Eros Love

Eros Love
Terakhir Kali



Keyla menyelesaikan cucian piringnya dan saat ia kembali, ia keheranan dengan suaminya yang membawa selimut dan bantal ke luar kamar tidur mereka, "Bian, itu mau dibawa kemana?" Tanya Keyla kebingungan.


"Ruang tengah, buat gue sama Akiel" Perjelas lelaki tampan itu pada istrinya dengan nada suara lembut.


Keyla bertambah bingung, "Lho? Bian nggak tidur di kamar?" Apa itu artinya ia akan tidur sendiri malam ini? Tidak mungkin kan?


"Nggak, gue malam ini sama Akiel" Mendengar hal itu wajah Keyla berubah menjadi cemberut.


Melihat wajah sang istri yang berubah Abian tersenyum tipis. Putri manja itu sepertinya bertingkah lagi. "Di ruang tengah doang kok nggak ke luar negeri juga. Sana tidur" Ucapnya sembari mendorong tubuh perempuan itu pelan.


Tak langsung masuk kamar Keyla lantas pergi dulu ke ruamg tengah di sana Akiel tampak menyibukkan dirinya bermain PS. "Akiel ngeselin" Decak Keyla pada Akiel yang tak tahu apa-apa.


"Napa tuh cewek?" Gumamnya sembari memandangi punggung Keyla yang perlahan menjauh.


"Keyla kenapa sih?" Tanya Akiel pada Abian yang datang dengan selimut ditangannya.


"Marah gue gak tidur sama dia" Ucap Abian santai.


Akiel terheran-heran mendengar hal itu, "Gue kok berasa pelakor ya?" Gumamnya.


"Bagi sini" Abian mengambil stik PS lainnya dan ukut bermain game dengan sang sahabat.


"Lo seriusan sudah nikah Yan?"


"Heem"


"Terus rencana lo ke depannya gimana?"


"Maksud lo?"


"Pilot?" Akiel tahu betul jika Abian begitu mendambakan pekerjaan itu namun di persyaratan untuk pendidikannya ialah tidak dalam status sudah menikah.


Abian tersenyum tipis ia bahkan dengan berat hati merelakan impiannya saat pemberkatan pernikahannya dan Keyla beberapa bulan yang lalu. "Gak ada lagi yang bisa gue upayakan, gue sudah menikah jauh sebelum gue daftar. Mungkin gue bakal mikir buat nyoba ngelola perusahaan Kakek gue" Jelasnya.


"Sayang banget"


"Ya mau gimana lagi, gue dulu juga gak ada pilihan lain selain nerima perjodohan yang udah ortu gue atur"


Akiel yang masih berfokus pada gamenya mengernyitkan kening. "Kenapa lo gak tolak? Lo kan bisa pakai alasan kalau lo pengen jadi pilot" Tuturnya.


"Sudah pernah gue coba, dan memang gue gak dikasih pilihan lain selain nerima. Sebagai gantinya gue diberi solusi buat apa yang akan gue kelola di masa depan" Abian memperjelas.


"Ngelola perusahaan Kakek lo?"


"Iya"


"Sekarang lo udah sepenuhnya nerima takdir lo buat nikah muda?"


"Ya mau gak mau gue harus nerima" Abian kemudian tersenyum manis, bagitu riang, "...lagipula nikah sama Keyla nggak terlalu buruk, dia baik" Ucapnya mengingat bagaimana kondisi kehidupan rumah tangganya bersama Keyla yang masih di zona aman.


Akiel menganggukkan kepalanya, sebuah pertanyaan kemudian terlintas di kepalanya. Ia menatap sekilas pada Abian, "Udah pernah lo apain?" Tanyanya dengan lagak penasarannya.


"Apaan?" Menatap pada Akiel heran. Apa maksud pertanyaan itu?


"Istri lo"


Abian berdecak kesal, sebenarnya sekotor apa pikiran dari Akiel untuk dirinya, "Gue nggak pernah ngapa-ngapain" Tuturnya, "...paling jauh juga gue cium tuh bocil" Ucapnya santai tanpa malu mengucapkannya pada Akiel.


"Bocil-bocil, seumuran kali kita ama Keyla" Tutur Akiel, "Lo gak pernah ngelakuin..." Menggantungkan kalimatnya. Terlihat cukup penasaran denga kehidupan rumah tangga sahabatnya.


"Nggak lah, gue aja belum lulus kalau dia hamil gimana" Menjawab dengan agak sewot


"Ya kan udah sah juga" Mengucapkannya dengan begitu enteng.


