
"Lo ada ngobrol sama Rama tadi?" Pertanyaan itu Abian lontarkan saat Keyla masuk ke dalam kamar dengan pakaian tidurnya. Tangannya menegang ponsel pintar, matanya terarah pada Keyla dengan sorot mata dingin.
Keyla terdiam beberapa saat, ia lalu menggelengkan kepalanya, "Hah? Nggak kok Bi" Ucapnya sebelum menuju meja rias yang terdapat cermin lalu menyisir helai rambutnya.
"Jangan bohong"
"Iya nggak bohong kok" Menyakinkan sang suami.
Tatapan dingin Abian semakin mengintimidasi tubuh Keyla yang berbalut piyama dress lilac, "Terus ini apa?" Mempertunjukkan story whatssap Rama yang memperlihatkan foto selfienya bersama dengan Keyla dengan background pasar malam yang baru saja mereka kunjungi tadi.
Keyla mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia meneguk salivanya, "Em itu..." Gelagapan mencari alibi untuk dikatakan kepada Abian.
Abian menjauhkan ponselnya lalu bersedekap dada di atas kasur tersebut, "Lain kali jujur"
"Maaf" Lirih Keyla merasa bersalah karena terbukti berbohong. Ia melangkah menuju kasur king size tersebut dan duduk di sebelah tubuh Abian.
"Bukan urusan gue sih" Tutur Abian selanjutnya, ingin terlihat tak peduli dengan hal barusan ia bicarakan dengan sang istri.
"Are you jealous?" Iseng bertanya pada sang suami dengan mencodongkan tubuhnya ke arah Abian, menepis jarak di antara mereka berdua.
Abian mendorong bahu Keyla menjauh daripada dirinya, "Selera gue tinggi" Tuturnya dengan serius.
"Gue masuk selera lo gak?"
"Jauh" Berucap sebelum ia mengubah posisinya menjadi berbaring dan membelakangi Keyla.
"Sok ganteng banget" Gumam Keyla sebelum ia ikut berbaring.
Keesokan harinya...
"Beneran jalan lo sama Keyla?" Baru saja lonceng istirahat berbunyi. Meja Abian dipenuhi oleh tiga sahabatnya yang penasaran dengan apa yang terjadi semalam.
Mengesampingkan story whatssap Rama, berita tentang apa yang terjadi semalam antara Keyla dan Abian lebih terdengar mengasyikkan.
"Hm" Berdehem sebagai jawaban iya dari pertanyaan yang Keenan lontarkan.
Keenan dan Akiel menatap tak percaya, bagaimana bisa kulkas dingin seperti Abian bisa mengiyakan ajakan jalan dari seorang anak baru yang jika dibandingkan kecantikkannya dengan yang lain masih tak seberapa.
"Gimana? Asik gak?" Tanya Akiel kepo. Ini benar-benar berita yang tak boleh ia lewatkan sama sekali.
Abian terdiam sebentar memikirkan jawaban, ia sempat melirik ke arah Rama yang memadang wajah penuh harapan entah garapan apa yang ia pikirkan saat ini, "Not bad" Ucapnya kemudian yang membuat Akiel dan Keenan heboh berdua.
"Rama, lo punya saingan nih" Kehebohan Keenan menyindir Rama yang memasang wajah agak murung sebab mendengar jawaban dari Abian si idola sekolah.
Sedikit ingin menghibur dirinya, logika Rama dipaksa membuat teori jika Abian tak mungkin ingin bersaing dengan dirinya yang "lebih dulu" menyukai Keyla, "Nggak mungkin, Abian gak bakal..." Menatap Abian untuk melihat respon lelaki itu tapi yang ia temukan hanyalah wajah datar Abian yang menatapnya dingin.
"Gak bakal kan Yan?" Logikanya tak bisa berpikir jernih lagi. Tak mungkin kan Abian menyukai perempuan yang sama seperti dirinya?
