
Usai sarapan Keyla dan Abian keluar dari apartemen untuk pergi sekolah bersama, "Sini biar gue yang bawa helm lo" Meminta helm yang Keyla peluk.
"Pasti lo gini juga kan sama Nayra? Gak usah" Marah. Ia berjalan demgan cepat meninggalkan Abian.
"Apa sih Key? Gak usah lo bahas itu terus" Abian juga lama-lama makin jengkel dengan pembahasan Keyla dari malam tadi.
"Tapi benar kan?" Keyla tahu jika ia tak pernah salah dengan overthingkingnya.
"Ck, ayo buruan" Merebut helm Keyla. Mereka lalu menuju kendaraan Abian yang terparkir manis.
Keyla menyilangkan tangannya di depan dada, "Kasian banget ya lo, punya mantan pacar seperfect Nayra malah dapat istri dekil kayak gue"
"Apaan sih?" Risih Abian.
"Gak apa-apa"
Abian menghembuskan nafasnya gusar, ia yang tadi sempat mengenakan helmnya kini melepas kembali, "Balik" Abian menatap dingin pada Keyla yang kembali menggendong helmnya.
"Apa sih?" Keyla terkejut dengan cekalan tangan Abian terhadap lengannya.
"Kita libur hari ini" Tegas Abian.
"Kenapa?"
Abian menatap dalam mata Keyla, "Bikin anak, kali aja mulut lo diem kalau udah hamil ntar" Mengatakannya dengan serius.
"Hah?! Nggak mau!" Keyla berhasil dibuat panik oleh ucapan Abian yang tak pernah main-main, "Buru ah berangkat sekolah" Keyla mencoba melepaskan cekalan tangan Abian.
"Libur" Abian memberi penekanan.
"Gak mau" Rasanya Keyla ingin menangis di tempat.
Tatapan Abian rasanya semakin tajam terhadap dirinya, "Cepetan Keyla, gue capek dengar lo bahas Nayra mulu" Menarik Keyla untuk meninggalkan tempat itu.
"Apa sih Abian? Lo mau jadi penjahat ya" Sungguh Keyla tak ingin tubuhnya diapa-apakan.
"Penjahat apaan kalau kita udah nikah?" Mengucapkan fakta kepada Keyla.
"Bian, gak mau" Matanya mulai berkaca-kaca.
Abian melonggarkan cekalan tangannya, "Siapa suruh lo bahas tuh cewek mulu" Sungguh ia benci dengan pembahasan Keyla.
"Ya kan supaya lo flashback" Sahut Keyla.
"Bapak lo flashback" Ketus.
"Bisa-bisanya lo ngatain mertua sendiri"
Abian memutar bola matanya malas, ia menarik tubuh perempuan itu, "Ayo balik"
"Gak mau" Keyla memberontak.
"Key" Menatap begitu dingin.
"Gue gak bakal bahas mantan lo lagi deh, tapi kita sekolah" Keyla mengatakan dengan begitu malas tapi daripada hidupnya usai pagi ini, lebih baik ia menyudahi semua kalimat yang telah ia rangkai.
Abian melepaskan cekalannya, "Awas lo ingkar janji" Mendekati motornya lagi lalu menaikinya setelah memakai helm.
"Iya iya" Keyla memakai helmnya lalu naik ke atas motor, "Hampir aja" Gumam perempuan berseragam sekolah itu lega.
Liat aja lo ntar.
Jam istirahat...
"Marsha" Ketua kelas memanggil Marsha, perempuan berkacamata yang tengah mengobrol dengan teman sekelasnya.
"Hm?" Menoleh.
"Dicari Kak Keenan tuh" Tutur ketua kelas itu sembari menunjuk ke arah pintu kelas. Di sana, Keenan tengah berdiri sembari bermain ponselnya entah apa yang tengah ia lakukan.
Marsha terdiam untuk sesaat sebelum disadarkan oleh yang lain.
