Eros Love

Eros Love
Batin Akiel



"Aya di rumah sakit?" Keyla mengernyitkan keningnya mendengar penuturan dari Abian yang kini tengah berbaring di atas kasur mereka.


"Heem, gue dikabarin sama Rama katanya Aya pingsan pas mereka terkurung di ruang OSIS" Jelas Abian pada Keyla yang duduk di samping dirinya sembari menonton drama korea di laptop.


"Kok bisa?" Tanya Keyla sembari menatap pada Abian yang memasang mimik wajah datar.


"Mana gue tahu"


Keyla berdecak sebal mendengar penuturan Abian, ia kemudian mematikan laptopnya lalu turun dari atas ranjang dan menuju lemari untuk mengambil cardigannya.


"Mau kemana?" Abian dibuat heran dengan apa yang Keyla lakukan.


"Jengukin Aya, Bian jaga rumah aja" Ucap Keyla yang mengenakan piyama tidurnya ditutupi oleh cardigan.


Abian mengubah posisi baringnya menjadi duduk, "Yang ngizinin lo pergi siapa?" Menatap tajam pada Keyla yang menyambar sling bagnya dan juga dompet.


"Emang harus minta izin dulu?" Menyahut.


"Menurut lo?"


"Nggak perlu"


Abian membulatkan matanya, ia bersedekap dada, "Keyla" Ingin memberi peringatan.


"Ya udah kalau gitu Bian siap-siap dong, gue mau jengukin Aya" Keyla menghentakkan kakinya kesal beberapa kali.


Abian menggelengkan kepalanya menolak, "Mager ah, mending turu"


"Bian ihhh, atau atau nggak gue pergi sendiri nih" Keyla memegang gagang pintu bersiap meninggalkan Abian di rumah sendirian.


"Iya ah bentar" Dengan rasa malasnya Abian turun dan lekas berganti pakaian.


Rumah sakit...


Sadar dari pingsannya, Andrea terus menatap sinis kepada Rama yang tengah menyantap makan malamnya di samping kasur Andrea.


"Alay banget lo bawa gue ke rumah sakit" Ucap si cantik yang berwajah pucat itu.


Rama melirik sekilas kepada Andrea tanpa memghentikan kunyahannya, "Siapa suruh pingsan" Ucapnya dengan enteng. Ia lalu mengarahkan sendoknya kepada Andrea berniat menyuapi perempuan itu.


"Ya kan gak harus ke sini juga Rama" Menerima suapan daripada Rama.


"Kok lo protes sih?" Rama merasa jika kebaikannya tak diterima baik oleh Andrea.


"Ah tahu lah, ribet ngomong sama lo" Andrea bersedekap dada dengan mimik wajah kesalnya.a


"Aya, lo gak apa-apa?" Tirainya dibuka begitu saja dan muncullah dua orang perempuan dengan wajah khawatirnya. Membuat Andrea dibuat heran dengan kedatangan mereka.


"Lho Oliv? Keyla? Kok tahu gue di sini sih?" Ia rasa yang tahu keberadaannya sekarang hanyalah keluarga Rama dan keluarga Andrea serta sahabat Rama, tapi ternyata dua sahabatnya juga tahu.


"Ram, Akiel sama Keenan mana?" Abian ikut memunculkan kehadirannya di belakang Keyla dengan membawa plastik putih berisi makanan untuk Andrea.


"Kantin sih kayaknya" Ucap Rama menyelesaikan makan malamnya.


"Oh iya iya" Abuan mengangguk paham lalu menghampiri Andrea yang mengobrol dengan dua sahabat perempuannya, "Gak apa-apa lo?" Tanya Abian sembari meletakkan makanan yang ia bawa di atas nakas.


"Pusing aja" Tutur Abian.


Abian mengangguk lalu berniat meninggalkan tempat itu sebab pembatasan jumlah pengunjung, "Ya sudah gue nyusul Akiel sama Keenan aja deh" Ucap Abian sembari membalikkan badannya untuk berlalu pergi.


"Ikut" Rama bangkit berdiri dan lantas menggandeng lengan Abian.


"Gak usah sentuh-sentuh gue" Menepis dengan rasa kesal.


