
“Semua yang terjadi, biarkan diri kita membayangkannya dengan imajinasi”
***
Anaya sedang merapikan bajunya didepan cermin yang memantulkan dirinya. Hari ini hari minggu memang, tak biasanya Anaya bersiap, kakak nya yang melihat Anaya pun bersandar di pintu kamar Anaya.
"Mau kemana? Adik yang nyebelin ini?" tanya Adlan
"Mau pacaran," Anaya terkekeh ketika mengatakannya
"Sama siapa? sama cowok nyebelin itu?" Adlan tersenyum jail, mana ada adiknya yang terakhir kali putus sama tali pusar ini punya pacar.
"Kepo deh," Anaya terkekeh, lalu setelah selesai merapikan bajunya, dia menghadap ke abangnya
"Anaya hari ini cuma mau ngeliput berita bang haha," ucap Anaya
"Anaya berangkat ya," pamit Anaya
"Sekalian gak usah balik lagi," canda Alden, Anaya hanya mencebik.
"Eh bang, mama kemana?" tanya Anaya
"Ke rumah Tante Nina tadi," balas Alden sambil melangkah ke kamarnya.
Anaya lalu cepat-cepat keluar rumah, saat membuka pintu, dia melihat Kris sudah berdiri dihadapannya.
"Mau pacaran sama siapa?" Tanya Kris, mata Anaya membulat, jadi Kris nguping?
"Ih, apasih?" Anaya mendelik menghindari tatapan Kris
"Oh ini pacar Anaya?" tanya Adlan dibelakang Anaya, membuat Anaya refleks membalik tubuhnya
"Abang apaan si?" kesal Anaya, Kris dan Adlan terkekeh melihat Anaya
"Yaudah berangkat gih nanti pacarannya sebentar," ucap Adlan
"Makasih bang, berangkat ya," ucap Kris sambil berjalan menuju motornya
"Emang agak nyebelin sih," ucap abangnya sambil tertawa, Anaya mendelik saja.
Anaya lalu menghampiri motor Kris.
"Kris jalan aja, deket kok tinggal nyebrang," ucap Anaya, Kris hanya mengangguk
Anaya dan Kris lalu berjalan menuju zebra cross. Mereka menunggu lampu merah menyala, kemudian menyebrang jalan yang sedang ramai itu.
"Kris tadi lu nguping ya?" tanya Anaya, Kris mengedikan bahunya
"Gak sengaja denger," balasnya, membuat Anaya memajukan bibirnya, Anaya bingung mau bilang apa lagi
"Gue tau itu bercanda," ucap Kris sambil membuka pintu cafe, Anaya lalu tersenyum lega
Mereka memilih tempat duduk didekat jendela yang menyuguhkan halaman yang asri.
"Mau pesen apa?" tanya Anaya
"Bebas ni pesen apa aja?" tanya Kris dengan senyuman jahil
"Asal jangan yang mahal," Anaya memberengut, takut isi dompetnya tidak mencukupi, Kris tertawa melihat Anaya.
ting!
Pintu Cafe terbuka, Kris dan Anaya refleks menoleh ke pintu itu. Mereka terkejut karna melihat Bara dan Raya, begitu pula dengan Bara dan Raya.
"Kalian ngapain?" tanya Raya curiga sambil menyipitkan matanya
"Kalian juga ngapain?" tanya Kris menyipitkan matanya, Bara dan Anaya lalu berdehem bingung mau membalas apa
"Kita lagi ada proyek mading," ucap Raya
"Ketemuan diluar?" tanya Anaya
"Kalian juga," ucap Bara sambil tersenyum
"ketemuan diluar," sambung Raya
Kris dan Anaya hanya terdiam canggung, tak sadar bahwa yang mereka katakan akan menjadi Boomerang untuk mereka sendiri.
"Udah deh, kalian sini gabung," ucap Anaya memberikan ruang
"Gabung-gabung, emangnya kantin sekolah? orang kursinya aja cuma ada dua," ucap Raya kesal atas kecerobohan Anaya
"Eh? Iya lupa," gumam Anaya
"Kita kebelakang ya? biar kalian enak ngobrolnya," ucap Bara sambil menarik tangan Raya untuk menjauh
Anaya yang melihatnya hanya melongo, proyek mading apaan yang sampai main tarik-tarikan tangan.
"Kenapa? Mau ditarik juga?" tanya Kris
"Gak usah nyebelin, bisa?" tanya Anaya
"Yaudah, gw keluar aja, beres," kekeh Kris, membuat Anaya makin sebal
"Eh mau pesen apa?" tanya Anaya mengalihkan pembicaraan yang menyebalkan
"Samain sama lu," balas Kris
Anaya memanggil Waiters lalu menyebutkan pesanannya. Tak lama waiters itupun datang membawa pesanan mereka.
"Yaudah mulai aja wawancaranya," ucap Kris, Anaya mengangguk lalu mulai bertanya dan mencatat jawaban Kris
***
Raya dan Bara sedang memperhatikan Kris dan Anaya tanpa berkedip, seolah Anaya dan Kris itu mangsa mereka.
