Eros Love

Eros Love
Kesedihan Olivia



Pagi ini harinya terasa begitu cerah dan sepertinya mood beberapa orang tengah baik, tapi ada juga yang memiliki mood yang buruk. Ada berbagai kejadian yang terjadi dan mempengaruhi situasi hari orang banyak.


Rama, lelaki itu dengan senyum manisnya menyusuri koridor sekolah. Membalas sapaan beberapa orang yang melontarkan ucapan selamat pagi pada dirinya. Ia saat ini membawa sebungkus roti dan juga sekotak susu cokelat untuk ia berikan kepada orang yang akan ia spesialkan.


"Pagi Keyla" Rama, lelaki itu pagi-pagi sekali mendatangi kelas anak IPA dan menyapa Keyla yang tengah menyapu teras kelas.


"Oh hai Rama, pagi juga" Membalas sapaan selamat pagi Rama dengan senyum manisnya yang tak pernah luntur.


"Tumben lo pagi-pagi dah rajin" Mengobrol sebentar pada perempuan yang sudah ia relakan pada Abian.


"Piket, ini juga gue kepaksa" Ucap Keyla dengan tawa kecilnya, "Mau ngapain ke sini?" Bertanya maksud Rama yang jauh-jauh ke kelas IPA saat bel masuk belum berbunyi.


"Ngasih ini Ke Aya" Menunjukkan sebungkus roti dan juga sekotak susu cokelat.


"Buat gue?" Bertanya jatahnya.


"Gak ada"


"Si paling pelit, gue gak mau temenan ama orang pelit" Pura-pura marah pada si ketua OSIS itu.


"Ya udah pacarin aja Key, ahaha" Menggoda Keyla dan langsung masuk ke dalam kelas mereka.


"Buset dah Liv" Rama terkejut melihat kondisi Olivia saat pagi baru saja dimulai semenjak beberapa jam yang lalu, "Kenapa sama mata lo?" Menarik satu kursi dan mendudukinya di dekat Olivia yang terlihat tak semangat.


Bukannya menjawab Olivia malah kembali menangis dan membuat Rama kelimpungan olehnya dan membuat Andrea kesal dibuat oleh sahabat lelakinya itu, "Udah deh Rama, lo ganggu pandangan gue aja. Minggir-minggir" Mendorong Rama agar bangkit dari duduknya


"Nih buat lo" Memberikan roti dan susu di hadapan Olivia dan membuat perempuan itu menatap pada dirinya.


"Tumben" Komen Andrea.


"Ya sebenarnya sih itu buat Aya cuma gegara Oliv lagi broken heart jadi buat lo aja deh" Tutur Rama setengah meledek kondisi Olivia.


"Pergi gak lo?" Memukul lengan baju Rama, Andrea dibuat kesal dengan ucapan Rama yang menyinggung sahabatnya.


"Iya sayangku" Menggoda Andrea yang sama sekali tak tersenyum pada dirinya.


"Rama, gue lagi bad mood. Lo mau gue jadiin pelampiasan?" Murka Olivia dengan air matanya.


"E-eh nggak Liv sorry-sorry" Rama kabur dari situ. Ia juga tak memiliki keberanian melawan Olivia yang adalah atlet karate yang cukup ahli.


Pulang sekolah...


Dengan lesu, Olivia menghampiri Akiel yang saat ini tengah menuju parkiran sekolah untuk mengambil motornya. Ia baru saja diberitahukan jika tak ada yang bisa.menjemputnya. "El, bisa nebeng gak?" Tanya Olivia dengan wajah kusutnya.


"Lo kenapa?" Olivia dibuat terkejut dengan kondisi lebam di wajah Akiel. Ia menyentuh luka itu namun Akiel segera menjauhkan wajahnya.


"Gak apa-apa, ayo naik" Menghidupkan mesin motornya.


"Bokap?" Tanya Olivia yang memang tahu kisah hidup Akiel sebab rumah mereka cukup berdekatan. Ia naik ke boncengan motor Akiel.


"Siapa lagi?" Tersenyum simpul, "Lo sendiri? Kenapa sama mata lo? Sembab banget" Tutur Akiel yang menjalankan motornya dan keluar dari area sekolah.


"Putus"


"Rapuh banget tuh" Mengusap lutut Olivia.


Olivia menyandarkan kepadanya di punggung Akiwl yang tengah berkendara, "Dia ciuman sama Melody" Mengatakan alasan putusnyayang sangat miris itu pada Akiel.