Rama terkekeh kecil lalu menolehkan kepalanya kepada Keyla yang menatap pada meteka berdua dengan sotot mata meneduhkannya, "Gak apa-apa kan, Key?" Lontar Rama yang membuat Keyla kebingungan.


"Hah?"


"Kalau gue gandeng cowok lo"


"B-boleh kok" Tiba-tiba saja Keyla merasakan hawa canggung di sekitarnya. Ia tak menduga Rama akan melemparnya dengan pertanyaan sekaligus pernyataan.


Mendapat izin dari Keyla, Rama menatap kepada Abian dan hendak melingkarkan tangannya lagi di lengan Abian namun Abian lantas menatapnya tajam, "Jauh-jauh lo dari gue" Abian memperingatkan Rama lalu berjalan lebih cepat dari Rama.


"Buat lo" Olivia menyerahkan buah-buahan kepada Andrea.


"Makasih ya" Menyimoan buah itu di samping makanan yang diberi Abian.


Keya menarik kursi lipat lalu duduk di situ sedangkan Olivia duduk di ranjang, "Orang tua lo udah tahu?" Tanya Keyla pada Andrea.


"Sudah, tadi baru aja dikabarin" Jelas Andrea, ia lalu ingat kembali pertanyaan yang belum sempat diberi jawaban oleh mereka berdua, "Ada yang ngasih tahu kalian kalau gue di rumah sakit?" Rupanya itu masih menjadi tanda tanya di benak Andrea.


"Rama bikin story ig yang ada lo" Ucap Keyla lalu mengambil ponselnya dari dalam sling bag miliknya.


"Hah?" Andrea terkejut.


Keyla kemudian menunjukkan story instagram yang Rama buat kepada Andrea.


"Aargh benci gue sama lo, Rama"


. . .


Keenan dan Akiel tampaknya begitu nikmat menikmati makanan yang mereka pesan namun saat langkah kaki terdengar mendekat ke arah mereka membuat perhatiannya untuksesaat terbagi.


"Gay?" Tutur Akiel melihat Rama yang bermanja-manja kepadaAbian yang memasang wajah jengkel.


"Berisik, teman lo nih urus" Mendorong tubuh Rama agar menjauh daripadanya.


"Lo sejak kapan nge-gay Rama?" Keenan kini menatap pada Rama yang memgambil tempat duduk di samping dirinya.


"Dari dulu, baru tahu lo" Menatap bola mata Keenan demgan begitu dalam dengan wajah penuh goda.


"Najis lo playboy, jauh-jauh sana dari gue" Mendorong kecil bahu Rama seakania jijik.


Raka memanyunkan bibirnya, "Ihh abang jahat aku tuh cinta berat, sini dong dekat-dekat ku pegang erat-erat" Bernyanyi dengan wajah sok imut yang membuat sahabatnya menatap aneh pada dirinya.


"Bukan teman gue" Ucap Akiel.


"Nemu dimana Yan nih orang?" Keenan berucap.


"Tong sampah tadi" Balas Abian yang drngan santainya menyantap makanan milik Akiel.


"Pasti habis dibuang"


"Beban"


"Kurang ajar lo pada" Rama tertawa kecil dengan jokes yang selalu diucapkan oleh sahabatnya.


"Apaan nih Yan?" Akiel menunjuk pada ikat rambut hitam yang melingkar di pergelangan tangan Abian. Hal itu cukup menarik perhatian Akiel.


"Punya cewek lo?" Tanyanya lagi.


"Menurut lo?" Tersenyum tipis.


"Anjir" Akiel menutup mulutnya tak oercaya dengan apa yang ia dengar, sebab setahunya Rama lah yang mendekati Keyla dan bukanlah Abian.


"Gue kan sama Aya" Ucap Rama yang tahu kemana arah pikiran Keenan dan Akiel.


"Playboy nggak ada adab lo" Keenan menatap tajam pada Rama yang mengatakan secara langsung jika ia tengah mengincar Andrea yang adalah sahabat mereka.


"Mulut lo tuh kayak gak pernah diajarin sopan santun sama orang tua lo" Rama menyahut dengan nada sebal.