"Gak segampang itu urusannya bego, terlalu mesum otak lo"


"Ya kan wajar, gak mesum gak normal"


"Iya iya serah lo dah"


Keesokan paginya...


Pagi ini cuaca cukup mendung, Keyla dengan rutinitas paginya terlihat sibuk meletakkan sarapan di atas meja makan di bantu dengan Abian yang entah dapat angin darimana membantu menyiapkan beberapa alat makan.


"Sarapannya"


Telur gulung dengan sosis yang bergelimang saos nampak menghiasi meja makan itu. Akiel yang merupakan tamu pada hari ini cukup merasa asing sebab sarapan bersama-sama. Walau ia sering menginap di tempat Abian namun mereka tak pernah sarapan bersama sebab Abian sendiri selalu makan di luar.


Suasana ini terasa begitu asing baginya.


"El, kenapa? Masakan gue gak enak ya?" Tanya Keyla kala menyadari jika Akiel hanya menatap piringnya setelah memakan satu suap sarapan itu.


Akiel mengangkat kepalanya menatap pada Keyla ia tersenyum tipis oada gadis itu, "Enak kok" Tuturnya tulus.


"Kalau gak sesuai sama lidah lo, pulang aja sana" Abian berucap dengan sinis.


Yaelah Yan, lo kalau bucin ngebelain banget ke cewek lo.


Keyla menuangkan air putih bagi Abian dan Akiel jangan sampai dua lelaki itu tak ingat minum, "Karin di rumah sakit ya El?" Tanya Keyla.


"Tahu dimana?" Setahu Akiel tak ada yang tahu hal itu selain ia dan Nayra yang baru ia beritahu.


"Satu sekolah sudah tahu kali" Tutur Abian menyahuti.


"..." Akiel terdiam sedari kemarin pikirannya tak tenang sebab hal tersebut.


Keyla menelan nasinya, "Gimana sama dia sekarang?"


"Buruk" Mengucapkannya dengan rasa sesak di dada, "Tiba-tiba aja tempo hari dia dipasangin banyak macam alat" Akiel meneguk minumannya usai mengatakan hal itu. Ah, rasanya ia ingin menangis.


"Gue gak mau kehilangan" Tuturnya lemah.


Keyla merasa rak enak sebab membahas hal ini dan melihat respon Akiel yang terlihat begitu terluka, "Positif thinking El, lo gak boleh berpikir yang aneh-aneh" Keyla mencoba menghibur.


"Sampai sekarang belum nemu pendonor yang cocok" Lanjut Akiel sebelum memakan kembali sarapannya.


Abian menatap tajam pada Akiel ia tahu apa yang dipikirkan sahabatnya itu saat ini, "Gak usah berpikir untuk lo jadi pendonor. Karena gue gak setuju" Ucapnya. Bukan sekali dua kali Akiel bersikap akan melakukan apapun demi Karin. Bahkan Akiel daja rela menjatuhkan harga dirinya untuk perempuan itu.


"Yan" Akiel menatap sendu pada sahabatnya.


"Nggak El!" Tegas Abian, "Kalau lo jadi pendonor sama aja kayak lo mengakhiri hidup lo sendiri!"


"Demi Karin" Ucap Akiel lesu.


"Nggak!"


Keyla mengusap punggung Abian, mencoba menenangkannya, "U-udah Bi, selesaikan sarapannya dulu. Nanti pasti dapat kok El pendonor nya yang cocok, kita berdoa aja" Ucapnya yang cukup ampuh mengheningkan adu mulut antar dua sahabat itu.


Tapi kalau yang Tuhan mau hati gue diberi untuk Karin apa gue bisa nolak Key?


Malam, rumah sakit...


Akiel malam ini kembali datang ke ruma dakit tempat Karin dirawat. Ia menghampiri Nayra yang tengah duduk di sisi ranjang Karin yang masih betah memejamkan matanya.


"Karin gimana keadaannya Nay?" Tanya Akiel pada perempuan yang terlihat begitu lesu itu.


"Kata dokter apa?"


Nayra meneteskan air matanya, ia lantas segera menghapusnya. "Dia butuh donor hati secepatnya" Tuturnya dengan suaranya yang terkesan serak.


"Terus udah dapat?"