"Wah menurut gue, Anaya sama Kris itu kesini lebih dari sekadar ngeliput berita," ucap Bara, diangguki Raya
"Iya gue juga setuju, eh btw lepasin dulu tangan Lo dari tangan gue," ucap Raya sambil melepaskan tangan Bara, mereka pun berdehem canggung
Ya, Bara dan Raya kemari karna ingin memata-matai Anaya dan Kris, hari itu Raya tak sengaja melihat room chat Anaya dan Kris, jadilah ia mengajak bara untuk memata-matai sahabat mereka masing-masing.
"Eh, tapi gimana kalau Kris sama Anaya juga nyangka kita pacaran?" tanya Bara, membuat Raya melotot kearahnya
"Jangan bilang yang nggak-nggak dong," balas Raya sambil mendelik, membuat Bara terkekeh, susah memang untuk sekadar memenangkan hati Raya.
***
25 menit berlalu, Anaya telah selesai mewawancarai Kris, dia pun berdiri untuk membayar pesanan sesuai janjinya.
"Anaya, gue aja yang bayar," ucap Kris sambil bangun
"Gue kan udah janji Kris," balas Anaya
"Gak enak di traktir cewek," ucap Kris jujur, harga dirinya mau ditaruh dimana?
"Kris, gue kan udah janji, plis lah," ucap Anaya sambil memasang muka melas, Kris yang tak tega pun hanya mengangguk pasrah
Bara dan Raya yang melihat hal itu pun langsung menghampiri Kris dan Anaya. Raya lalu menarik tangan Anaya.
"Nay, kerumah Lo yuk? masih siang nih, masa mau langsung pulang?" ucap Raya setengah memaksa, membuat Anaya enggan menolak, tapi dirumahnya ada kakaknya kan?
"Setuju kan lu Kris?" tanya Bara
"Gue sih ikut aja," balas Kris
"Heh, yaudah iya ayo kerumah gue," ucap Anaya, membuat Raya dan Bara hampir melompat kegirangan.
Mereka pun berjalan bersama ke rumah Anaya. Setelah sampai, Anaya membuka pintu rumahnya, dan teman-temannya masuk tanpa dipersilahkan oleh Anaya, memang benar-benar mereka itu.
"Wah ada PS," ucap Bara sambil duduk dan mulai memegang stik PS, begitu pula dengan Kris
Raya pun duduk di dekat Kris dan Bara, Anaya menggelengkan kepalanya, lalu melihat kearah pintu kamar kakaknya, semoga kakaknya sedang tidur atau tidak ada dirumah.
Anaya lalu pergi ke dapur untuk mengambil beberapa camilan. Anaya membuka kulkas lalu mengambil beberapa makanan ringan persediaannya.
Ia lalu mengambil sirup dan menuangkannya pada 4 gelas.
"Butuh bantuan?" tanya Kris, menirukan gaya bicara Anaya saat hendak membantunya memilah berkas diruang Osis, Anaya tersenyum lalu menggeleng
"Bentar lagi selesai," ucap Anaya
Anaya lalu menaruh gelas di nampan, camilan nya pun ia taruh di nampan, namun tidak muat sepertinya, Anaya pun gelagapan, minta bantuan Kris? tadi dia sudah menolak.
Tanpa diminta, Kris mengambil alih sebagian camilan yang dibawa Anaya.
"Kalau butuh bantuan bilang aja," ucapnya sambil berlalu, membuat Anaya gemas ingin mengumpat
Mereka lalu berjalan bersama dan meletakan camilan didekat tempat duduk mereka.
"Wah mantep," ucap Raya sambil meminum sirupnya, begitu pula dengan Bara, Kris, dan Anaya.
cklek
suara pintu kamar Adlan terbuka, Adlan pun terkejut melihat orang-orang dihadapannya.
Anaya dan teman-temannya pun terkejut, karna Adlan menampakkan diri hanya dengan menggunakan boxer dengan bertelanjang dada.
Adlan pun langsung buru-buru menutup pintu kamarnya lagi untuk menutupi dirinya, dalam hati Adlan mengumpat pada adiknya yang membawa tamu tanpa permisi.
Kris, dan Bara sudah tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah kakak Anaya yang memerah tadi.
"Kakakmu Nay?" tanya Raya sambil bertopang dagu
"I-iya," balas Anaya ragu sekaligus malu
"Ganteng," ucap Raya, membuat Anaya meringis, mengira Raya sedang sakit mengatakannya
"Udah punya pacar?" tanya Raya, Anaya mengangguk
"Kalau gak salah masih pacaran sama mbak Nisa," ucap Anaya, membuat Raya memasang wajah kecewa, membuat Anaya tertawa melihatnya
"Rasain," ucap Bara sambil memikul bahu Raya pelan
"Bilang aja cemburu," ucap Kris sambil memakan keripik yang dibawa Anaya tadi
"Gak lucu," ucap Bara
Anaya lalu menatap buku yang tadi berisi hasil wawancaranya dengan Kris yang nantinya akan diangkat menjadi berita selebschool, Anaya lalu menatap ketiga temannya yang sedang tertawa-tawa, tiba-tiba saja keraguan menyergap dirinya untuk tidak mempublish berita itu.
Namun Anaya buru-buru mengenyahkan pikiran itu, semoga tidak akan ada kejadian buruk walaupun dia mempublikasikan berita itu, setelah itu, Anaya pun bergabung bersama teman-temannya.
***