"Siapa?"


"Teman cewek satu tongkrongannya" Olivia memperjelas siapa Melody.


Akiel terdiam memgingat perempuan yang pernah Ayden bawa untuk santai di Garden Coffe, "Yang omongannya pick me itu?" Ada samar-samar bayangan tentang perempuan yang Olivia maksud.


"Lo tahu?" Bertanya.


Akiel mengangguk, "Pernah beberapa kali ketemu di Garden Coffe tapi gak pernah ngobrol sih" Menjelaskan. Akiel melirik dari kaca spion bagaimana kondisi Olivia.


"Oh gitu" Semakin murung, "Ngebakso yuk El" Ajak Olivia. Moodnya harus segera diatasi melalui makanan.


"Tapi lo dibolehin bokap kan?" Tanya Olivia sebab Akiel yang selalu dikekang oleh pria yang merawatnya.


Akiel berdecih, ia tak suka mengingat keadaan rumahnya saat ini, "Gue gak peduli lagi. Gue ngebut ya"


"Heem"


Sedangkan itu, Rama dan Andrea baru saja sampai di halamam rumah Andrea.


"Lagi mikirin apa?" Tanya Rama saat Andrea memberikan helm pada dirinya. Ia menemukan sorot wajah penuh tekanan pada Andrea.


"Olivia"


"Kenapa sama dia?"


"Kan putus sama Ayden" Menatap pada Rama yang juga menatap pada dirinya lekat.


"Ya bagus dong, kata lo kan Ayden orangnya gak baik buat Oliv" Menyahuti.


Andrea menyilangkan tangannya di depan dada, "Ya emang, tapi gara-gara itu Oliv benar-benar murung, gak mood ngapa-ngapain" Tutur Andrea, sedih mengingat kondisi sahabatnya.


Rama berdecih, "Dasar cewek" Ucapnya, "...dia yang mutusin dia juga yang nangis-nangis" Rama sebenarnya tak paham dengan pola pikir perempuan yang sulit untuk ditebak.


"Rama!" Tak suka jika kaum betina dihina seperti itu.


Rama menatap wajah marah Andrea yang terlihat menggemaskan, seperti kucing. "Lha emang benar kan?" Menyahuti Andrea yang tampaknya kesal pada dirinya yang hanya mengatakan sebuah fakta yang sering ia temui.


"Emang lo paham perasaan cewek? Nggak kan? Diem makanya"


Rama menghembuskan nafasnya, "Emang kenapa sih? Itu kan urusan Olivia kenapa lo yang repot" Tak menaikkan nada suaranya sedikitpun untuk menjawab Andrea.


"Rama, gak usah berkomentar gitu ya. Gimana kalau itu terjadi ke lo?" Andrea Ingin Rama memposisikan dirinya menjadi Olivia.


"Ya paling lo yang nangis-nangis" Rama menjawab dengan santai.


"Kok gue?"


"Kan lo nanti jadi pacar gue. Paling kalau gue ketahuan selingkuh terus lo yang mutusin, lo juga yang nangis kayak Oliv"


Andrea menatap tajam pada Rama, "Emang dasarnya brengsek ya tetep brengsek" Ucap perempuan itu menatap jijik pada Rama.


"Aya" Rama sadar akan salahnya dalam bertutur kata


"Pulang sana gih, malas gue ketemu lo" Mengusir Rama.


"Lho Ya? Masa gegara gitu doang--"


"Doang? Enak banget tuh mulut nyerocos. Gih sana pulang"


"Ya udah besok gue jemput ya?" Rama menepuk bahu gadis utu lalu menghidupkan motornya.


Mendengar hal itu membuat Andrea semakin sebal pada Rama, "Apa sih? Bukannya dibujuk malah diiyain. Nyebelin banget"


Repot amat astaga nih cewek.


"Ya udah ayo jalan" Berusaha tak terbawa emosi pada gadis di hadapannya.


"Gak, sana pulang aja"


"Lho Aya?"


"Bye" Andrea membalikkan badannya dab melangkah menjauhi Rama yang masih menatap padanya. "Gue lagi malas jalan sama temen gila kayak lo" Sambung perempuan itu dengan nada yang cukup keras.


"Tapi teman hidup kan?" Sahut Rama sembari tertawa.


"Teman sekolah" Andrea menyahuti