"Belum"


Mendengar jawaban itu membuat Akiel menghembuskan nafasnya pela, ia menatap lurus oada Karin lalu mengenang bagaimana masa-masa pacarannya yang begitu bewarna sebelum sebuah rumor yang mengatakan jika Akiel selingkuh benar-benar menghancurkan kepercayaan Karin terhadap dirinya.


"Lo masih peduli sama Karin?" Tanya Nayra pelan.


"Gue masih sayang sama dia" Ungkap Akiel dengan nada begitu tulusnya, ia menatap pada Nayra yang tetap menatap pada Karin. "Gue gak selingkuh Nay"


"..."


"Bahkan sampai detik ini lo masih tutup telinga ya" Akiel dibuat begitu frustasi dangan kondisi yang ia hadapi. Kenapa tak ada yang mempercayainya? Akiel kemudian mengeluarkan scrapbook yang ia buat beberapa hari ini dan menyerahkannya kepada Nayra, "...gue titip ini aja, kasih ini ke Karin kalau dia sembuh"


"Hm" Nayra mengambilnya cuek.


Akiel mendekat pada Karin, ia menggenggam jemari gadis itu, "Kalau gue yang jadi pendonor apa gak apa-apa?" Gumamnya sendu.


"Gue udah nyoba jadi pendonor tapi hati gue gak cocok" Nayra menyahuti. Menunjukkan bahwa ia juga ingin berkorban untuk karin.


"Nay"


Tak tertahankan lagi, air mata Jayra tumpah begitu saja"Gue bakal lakuin apapun demi Karin El, gue sayang banget sama dia" Isaknya.


"Nayra"


"Gue gak bisa kalau harus kehilangan sahabat gue El, gue gak bisa"


Kesedihan memenuhi ruang yang ditempati Karin. Akiel menahan sesak di dadanya. Situasi ini, ia tak menyukainya. Ia ingin melakukan sesuatu tapi ada konsekuensi yang harus ia hadapi jika mengambil tindakan yang ia pikirkan.


Rumah...


Akiel tiba di rumahnya yang cukup besar, ia melangkahkan kakinya masuk dengan wajah kelelahannya. Suasana rumah yang tak pernah ia rindukan ini bak neraka yang menyiksa batin dan jiwanya.


"Sudah dua hari kamu nggak ada di rumah, dimana kamu selama itu?" Suara tegas itu menghentikan langkah kaki Akiel ia sungguh tak memiliki tenaga untuk bertengkar dengan lelaki itu.


"Teman aku opname di rumah sakit" Tuturnya tanpa menatap pada sang Papa yang menatapnya penuh emosi.


"Lalu hubungannya dengan kamu apa? Kamu itu sudah kelas 12 Akiel!"


Akiel membalikkan badannya menatappada sang Papa tanpa ekspresi, "Lalu?"


"Akiel!" Ia orang tua di rumah ini dan ia menuntut agar semua orang tunduk kepada dirinya tak terkecuali Akiel.


"Aku capek Pa, bisa tunda dulu gak amarahnya?" Akiel berkata dengan pelan.


PLAK.


"Makasih untuk sambutannya, Pa" Akiel tersenyum miris menerima tamparan yang mendarat di pipi kanannya.


"Saya menyesal memiliki anak pembangkang seperti kamu"


"Aku gak pernah menyesal kok punya Bapak kayak Papa sekarang" Tuturnya diiringi air matanya yang jatuh di pipinya,


"...selamat malam Pa. Aku janji ini terakhir kalinya Papa liat anak pembangkang kayak aku" Ucapnya pedih, lalu melenggang pergi memasuki kamarnya. Pikirannya kacau, mentalnya benar-benar tersakiti. Ayahnya adalah orang yang menjadi pelaku utama tercipta semua rasa sakit dan gangguan mental pada Akiel.


Siang hari...


Olivia nerhasil mendapatkan izin dari ibunda dari Akiel untuk menjenguk Akiel yang ada dalam kamarnya. Perempuan yang sudah menjadi teman masa kecil daripada Akiel itu tentu dengan mudah memasuki ruangan Akiel.


"El" Dengan makanan yang ia buat saat di rumahnya, Olivia dengan hati-hati memasuki pintu Akiel yang tak dikunci. Ia menemukan tubuh Akiel terbaring di atas kasurnya, Olivia khawatir dengannya dengan pelan ia menggerakkan tubuh Akiel.


"Hm?" Ada sahutan, Akiel membuka matanya yang nampak lelah dan sembab itu. Menemukan Olivia duduk di sisi kasurnya dengan wajah segar di siang hari yang begitu terik ini.


