Eros Love

Eros Love
Birthday Party



"Keyla, lo di sini?" Olivia menyapa Keyla yang tengah mengambil dessert yang telah disedikan di pesta itu.


"Hai, iya nih diajak sama pacar gue" Menjawab dengan sumringah di wajahnya.


"Pacar? Siapa?"


"Abian Xerxes Vangelis"


"Oh iya gue lupa"


Andrea tertawa kecil melugat Keyla yang tak berhenti senyum setelah menyebut nama Abian, akhirnya cinta gadis mungil itu terbalaskan juga, "Salting lo?" Goda Andrea, ia lalu celingak-celinguk seperti mencari seseorang. "Mana tuh orang? Gak ada nongol batang hidungnya"


"Ada tu lagi ngobrol" Menunjuk ke arah Abian dengan ujung dagunya.


Andrea mengangguk, "Udah Aya, mending kita makan deh" Ajak Keyla sembari menggandeng lengan Andrea dan menariknya ke meja makan.


"Lama-lama lo gemuk deh kek Andrea" Celetuk Olivia jujur sembaru terkekeh kecil.


Andrea yang dikatai begitu lantas tak terima, "Apa sih? Gak usah bawa-bawa gue juga kali BB gue ideal ya" Ngambek.


"Ya fakta kan lo yang paling berisi di antara kita bertiga?" Olivia membeberkan fakta lagi. Walaupun mereka bertiga memiliki bentuk fisik yang cukup langsing tapi tetap saja Andrea adalah yang lebih berisi badannya ketimbang Olivia dan Keyla.


"Udah-udah ayoooo" Keyla sudah lapar mata lalu menarik mereka berdua untuk lebih cepat menyantap makanan.


"Ayaaa" Saat sedang asik menikmati makanan utama, suara itu membuat tiga perempuan yang terlihat begitu asik menoleh ke arah yang sama. Rama dengan pakaian semi formalnya terlihat mendatangi mereka. Lebih tepatnya mendatangi Andrea.


"Apa sih Rama?" Sinis Andrea pada Rama yang membawa kursi ke sampingnya.


Sedangkan Keenan memilih duduk di samping Olivia.


"Kangeeen"


"Dih sok-sokan kangen. Tadi siang juga masih ketemu" Cibir Andrea. Seperti risih tapi sebenarnya ia salting.


"Ya emang gak boleh?" Protes Rama dengan gaya sok imutnya. Ia lalu memeluk lengan Andrea manja.


"Gila lo" Andrea berusaha melepaskan tangan Rama, "...lepas ah, gak enak diliatin" Setengah berbisik, ia jadi tak nyaman dengan Keyla dan Olivia yang sedari tadi menonton mereka.


Rama menurut ia lalu mencomot dessert milik Olivia, "Abian mana Key?" Tanyanya.


"Tuh lagi sama teman-temannya. Gak kenal gue" Tutur Keyla yang asik fokus dengan hidangannya.


"Kok lo di sini? Gak nyamperin cowok lo?" Tanya Rama. Biasanya Keyla tak mau lepas dari kulkas berjalan itu.


"Biarin ajalah"


"Kalau lo? Marsha mana?" Tanya Olivia pada Keenan yang asik memakan dessert miliknya sendiri. Tak ada bedanya memang dengan Rama.


"Sibuk, nugas" Tuturnya santai.


"Nugas apaan? Rajin amat"


"Ya biarin cewek gue juga, yang hts mah gak diajak"


Merasa tersindir lantas Rama menegakkan badannya, ia menyilangkan tangannya di depan dada. "Dih, tunggu aja kabar dari gue sama Aya ntar"


"Berisik lo" Andrea menyumpal mulut berisik Rama dengan bolu.


Pukul 22.15...


Akiel yang sedari tadi tak terlihat bersama sabahatnya kini telah menunjukkan batang hidungnya. Walau matanya terlihat begitu lelah namun ia masih memenuhi ajakan Olivia untuk ikut berkumpul di ulang tahun alumni.


