Eros Love

Eros Love
Wallpaper Abian



Nay, boleh minta tisu gak? Tangan gue basah nih. Biasanya kan lo bawa" Keyla yang baru saja menyelesaikan piketnya sebelum ia pulang menghampiri Nayra yang tengah membereskan isi tas-nya.


"Hari ini gak bawa, lap aja di rok lo repot banget sih" Nayra menjawabnya dengan sewot


Keyla mengerutkan keningnya, tak biasanya Nayra menjawab lertanyaan darinya dengan nada yang tak bersahabat seperti ini, "Oh gak ada ya" Menganggukkankepalanya paham lalu mengambil.tasnya yang masih bertengger di kursinya.


"Keyla"


Suara itu membuat Keyla dan Nayra menoleh secara bersamaan ke arah pintu. Senyum manis Keyla terbit, "Bian" Keyla dengan riang menghampirinya.


"Udah yuk pulang" Ajak Abian dengan tatapan yang terus tertuju kepada gadis mungil.


"Iya" Mengangguk patuh, "Ada tisu gak Bi? Tangan gue basah habis cuci tangan tadi" Ucap Keyla sembari menunjukkan telapak tangannya.


"Punya, bentar ya" Abian meraih ransel yang ia gendong lalu mengambil tisu yang ada di dalam tasnya dan memberikan beberapa lembar kepada Keyla.


"Makasih" Keyla tersenyum sembari menerima tisu itu. Lalu saat ia hendak mengambil sepatunya yang ada di atas lantas samping pintu, sepatunya ditendang begitu saja. Membuatnya berpindah temoat beberapa sentimeter.


"Sorry gak sengaja" Ucap Nayra yang menendangnya. Mengatakan hal itu tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.


"Kayaknya Tuhan sia-sia deh ngasih lo mata" Abian berkata tanpa menatap pada Nayra, ia mengambil sepatu milik Keyla dan memberikannya.


"Apaan sih?" Desis Nayra lalu pergi dengan hati kesal.


Abian menatap.punggung Nayra yang semakin menjauh dengan tatapan dingin, Keyla bergegas mengenakan sepatunya lalu menepuk kecil lengan Abian, "Udah gak apa-apa Bi, Nayra gak sengaja juga" Ucap Keyla mengatakan jika ia tak masalah dengan kejadian hari ini.


"Dia sengaja" Ucap Abian.


"Ya biarin aja" Keyla tak ingin mempermasalahkan hal itu lebih lanjut siapa tahu kan Nayra sedang tak berada di mood yang baik. "Udah yuk" Keyla mengajak untuk lekas pulang.


"Hm" Abian meraih tangan Keyla dan menggenggamnya.


Di jalan raya, Abian mengendarai motornya cukup santai sembari menikmati angin yang menabrak tubuh mereka, ia melirok dati kaca spion wajah Keyla yang menatap ke arah jalanan.


"Mau makan dulu gak Key?" Abian menawari.


Keyla tampak berpikir, "Boleh"


"Mau apa?"


"Kan Bian yang ngajak"


"Kan lo yang megang uang" Ucap Abian yang membuat Keyla memukul helmnya sebal.


"Bakso gimana? Lagi pengen soalnya" Ucap Keyla ia meletakkan dagunya di bahu Abian.


"Oke" Segera melaju menuju tempat makan bakso untuk memenuhi keinginan sang istri.


Abian memesan dua mangkok bakso dan juga teh es, ia menatap pada Keyla yang terlihat kegirangan dengan makanan yang masih mengepulkan asapnya. Gadis itu meraih mangkok sambal, "Jangan banyak-banyak" Abian tahu jika Keyla akan memasukkan sambal itu dengan porsi tak wajar.


"Tapi--"


"Keyla..." Abian tak ingin mendengar bantahan dari bibir Keyla. Ia menatap teduh kepada gadis yang memasang puppy eyesnya mencoba meluluhkan Abian.


"Iya Bian iya" Tahu jika Abian tidak akan mengubah apa yang telah ia ucapkan, Keyla hanya memasukkan sesendok sambal ke dalam mangkoknya dan menikmatinya.


"Bi" Keyla membuka pembicaraan.


"Hm?"


Keyla mengaduk-aduk mienya, "Nayra kenapa ya hari ini? Kok dia sinis banget sih sama gue?" Tetap saja kejadian tadi mengganggu pikiran Keyla walau ia sudah mengatakan jika ia tak masalah.


"Mana gue tahu" Menjawab dengan enteng. Abian terlihat lebih fokus dengan makanannya daripada Keyla.


