Different With You

Different With You
Kris's Mother



"Mama?!" tanya Kris sambil menghambur kearah mamanya yang tengah terbaring lemah dengan berbagai alat di tubuhnya


Mama Kris mengalami koma, kondisinya bahkan sangat kurus, Kris menenggelamkan wajahnya sambil memegang tangan Hana.


"Ma, Kris kangen," ucap Kris sambil memegang tangan Hana


"Maafin Kris ma, Kris gak pernah bener-bener berusaha ketemu sama mama," ucap Kris lagi


Kris memejamkan matanya sambil mencium punggung tangan mamanya. Kris sangat rindu pada mamanya namun, saat dia menemukan mamanya sudah dalam keadaan seperti ini.


Sret


Pintu rumah sakit terbuka, menampakkan Moyra yang tengah berdiri sambil menatap Kris dengan iba, Moyra melangkahkan kakinya kearah Kris yang sedang tenggelam dalam tangan ibunya.


Namun langkah Moyra terhenti begitu melihat Kris yang enggan melirik Moyra. Moyra menghela nafas panjang.


"Kris," panggil Moyra


"Tolong, tinggalin gue sendiri," pinta Kris


Moyra menatap lantai yang dia pijak, buliran bening mengalir di pipinya, sungguh dia menyesal apa yang telah terjadi dimasa lalu, tubuhnya mulai gemetar, ah lagi-lagi dalam kondisi seperti ini!


"Gue tinggal," pamit Moyra sambil meninggalkan Kris


Moyra menatap Kris sekali lagi saat ia sudah dibalik pintu, sekali saja, Moyra tidak akan egois, ya, hari ini saja. Kemudian Moyra mengabaikan tubuhnya yang semakin lemas dan malah menelpon seseorang.


"H-halo?" sapa Moyra sambil menghapus air matanya


"..."


"Lu harus datang, Kris butuh lu," sekali lagi Moyra menahan air matanya yang turun


"..."


"Nanti gue send alamat rumah sakitnya, gausah cerewet,"


klik


Moyra langsung pergi meninggalkan tempat Kris, menuju toilet.


***


Sret


lagi-lagi pintu rumah sakit terbuka, dengan sebal Kris langsung berujar tanpa mengalihkan pandangannya.


"Udah gue bilang gue pengen sen—" ujar Kris, namun dia melunak saat yang dihadapannya adalah Anaya


Anaya menatap Kris dengan tatapan sedih, ternyata Kris yang selama ini dia anggap kuat dan dingin adalah seorang yang lemah dan rapuh dihadapan mamanya.


"Ngapain?" tanya Kris sambil menghapus air matanya dan bangkit


Anaya mendekati Kris sambil berusaha menyentuh bahu Kris untuk menenangkannya, namun tangannya ditepis.


"Pulang, Anaya!" ucap Kris dingin


glek


Baru kali ini Anaya melihat Kris sedingin itu padanya. Namun Anaya tidak mengalihkan tatapannya pada tatapan Kris. Kris yang menangkap sedikit ekspresi ketakutan Anaya langsung menunduk lelah, Kris merasa jahat.


Kris mendekati Anaya lalu mengusap pucuk kepala Anaya, sambil tersenyum. Tentu saja dia memaksakan senyumannya.


"Maaf ya, lu pulang aja hari ini, gue baik-baik aja kok," ucap Kris, Anaya tak tahan lagi, air matanya keluar


Namun Anaya melebarkan tangannya dan memeluk Kris.


"Kris jangan pura-pura kuat, kalau lu mau nangis, nangis aja dibahu gue, gue gak akan liat," ucap Anaya sambil memejamkan matanya


tuk


Kris menyentil dahi Anaya sambil menatap Anaya, membuat wajah keduanya saling bertatapan dan sangat dekat.


"Ngomong apa sih?" tanya Kris sambil tersenyum "Ini kenapa lagi segala peluk-peluk?" lanjutnya


Seketika pipi Anaya bersemu, ah bodohnya! Pipi Anaya sangat tidak tahu situasi kondisi. Anaya melepaskan pelukannya lalu berdehem, jika tidak sedang dalam keadaan begini Kris pasti sudah mengejeknya.


"Biasanya perempuan suka kalau lagi sedih terus dipeluk sambil nangis," ucap Anaya dengan terus terang


"Laki-laki itu beda sama perempuan," balas Kris sambil kembali memegang tangan mamanya


"Kenapa beda? Bukannya sama-sama punya perasaan?" tanya Anaya lagi


"Dasar cewek konyol, bedanya kalau cewek lebih ekspresif, kalau cowok biasanya gak terlalu ekspresif," ucap Kris namun pandangannya tetap menatap mamanya, Anaya pun ikut menatap mama Kris


"Mama lu cantik," ucap Anaya sambil menghapus air matanya


"mangkanya mama ngelahirin anak tampan," ucap Kris membuat Anaya berdecak kesal, bisa-bisanya dia dalam keadaan seperti ini.


