Different With You

Different With You
Pertemuan Sial



Kris berjalan di lorong sekolah, membelah beberapa kerumunan siswa yang sedang berjalan. Langkahnya diikuti macam-macam tatapan dari setiap orang yang dilewatinya.


Hanya Bara yang mampu berjalan disamping Kris. Bara adalah satu-satunya sahabat Kris sejak kecil sampai sekarang.


Saat Kris sedang berjalan dengan sedikit angkuh, seorang perempuan berdiri dihadapannya dan menghentikan langkah Kris. Saat perempuan itu hendak bicara, Kris memotongnya.


"Minggir," ucap Kris dingin, perempuan tadi mengernyit heran


"Gue mau tanya, kelas XI IPA 1 dimana?" Tanya perempuan yang bernama Anaya itu


"Cara lo modus murahan," balas Kris dengan penuh penekanan


Anaya ternganga, lalu melotot. Modus? Untuk apa Anaya modus pada laki-laki tengil dihadapannya ini?


"Kalau gak mau kasih tau ya bilang aja," balas Anaya sambil meninggalkan Kris sambil berjalan menuju siswa lain untuk bertanya


Kris terdiam sesaat, mungkin gadis tadi memang benar-benar bertanya, bukan maksud modus atau semacamnya.


"Kris, menurut gue lu berlebihan," ucap Bara


Sebenarnya Kris pun sependapat dengan temannya. Namun Kris tetaplah Kris, dia tak mau ambil pusing lalu melanjutkan perjalanannya setelah mengedikan bahu.


***


Teett... teett.. teett...


Suara bel berbunyi, menandakan sebentar lagi jam pelajaran akan dimulai, dan Kris hanya mendengus malas. Pasalnya jam pertama hari ini diisi oleh Bu Lesy, wali kelasnya yang mengajar Fisika. Salah satu pelajaran yang Kris murkai.


Kris lalu menyembunyikan kepalanya di kedua lipatan tangannya. Tak lama, Bu Lesy datang dengan seorang murid perempuan yang merupakan murid baru.


"Pagi anak-anak," ucap Bu Lesy


"Pagi Bu," balas para siswa


"Hari ini ada Siswi baru, Anaya silahkan perkenalan diri," Pinta Bu Lesy


"Nama saya Anaya Queenzy, pindahan dari SMA 4," ucap Anaya dengan senyuman


Kris lalu menegakkan kepalanya, berusaha memastikan bahwa murid baru itu adalah perempuan yang dia temui di koridor sekolah pagi tadi.


"Cewek tadi Kris, dia beneran anak baru ternyata," ucap Bara sambil menyiku tangan Kris


"Tau," balas Kris lalu melirik Anaya lagi


Anaya sama sekali tidak peduli dengan Kris, padahal barusan mereka sempat berpandangan. Anaya yang diperintahkan untuk duduk pun menurut.


Anaya duduk dengan Raya, tanpa sadar, Kris memerhatikan Anaya sampai sejauh itu. Kris bahkan tau bahwa Anaya hanya memiliki lesung pipi satu.


"Kris, jangan diliatin terus, Anaya-nya gak akan ilang kok," ucap Bara dengan gaya sok imut


"Berisik lo," Kris mendelik, lalu merebahkan kepalanya dimeja dan memejamkan mata


"Susah emang bercanda sama patung es," kesal Bara


Bara melihat bahu Kris terguncang karna tawa, sayang sekali tawa Kris jarang terlihat sejak terjadinya sebuah insiden. Bara menggelengkan kepalanya, berusaha untuk tidak mengingat-ingat kembali kejadian itu.


Di kejauhan, Anaya melihat kearah Kris, namun dengan tatapan kesal. Anaya juga tak luput untuk merutuki Kris dalam hatinya, hari pertamanya harus memalukan gara-gara salah paham yang tidak jelas itu.