"Bos lo tuh" Tegur temannya sembari tertawa kecil.
"Ahahah iya" Marsha lekas bangkit dari duduknya dan menghampiri kakak kelas itu. Ia menarik Keenan agar mereka tak menghalangi pintu masuk.
"Kenapa ya Kak?"
Keenan menyodorkan paper bag yang tak Marsha tahu apa iso di dalamnya, "Buat lo" Tersenyum simpul.
"Makasih" Tersenyum canggung pada Keenan yang kini memperlakukan dirinya dengan cukup baik, "Nanti bisa bareng gak Kak? Aku gak ada--"
"Bisa" Belum selesai Marha berucap Keenan lebih dulu mengiyakan keinginan dari perempuan manis tanpa polesan make up.
"Makasih"
Keenan mengacak-acak rambut perempuan itu gemas, "Sama-sama sayang"
"Kakak..." Marsha panik dengan apa yang ia dengar dari mulut Keenan. Ia mencubit pinggang lelaki itu.
"Gak ada yang dengar juga" Keenan menahan sakit.
Usai Keenan tahu siapa Marsha dalam dunia roleplay yang juga sempat ia bergabung, Keenan tak tinggal diam ia lekas mendekati Marsha dan menjadikan pacar virtualnya itu menjadi pacar sesungguhnya. Sebab tak bisa ia temukan orang yang sama seperti
"Tetap aja"
"Iya iya, ya udah gue ke kelas dulu ya. Nanti samperin aja gue di parkiran" Ucap Keenan, tak lupa dengan senyum manis di wajahnya.
"Okee"
Keenan berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan kelas sang pacar sembari menahan gemas sebab kelakuan perempuan itu, "So cute"
. . .
"Akiel lo ngapain di sini?" Andrea keheranan mendapati Akiel yang tak bersama sahabat-sahabatnya dan malah mengunjungi kelas mereka dan duduk bersama-sama dengan circlenya yang akan makan siang di kelas dengan bekalnya masing-masing.
"Minta makan" Ucap Keenan sembari menatap pada Olivia yang membongkar bekalnya.
Olivia memberikan sebuah kotak bekal kepada Keenan. Pagi tadi ia sendiri yang menawarkan bekal pada lelaki itu, "Nih buat lo"
"Makasih" Akiel menerimanya dengan riang.
"Lo ada pesanin yang gue minta kan?" Tanya Olivia pada Akiel yang mengambil alat makannya.
"Ntar diantar kok, gue baru order" Tutur lelaki itu.
"Pakai duit lo ya"
"Aman" Mengacungkan jempolnya pada Olivia.
Ia membuka kotak makan siang itu dan mendapati makanan kesukaannya di depan mata tengah menggugah selera, "Oliv, kok lo tahu makanan kesukaan gue?" Seolah terharu dengan effort yang Olivia berikan untuknya.
"Lo udah sering bahas itu sama gue dari dulu" Jawab Olivia sembari menoyor kepala Akiel.
"Ehehe, nyokap lo ya yang buat?" Tanyanya setelah memasukkan sesuap olahan itu ke dalam mulutnya.
Olivia mengangguk kala ia tengah mengunyah, "Heem"
"Pantas enak"
"Kelahi kelahi" Andrea mendukung drama makan siang yang mungkin akan dipertunjukkan.
"Kek bocil lo Aya, pantas aja Rama naksir" Ucap Akiel yang melihat kelakuan Andrea.
"Nyenyenye"
Pandangan perempuan itu kini beralih kepada Keyla yang menyantap dengan tenang makanannya, "Itu lo bikin sendiri Key" Tanya Andrea yang melihat menu makan siang Keyla.
"Iya kan gue gak tinggal sama orang tua" Tuturnya lembut.
"Cobain dong" Mengambil sesendok makanan itu dan mencobanya, "Emm enak" Masakan Keyla memang selalu enak di lidah Andrea setiap mereka makan siang bersama.
