
"Key, lo mau mie ayam atau bakso?" Tanya Rama pada Keyla yang mengambil tempat duduk di sampingnya.
"Bakso aja tapi gak pake sayur" Ucap Keyla sembari mengeluarkan ponselnya dari dalam ponsel.
"Okee" Dengan sumringah Rama pergi untuk memesan makanan bagi mereka berempat.
"Di sini tuh tempat langganan kami tahu Key, soal rasa mah gak perlu diragukan" Akiel menjelaskan sesaat setelah Rama kembali dan duduk di samping perempuan yang ia sukai itu.
"Oh ya? Artinya sering ke sini kalian?" Tanya Keyla sembari menatap ke sekeliling rumah makan itu.
Rama berdehem, "Gak juga sih kalau sekarang. Paling ya kalau pas waktunya aja ke sini" Terangnya yang membuat Keyla mengangguk paham.
"Hooh banyak yang sok sibuk" Akiel melirik Abian yang duduk di sampingnya, bermaksud menyinggung lelaki itu.
"Cih" Sadar tengah disinggung Abian meresponnya dengan decihan.
Bersamaan dengan hal itu pesanan mereka telah tersajikan di hadapan mereka didampingi dengan teh hangat sebagai pemuas dahaga.
Keyla bertepuk tangan kecil melihat makanan yang tersajikan di depannya tersebut, ia lantas mengambil sendok dan garpu dan mengelapnya terlebih dulu dengan tisu sebelum diletakan ke dalam mangkuk bakso miliknya.
Begitu pula dengan Abian, Rama, dan Akiel mereka lantas mengambil alat makan dan mulai menyantapnya dengan nikmat. Tak ada yang ingin membuka pembicaraan sejauh ini.
"K-Key, lo bercanda?" Akiel membulatkan matanya syok melihat Keyla yang menuangkan empat sendok teh sambal ke dalam mangkuk bakso gadis itu.
Keterkejutan Akiel mengundang perhatian Rama dan Abian dan ya respon dua orang itu sama seperti Akiel.
"Hah?" Dengan wajah polosnya ia menatap pada Akiel.
"Lo makan sambal bukan bakso?" Masih syok dengan kelakuan perempuan itu.
Keyla menmlihat ke dalam mangkuk bakso miliknya lalu kembali menatap pada Akiel, ia memgangguk, "Oh gue kalau makan bakso emang gini, kuahnya harus merah menyala" Ucapnya dengan santai yang malah membuat Akiel heran sendiri dengan kelakuan perempuan itu.
"Sakit perut baru tahu lo" Gumam Abian sembari melanjutkan makannya yang sempat tertunda tadi.
"Gue satu sendok aja udah kepedasan" Rama bergumam sembari menatap mangkuk bakso miliknya yang tak semerah milik Keyla.
"Kan ada minum" Sahut Keyla yang mendengar gumaman dua lelaki yang ada satu meja dengannya. Ia kembali menyantap makanannya, "Emm enak" Perempuan itu menggoyangkan kepalanya ke kiri dan kanan tanda jika ia menikmati makan sorenya kali ini.
Rama memperharikan hal itu, "Cewek emang gitu ya? Kepalanya gak bisa diem kalau makan" Tanyanya.
"Emang kenapa?" Keyla menatap pada Rama, saling beradu tatap.
"Eh tapi Karin juga gitu" Akiel berucap dengan antusias tapi sedetik kemudian kemurungan melanda dirinya. Sadar jika ia tak lagi berhubungan dengan perempuan itu.
"Masih aja lo" Abian tak habis pikir mengapa Akiel begitu sulit lepas dari bayang-bayang Karin.
Rama terlihat berpikir sebelum membuka suara, "Kalau dipikir-pikir Aya juga kepalanya gak bisa diem kalau gue ajak makan enak" Ucapnya yang mengundang perhatian Keyla.
Rama yang tengah mengunyah mie di dalam mulutnya menelan sejenak makan tersebut, "Temen dari SMP kalau Aya itu sama kami" Jelasnya setelah menelan makanan--yang berarti jika Andrea bukan hanya teman Rama tapi juga teman Abian, Keenan, dan Akiel.
"Oalah" Mengangguk paham, ia menatap mangkuknya, "Rama gak suka sama Aya?" Lontar Keyla.
"Ya kali" Kekeh Rama, ia sama sekali tak pernah berpikiran untuk menyukai Andrea, walaupun perempuan itu termasuk most wanted Smansa Taruna tak pernah terlintas di hatinya untuk menaruh rasa.
"Kan pertemanan antara lawan jenis itu gak ada yang murni cuma temenan. Kalau gak cowoknya yang suka ya pasti ceweknya yang punya rasa" Jelas Keyla tanpa menatap pada Rama.
Suasana menjadi hening setelah itu.
. . .
Setelah memarkirkan motor sport miliknya di parkiran basement apartemen ia bersama dengan Keyla masuk ke dalam apartemen dan menggunakan lift untuk sampai di lantai rumah mereka berada.
"Perut lo gak apa-apa?" Tanya Abian saat mereka di dalam lift, ia menatap oada Keyla yang berwajah biasa saja.
"Hm? Emang kenapa?" Mendongakkan kepalanya pada sang suami yang berdiri di belakangnya.
"Banyak banget lo masukin sambel tadi" Menatap lurus ke depan.
"Oh gak apa-apa kok dah biasa" Kembali menatap ke arah depan.
"Yakin?"
Keyla mundur selangkah mensejajarkan posisi berdiri dirinya dan Abian, "Iyaa Bian yakin. Udah sering gue makan pedas" Menepuk lengan lelaki itu.
"Lain kali jangan begitu, pikirin kesehatan lo" Melirik sebentar pada Keyla.
"Tapi kalau gak begitu, gak ada rasa" Membela diri.
"Ya di kurangi aja" Abian melangkah keluar saat pintu lift tersebut terbuka meninggalkan Keyla beberapa langkah terlebih dulu.
Garden Coffe....
Malam ini Keenan berada di Garden Coffe sebab ada keperluan yang harus ia selesaikan. Disela urusannya perhatiannya teralihkan pada map yang ada di mejanya
"Ini punya siapa?" Tanya Keenan pada karyawannya yang masuk ke ruang pribadi dengan secangkir kopi.
Karyawan itu berdiri tegak, ia memperhatikan map yang Keenan tunjukkan, "Itu punya perempuan yang mengajukan lamaran ke kafe tadi sore" Tuturnya ramah.
"Oh oke" Paham. Ia membuka dan membaca map itu setelah karyawan tadi pergi ke luar ruangannya.
"Marsha?" Bergumam. Ia lalu memperhatikan foto yang dilampirkan juga dalam CV tersebut. Dahunya berkerut, "Kayak pernah liat" Gumamnya, otaknya bekerja keras mengingat siapa perempuan itu.
"Oh cewek yang pake kacamata itu" Lima menit berpikir akhirnya ia menemukan jawabannya, ia memperhatikan kembali CV tersebut sebelum kembali bergumam, "Paruh waktu ya?"