Eros Love

Eros Love
Andrea Pingsan



"Gak lucu banget" Andrea sedari tadi tak henti-hentinya mengomel hingga membuat telinga Rama panas oleh ucapannya.


"Gak ada yang lagi ngelucu" Balas Rama ia menatap gadis yang terus menatap ke arah luar jendela yang tak bisa dibuka itu. Andrea nampakmya begutu tak nyaman dengan situasi kali ini.


"Lo udah nyoba nelpon kan Rama?" Andrea menatap kepada Rama yang duduk dengan santai di kursi. Tak ada pencahayaan di ruangan itu, mereka hanya dibantu dari cahaya senja yang membuat penglihatan mereka remang-remang.


"Lowbat Aya, udahlah mending lo duduk aja" Menepuk bangku lain yang ada di sampingnya, "...bentar lagi gelap. Di sini gak ada listrik" Beritahu Rama.


"Kok gitu?" Andrea menaikkan volume suaranya, sekolah mereka cukup terkenal di kota namun untuk mengalirkan listrik ke ruang OSIS mengapa tak mampu?


"Mana gue tahu, emang gue penjaga sekolah apa?" Ucap Rama sembari menyandarkan tubuhnya dan memejakamkan matanya pasrah saja dengan hal yang tengah terjadi.


"Hape lo benar-benar lowbat?" Andrea menggigiti jemarinya.


Rama menggelengkan kepalanya, "Sisa sepuluh persen, gue gak bawa power bank" Tutur lelaki itu, ia melirik pada Andrea yang kini duduk di sampingnya masih dengan wajah khawatirnya, "...gue udah ngirim pesan ke Keenan tapi orangnya lagi gak aktif"


"Kok gak lo telepon?" Andrea melontarkan protes.


"Ntar habis baterai Aya, kita perlu pencahayaan jaga-jaga kalau Keenan datangnya telat" Rama cukup cerdas untuk memikirkan hal tersebutm


"Ck" Berdecak kesal.


Rama kemudian bersenandung ringan untuk mengusir sunyi namun sepertinya itu mengganggu Andrea yang masih dilanda kepanikan, "Berisik lo Rama" Memukul lengan lelaki itu.


"Enaknya makan sate gak sih, Ya?" Rama menatap pada bola mata Andrea. Cantik.


"Dapet dimana sate kalau kita kekurung di sini? Udah deh gak usah aneh-aneh" Andrea bersandar dengan kesal.


"Kalau kita dah pulang, makan sate yuk Ya. Tapi lo yang bayar" Rama mengusulkan ide.


"Gak ada uang gue" Ketus.


"Ngutang aja"


"Dih mending gak usah"


Hari semakin gelap, dan suara rintik hujan mulai mengalihkan perhatian Andrea dan Rama. Mereka menatap ke luar jendela memandang volume air yang jatuh itu semakin besar. "Hujan ya?"


"Ck, gue mau pulang" Andrea semakin sebal. Matanya mulai berkaca-kaca, ia adalah anak manja yang selalu merindukan rumahnya yang bak surga itu.


"Sama" Rama menyahuti, "...gue takut celaka kalau lama-lama di sini sama lo"


Andrea menatap sinis kepada Rama, "Jauh-jauh lo sana" Mendorong Rama hingga berdiri dari kursi dan melangkah agak jauh dari Andrea yang menatap ke arah kuar lagi.


"Itu jendelanya gak bisa di buka?" Tanya Andrea.


"Nggak" Rama ikut melihat ke arah jendela, "...tapi kalau dipecahin bisa sih"


"Jangan aneh-aneh deh, Rama" Berdecak kesal mendengar ide gila mulut Rama.


"Atau kita pecahin aja supaya bisa keluar?"


"Fasilitas sekolah" Celetuk Andrea yang tak setuju dengan ide Rama.


"Ya tinggal bayar uang ganti rugi"


"Enak banget tuh mulut ngomong"


Rama tak mendengar ucapan Andrea lelaki itu mengambil sebuah kursi dan mengangkatnya ke arah jendela bersiap memecahkannya namun segera Andrea hentikan.


"Rama, udah ah. Tunggu aja Keenan datang kenapa sih?" Andrea marah dengan tindakan yang akan Rama lakukan.


