
Raya sedang merapikan bajunya di depan cermin, sedangkan Anaya tengah menyiapkan tasnya.
"Nay, Lo yakin hari ini mau masuk sekolah?" tanya Raya sambil menempelkan telapak tangannya di dahi Anaya
"Tenang aja, gue udah sehat kok," ucap Anaya sambil melompat-lompat untuk membuktikan bahwa dia sudah baik-baik saja
"Yaudah, tapi kalau sakit, bilang aja ya?" pesan Raya, Anaya hanya tersenyum senang lalu mengangguk
Anaya dan Raya lalu keluar dari kamar dan berpamitan dengan Adlan dan mama.
"Hati-hati ya," pesan mama, Anaya dan Raya lalu mengangguk bersamaan, mereka lalu naik angkutan umum untuk pergi ke sekolah.
***
Setibanya di sekolah, Anaya dan Raya mulai berjalan menuju kelas, namun langkah mereka terhenti, dihadang oleh tiga orang siswi, mereka adalah Risa, Nadya, dan Aufa.
"Ngapain?" tanya Raya dingin, sedangkan Anaya hanya melipat tangannya didada
"Gara-gara anak baru ini lu jadi songong ya," ucap Risa sambil menepuk bahu Anaya, namun Anaya buru-buru membersihkan bekas cengkraman Risa di bahunya dengan alis terangkat
"Sombong dia," Nadya mendecih, sedangkan Aufa tersenyum mengejek
"Kalian ada urusan sama gue, suruh Anaya pergi," ucap Raya dingin
"Pergi Lo," Risa mendorong Anaya, Anaya yang masih dalam keadaan lemah pun sedikit tersungkur
Buru-buru Anaya membenarkan posisinya lalu menatap Raya dengan tatapan datar, dia tau Raya ingin melindunginya, tapi apa artinya sahabat kalau dikala susah tidak saling membantu?
"Gak usah sok kuat, gue yakin lu butuh gue," ucap Anaya sambil berusaha menghampiri Raya
"Nay, mereka gak akan ngapa-ngapain, lagian kalau mereka ngapa-ngapain gue, lu bisa manggil Bu Ely atau siapa pun kesini," ucap Raya
"Lu percaya aja sama gue, lu ke kelas duluan," ucap Raya meyakinkan
Tanpa mengatakan apa-apa Anaya lalu melangkahkan kakinya dengan kesal, namun saat dirinya sudah jauh dari Raya, dirinya ditarik oleh dua orang perempuan, Anaya ditarik menuju halaman belakang sekolah.
"Ada apa ya?" tanya Anaya lembut, namun gadis berambut ikal langsung menyiramkan jus kuning ke baju Anaya
Anaya hanya mengerling jengah, lalu setelah itu dia menatap tajam ke arah perempuan dihadapannya, Anaya lalu melirik name tag perempuan itu, namanya Dhita Daleena.
"Mau lu apa?" tanya Anaya sambil menatap lurus perempuan dihadapannya
"Jutek amat sih," kehkeh perempuan berkulit putih pucat, di name tag nya tertera nama 'Dhiya Daleena'
"Twins" batin Anaya sambil menatap dua orang itu bergantian
"Jadi mau kalian apa?" tanya Anaya sambil memegang tali ranselnya
"Get out," ucap Dhita
"Minggat lu dari sekolah kita," timpal Dhiya
Baru saja Anaya merasa terbebas dari sekolah lamanya, kini di sekolah barunya dia harus merasakan hal yang seperti ini lagi.
"Emangnya kalian yang punya sekolah ini?" tanya Anaya sambil mendekatkan dirinya pada Dhita dan Dhiya.
"Bukan, tapi kita ngerasa terganggu aja," ucap Dhiya
"Selama ini gak pernah beredar gosip jelek tentang Kris di sekolah ini, tapi semenjak ada Lo," Dhita menghentikan kata-katanya, namun dibibir nya tersungging senyum culas
"Yang ada Kris banyak di jelekin," Dhiya menggelengkan kepalanya
"Itu misi gue di club mading," balas Anaya dengan nada bicara yang dibuat sesantai mungkin
Dhiya dan Dhita berpandangan dramatis lalu tertawa terbahak-bahak.
"Tugas katanya," tawa Dhiya meledak
"Sampe bikin orang malu juga masih dilakuin," Dhita menambahkan
Lalu Ditha meninggalkan Dhiya dan Anaya. Dhita berjalan menuju lorong sekolah, setelah itu dia berteriak.
"GUYS, SINI BURUAN ADA ANAK YANG BIKIN NAMA KRIS TERCEMAR CUMA GARA-GARA MISI DARI CLUB MADING," Dhita berteriak, tak sedikit orang yang menghampirinya, Dhita tersenyum puas saat banyak orang yang mulai berkumpul dengannya.
Sementara itu, disisi lain, Dhiya sedang menyandarkan kepalanya di tembok sambil menatap Anaya dengan tatapan datar, begitu pula Anaya.