"Kris papa kamu gak kesini bareng?" tanya Anaya membuat Kris terdiam, hampir saja dia melupakan papanya.


"Eh iya, Anaya, lu bisa kan jaga mama gue sebentar?" tanya Kris, Anaya mengangguk. Kris kemudian pergi meninggalkan Anaya.


Anaya memegangi tangan mama Kris sambil mengusap-usap tangan yang mulai keriput itu.


"mama, cepet bangun ya, Kris kelihatan sedih banget, mama pasti bisa bangun, aku yakin," lirih Anaya lagi-lagi air matanya turun


Sret


"Moyra," Anaya mengalihkan pandangannya "Makasih udah ngabarin gue," ucap Anaya


"Cih! Jangan mikir gue udah Nyerah sama Kris, ini semua buat Kris, bukan buat lu," kesal Moyra


Namun Anaya bangkit dan segera memeluk Moyra.


"Terserah lu, bagi gue lu itu cewek baik, bukan cewek egois seperti yang orang lain bilang, seenggaknya itu pendapat gue," lirih Anaya


***


Kris menelpon mama angkatnya sambil mondar-mandir di depan toilet laki-laki, tak lama kemudian telpon pun tersambung.


"Hallo?" sapa Kris


"iya,"


"Papa gimana tan?" tanya Kris


"Gak baik,"


"Kasih tau detailnya dong tante,"


"yaudah sabar, penyakit jantungnya kumat, tapi papa kamu udah lebih baik dari sebelumnya, dia juga udah sadar, sekarang aja lagi liatin Tante,"


Kris menghela nafas lega mendengarnya.


"Boleh kasih hp nya ke papa?" tanya Kris


"Kris," kali ini papanya yang bicara


"hmm?"


"papa minta maaf, harusnya papa gak ngejauhin kamu dari mama kamu,"


"Cepet sembuh ya pa, bicarain ini nanti aja, Kris tutup ya?"


Klik


Kris menutup telponnya. Kemudian berjalan kekamar inap mamanya lagi.


Saat kembali, Kris melihat Anaya yang tengah memegang tangan mamanya, membuat Kris tersenyum tanpa sadar.


"Kris tadi ada Moyra," ucap Anaya yang menyadari kehadiran Kris, Kris mengangguk tak acuh saja, membuat Anaya menghela nafas panjang


"Anaya, gue laper, makan dulu, gimana?" tanya Kris, mengalihkan pembicaraan Anaya mengangguk


"Tapi beli makanan aja ya? nanti kita makannya di rooftop ada yang mau gue omongin," balas Anaya


"Se serius itu?" tanya Kris dengan kening mengernyit


"Mungkin," balas Anaya


"Yaudah terserah,"


"Mama, aku sama Kris pamit makan dulu," ucap Anaya sambil mencium punggung tangan mama Kris


"Mama?" tanya Kris menatap Anaya heran.


"Iya, gak boleh?" tanya Anaya "padahal nyaman kalau manggil mama, jadi berasa akrab," sambungnya.


"biar nyaman ya?" tanya Kris "Kirain biar terbiasa manggil mama pas udah jadi mertua," sambung Kris dengan konyol.


"Kris apa sih?" tanya Anaya dengan wajah memerah, baperin aja terus, diresmiinnya belum sampai sekarang.


Anaya langsung melenggang mendahului Kris, sedangkan Kris keluar setelah menarik selimut mamanya lebih tinggi.


"Mama cepet bangun ya?" pinta Kris sambil mencium pipi mamanya


Anaya yang melihatnya dari luar pintu tersenyum, tiba-tiba saja Anaya teringat akan mamanya juga hmm selama ini dia lebih sering mengeluh daripada memeluk mamanya.


Tep


Kris menepuk bahu Anaya yang tengah membayangkan ibunya.


"Eh! bikin kaget aja sih!" gerutu Anaya membuat Kris sedikit tersenyum


"Kenapa?" tanya Kris


"Lu ternyata anak yang manis ya?" tanya Anaya


"Baru sadar ya? kalau gue manis?" tanya Kris


"Kriiiis nyesel muji banget kan gue jadinya," balas Anaya kesal


***


Ekhem! hai readers hehe, aku baru up ya? Banyak hal yang bikin aku sibuk akhir-akhir ini, aku juga sempet drop ☹️ mungkin kedepannya aku bakal usahain update teratur!


Maaf ya 🙏