"Ish gak ada gunanya cerita sama Abian, beda kalau gue cerita sama Rama dia kayak memperhatikan banget" Mulai dengan perbandingan yang membuat Abian menatap tak suka pada Keyla.


"Suka lo sama Rama?" Sinis.


"Nggak lah"


"Ya udah, gak usah bahas cowok lain'" Mulai dengan aksi ngambeknya.


"Nyenyenye" Keyla mengejek Abian. Ia melanjutkan lagi menyantap baksonya hingga salah satu objek menarik perhatiannya.


"Bian sejak kapan pakai kalung?" Notice salah satu aksesoris yang tak biasa lelaki itu gunakan kini bertengger manis di lehernya.


"Lupa"


"Gak"


"Please..." Meminta dengan sangat sebab ia sudah sangat penasaran.


Abian menghembuskan nafasnya pelan lalu melepaskan kalungnya lalu memberikannya kepada Keyla, "Nih"


Keyla memperhatikan dengan sangat kalung yang juga terdapat cincin yang cukup familiar menggantung di situ, "Ini cincin..."


"Hm" Abian mengiyakan pikiran Keyla.


"Kenapa gak dipake aja?" Itu adalah cincin pernikahan milik Abian.


Abian menggelengkan kepalanya lalu mengambil kembali kalungnya dari telapak tangan Keyla, "Ntar yang lain curiga" memakai kembali.


"Ya gak apa-apa, bilang aja cincin couple sama Keyla cantik" Tersenyum begitu lebar sembari menusuk pipinya dengan jari.


"Alay"


"Hump" Menggembungkan pipinya sebal dibuat Abian.


Abian menundukkan kepalanya dan melanjutkan makannya sembari tersenyum, "Imut..." Gemas pada Keyla.


Malam, apartemen...


Keyla yang baru selesai dengan skincare rutinnya kini menghampiri Abian yang tengah bermain game di sofa dengan begitu serius.


"Bian ngapain?" Datang dan duduk di samping Abian sembari memeluk pinggang suaminya manja.


"Bisa gak usah nempel-nempel gak?" Abian berusaha tetap fokus dengan gamenya tanpa harus terganggu dengan physical touch Keyla.


"Apaan sih? Meluk doang" Melepas pelukannya dengan cemberut.


"Gak jadi pesan makan? Gue lapar Bi" Menggerutu.


"Lupa gue, pesan sendiri sana" Abian mematikan ponselnya denga kesal sebab ia kalah dalam game yang ia mainkan.


Keyla berdecak kesal, "Hape gue lowbat Bian ih"


"Ini pakai hape gue" Menyerahkan ponselnya.


Keyla dengan senang hati menerima ponsel itu dan membukanya, keningnya berkerut kala melihat wallpaper yang Abian pasang.



"Jelek banget wallpaper lo" Berkomentar padahal di dalam hatinya ia sudah samgat girang.


"Kalau pakai muka lo takutnya hape gue rusak" Menjawab tanpa ada beban sama sekali.


"Apaan sih Bian" Memukul lelaki itu dengan bantal sofa. Rasanya ia selalu saja dihina oleh Abian, menjengkelkan.


Lalu tanoa sengaja hape yang Keyla pegang itu terlepas lalu jatuh membentur lantai cukup keras membuat Abian dibuat panik.


"Hape gue Keyla!" Abuan segera mengambil ponselnya dan mengecek jikalau terdapat kerusakan, "...untung hape mahal, jadi tahan banting" Lega.


"Semoga hape Bian nge-lag habis ini, wleee" Keyla lebih puas jika hape itu rusak. Senang melihat Abian frustasi.


Abian menatap pada Keyla yang duduk dengan angkih di atas sofa, "Bandel ya lo sekarang" Lelaki itu lalu menarik tubuh Keyla dan memeluknya dengan begitu erat bercampur dengan perasaan gemasnya.


"Aaaaa Bian lepasin, gak bisa nafas" Keyla berusaha menjauh.


"Biarin ini hukuman buat lo" Abian semakin erat memeluk.


"Apa sih Bian hape doang" Keyla mengatakan jika Abian berlebihan.


"Diam atau gue cium?" Mengancam.


"Nih cium" Keyla malah semakin menantang sembari memanyunkan bibirnya yang membuat Abuan semakin gemas.


"Nantangin banget lo"


Keyla tertawa, "Besok-besok PS sama laptop Bian aja yang gue lempar" Ucap Keyla yang malah membuat Abian menatapnya serius.


"Gue hamilin lo kalau berani begitu" Nyali Keyla langsung menciut mendengar itu. Ia meneguk salivanya sukar.