
"Wah!" Mata indah milik Keyla tampak berbinar kala melihat hamparan air di hadapannya yang memantulkan indahnya langit di malam ini
"Dingin Keyla" Abian menyusul Keyla yang tampak seru berjalan menginjak pasir. Abian tersenyum melihat bagaimana sikap perempuan itu yang kekanakan.
"Sini sendalnya gue pegangin" Keyla menyodorkan sendal yang ia pegang sedari tadi.
"Kok gak bilang mau ke pantai?" Ucap Keyla yang kini sudah menginjak area pasir yang didera ombak pantai kecil-kecil.
"Suka hati gue lah" Menyahuti sang istri.
"Dih" Tertawa renyah kemudian, ia berlari-lari kecil di situ. Lalu membalikkan badannya dan menatap pada Abian yabg hanya memperhatikannya sedari tadi.
"Fotoin dong Bi" Pintanya dengan menyengir, Abian hanya menunjukkan telapak tangannya meminta ponsel gadis itu
"Pake hape lo" Ucap Keyla. Ia saja meninggalkan ponselnya di mobil.
Abian tak ingin banyak bicara, ia hanya mengeluarkan ponselnya dari dalam saku lalu memposisikan angle yang baik untuk Keyla yang kini sudah berpose ria.
"Aww" Keyla meringis kesakitan dan itu membuat Abian lekas menghampirinya.
"Kenapa?" Bertanya dengan khawatir.
"Keinjak kulit kerang tadi hehe" Tutur Keyla yang kini tersenyum memperlihatkan giginya.
"Hati-hati" Mengacak-acak rambut Keyla dengan penuh kegemasan, "...jangan terlalu lama main airnya ini udah malam ntar masuk angin" Abian memberi nasihat pada Keyla yang kembali bermain dengan air.
"Iya sayangku" Menyahuti Abian.
"Jangan iya-iya doang Keyla"
Keyla menoleh pada Abian lalu melayangkan flying kiss, "Muah" Centil.
Setelah Keyla selesai bermain air di pantai, Abian mengajaknya untuk duduk di atas pasir. Tak jauh dengan mobil yang Abian parkirkan.
Keyka menghabiskan waktu bersantainya dengan Abian dengan bercerita dengan apa yang terjadi hari ini dengan begitu antusias. Dan Abian, lelaki itu terus menatap ke arah Keyla dengan lekat mendengar semua cerita gadis itu dengan merespon sedikit demi sedikit.
Beberapa saat kemudian Abian izin pergi sebentar dari hadapan Keyla, mengambil sesuatu dari dalam mobil lalu kembali menghampiri Keyla yang bermain dengan ponsel Abian.
"Happy birthday Keyla" Mengucapkan sebab tanggal sudah berganti.
Keyla menoleh terkehut dengan ucapan itu dan juga kue dengan lilin angka delapan belas yang terlihat begitu cantik. Matanya berkaca-kaca menatap pada Abian yang kini ada di hadapannya dengan menghalangi angin yang ingin mematikan api yang menyala di lilin itu. "Bian tahu?!" Takjub pada sang suami.
"Ya gak mungkin kan gue gak tahu ultah istri gue sendiri" Ucap Abian sembari tersenyum begitu manis, "Make a wish dulu baru tiup lilinnya" Tuturnya dengan halus.
Keyla menuruti ucapan Abian, ia lalu menggenggam kedua tangannya dan memejamkan mata. Mengucapkan doa dan keinginannya di ulang tahunnya kali ini. Usai dengan doanya, Keyla lalu meniup lilin itu.
Abian tersenyum, ia lalu meletakkan kue itu di atas pasir lalu menarik kepala gadis utu agar dekat padanya lalu mengecup keningKeyla penuh sayang, "Selamat ulang tahun Keyla, gue sayang lo"
Keyla yang mendengar penuturan Abian dibuat terkejut olehnya lalu memeluk erat lelaki itu. Hadiah yang Abian berikan lebih dari cukup baginya sebab lelaki itu sudah membalas perasaannya.
Dikarenakan angin yang berhembus semakin membuat mereka kedinginan, Abian mengajak perempuan itu untuk pindah tempat ke dalam mobil.
"Bian, makasih ya udah bawa gue ke sini terus ngerayain ulang tahun gue?" Tutur Keyla, ia menyandarkan kepalanya di bahu Abian.
"Ngapain coba lo berterima kasih? Udah seharusnya kali begini" Mengusap tangan Keyla yang tengah ia genggam, "...lagian gue jarang-jarang juga ngajak lo keluar rumah" Sambungnya lagi.
Keyla lalu memperbaiki posisinya menjadi duduk tegap menghadap Abian, mereka saling bertukar pandang, "Bian" Ia masih terharu dengan kejutan hari ini, "...aku ngerasa bersyukur banget dinikahi sama Bian, ya walaupun nikahnya karena perjodohan sih, tapi aku bahagia" Mengungkapkan perasaannya dengan begitu tulus.
"Lo bahagia sama gue?" Abian sedikit menundukkan kepalanya dan menatap tangan mereka yang saling bertaut.