"Anaya, Kris ganteng ya? tapi sayang dia kayak es, cuma bisa kita pandang," ucap Raya sambil bertopang dagu


Anaya sebenarnya sangat ingin menentang ucapan Raya, tapi jika dia mendumel didepan Raya rasanya tidak mungkin, karna ini hari pertamanya, jadi dia harus menahannya.


Anaya hanya tersenyum samar, lalu mengangkat kedua bahunya.


***


Bel istirahat berbunyi, semua siswa berhamburan ke kantin untuk mengisi perutnya.


Begitu pula dengan Anaya, dia juga hendak ke kantin bersama Raya, namun pandangannya lagi-lagi teralihkan pada Kris.


Sialnya, pandangan mereka bertemu, namun dengan santainya, Kris mengangkat sebelah alisnya, seolah-oleh berkata 'Apa lo liat-liat?'. Anaya lalu mendelik malas, bukannya minta maaf cowok itu malah membuatnya tambah jengkel.


"Jadi ke kantin gak Nay?" tanya Raya, Anaya mengangguk saja lalu mengikuti langkah Raya


Di kelas, Kris hanya tersenyum, melihat tingkah Anaya yang kekanakan. Jarang dia melihat tatapan galak seperti itu, itu membuat seorang Anaya menorehkan kesan pada Kris.


"Ngapain senyum?" tanya Bara dengan tatapan jail, sebenarnya bara tau Kris sedang tersenyum konyol melihat Anaya.


"Senyum ditanyain, gak senyum dibacotin, mau lu apa?" tanya Kris dengan wajah datarnya


Bara lalu tersenyum geli dan memakan bekal yang dibawa oleh Kris. Bara tahu Kris tidak akan memakan bekalnya, karna Kris tidak suka masakan mama barunya. Entah Bara ini tipe teman yang seperti apa.


"Kris, lu sependapat kan sama gue, kalau Anaya itu menarik?" tanya Bara, memancing sisi sensitif Kris


"gak," balas Kris singkat sambil meminum air yang dibawanya


"Susah emang ngomong sama—" ucapan Bara terpotong oleh seseorang yang baru masuk kelas


"Cowok tengil," potong Anaya sambil menyedot air yang dibawanya.


Kris melotot. Cowok apa? Pendengarannya gak salah kan? Lagipula cepat sekali Anaya kembali dari kantin.


Raya terkesiap, buru-buru dia menutupi, untuk menghindari ledakan yang akan terjadi.


"E-eh maksud Anaya tuh cowok gue, iya! kita lagi ngomongin cowok gue!" ucap Raya berusaha menahan ledakan


"Emang lu punya cowok Ray?" tanya Bara sambil cekikikan, dia tau Raya berbohong


Raya yang ketahuan berbohong pun wajahnya memerah, lalu buru-buru dia duduk di kursinya.


"Lu bilang gue tengil?" tanya Kris pada Anaya


Anaya hanya mengangkat bahunya dengan ringan lalu duduk dikursinya.


"Lu ngerasa?" Tanya Anaya sambil pura-pura fokus pada makanannya


Baru saja Kris hendak menyangkal, Seseorang memotong.


"Kriiis, rapat OSIS sekarang," ucap cewek yang berada di ambang pintu, senyumannya khas senyuman ABG centil, dia biasa dipanggil Risa


Kris lalu bangkit dari duduknya, dan menatap Anaya dengan tatapan 'Kita belum selesai'. Setelah itu, dia pun mengikuti Risa. Sedangkan Anaya diam-diam menjulurkan lidahnya.


"Lu kenapa sih bikin gara-gara sama si Kris?" tanya Raya


"Tanyain juga sama dia, kenapa waktu pagi bikin gara-gara sama gue?" ucap Anaya tak tahan lagi


"Dia emang gitu sama semua cewek," Bara menjawab pertanyaan Anaya


"Sinting," umpat Anaya


Bara dan Raya tertawa, beberapa anak yang mendengarnya juga mengulum senyum. Seolah Anaya menyuarakan hal yang selama ini mereka pendam dalam-dalam.


***