Abian menatap intens pada Rama, ia bangkit berdiri, "Gue ke roof top dulu" Tak menjawab pertanyaan dari Rama, sebab tak ingin menimbulkan masalah secepat ini dalam persahabatan mereka. Kakinya terus mengambil langkah keluar dari kelas.
"Gue gak ikut-ikutan"
"Duain"
Abian terlihat menelepon ke salah satu kontak di ponselnya saat perjalanan menuju roof top, "Gue ke roof top, bawa jajanan ntar" Setelah mengucapkan hal itu Abian memutuskan sambungan telepon tanpa harus mendengar jawaban dari penerima telepon.
. . .
Abian menatap ke bawah, dimana pemandangan lapangan sekolah terpampang jelas. Dahinya terlihat mengkerut, matanya menatap sinis ke bawah, di dalam sana hatinya memanas dan jantungnya berdetak kuat.
"Bian" Suara perempuan itu kembali masuk ke dalam indera pendengarnya, memuncakkan kembali amarah dan emosi lain yang terpendam di dalam sana.
"Aku mohon dengar aku sekali ini aja" Pinta perempuan itu dengan sangat. Rambutnya yang tergerai rapi
"Cih" Berdecih, enggan menerima omong kosong dari kepingan masa lalu yang sudah membuatnya bodoh itu.
"Bian, please" Kini menjamah seragam Abian namun segera ditepiskan oleh lelaki itu. Menjijikan.
"Gak ada yang mau gue dengar dari mulut busuk lo itu" Ucap Abian ketus. Jika saja ia tak ingat jika lawan bicaranya adalah seorang perempuan mungkin saja Abian sudah bermain tangan.
"Lima menit" Perempuan itu masih meminta.
"Gue sibuk"
"Bian, aku mohon" Memelas dengan wajah yang membuat Abian mengingat masa lalunya bersama dia, wajahnya sama sekali tak berubah masih paras rupanya.
"Abian, gue gak tahu lo sukanya apaan tapi--"
Abian serta perempuan itu menoleh ke arah yang sama, Keyla --dengan plastik yang berisi jajanan yang Abian pesan kepadanya lewat telepon tadi--berdiri mematung melihat dua orang yang tengah berdiri berhadapan, "Lho, kalian ngapain?"
Abian memejamkan matanya sejenak. Entah alasan apa yang harus ia tuturkan kepada sang istri.
. . .
Jam pulang sekolah adalah saat yang dinantikan para siswa serta guru sebab disaat itu mereka bisa pulang bertemu sanak keluarga dan beristirahat di rumah, merilekskan pikiran sejenak dari deretan kalimat yang ditangkap oleh otak.
Parkiran terlihat ramai dengan siswa yang berbondong-bondong mengambil kendaraannya dan mengendarainya agar menjauh dari lingkungan sekolah dan pergi ke tempat yang sudah direncanakan oleh mereka.
Akiel terlihat tengah membawa beberapa buku yang cukup tebal di tangannya. Menuju motornya yang terparkir rapi di sana, meletakkan bukunya di atas motor lalu memasukkannya ke dalam ranselnya yang terisi dengan banyak buku tulis.
Satu dari beberapa buku itu nampak terjatuh ke atas tanah, membuat Akiel menghela nafasnya pelan sebelum berancang-ancang hendak membungkuk untuk mengambilnya dengan beban di pundak.
"Ini" Belum sempat lagi jemarinya meraih buku tebal tersebut, sebuah tangan mungil nan halus lebih dulu mengambilnya. Ia Olivia.
"Thanks Liv" Tersenyum sembari mengambil alih buku itu dan memasukkannya ke dalam ransel. Lalu kembali memasukkan beberapa buku terakhirnya yang menganggur di atas motor sportnya.