"Iya, bahagia banget"
Abian lalu kembali menatap pada Keyka dan tersenyum tipis, "Gue sering nyakitin lho padahal" Sadar akan sikapnya selama ini.
"Tapi Bian juga sering bikin aku nyaman kok" Keyla kembali berucap.
"Oh ya?"
"Iya"
"Sini deketan" Keyka menurut, tangan Abian lalu melepas genggaman tangan lalu merangkulnya hangat.
"Mau tahu rahasia gak?" Bisik Abian.
"Rahasia apa?" Mendongakkan kepalanya.
"I love you, Keyla" Kini Abian mendekatkan kepala mereka lalu menautkan bibir mereka dengan mata yang terpejam. Menikmati manis bibir sang gadis yang mungkin akan menjadi candu baginya.
. . .
"Pagi" Keyla yang baru membuka matanya di pagi hari ulang tahunnya, kini langsung menatap pada Abian yang memneri sapaan selamat pagi padanya, lelaki itu tengah merapikan buku di atas meja belajar yang cukup berantakan
"Pagi Bian sayang" Keyla tersenyum manis pada Abian yang terlihat begitu tampan pagi ini.
Abian lalu duduk di pinggiran kasur dan mengusap rambut Keyla, "Udah ayo bangun ada Mama sama Papa diluar"
"Hah?!" Keyla yang mendengar itu langsung duduk dengan terkejut.
"Bunda sama Ayah kamu juga ada kok" Sambung Abian lagi yang menampak kekagetan Keyla. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul delapan pagi.
"Bian kok gak bangunin sih?!" Grasak-grusuk turun dari kasur lalu mengikat rambutnya.
"Lo tidur nyenyak banget, kan gue gak tega jadinya" Jelasnya, ia ikut bangun dari duduknya lalu memeluk tubuh Keyla.
"Selamat ulang tahun Keyla" Ucapnya dengan penuh kasih lalu mengecup singkat bibir Keyla.
"Emm gue belum gosok gigi Bian" Mendorong dada bidang lelaki itu.
Abian tersenyum, "Ya sudah sana mandi dulu"
Meja makan...
Selesai dengan sarapan bersama dan perayaan ulang tahun kecil-kecilan, Abian dan Keyla kini terlihat mencuci piring bersama. Abian yang sedari tadi indera pendengarnya fokus pada bunyi notifikasi ponsel Keyla tampak tak menyukai hal itu.
"Hape lo bunyi mulu" Ucap Abian menegur Keyla yang di sampingnya fokus membilas piring.
"Ucapan selamat ulang tahun paling" Tutur Keyla singkat.
"Oh"
Keyla menatap pada Abian yang kini memasang eajah masam, ia menyenggol lelaki itu, "Cemburu?" Goda Keyla.
"Menurut lo aja" Menjawab asal.
"Abian ternyata orangnya cemburuan ya?" Keyla menjadi gemas dengan suaminya itu.
Abian menatap pada Keyla, "Gue cuma gak suka apa yang gue miliki juga ikut dilirik sama yang lain" Tuturnya tulus dan penuh kejujuran.
"Oooh lucu banget cemburunya" Keyla gemas sendiri jadinya, perempuan itu jingkrak-jingkrak kesenangan hingga Abuan menatapnya datar.
"Emm sayang" Dibuat malu oleh Abian. Mereka lalu menyelesaikan pekerjaan rumah itu dengan obrolan santai.
"Ngobrolin apa nih? Kelihatannya seru banget" Mama Abian datang bersama Bunda Keyla menghampiri putra dan menantunya itu yang terlihat begitu riang pagi ini.
Keyla menatap pada sang mertua lalu tersenyum manis, "Biasa Ma, Bun, urusan rumah tangga"
"Bahasanya ya" Bunda tertawa renyah mendengar ucapan putrinya yang sudah bersuami itu.
"Eheheh" Menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Mereka lalu duduk bersama di meja makan untuk melanjutkan obrolan.
"Kalian selama ini akur-akur aja kan? Gak ada masalah?" Mama Abian melempar pertanyaan.
"Aman dong Ma, anak Mama emang yang terbaik" Menunjukkan dua jempolnya.
"Bisa aja menantu Mama kalau ngomong" Mengacak-acak rambut Keyla dengan gemas.
"Abian kenapa diam aja?" Bunda yang menyadari bisunya Abian sedari tadi mulai mempertanyakannya.
"Gak diajak ngomong" Celetuk Abian jujur.
"Bian ih" Keyla menyenggol lengannya.
Abian menatap pada Keyla yang duduk fi sampingnya dan tengah menatapnya, "Emang benar kan? Daritadi yang ditanya lo mulu" Sewot.
"Cemburu nih ceritanya gak diikutsertakan?" Sang Bunda tertawa.
"Suami Keyla emang cemburuan Bun" Keyla mengusap-usap otot lengan Abian.
"Keyla" Abian cemberut dibuat oleh Keyla yang ikut-ikutan menggodanya di hadapan dua wanita paruh baya itu.
. . .
