Different With You

Different With You
Di Bully



"Gue hari ini gak masuk sekolah, mau nyari sponsor buat pensi, udah ada surat dispensasi, lu di sekolah sama Raya sama Bara aja, jangan jauh-jauh dari mereka"


Anaya tersenyum melihat pesan yang dikirimkan Kris, Anaya merasa tak kesepian lagi sekarang berkat adanya Raya, Bara dan Kris, setelah itu Anaya mengetikkan balasan pesannya.


"yaudah, hati-hati, semangat ya,"


Singkat memang, namun dia tak sadar balasan itu membuat Kris disebrang sana tersenyum lebar.


"Anaya, mau berangkat kapan?" tanya kakaknya


Anaya lalu memakau Hoodie dan menyambar ransel merahnya. Cepat-cepat ia memasukan ponselnya kedalam kantong hoodienya.


"Kak udah, ayo berangkat," ucap Anaya sambil memakai sepatu


"Dah ma, Anaya berangkat, assalamualaikum," ucap Anaya setelah mengalami tangan mamanya.


"Waalaikumsalam, Anaya,,, Anaya,,, selalu saja bersemangat," ucap mama, sambil menggelengkan kepalanya.


***


Anaya sampai disekolah, kemudian dia menyalami tangan Adlan dan mulai melangkahkan kakinya masuk ke lingkungan sekolahnya.


Namun, Anaya merasa ada yang berbeda, semua orang menatapnya dengan tatapan jijik, malas, risih, dan ada juga yang terang-terangan memalingkan wajahnya setelah bertatapan dengan Anaya.


Anaya hanya menunduk sambil memegang erat tali ranselnya, dia pernah mengalami hal ini sebelumnya, Anaya curiga gosip dari sekolah lamanya sudah tersebar disini.


Anaya terdiam kaku ditempatnya berdiri, bingung harus meneruskan langkahnya ke kelas atau pulang kerumah.


"Anaya?" Vano menepuk bahu Anaya, membuat Anaya tersentak kaget


"Va-vano?" balas Anaya gelagapan


"Kenapa? kok kayak ketakutan gitu?" tanya Vano, Anaya hanya menggelengkan kepalanya dengan kaku


Dengan santainya, Vano merangkul Anaya, Anaya yang kaget pun langsung menghempaskan tangan Vano. Anaya yang tersadar pun buru-buru membantu Vano.


"Vano, gu-gue gak maksud buat—" ucapan Anaya terhenti, karna sekarang rata-rata orang-orang menatapnya garang


Dhita lalu menghampiri Vano dan Anaya sambil berpangku tangan.


"Bagus Nay, selain papa lu yang ga bener hobinya cuma korupsi, anaknya juga ga bener, hobi godain cowok orang," Dhita menggandeng tangan Vano menjauh dari Anaya


Anaya terdiam, tenggorokannya tercekat, ternyata benar, gosip tentang papanya dulu tersebar lagi sekarang, Anaya akhirnya meneteskan air matanya, papanya sudah tiada, tapi gosip itu masih saja terus mengalir dari mulut ke mulut.


Anaya langsung melangkahkan kakinya menuju toilet. Di wastafel, dia mencuci wajahnya yang terbasahi air mata.


"Anaya," ucap Nadya dan Aufa, sekarang mereka ada di samping kiri dan kanan Anaya, awalnya Anaya bingung mereka siapa, tapi setelah diingat, mereka adalah dua dayangnya Risa.


Anaya yang sudah sangat lelah pun hanya terdiam dan menunduk. Anaya sangat ingin pulang sekarang, atau paling tidak dia butuh Raya, Bara, dan Kris.


"Sombong dia, disapa ngga nyahut," ucap Aufa sambil terkekeh


"Sombong lah, dia kan anak orang kaya," timpal Nadya sambil bertepuk tangan


"Iya sayangnya kaya hasil korupsi," kali ini mereka berdua tergelak bersama


Anaya pun langsung menyalakan keran air dan mencipratkan air pada Nadya dan Aufa. Anaya tidak bisa berpikir jernih sekarang, yang dia tau, dia ingin Aufa dan Nadya berhenti.


"Hahaha, berani dia," Aufa terkekeh sambil mendorong bahu Anaya


"Anak tikus berdasi," bisik Nadya tepat di telinga Anaya


"UDAH CUKUP," teriak Anaya


"GAK USAH TERIAK!" bentak Aufa, tatapannya berkilat, menunjukkan amarah


"Lu pikir dengan teriak bakal ada yang nolongin?" tanya Nadya santai namun menusuk


Aufa berjalan kearah pintu kamar mandi, lalu menutup dan mengunci pintunya.