"Gue broken home" Akiel menyahut dengan tiba-tiba.


"Gelap" Abian menggelengkan kepalanya.


Akiel tersenyum simpul lalu ekor matanya seperti menangkap sosok gadis yang ia kenal. Ia menoleh secara perlahan dan menagkap pergerakan seorang gadis yang cukup tinggi dengan pakaian pasien rumah sakit yang ia kenakan.


Karin?


"Kenapa El?" Tanya Rama saat Akiel terus memandang ke satu arah dengan begitu fokus.


"Nggak kok" Menggeleng kecil.


Gue salah liat kali.


Keesokan harinya, sekolah...


Pelajaran tengah berlangsung dengan begitu serius di kelas Abian, tapi ada satu yang cukup mengganggu pandangan sang guru yang tengah mengajar. Yakni seorang pria yang nilainya cukup unggul terlihat tertidur di mejanya. Membuat sang guru menatapnya penuh kesinisan.


"El" Keenan menepuk kecil bahu Akiel sebab ia sadar dengan tatapan seluruh kelas tertuju pada dirinya, "Bangun"


"Apa sih? Gue ngantuk" Akiel menepiskan tangan Keenan yang telah membangunkan dirinya.


"Akiel!" Guru itu membentak dengan wajahnya yang merah penuh emosi.


"Saya perhatikan kamu akhir-akhir ini selalu tidak fokus belajar, nilai kamu juga banyak yang merosot" Mulai mencerca Akiel yang terlihat berdosa tidur di jam mengajarnya.


Akiel perlahan membuja matanya lalu menegakkan tububnya, menatap tak suka pada guru di depan sana, "Apa sih Pak? Kalau ngajar ya ngajar aja gak usah ngomen nilai saya" Akiel menatap tak suka kepada sang pengajar, "...saya sadar kok nilai saya banyak yang anjlok, saya udah mulai capek hari-hari harus belajar tanpa tahu apa yang mau saya lakuin ke depannya" Sedikit mengeluh.


"Berani kamu sama saya!" Membentak.


Akiel yang cukup tersulut emosi bangkit dari tempat duduknya, "Bukan cuma sama Bapak saja saya berani sama yang lain juga" Berlalu pergi begitu saja tanpa memikirkan kesantunan.


"Panggil orang tua kamu ke sekolah besok Akiel" Pengajar itu berucap sebelum lelaki yang cukup berprestasi itu benar-benar pergi dari kelas.


"Panggil aja saya tidak peduli" Akiel acuh.


Rama, Abian, serta Keenan saling tatap lalu berbarengan bangkit berdiri dan memyusul Akiel yang terlihat banyak pikiran itu, "Permisi pak" Rama pamit.


Mereka kemudian menaiki anak tangga menuju roof top sekolah yang biasa mereka gunakan untuk bersantai. Terlihat Akiel tengah berdiri di pinggiran gedung yang dibatasi pagar.


"Lo kenapa sih El?" Keenan menyentuh bahu sang sahabat yang tengah menatap kosong ke arah bawah gedung.


Wajah Akiel benar-benar tampak kelelahan, ia mungkin akan menangis, "Gue gak tahan lagi, gue capek siang malam belajar tapi gak ada apresisasinya sama sekali dari bokap. Gue capek ngejar ambisi bokap yang sama sekali gak mau dengar apa keinginan gue" Dadanya terasa begitu sakit kala mencurahkan kalimat tanda jikalau ia ingin menyerah dengan segala masalah hidupnya.


"...gue capek sama keegoisan dan kekasaran bokap gue, sedangkan yang lain juga gak ada yang mau ngebela gue" Menepuk dadanya beberapa kali sebab sesak sekali, "Gak ada backingan sama sekali gue hidup"


"Lo ada kami El" Rama angkat suara, ia memeluk sahabatnya itu guna menguatkan.


"Lo kalau capek istirahat aja, tenangin pikiran lo. Gak usah dipaksakan kalau emang nyakitin mental lo, kalau lo gak mau pulang ke rumah lo itu ada kami kok" Abian mengelus punggung sahabat yang sudah ia anggap saudara sendiri. Ia tahu jika hidup Akiel memang begitu menyakitkan.


