
"Pilihannya tak ada yang kusukai. Kehilangan dirinya atau kehilangan diriku sendiri."
***
Pagi ini Anaya sudah siap dengan seragam sekolahnya, sedari tadi Anaya mematut dirinya sendiri di cermin sambil tersenyum.
Anaya mengingat bagaimana kemarin Kris mengantarnya pulang. Memang tidak ada kejadian atau pembicaraan spesial diantara mereka kemarin. Namun Anaya merasa aneh saja dirinya diantar oleh pangeran es sekolah.
"Anaya, lagi apa sih?" tanya Adlan bingung melihat adiknya yang terlihat sedikit tidak beres itu.
"Gapapa kok abang ganteng," ucap Anaya sambil mencubit kedua pipinya lalu meninggalkan kakaknya menuju ruang makan
"Abang ganteng?" tiba-tiba saja Adlan bergidik ngeri atas tingkah Anaya
Anaya pun duduk di kursi makan, disebelah mama dan kakaknya. Anaya pun mengambil beberapa potong roti selai untuk sarapannya.
"Anaya kamu udah pilih mau ikut ekskul apa?" tanya mama, hal ini membuat raut wajah Anaya berubah seketika.
"Udah ma," balas Anaya tak bersemangat
"Kenapa? Kok kaya yang gak semangat gitu?" tanya mama, Anaya lalu tersenyum dan menggeleng
"Anaya seneng kok mah, cuma agak kesulitan sama misi pertama," ucap Anaya tak sepenuhnya berbohong
Setelah sarapan, Anaya dan Adlan pun pamit pada mama.
"Cepet Anaya nanti kesiangan," ucap Adlan dari motornya
"Tunggu bentar ya ampun bang gak sabaran banget si," sebal Anaya sambil merapikan tali sepatunya.
Anaya pun langsung menghambur naik ke jok belakang.
"Ayo bang berangkat, katanya takut kesiangan," omel Anaya
"Bentar elah, Mama, Adlan sama Anaya berangkat ya, assalamualaikum," ucap Adlan sambil memajukan motornya
"Waalaikumsalam,"
***
Di sekolah, Kris baru saja memarkirkan motornya. Saat dia menoleh ke gerbang, dia melihat Anaya turun dari motornya, wajah cowok yang membonceng Anaya memiliki sedikit kemiripan dengan Anaya. Kris menyimpulkan bahwa itu kakak Anaya.
Kris turun dari motornya dan langsung berjalan kekelasnya berusaha bodo amat dengan kedatangan Anaya. Karna bagi Kris, sejak Anaya hadir Kris jadi sedikit boros kalimat. Kris tersenyum geli memikirkan hal itu.
"Pagi Kris," ucap Bara yang tiba-tiba sudah berada disamping Kris
"Bikin kaget," Kris memutar bola matanya dengan malas
"Sehat buat jantung," ucap Bara sambil menepuk dadanya
"Yang ada bikin sakit jantung," balas Kris sambil mempercepat langkahnya
Bara tertegun, tunggu, Kris menyahuti joke nya? Apa Bara tidak sedang bermimpi? Bara menggelengkan kepalanya, bagaimanapun ini perubahan bagus untuk Kris.
Bara lalu mengejar Kris yang sudah sangat jauh didepannya.
"Kris sayang, tunggu aku," ucap Bara sambil tertawa-tawa jahil
Kris bergidik mendengarnya, Bara ini memang hobi bikin malu, bikin kaget, bikin geli, giliran disuruh bikin pr aja alesan.
***
Anaya baru saja sampai dikelas, dia langsung saja mendudukkan dirinya disebelah Raya, namun masih dengan muka memberengut.
"Kenapa Nay? kaya cucian kurang dijemur gitu, kusut banget," ucap Raya sambil terkekeh
"Itu Ray, gue bingung mau ngeliput beritanya Kris kaya gimana, gue takut dia marah," Ucap Anaya sambil merebahkan kepalanya dimeja
"Gue tau Kris gimana, dia gak mungkin marah kok, lu bilang aja alesan lu apa ngeliput dia," balas Raya
Anaya menghela nafasnya dengan berat, dia lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Masalahnya berita itu berhubungan sama kejadian gue Ama Kris," kata Anaya
"Lo sama Kris? Maksudnya gimana Nay?!" tanya Raya dengan suara toa
Anaya menggigit bibir bawahnya, sekarang mereka menjadi pusat perhatian kelas bahkan Kris dan Bara pun sempat melirik mereka. Sementara itu Raya menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Aduh Raya, bisa gak sih ngomongnya pelan-pelan? Kalau orang ngiranya lain gimana?" Tanya Anaya sambil memajukan bibirnya
"Ngiranya lain kaya gimana?" Tanya Raya sambil menyipitkan matanya dengan Jahil membuat Anaya cemberut
"Suka-suka Lo aja deh Ray," balas Anaya
"Ulululu Anaya ku sayang, jangan marah dong," ucap Raya sambil mencubit kedua pipi Anaya, Anaya hanya terkekeh saja
***
Kring... Kring... Kring...