Olivia masih tak beranjak dari tempatnya, ia memperhatikan Akiel sedari tadi dengan mata beningnya. Akiel membalas tatapan Karin namun teralihkan seketika ketika seorang perempuan melemparnya dengan tatapan datar lalu melangkah pergi menjauh.
"Eh Karin" Olivia lantas berbalik badan saat Akiel memanggil nama Karin dan melangkah menjauh daripadanya untuk menghampiri sang mantan, "...ini gak kayak yang lo pikirin" Meraih lengan Karin.
Karin menatap datar pada mantan pacarnya tersebut, ia melepaskan cekalan Akiel, "Gue gak mikir apa-apa" Berucap dengan nada suara datar serta ekspresi yang tak menggambarkan perasaan apapun.
"Ahaha gue kira--"
"Gue gak peduli" Mengabaikan tawa garing Akiel dan melangkah menjauh dari lelaki itu.
"Karin" Panggil Akiel yang tak peduli seberapa cueknya Karin terhadap dirinya.
Sebuah mobil sedan terparkir di luar gerbang sana, jaraknya tak jauh dari parkiran, kaca mobil itu terbuka menampakkan seorang lelaki dengan kemeja hitam, "Oliv" Memanggil nama sang gadis kesayangannya yang berdiri tak jauh dari Akiel.
Melihat sang pacar sudah datang menjemput, Olivia melangkah, "Duluan ya El" Tegurnya pada Akiel yang menatap kepergian Karin.
Akiel menatap pada Olivia lalu mengangguk.
Olivia masuk ke dalam mobil sedan milik sang pacar dan memasang seat belt.
Ayden--pacar Olivia itu memberikan sebuah paper bag berisikan junk food pada perempuan yang sibuk bercermin, "Makasih" Mengucapkan kata syukur itu saat Ayden menaruh paper bag di pahanya.
"Heem" Ayden--anak kuliah semester empat itu berdehem.
"Gimana sama hari ini?" Tanya Ayden dengan lembut sembari menancap gasnya untuk membawa sang pacar pulang.
Olivia memgeluarkan hamburger dari dalam paper bag tesebut, "Gak banyak yang terjadi, cuma..."
Akiel menghembuskan nafasnya pelan, "Huh"
"Bian gak usah tarik-tarik bisa gak sih?" Suara perempuan itu mengalihkan perhatian Akiel ia menileh ke arah belakang. Menemukan Abian yang tengah menarik Keyla sedikit kasar ke arah parkiran.
"Bian sakit" Ringis Keyla sebab Abian benar-benar mencekalnya dengan keras dari kelas hingga di tempat mereka berdiri.
"Gak usah kasar" Akiel melepaskan cekalan Abian terhadap Keyla, ia menatap pada Abian yang menghela nafas kasar. "Kenapa sama kalian berdua?" Bertanya sambil mengarahkan pandangan ke arah Abian fan Keyla secara bergantian
Keyla membuka mukyt hendak berucap , ia mengambil nafas, "Abian ngajak gue pacaran tapi--"
"Jaga mulut lo" Abian menyelanya sebelum Keyla berkata yang tidak masuk akal. Perempuan itu bisa-bisa berkata sesuai kehendak lidahnya
"Huhh" Keyla bersedekap dada sambil membuang nafasnya. Beberapa saat kemudian ia kembali bersikap seperti semula, menatap pada Akiel, "Akiel kok belum pulang?" Bertanya dengan nada sopan pada sahabat Abian.
"Lagi nunggu Rama, dia nebeng gue"
"Oalah" Mengangguk paham.
Bertepatan dengan itu, Rama menghampiri mereka lebih tepatnya menghampiri Akiel yang menjadi tempat tebengannya, "Loh Key, kok belum pulang? Abian juga?" Bertanya dengan dua orang yang berdiri sampingan.
"Gue nebeng Abian" Berucap dengan begitu riang.