"Gue baru sadar kalau lo pakai cincinnya" Keyla menatap pada cincin pernikahan mereka yang Abian kenakan pagi ini. Tak seperti hari-hari biasanya.
Mereka masih berada di dapur saat yang lain sudah berkumpul di ruang depan dan tengah mengobrol bersama.
Abian ikut menatap pada cincin yang melingkar di jari manisnya, "Gak enak juga kalau mereka lihat gue gak pake cincin sedangkan lo pake terus" Jelasnya.
"Pencitraan nih ceritanya" Celetuk Keyla sembari tertawa kecil.
"Suka hati lo lah menyimpulkannya gimana"
Pikiran Keyla lalu terbang mengingat apa yang terjadi semalam di mobil, ia jadi menginginkan rasa itu lagi siang ini, "Abian, ciuman yuk"
Abian membulatkan matanya sempurna mendengar penuturan Keyla, "Mulut lo ya" Abian memperingati takut orang tua mereka mendengar, "Udah udah ayo samperin mereka" Mengajak Keyla untuk pergi dari area dapur.
"Iiih Bian" Menggembungkan pipinya gemas di mata Abian.
"Jangan gatel ya Keyla" Menyentil kening Keyla.
"Kok malah dibilang gatel sih?! Nyebelin banget" Melangkah pergu meninggalkan Abian dengan raut kesalnya.
Heran punya istri suka banget nyosor.
"Kalau mau ntar malam aja ya sayang" Merangkul bahu gadisnya dan menyeret gadis mungil itu ke ruang depan untuk berkumpul bersama yang lain.
Meninggalkan indahnya akhir pekan Abian dan Keyla yang sudah saling menyayangi, Rama, Akiel, dan Keenan tampak asik bermain game di rumah Keenan.
"Lo apa kabar sama Aya?" Akiel mempertanyakan hubungan Rama dan Andrea yang beberapa minggu ini tampak selalu bersama-sama.
"Baik, tumben nanyain" Rama masih terfokus pada gamenya, ia tak mau konsentrasinya teralihkan.
"Aya gak risih lo deketin?" Akiel bertanya. Sebab Andrea cukup lama bersahabat dengan Rama yang suka gonta-ganti pacar.
"Nggak tuh"
"Kenapa harus Aya?" Keenan ikut dalam obrolan. Ia sedari dulu ingin mempertanyakan ini, apa alasan Rama untuk mendekati Andrea lebih dari seorang sahabat.
"Gak tahu, gue tiba-tiba aja tertarik" Celetuk Rama, "...mungkin gue suka"
Keenan dan Akiel yang mendengar hal itu saling melempar pandang sekilas sebelum kembali fokus pada gamenya, "Nggak, lo gak suka sama Aya. Lo kan nggak punya hati" Ucap Akiel yang merasa jika itu adalah hal yang mustahil.
"Nggak punya pendirian sih tepatnya" Keenan ikut bertutur kata.
Rama berdecak kesal mendengar penuturan dari dua sahabatnya, "Emang kenapa sih?" Apakah ada yang salah dengan apa yang ia lakukan bersama Andrea? Sepertinya tidak.
"Rama, Aya kan teman kita masa lo mau macarin?" Keenan berucap.
"Hem entahlah, lihat aja ntar" Mengangkat bahunya.
"Kalau mau main-main jangan sama Aya deh, gue benar-benar gak setuju Ram" Ucap Keenan lagi menasihati.
"Iyaa"
Garden Coffe...
Setelah istirahat makan siang, Keenan memutuskan untuk pergi ke Garden Coffe untuk memantau situasi di sana. Ia memandang oara karyawannya yang beberapa sudah selesai beristirahat dan kembali bekerja.
"Sha" Memanggil Marsha yang terlihat bermain dengan ponselnya.
Marsha mengangkat kepalanya dan segera menghampiri Keenan yang memandang, "Iya Kak?"
"Udah selesai makannya?" Tanya Keenan.
"Ehehe baru selesai Kak" Tutur Marsha.
"Ya sudah kalau sudah lo urus pelanggan dulu sana, yang biasanya jaga lagi ke kamar mandi" Ucap Keenan menunjuk ke arah pelanggan yang baru datang dan menunggu kedatangan waiters.
"Oh iya Kak" Mengangguk patuh lalu segera menghampiri pelanggan itu, melanjutkan pekerjaannya.
Keenan lalu mendekati area duduk Marsha memgambil ponsel Marsha yang diletakkan sembaranfan, ia memandang wallpaper gadis itu yang merupakan foto seorang idol boygrup terkenal di Korea.
Kpopers nih cewek? Ada-ada aja.
Keenan mematikan ponsel itu tapi tak lama kemudian menyala lagi sebab notifikasi Marsha. Ia memperhatikan lockscreen gadis itu. Matanya menyipit, merasa ia kenal dengan foto couple pin itu.
Tapi kok gue kayak pernah liat foto ini ya?
Keenan membulatkan matanya kala membaca tulisan yang ada di samping masing-masing orang itu.
Revano Aldebaran.
Aurel Natalia Christy.
"Marsha itu cp gue di rp?" Bergumam.