Bel istirahat berbunyi, seperti biasa anak-anak yang tidak membawa bekal dari rumah pergi ke kantin untuk mengisi perutnya.
Begitu pula dengan Anaya dan Raya. Kini, mereka sedang memakan batagor sekarang.
"Ray?" panggil Anaya
"Hm?" sahut Raya
"Jadi menurut Lo gue harus ngeliput beritanya atau jangan?" tanya Anaya
"Kalau gue diposisi elo, gue bakal liput beritanya, lagian itu bukan masalah besar, tapi itu tergantung lagi sama keputusan Lo," balas Raya sambil menunjuk Anaya menggunakan garpu batagornya.
Anaya lalu mengangguk-ngangguk mungkin benar kata Raya, dia harus melakukannya. Saat mengedarkan pandangannya, kemudian Anaya menangkap sosok Kris yang baru saja membeli minuman kaleng dari mesin penjual minuman.
"Ray, gue tinggal ya?" pamit Anaya
"Batagor lu buat gue?" tanya Raya iseng
"Dasar perut karet, makan aja Ray semuanya," balas Anaya, setelah itu Anaya meninggalkan Raya
Anaya mengejar Kris, lalu cepat-cepat menghadang langkah Kris.
"Apaan sih bikin kaget aja," ucap Kris kesal, Anaya juga kesal tidak pernah mendapat sambutan baik dari Kris
"Ish ngeselin, Kris gue mau ngomong bentaran sama lu," ucap Anaya
"Dari tadi juga lu udah ngomong," ucap Kris, Anaya berdecak sebal
"Ikut gue Kris," pinta Anaya, Kris hanya mengedikkan bahu
"Gamau, gue mau kumpul Osis," balas Kris santai
"10 Menit?" tawar Anaya
"Kelamaan," balas Kris sambil hendak melangkah, namun Anaya buru-buru menghadangnya lagi
"5 Menit?" tawar Anaya lagi
"3 menit, deal?" tanya Kris
"Oke," ucap Anaya
Anaya dan Kris lalu pergi ke dekat perpustakaan yang lumayan hening, agar pembicaraan mereka tidak terganggu. Kris lalu menekan timer di jam tangannya. Anaya mendengus, Kris benar-benar perhitungan.
"Lu mau ngejelasin kejadian tadi dikelas kan? Yang lu keciduk ngomongin gue?" tanya Kris
"Berhubungan sih," balas Anaya
"Ngomongin apa lu?" sambar Kris
"Mangkanya dengerin gue dulu, gue mau masuk club mading, tapi berita pertama yang harus gue bawain itu elu, kejadian yang dimarahin sama kesiswaan kemarin, lu mau jadi narasumber gue?" tanya Anaya
Anaya merasa bodoh, tentu saja Kris tidak mau apalagi Anaya mendadak bertanya hal yang sudah jelas-jelas menyangkut harga diri Kris. Anaya menggigit bibir bawahnya, dia sudah siap menerima tolakan dari Kris.
"Gue mau," ucap Kris
"Iya gue tau, lu pasti bilang gi—" ucapan Anaya terhenti, tadi Anaya tidak salah dengar kan?
"Apa?" tanya Anaya memastikan pendengarannya tidak salah
"Gak ada pengulangan," ucap Kris sambil meninggalkan Anaya
"Atur wawancaranya diluar, kalau di sekolah gak mungkin soalnya gue bakal sering keruangan OSIS kalau disekolah," ucap Kris sambil berlalu
Anaya menutup mulutnya sambil melotot tak percaya, dia lalu melompat-lompat kegirangan, bodo amat dengan orang-orang yang melihatnya dengan tatapan aneh.
Anaya lalu menekan room chat nya dengan Kris dan mengetikkan sesuatu.
Anaya :
Minggu, di cafe deket rumah gue, sebagai gantinya, gue yang bayarin pesenan lu
Kris :
Deal
Anaya melompat kegirangan, semoga saja Kris tidak memesan yang aneh-aneh nanti. Anaya yang malang, dia tidak tahu apa yang sebenarnya akan dia lalui setelah berhasil mengangkat berita ini.