Akiel malam ini terliha begitu diam, sedari tadi ia terus memantau ponselnya. Wajahnya yang cenderung khawatir tak luput dari pengawasan sahabat-sahabatnya. "Kenapa lo?" Tanya Abian kala Akiel terlihat begitu syok entah karena apa setelah memfokuskan diri dengan ponselnya.


"Lho El? Lo kenapa?" Keenan dibuat bingung juga sebab Akiel tiba-tiba beranjak pergi tanoa mengatakan sepatah kata pun.


"Gak apa-apa" Akiel berusaha menjaga kewarasannya, ...gue kayaknya gak enak badan deh, balik duluan ya?"


"Wait-wait, acaranya belum selesai lho El. Lagian gak biasanya lo begini" Rama menahan tangan Akiel agar tak cepat pulang.


"Lo gak usah bawel ya sialan!" Murkanya lalu bergegas pergi.


"Lha malah marah?"


. . .


Olivia sudah lima menit mencari-cari keberadaam Akiel yang awalnya berangkat bersamanya. Dengan dress yang ia kenakam, tentu tidak mudah untuknya berjalan bebas. "Lo lihat Akiel gak?" Tanya Olivia pada sekelompok siswa kelas Akiel.


"Nggak sih" Tutur mereka.


Olivia memegangi keningnya yang sudaj berkeringat, entah mengapa ia jadi panik karena tak menemukan keberadaan sahabat kecilnya itu. "Aduh tuh cowok kemana sih?" Gumamnya.


"Hai"


"Nan, lo liat Akiel gak?" Tanya Olivia langsung saat Keenan baru saja datang dan berkumpul bersama mereka.


"Akiel? Dia tadi bilangnya gak enak badan sih, terus balik duluan" Tuturnya.


"Kok gak ngabarin gue sih?" Olivia yang sedari tadi menelpon ponsel Akuel tapi tak juga kunjung diangkat.


"Tapi dia tadi panik, ada masalah memangnya?" Keenan berucap sebab Olivia tak biasanya panik seperti ini. Perempuan itu biasanya tenang dalam segala hal.


"Soal Karin gak sih?" Olivia baru teringat sesuatu.


Keenan mengerutkan keningnya tak paham. "Maksud lo?"


"Apa?" Andrea dan Rama yang memang sedang bersama tak sengaja mendengar penuturan Karin.


Olivia menoleh kepada dua pasangan HTS itu, "Ck, gue takut Akiel kenapa-napa. Perasaan gue gak enak"


"Ya udah gimana kalau kita ikut gue juga khawatir sama Akiel?" Andrea mengusulkan ide.


Rama mengeleng, tanpa tak setuju dengan usulan Andrea, "Gue gak enak Ya, ini soalnya acara mantan Ketos dulu. Mana gue akrab lagi"


"Ck, bilang aja lo mau modus"Andrea memukul lengan Rama, ada percikan api cemburu.


"Kagak, siapa bilang?" Rama tak terima dengan tudingan itu.


"Ya udah kita aja yang nyusul, gue juga udah ditelepon bokap nih" Tutur Keenan. Ia juga tak enak bila harus menolak jika ini tentang sahabatnya.


"Gak apa-apa nih, Ram?" Tanya Olivia.


"Iya, gak apa-apa. Duluan aja" Rama mengizinkan mereka untuk segera menyusul Akiel.


"Hati-hati ya" Tutur Rama dengan lembut saat melepas kepergian Andrea.


Di perempatan jalan tampak jalanan tengah macet, tiga remaja SMA yang sedang buru-buru tengah memupuk kesabaran mereka di dalam mobil yang dikendarai Akiel.


"Itu rame-rame kenapa ya?" Andrea yang duduk di kursi belakang notice sekumpulan orang yang tengah bergerombol. "Ada kecelakaan ya?"


Mibil mereka perlahan maju saat jalan mulai agak renggang. Tiba-tiba saja Olivia memekik kala mereka dekat dengan gerombolan orang itu. "Oliv, kenapa?" Andrea menjadi panik dengan Olivia terlihat syok.


"P-plat motor Akiel Aya" Tunjuknya pada sebuah motor sport yang tergeletak dengan begitu tragisnya.


