiri di sampingnya.


"Iya Pa" Tersenyum, ia lalu melangkah bersama dan masuk ke dalam mobil menuju rumah sakit.


Rumah Akiel...


"Akiel!" Sambutan kedatangan Akiel malam ini terdengar seperti bukan sambutan baik-baik. Suara bentakan itu sepertinya sudah sering Akiel dengar.


"Darimana lagi kamu?" Sang Papa turun dari lantai atas dan melewati beberapa anak tangga, menatap murka kepada putra bungsunya yang pulang begitu larut malam.


"Ketemu teman" Menjawab dengan ekspresi datar. Ia memperbaiki setiap helai rambutnya dengan asal, sebenarnya ia muak dengan segala bentakan yang Papanya lontarkan.


"Tidak bisakah kamu diam di rumah dan berkutat dengan bukumu?!"


"Buku juga bosan kali Pa aku pelajari terus" Menyahuti.


"Menjawab kamu!" Kembali membentak, ia terlihat tak memiliki belas kasihan kepada sang putranya yang selalu dituntut untuk sama seperti sang kakak yang begitu sukses itu, "Masuk ke kamarmu!"


"Ya" Tanpa banyak membalas Akiel berlalu pergi dan masuk ke dalam kamarnya.


Lelaki itu segera mencuci kaki dan tangannya lalu berbaring di atas kasurnya. Ia memandang pada figura yang ada di atas meja belajarnya, fotonya bersama Karin di saat hubungan mereka baik-baik saja.


"Gue kangen lo Rin, biasanya lo khawatir sama gue"


Sekolah...


Bel pulang sudah berbunyi lima menit yang lalu, Andrea dengan langkah tegasnya ia melaju menuju ruangan OSIS. Wajahnya terlihat begitu kesal.


"Rama!" Membentak ketua OSIS yang tengah serius membaca hasil rapat tentang pemilihan ketua OSIS baru.


Rana tersentak dengan suara nyaring itu, ia menoleh ke arah Andrea yang mendekatinya dengan kesal. Pintu ruang itu tertutup sebab angin yang berhembus mengurung mereka berdua, "Ck, ngagetin aja lo. Kenapa?" Tanya Rama sembari bangkit dari tempat duduknya.


"Posting apa lo hah?! Hapus gak sg lo" Memukul bahu lelaki itu.


"Dih gak mau, siapa lo ngatur sosmed gue?" Rama tertawa walau bahunya sakit sebab dipukul oleh Andrea. Menjahili Andrea adalah hobi barunya.


"Ngapain lo posting foto gue pake caption yang alay banget?" Andrea merasa imagenya rusak sebab caption Rama saat memposting foto aib mereka berdua.


"Iseng" Tutur Rama setengah meledek, "Gue di dm banyak cewek, kan gak enak hati sama lo. Makanya gue posting foto lo"


"Gue yang diserang ama followers lo oon" Memukul Rama berkali-kali lagi. Mengingat banyaknya perempuan yang mengirim pesan padanya membahas tentang status dirinya dengan Rama.


"Yaelah sini mana ig lo biar gue yang balasin biar gak ganggu lo lagi" Menunjukkan telapak tangannya untuk meminta ponsel gadis itu.


"Najis, gak bakal gue kasih" Berbalik badan untuk pergi dari situ. Ia meraih ganggang pintu itu dan menciba untuk mendorongnya guna membuka.


"Ya sudah" Rama mengangkat bahunya acuh.


"Rama" Andrea memanggil Rama yang kini melanjutkan kerjaannya.


"Hm?"


"Ini pintunya kekunci" Andrea berucap dengan panik.


"Ya tinggal buka apaan sih?" Tak menoleh sama sekali ke arah gadis manis itu.


"Gak bisa Rama" Semakin panik hingga membuat Andrea menghembuskan nafasnya gusar lalu menghampiri Andrea.


"Lemah banget" Mengambil alih ganggang pintu itu dan mendorongnya namun nihil hasilnya.


"Limih bingit, badan lo lemah" Andrea menyindir sembari menyilangkan tangannya di depan dada.


"Coba teriak" Titah Andrea pada sang sahabat.


Rama lelah fengan usahanya yang tak menghasilkan apa-apa ia kini menatap pada Andrea yang mengusulkan ide, "Gak bakal bisa ini ruangan ada di daerah belakang, siapa juga yang mau datang ke sini pas jam pulang" Rama mengatakan fakta. Buktinya tak ada yang berusaha mendekati ruang itu saat mereka ribut dengan pintu.


"Ya terus gimana?" Andrea sungguh tak ingin berlama-lama berada di ruangan ini bersama si tengil Rama.