Akel tersenyum melihat pemandangan dua pwremouan di depannya, "Bebas banget lo jadi cewek yang dibolehi tinggal jauh" Sedikit iri hati dengan Keyla.
"Gak juga, gue masih dipantau kok. Kadang gue kangen sama orang tua gue, kan biasanya gue dimanja banget kalau di rumah" Keyla berkata dengan pikirannya yang melayang mengingat bagaimana ia diperlakukan dengan begitu baik di lingkup keluarganya.
"Bener sih, apalagi kalau dipeluk sama orang tua itu pasti nyaman banget" Andrea menyahut dengan penuh rasa setujunya dengan apa yang Keyla katakan.
Olivia tahu ini adalah pembicaraan yang cukup sensitif bagi Akiel yang tak pernah merasakan kasih dari keluarganya, ia menoleh pada Akiel yang hanya tersenyum tipis, "El..."
Akiel hanya tersenyum simpul melihat ada sorot belas kasihan di mata Olivia yang menatap padanya.
Rumah sakit...
Karin sudah tak masuk seminggu lebih dan itu cukup membuat Akiel yakin jika perempuan yang ia lihat kala menjenguk Rama dan Andrea adalah Karin.
"Karin" Memanggil perempuan yang tengah bersantai di taman rumah sakit dengan jarum infus yang menancap di punggung tangannya.
Karin tersentak kaget melihat Akiel yang diri tepat di belakangnya dengan seragam lengkap yabg masih menempel di tubuhnya, "Ngapain lo di sini?" Wajahnya yang pucat membuat rasa khawatir pada Akiel semakin menjadi.
"Lo sakit apa? Udah seminggu lo gak masuk sekolah" Kala kaki Akiel mendekat Karin memundurkan posisi tubuhnya, "Karin"
"Gak usah banyak tanya" Ketus.
"Lo gak apa-apa kan?" Mencoba mendekati Karin kembali namun perempuan itu kembali menghindar.
"Gak usah peduliin gue"
Akiel diam sejenak, matanya berkaca-kaca menatap pada Karin yang terus menghindarinya, "Tapi gue gak bisa kalau gak peduli sama lo Karin" Tatapannya begitu dalam, "...gue sayang sama lo"
"Omongan lo itu palsu El, lo gak malu?" Karin tampaknya begitu malas padanya.
"Sudah sejauh ketidakpercayaan lo ke gue?"
"Sejauh mungkin" Berkata tanpa harus berpikir panjang.
"Karin..."
"Gak usah nyentuh" Karin menepis tangan Akiel yang hendak menyentuhnya.
"Bisa gue perjelas semua kejadian yang terjadi"
"Gue gak butuh penjelasan lo" Pergi dari situ. Ia tak ingin menatap seseorang yang telah melukainya.
. . .
Olivia masuk ke dalam kamar Akiel setelah meminta izin pada ibu Akiel. Rumah Olivia bersebelahan dengan lelaki itu, oleh sebabnya ia tahu bagaimana kehidupan Akiel. Ia tahu bagaimana rusaknya mental Akiel saat ia dibentak bahkan sampai dirinya disakiti oleh sang ayah.
"Akiel" Ia menemukan lelaki itu berada di pojokkan kamar dengan wajah frustasinya.
"Lo kenapa sih, El?" Olivia menghadapkan Akiel padanya, wajah Akiel begitu pucat. Tangannya tampak memar sepertinya lelaki itu meninju tembok kamarnya lagi.
"El" Menyentuh pipi sahabatnya itu. Rasanya ia ingin menangis melihat keadaan dari Akiel yang begitu kacau. Padahal Akiel baru saja pulang.