"Gue gak seperti yang lo pikirkan," ucap Anaya dengan datar
"Emangnya gue mikir apa?" Dhiya tersenyum meledek, sedangkan Anaya mengalihkan pandangannya
"Lo kenapa pindah-pindah sekolah? jangan-jangan keluarga lu berantakan?" tanya Dhiya
Namun, karna kesal, Anaya menampar Dhiya dengan keras. Bersamaan dengan itu, Dhita datang dengan membawa segerombolan anak lain, membuat kesalahpahaman terjadi diantara mereka.
"Dhiya, lu kenapa?" tanya Dhita sambil membantu Dhiya berdiri.
"Gatau, padahal gue ngomong baik-baik soal Kris tapi tiba-tiba di tampar," ucap Dhiya, tentu saja sepenuhnya berbohong
"ngga, bukan, gitu, gue ngga maksud," ucapan Anaya yang gelagapan terinterupsi oleh sampah yang dilempar kearahnya
yang lain pun ikut melempari Anaya dengan sampah dan tanah, sambil mengata-ngatai Anaya, Anaya yang tak sanggup menahan semua lemparan sampah itupun hanya sanggup menunduk, sehingga punggungnya yang terkena lemparan.
"BERHENTI LO SEMUA!" ucap suara tegas di belakang kerumunan yang mengitari Anaya
Ajaibnya, mereka semua terinterupsi dan langsung melihat siapa pemilik suara itu, ya tentu saja Kris.
"GUE NYA AJA YANG DIMINTAIN WAWANCARA BIASA AJA, NGAPA LO PADA YANG RIBET HAH?" tanya Kris dengan suara lantang dan dengan nafas yang menggebu-gebu
Kris lalu maju mendekati Anaya, dan memungut salah satu sampah, lalu melempar ke arah kerumunan itu.
"Yang harus dilemparin sampah tuh kalian! Hidup sendiri aja belom bener udah recokin hidup orang, apa namanya kalau bukan sampah?" bentak Kris, bukannya pergi atau menghindar semuanya malah terpaku mendengar kalimat panjang yang dilontarkan oleh Kris, karna selama ini Kris hanya sedikit bicara
Dengan kesal Kris lalu menarik Anaya menjauhi kerumunan itu, Kris lalu mengajak Anaya ke ruang ganti dan menyerahkan seragam cadangan yang ada di ruang ganti pada Anaya.
"Cepet ganti," ucap Kris, Anaya menurut saja, dia masuk salah satu ruang ganti lalu mengganti bajunya
tak lama, Anaya keluar dengan menggunakan baju yang tampak kebesaran ditubuhnya.
"Hahahaha, kaya orang-orangan sawah," tawa Kris meledak, Anaya hanya mengerlingkan matanya tiap sikap Kris yang mengagumkan selalu ada sifat Kris yang menyebalkan.
Mereka lalu berjalan beriringan menuju kelas sambil sesekali tertawa, lalu mereka bertemu dengan Raya dilorong kelas.
"Nay, kok baju lu jadi gede gitu?" tanya Raya
"Gue pake baju ganti, panjang ceritanya nanti gue ceritain," ucap Anaya
Mata Raya lalu menyipit ke arah Kris, Kris yang ditatap seperti itu pun hanya bisa mengernyitkan dahinya.
"Lu gak ngapa-ngapain Anaya kan?" tanya Raya dengan jahilnya
"Ngawur," ucap Kris sambil meninggalkan Raya dan Anaya
"Raya, Raya, justru dia yang bantuin gue," ucap Anaya sambil menggelengkan kepalanya
"Eh Nay gue mau ngomong, tapi lu jangan putus asa atau gimana ya?" pinta Raya takut-takut
"Santai aja kali, ada apa?" tanya Anaya
"Tim Mading nolak lu," ucap Raya to the point, Anaya hanya tersenyum samar sambil menatap Raya
"Its okay, gue udah yakin ini bakal terjadi," balas Anaya padahal jauh di lubuk hatinya dia merasa kecewa dan merasa tak adil.
Anaya dan Raya melanjutkan perjalanan mereka ke kelas seolah tak terjadi apa-apa.
ternyata, sedari tadi ada yang mengintai mereka, ya dia adalah Risa, Risa dengan geramnya menekan nomor seseorang untuk dia telpon.
"Hallo manis?" tanya suara di sebrang sana
"Manis... manis... ngapain sih lu? masa buat kekacauannya gini doang?" tanya Risa jengkel
"Itu baru pemanasan," kekeh orang di sebrang telpon
"Terserah, pokoknya gue mau dia out dari sekolah," ucap Risa penuh penekanan
"Semuanya butuh proses Risa, gue jamin dia bakal out, tapi lu yang sabar,"
"Terserah tapi jangan kelamaan,"
setelah itu, telpon dimatikan sepihak oleh Risa.