"Gak terima tebengan" Ketus Abian yang hanyalah pencitraan semata di depan sahabatnya jika ia menolak kehadiran Keyla yang diketahui anak-anak sekolah tengah mendekatinya.
"Kan kita satu apartemen, iya kan Rama?" Keyla meminta pendapat Rama yang menunjukkan wajah miris.
"Ahh, kalau Abian gak mau biar gue aja yang ngantar lo Key" Menawarkan diri pada Keyla setelah ia melihat wajah dingin Abian yang seolah-olah tak ingin mengakui kehadiran Keyla.
Sedangkan Akiel yang melihat hal itu malah mengerutkan keningnya heran, bukankah tadi Abian yang menarik Keyla? Ini kenapa wajah Abian seperti ingin menolak kehadiran Keyla?
"Lo aja nebeng Akiel" Sahut Keyla pada Rama.
Rama menatap pada Akiel pasti lelaki itu yang memberitahukan, "Ahh, lo yang bilang?" Tanya Rama sedikit kecewa.
"Fakta kan?" Sahut Akiel.
"Cih"
"Ayo Bi" Keyla menggenggam tangan Abian dan mengajaknya pergi dari situ tapi lebih dulu dicegat oleh Rama.
"Gue sama Akiel mau makan mie ayam dekat sekolah, mau ikut gak?" Tawarnya yang membuat Keyla menatap pada Abian yang masih berekspresi dingin. Lelaki itu diam, tapi jemarinya menggenggam erat tangan Keyla yang bertautan dengan dirinya. Seperti tak menyukai ide Rama tersebut.
"Lo ada ngobrol sama Rama tadi?" Pertanyaan itu Abian lontarkan saat Keyla masuk ke dalam kamar dengan pakaian tidurnya. Tangannya menegang ponsel pintar, matanya terarah pada Keyla dengan sorot mata dingin.
Keyla terdiam beberapa saat, ia lalu menggelengkan kepalanya, "Hah? Nggak kok Bi" Ucapnya sebelum menuju meja rias yang terdapat cermin lalu menyisir helai rambutnya.
"Jangan bohong"
"Iya nggak bohong kok" Menyakinkan sang suami.
Tatapan dingin Abian semakin mengintimidasi tubuh Keyla yang berbalut piyama dress lilac, "Terus ini apa?" Mempertunjukkan story whatssap Rama yang memperlihatkan foto selfienya bersama dengan Keyla dengan background pasar malam yang baru saja mereka kunjungi tadi.
Keyla mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia meneguk salivanya, "Em itu..." Gelagapan mencari alibi untuk dikatakan kepada Abian.
Abian menjauhkan ponselnya lalu bersedekap dada di atas kasur tersebut, "Lain kali jujur"
"Maaf" Lirih Keyla merasa bersalah karena terbukti berbohong. Ia melangkah menuju kasur king size tersebut dan duduk di sebelah tubuh Abian.
"Bukan urusan gue sih" Tutur Abian selanjutnya, ingin terlihat tak peduli dengan hal barusan ia bicarakan dengan sang istri.
"Are you jealous?" Iseng bertanya pada sang suami dengan mencodongkan tubuhnya ke arah Abian, menepis jarak di antara mereka berdua.
Abian mendorong bahu Keyla menjauh daripada dirinya, "Selera gue tinggi" Tuturnya dengan serius.
"Gue masuk selera lo gak?"
"Jauh" Berucap sebelum ia mengubah posisinya menjadi berbaring dan membelakangi Keyla.
"Sok ganteng banget" Gumam Keyla sebelum ia ikut berbaring.
Keesokan harinya...
"Beneran jalan lo sama Keyla?" Baru saja lonceng istirahat berbunyi. Meja Abian dipenuhi oleh tiga sahabatnya yang penasaran dengan apa yang terjadi semalam.
Mengesampingkan story whatssap Rama, berita tentang apa yang terjadi semalam antara Keyla dan Abian lebih terdengar mengasyikkan.