"Sayangnya nggak," Aufa mengedikkan bahunya dengan santai


Nadya mulai mendorong Anaya sampai gerakan Anaya terkunci di pojok kamar mandi, Anaya merasa tak berdaya, sekalipun melawan, dia akan kalah melawan dua orang, apalagi fisiknya masih lemah.


Aufa lalu mengambil air di ember dan menyiramkannya ke tubuh Anaya.


"Ups, kebasahan," Nadya menggelengkan kepalanya


***


Disisi lain, Bara dan Raya sibuk dengan pembaruan Mading yang ditugaskan oleh Vano.


"Raya, posternya lu edit lebih ramping dan menarik, pensi harus bikin semua anak tertarik," ucap Bara sambil terus membuat desain banner


"peach sama merah," ucap Bara


"Peach haha, warna kesukaan Anaya," ucap Raya tak sadar


Raya dan Bara lalu terdiam dan saling berpandangan, sadar Anaya pagi ini tidak mencari mereka.


"Vano ngasih kita tugas dadakan bener-bener tanpa alasan kan?" tanya Raya, Bara menggelengkan kepalanya


"Gue gak yakin," balas Bara


"Cari Anaya sekarang," Raya dan Bara langsung pergi meninggalkan job mereka, bahkan mereka belum sempat men-save nya.


***


Anaya terdiam disudut kamar mandi, memegangi lututnya, seluruh badannya terasa remuk, dia memang sempat jadi bahan gunjingan sebelumnya, tapi dibully sampai lebam begini, baru dia merasakannya.


Cklek


pintu kamar mandi terbuka, menampakan Risa dan sabrina yang wajahnya tampak khawatir.


"Anaya, Lo ga apa-apa?" tanya Risa sambil memegangi tubuh Anaya


"Sabrina, ayo panggil anak PMR lain buat bantu Anaya," ucap Risa dengan wajahnya yang tampak khawatir.


Dengan cepat, Sabrina pun memanggil anak PMR yang bertugas untuk membawa Anaya.


***


Bara dan Raya terus mencari Anaya, dikelas tidak ada, di perpustakaan, dikantin, dikantor, pun tak ada.


"Raya, lu yakin dia sekolah hari ini?" tanya Bara


"Gue udah chat kakaknya katanya Anaya sekolah," balas Raya


Raya lalu teringat sesuatu, mereka belum mengecek kamar mandi, mungkin Anaya ada disana sekarang.


"Kamar mandi," Raya dan Bara langsung berlari menuju kamar mandi


namun, begitu mereka sampai disana, hanya ada keheningan yang menyambut, tidak ada siapa-siapa disana.


"Argh, Anaya, lu dimana sih?" tanya Raya sambil menghentakkan kakinya kalau sampai terjadi sesuatu pada Anaya, dia tak akan memaafkan dirinya sendiri.


"Bara! Raya! Kalian kemana aja? itu Anaya luka parah di UKS," ucap Sabrina pada Bara dan Raya


Tanpa mengucapkan apa-apa, Raya dan Bara langsung berlari kearah UKS diikuti Sabrina.


Raya dan Bara langsung membuka pintu UKS secara paksa. Membuat Sabrina menahan geram. Melihat pintu UKS kesayangannya dibuka paksa.


"Anaya!!" Raya berteriak keras melihat tubuh Anaya yang terdapat banyak lebam


Raya lalu menatap Risa dengan marah dan langsung menarik kerah Risa, dan mendekatkan wajahnya.


"Lu apain Anaya?!" tanya Raya dengan penuh penekanan


"Bukan gue," ucap Risa


"Iya, Risa sama gue tadinya mau ke air bareng, cuma kita ngeliat Anaya jadi kita bantuin," Sabrina membantu Risa bicara


Dengan geram Raya menghempas Risa. Raya lalu beralih menatap Anaya dengan sendu, dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Anaya, maaf harusnya gue gak lupain lu," ucap Raya sambil meredam tangisnya


Bara hanya tertawa melihat Raya seperti itu, ternyata dibalik kesadisan Raya terdapat Raya yang rapuh dan kekanak-kanakan.


"Gue gak apa-apa Ray," balas Anaya sambil berderai air mata, dia masih memikirkan bagaimana melewati hari-harinya setelah gosip ini menyebar


"Risa makasih ya," ucap Anaya sambil tersenyum tulus


"Sama-sama, gue kelas duluan ya," ucap Risa lalu berlenggang meninggalkan Anaya


Setelah diluar, Risa menerima sebuah pesan singkat.


"permainan baru aja dimulai, jangan kegirangan dulu,"


setelah itu sebuah senyum licik tersungging di bibir Risa.


"Gue bisa ngurus sisanya,"


setelah itu, Risa tersenyum lebar seolah dia baru saja memenangkan undian.