Akiel yang telah menangis sedaribtadi mengangkat kepalanya dan menatap pada Karin, perempuan itu tampak begitu cemas terhadap dirinya. Ia seperti menemukan sosok Karin pada Olivia, "Kenapa sih gak ada yang peduli sama gue Liv? Gue gak berhak banget ya dapat perhatian dan kasih sayang?" Mencurahkan semua rada lelahnya.
"...gue cuma pengen orang tua yang peduli sama gue tanpa harus nuntut ini-itu, yang bisa meluk gue kayak orang tua Aya, yang bisa ngomong lembut kayak keluarga Rama, dan nyiapin makanan kesukaan gue kayak orang tua lo" Lelaki itu memukul dadanya yabg terasa begitu sesak.
"Yang mensupport hal-hal yang dilakuin kayak Keenan, yang bisa bikin gue manja-manja kayak yang Keyla lakuin dan ngebebasin semua pilihan yang gue ambil kayak Abian"
"Susah banget ya Tuhan ngabulin doa gue setiap malam? Gue punya keluarga lengkap tapi gue masih merasa sendirian"
"...bahkan pacar yang benar-benar gue anggap rumah kedua gue sekarang ngejauh cuma karena j*lang si*lan itu"
"Akiel" Olivia merengkuh tubuh Akiel ke dalam pelukannya, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan pada dia yang sudah begitu hancur di dalam sana, "...sakit banget ya?"
"Sehina apa sih gue sampai gak bisa dapetin itu Liv? Gue capek begini, Karin dulu sayang banget sama gue. Gue gak mau cewek lain selain Karin, gue cuma mau Karin Liv" Ternyata sosok Karin tak bisa digantikan oleh siapa pun bagi diri Akiel yang sudah terlanjur menjadikan Karin rumah baginya.
"I know"
Karin, lo beruntung banget pacaran sama Akiel.
Apartemen...
"Bian" Keyla masuk ke dalam kamar tidur dan mendekati Abian yang berbaring terlentang di kasur. Ia naik ke atas tubuh atletis Abian dan berbaring di atasnya.
"Hm" Menyahut sembari menahan beban di atas tubuhnya.
"Tumben tidur cepat" Ini baru jam sembilan dan Abian sudah tepar di atas tempat tidur.
"Ngantuk"
"Siapa suruh baru pulang jam delapan, mana gue dibiarin naik taksi lagi sendirian" Keyla yang masih kesal akibat Abian yang saat pulang sekolah tadi malah memesankannya grab lantaran lelaki itu ingin bermain basket.
"Kan lo tahu gue main basket" Mengelus rambut Keyla.
"Tapi kok Keenan sama Akiel gak ikut?" Tanya Keyla sebab tak biasanya circle Abian tak lengkap.
"Ada urusan katanya"
"Harus banget ya lo tidur di atas gue" Abian yang cukup kelelahan fisiknya mulai merasa jika Keyla semakin terasa berat menindih tubuhnya.
"Gak boleh emang?" Tanya Keyla pada Abian yang biasanya tak masalah dengan hal ini.
"Tahu dah"
Keyla kemudian turun tubuh Abian dan berbaring di samping tubuh Abian dan memeluknya, "Bentar lagi natal Bi" Beritahu Keyla mengingat ini sudah masuk ke bulan Desember.
"Bentar lagi PAS" Melenceng dari pembahasan Keyla.
"Bisa gak sih gak usah lo bahas itu, bikin pusing aja" Keyla tak suka dengan hal yang Abian bahas.
Abian membuka matanya yang sedari tadi terpejam, "Gak belajar lo?" Tanya Abian.
"Sistem kebut semalam gue mah" Mengatakannya dengan begitu bangga.
"Oh sama"
"Idih idih belajar lo?" Meremehkan Abian yang padahal memang membuka buku tiap hari.
"Nggak, gue bakal nyontek sama Akiel" Celetuknya santai.
Keyla berdecih, "Kepala aja lo gede gak ada isinya sama sekali ternyata" Meremehkan.
"Sembarangan lo"