Keenan menoleh dengan cepat ke arah kendaraan beroda dua san melihat platnya,"Liv, lo yang benar aja" Ia lalu membuka kuncian pintu mobil lalu mereka bertiga kelua untuk melihat korban yang sedang dikerumuni orang-orang.


"Akiel!" Pekik Olivia, ia menerobos kerumunan dan segera menghampiri Akiel yang sudah bersimbah darah dengan keadaan tak sadarkan diri. Dan bodohnya kerumunan orang itu tak melakukan apapun kecuali mengambil foto.


"Nan, telepon ambulan buru" Andrea berkata pada Keenan yang terlihat menatap kosong kepada tubuh Akiel. "Keenan" Andrea menyadarkannya.


"I-iya" Dengan tangan gemetar Keenan mengambil ponselnya dan menghubungi pusat kesehatan.


Olivia tak peduli berapa mahal gaun yang ia beli untuk malam ini, ia tak oeduli berapa banyak darah yang akam menodainya. Ia hanya peduli pada Akiel yang terbaring lemas di atas aspal jalanan. "El, lo yang benar aja Akiel" Olivia berusaha membuka jalan nafas lelaki itu dengan hal-hal yang pernah ia pelajari.


"Akiel" Keenan bersimpuh di dekat tubuh Akiel, begitu juga dengan Andrea. Ia memeluk tubuh Olivia.


"Dia bukan Akiel Aya" Raung tangis Olivia terdengar begitu memilukan untuk Andrea dan Keenan dengar.


"Nan"


"Akiel itu anak baik dia gak mungkin...


Pesta...


Abian menoleh pada Keyla tang sedari tadi bermain ponsel di sampingnya. Perempuan itu pasti sudah bosan. "Keyla, mau pulang sekarang?" Bisik Abian lembut dengan tangannya yang merapikan helai rambut Keyla.


Keyla mengangguk, "Boleh"


"Ya udah ayo, gue juga udah ngantuk banget"


"Hm" setalah berpamitan dengan teman-teman dan pemilik acara, Abian menggandeng tangan Keyla menuju mobil mereka.


"Gak usah pegangan tangan, Bian" Tutur Keyla pada Abian. Ya ia sebenarnya basa-basi saja mengatakannya.


"Tangan lo dingin Keyla" Ucapnya singkat sembari membukakan pintu untik Keyla.


Demgan diselingi obrolan kecil, perjalanan pulang mereka di sepanjang jalan terasa tak begitu sepi.


Ponsel Keyla berulang kali bergetar di dalam tas gadis itu hingga Keyla menyempatkan diri untuk memeriksanya.


"Abian stop!" Pekik Keyla kala Abian ingin membelokkan mobil ke arah kanan.


"Apa sih? Lo gak usah ngagetin juga" Abian menepikan mobil secara perlahan. Ia menatap pada Keyla yang matanya sudah berkaca-kaca.


"Akiel Bi"


Air wajah Avian berubah menjadi serius kala mendengar nama sahabatnya diucapkan dengan nada suara Keyla yang tak baik-baik saja, "Kenapa?"


"Dia kecelakaan"


Rumah sakit...


Abian dan Keyla berlari di lorong UGD menghampiri yang lain yang sedang menunggu di depan ruang operasi. Di sana juga terlihat orang tua dari pihak Akiel.


"Nan" Dengan nafas yang tak beraturan Abian menatap oada Keenan yang terlihat putus asa.


"Rama mana?" Tanya Keenan dengan lesu pada Abian.


"Lagi di jalan"


Abian duduk di samping Keenan, "Gimana keadaan Akiel?" Tanyanya.


Keenan menggeleng, "Belum ada kabar"


Semuanya yang ada di depan ruang operasi itu tak ada yang terlihat baik.


Orang tua Akiel yang tampak begitu syok tak berhenti mengucapkan doa dan terus menangis, Keenan dan Abian terlihat begitu murung, Olivia masih dengan gaunnya yabg bersimbah darah Akiel tapi kini terbalut dengan jas milik Keenan, Andrea tak henti-hentinya menangis, dan Keyla hanya bisa diam dengan tubuhnya yang secara otomatis menyerap semua emosi itu.