"Hm" Berdehem sebagai jawaban iya dari pertanyaan yang Keenan lontarkan.
Keenan dan Akiel menatap tak percaya, bagaimana bisa kulkas dingin seperti Abian bisa mengiyakan ajakan jalan dari seorang anak baru yang jika dibandingkan kecantikkannya dengan yang lain masih tak seberapa.
"Gimana? Asik gak?" Tanya Akiel kepo. Ini benar-benar berita yang tak boleh ia lewatkan sama sekali.
Abian terdiam sebentar memikirkan jawaban, ia sempat melirik ke arah Rama yang memadang wajah penuh harapan entah garapan apa yang ia pikirkan saat ini, "Not bad" Ucapnya kemudian yang membuat Akiel dan Keenan heboh berdua.
"Rama, lo punya saingan nih" Kehebohan Keenan menyindir Rama yang memasang wajah agak murung sebab mendengar jawaban dari Abian si idola sekolah.
Sedikit ingin menghibur dirinya, logika Rama dipaksa membuat teori jika Abian tak mungkin ingin bersaing dengan dirinya yang "lebih dulu" menyukai Keyla, "Nggak mungkin, Abian gak bakal..." Menatap Abian untuk melihat respon lelaki itu tapi yang ia temukan hanyalah wajah datar Abian yang menatapnya dingin.
"Gak bakal kan Yan?" Logikanya tak bisa berpikir jernih lagi. Tak mungkin kan Abian menyukai perempuan yang sama seperti dirinya?
Abian menatap intens pada Rama, ia bangkit berdiri, "Gue ke roof top dulu" Tak menjawab pertanyaan dari Rama, sebab tak ingin menimbulkan masalah secepat ini dalam persahabatan mereka. Kakinya terus mengambil langkah keluar dari kelas.
"Gue gak ikut-ikutan"
"Duain"
Abian terlihat menelepon ke salah satu kontak di ponselnya saat perjalanan menuju roof top, "Gue ke roof top, bawa jajanan ntar" Setelah mengucapkan hal itu Abian memutuskan sambungan telepon tanpa harus mendengar jawaban dari penerima telepon.
. . .
Abian menatap ke bawah, dimana pemandangan lapangan sekolah terpampang jelas. Dahinya terlihat mengkerut, matanya menatap sinis ke bawah, di dalam sana hatinya memanas dan jantungnya berdetak kuat.
"Bian" Suara perempuan itu kembali masuk ke dalam indera pendengarnya, memuncakkan kembali amarah dan emosi lain yang terpendam di dalam sana.
"Aku mohon dengar aku sekali ini aja" Pinta perempuan itu dengan sangat. Rambutnya yang tergerai rapi
"Cih" Berdecih, enggan menerima omong kosong dari kepingan masa lalu yang sudah membuatnya bodoh itu.
"Bian, please" Kini menjamah seragam Abian namun segera ditepiskan oleh lelaki itu. Menjijikan.
"Gak ada yang mau gue dengar dari mulut busuk lo itu" Ucap Abian ketus. Jika saja ia tak ingat jika lawan bicaranya adalah seorang perempuan mungkin saja Abian sudah bermain tangan.
"Lima menit" Perempuan itu masih meminta.
"Gue sibuk"
"Bian, aku mohon" Memelas dengan wajah yang membuat Abian mengingat masa lalunya bersama dia, wajahnya sama sekali tak berubah masih paras rupanya.
"Abian, gue gak tahu lo sukanya apaan tapi--"
Abian serta perempuan itu menoleh ke arah yang sama, Keyla --dengan plastik yang berisi jajanan yang Abian pesan kepadanya lewat telepon tadi--berdiri mematung melihat dua orang yang tengah berdiri berhadapan, "Lho, kalian ngapain?"
Abian memejamkan matanya sejenak. Entah alasan apa yang harus ia tuturkan kepada sang istri.