"Thanks"


Apartemen...


Keyla nampak begitu sibuk membersihkan ruang tidur mereka yang cukup berantakan sebab sang suami sama sekali tak mau memegang alat kebersihan.


Ditemani dengan lagu kegemarannya, Keyla mulai membongkar buku-buku yang ada pada raknya dan ingin menyusun ulang.


Satu buku menarik perhatiannya sebab buku itu terletak diantara novel-novel miliknya, ia mengambilnya lalu membaca judulnya. Keningnya berkerut. "Ini apa?"


"Key" Buku itu dirampas dari tangan Keyla, Abian pelakunya, "Ngapain lo?" Tampaknya Abian tak ingin Keyla tahu tentang buku tersebut.


Kelabangkit dari duduknya, "Punya lo?" Tanya Keyla, ia kemudian merebut paksa kembali buku yang cukup tebal itu dari Abian, "Baru tahu gue lo baca yang beginian. Mau jadi pilot?" Abian ingin merebutnya kembali namun Keyla memelototinya hingga membuat Abian memilih untuk diam.


Ia kemudian berjongkok mengambil beberapa buku yang sejenis dengan apa yang di pegang Keyla, "Sini biar gue aja" Mengambil itu dari Keyla kembali.


Keyla ikut berjongkok dan melanjutkan pekerjaannya menyusun buku, "Lo mau jadi pilot apa ngurus perusahaan sih Bi? Heran gue" Keyla berucap dengan tanda tanya di benaknya sebab mertuanya pernah membahas masalah perusahaan kepada Abian.


"Gue mau jadi suami idaman lo aja" Celetuk Abian.


"Gue serius ih" Memukul bahu lelaki itu kesal.


Abian menatap pada Keyla yang juga menatap pada dirinya, ia tersenyum simpul. "Udah gak usah lo pikirin, masa depan lo aman kok nikah sama gue" Ucap Abian yang tahu apa yang Keyla pikirkan baru saja.


"Lulus SMA kan kita bisa gak dibiayai lagi nih Bi, terus kita makannya gimana?" Mulai dengan topik rumah tangganya.


"Tabungan gue banyak kok isinya"


Keyla memutar bola matanya malas mendengar hal itu, "Ck, emang dengan tabungan lo itu bisa biayai kita seumur hidup apa?" Sewot.


"Gue langsung kerja kok Bi, tenang aja. Paling kita berhemat beberapa bulan kok gara-gara gue kan juga lagi belajar" Perjelas Abian.


"Oh gitu" Mengangguk.


Abian mentap raut wajah murung Keyla, "Kenapa?" Abian tahu jika ada hal yang Keyla pikirkan.


"Kalau gue kuliah pasti gak bisa" Tersenyum kecil.


Abian lalu merubah posisi jongkoknya menjai duduk bersila menatap pada Keyla yang fokus memilah buku, "Mau kuliah jurusan apa, hm?"


"Gue sih dari dulu pengen masuk kedokteran, tapi kalau ingat kondisi kita..." Tak melanjutkan ucapannya.


"Gue kaya"


Keyla menatap pada Abian yang baru saja berceletuk, "Kaya monyet"


Abian tertawa kecil, "Emang ada monyet seganteng gue?" Mulai dengan narsisnya, "...mau lo punya suami monyet?"


"Eheheh canda sayang" Keyla gemas dengan Abian lalu mencubit kedua pipi Abian.


Abian mengacak-acak rambut panjang Keyla, "Kalau mau kuliah kedokteran ya gak apa-apa Keyla, kuliah aja soal biaya gue bisain kok" Ucap Abian menyakinkan.


"Nggak ngerepotin?" Tanya Keyla dengan wajah melepasnya.


"Nggak Keyla, tabungan gue cukup kok"


"Benar ya? Gak bohong kan" Rasa cemas Keyla akhirnya teredakan masalah kuliahnya.


"Nggak ish"


Keyla terlihat begitu riang lalu menghambur ke pelukan Abian, "Makasih Abian"


Apapun demi lo, Key. Apapun demi kebahagiaan lo dan karir yang lo mau gue bisa menuhin itu semua.