"Kalau dia gak datang?" Rama menurunkan kursinya dan menatap pada Andrea


"Positif thinking aja"


"Lo takut gelap Aya, gue ngelakuin--"


"Gue doain mati lampu" Berdecih mendengar ucapan Andrea yang membuatnya seakan baik-baik saja.


"Heh, jangan sembarangan lo kalau ngomong" Andrea menatap kedal


"Nyenyenye"


"Jam berapa?" Amdrea bertanya,


"Tujuh" menatap jam di ponselnya yang tersisa empat persen, "...Keenan lagi di jalan katanya sama Akiel"


Kruuuuuuk.


"Lapar lo?" Terkekeh kecil mendengar suara perut Andrea yang kini meletakkan kepalanya di atas meja.


"Hm"


"Lemes banget" Rama menghampiri Andrea yang tadinya berisik kini menjadi diam. Ia menyentuh bahu Andrea dan tak sengaja punggung tangannya menyentuh leher Andrea yang panas.


"Ya?" Mengguncang pelan perempuan itu, "Lo panas Ya" Rama mengonfirmasikan.


Andrea mengangkat kepalanya dan menatap pada Rama yang tampak khawatir, "Gue tahu Rama, gue mau tidur aja. Sakit banget kepala gue" Berucap dengan begitu lemah, mata perempuan itu mulai berkaca-kaca.


"Y-ya gak usah nangis juga" Rama menjadi canggung melihat air mata itu.


"Dingin..." Adu Andrea bak anak kecil.


Mendengar keluhan Andrea, Rama lantas melepas almamater OSIS miliknya dan meletakkan di bahu Andrea, "Nih Aya, pake. Ntar tambah demam lagi lo"


"Hm" Memakai dengan benar almamater itu.


"Ck, lama banget sih" Rama kini dibuat panik sebab tak ada kabar apapun dari Keenan sedangkan kondisi Andrea kini mendadak demam.


"Aya" Tak ada pergerakan dari gadis itu yang kini memejamkan matanya.


"Ya, yang serius aja lo. Ya bangun" Kini Rama sadari jikalau Andrea telah tak sadarkan diri..


"Bodo amat dah"


Kaca jendela itu Rama pecahkan begitu saja dengan bangku kayu yang ia benturkan lelaki itu lalu membersihkan sisa serpihan beling yang masih menempel itu jendela yang cukup luas. Ia menatap ke arah bawah, kisaran satu setengah meter jarak antara jendela dan tanah. Bukan masalah besar bagi Rama.


Ia menyambar tasnya terlebih dulu untuk mengambil kunci mobil miliknya dan juga dua ponsel miliknya dan juga milik Andrea.


Rama lalu balik ke arah Andrea, memeriksa suhu tubuh gadis itu yang semakin tinggi. Ia mengambil alih almamater OSIS miliknya, menggunakannya untuk menutupi kepala Andrea lalu menggendongnya ala bridal stlye dan menuju ke arah jendela yang sudah ia pecahkan kacanya terlebih dulu. Meninggalkan tasnya dan juga tas Andrea, lelaki itu melompat dari jendela dengan meja yang menjadi pijakan pertamanya.


Berlari menuju mobil miliknya yang terparkir sendirian di tengah gelapnya malam dengan beban yang ia bawa di kedua lengannya.


. . .


"Lo dimana? Gue udah di sekolah nih bareng Akiel" Setelah Rama mengisi daya ponselnya di rumah sakit, ia mengangkat telepon dari Keenan yang menelponnya tiga puluh menit dari saat mereka telah keluar dari sekolah.


"Gue di rumah sakit" Sahut Rama.


"Lha? Dah keluar?"


"Ya"


"Bagus deh, tapi kenapa di rumah sakit?"


"Aya pingsan, gue bawa aja ke rumah sakit terdekat" Rama menatap pada Andrea yang masih tak sadarkan diri. Ia lalu melangkah keluar agar tak mengganggu pasien lain.


"El, gue bisa minta tolong gak?" Tanya Rama, "Ambilin baju gue di rumah, ambil dua pasang ya"


"Oh oke nanti gue antar"


"Thanks" Menutup telepon itu.