"Makan dulu" Tutur gadis itu dengan santun. Ia yang hapal bagaimana Akiel selalu bertuturkata lembut saat sang sahabat sedang dalam kondisi tak baik.


"Liv" Akiel bangun dari duduknya memperhatikan pergerakan Olivia yang menyiapkan makanan baginya, "...gue gak berharga bangetnya di keluarga gue? Gue juga gak pernah minta dilahirin di sini, wajar ya kalau gue dapat perlakuan kasar dari bokap gue?" Ucapnya dengan nada suara seraknya. Bukan hal baru jika Akiel berkeluh kesah pada Olivia meteka sudah seperti saudara.


Olivia terkejut dengan penuturan Akiel yang terdengar begitu putus asa itu, tangan halus Olivia kemudian menangkup pipi Akiel lembut dan mengusapnya. "El, semua orang itu berharga. Termasuk lo, lo berharga. Di mata gue, keluarga lo, sahabat lo, bahkan di mata Tuhan lo makhluk Tuhan yang paling berharga" Tutur Olivia, rasanya ini benar-benar tahun terburuk bagi Akiel. Laki-laki itu terlihat begitu murung.


"Makasih Liv" Akiel bersyukur dengan kata-kata Olivia, ia lalu menyandarkan kepalanya di bahu Olivia dengan begitu lemah. Olivia adalah perempuan yang baik.


"Ya sudah sekarang lo makan ya. Terus nanti malam ikut gue"


Akiel mengangkat wajahnya menatap pada Olivia, "Kemana?"


"Birthday party kakel kita dulu"


Malam hari...


Halaman rumah yang cukup luas menjadi kawasan perayaan ulang tahun alumni dari sekolah Abian. Seorang mantan ketos yang dikenal olah seluruh warga sekolah bukanlah wajah yang asing bagi Abian untuk ikut berkumpul disana.


Dengan membawa Keyla ikut pergi, Abian tampak terus menggandeng gadis mungil itu takut sang istri lepas dari pengawasannya.


"Hai" Sapa Abian pada para kawannya yang lebih dulu datang.


Melihat sang teman menggandeng cewek baru, sontak membuat mereka menggoda. "Siapa nih Yan?" Tanya seorang diantara mereka. Tubuh Keyla memang terbilang sangat kecil namun pesona di wajahnya tak bisa dilewatkan begitu saja.


"Kenalin gue Keyla, tem--"


Abian menggenggam tangan Keyla lebih erat, menghenrikan perkenalan diri gadisnya. "Dia Keyla, Pacar gue" Ucapnya yang secara tak langsung memperkenalkan langsung Keyla sebagai pasangan terlepas bagaimana dirinya dulu.


Keyla terkesiap ia menatap tak percaya pada Abian yang secara langsung mengatakan hal itu.


Pacar?


"Wihh cantik juga"


"Nomor WA bisalah bagi-bagi"


"Cih" Keyla berdecih, di zaman seperti ini masih saja ia menemukan spesies lelaki jalanan. Pertemanan suaminya terbilang standar.


"Key, duduk aja dulu. Gue mau ngambil air" Bisik Abian di telinga Keyla yang masih sibuk dengan pikirannya.


"Gak perlu Bi, gue bisa sendiri kok" Tutur Keyla. Wajahnya memanas kala deru nafas Abian terasa di kulitnya.


"Udah manggil baby?"


Abian menatap sinis pada para lelaki itu, "Dia gak manggil gue itu" Kesalnya. Ya walaupun ia sudah mengakui keberadaan Keyla belum menutup kemungkinan jika ia kesal dikatakan yang ta sesuai fakta.


"Bareng gue aja ngambil airnya, Keyla" Tawar seorang di antara mereka yang berpakaian lebih rapi dari yang lain.


"Hm?" Keyla menatap padanya.


Abian berdecak kesal ia lalu menekan bahu Keyla agar duduk saja di bangku yang telah disediakan. "Duduk, Keyla Xandria Rumasya" Ucapnya datar.


Tahu jika Abian tengah serius, membuat Keyla menatap matanya dengan polos. "Ya udah sih Key, biar aja Abian yang ngambil minumnya. Jarang-jarang lho ia mau ngambilin minum" Tutur seorang lagi yang ada di perkumpulan tersebut. "...kali aja Abian ngejadiin lo istri" Derai tawa terdengar mengalir begitu saja.


Emang gue istrinya.