Different With You

Different With You
Masa Lalu



Raya masih menatap Anaya yang terbaring di UKS sambil terus menaruh es dibagian tubuh Anaya yang lebam.


"Sakit banget ya?" tanya Raya, Anaya hanya mengangguk sebagai jawaban


"Lu diginiin sama siapa?" tanya Bara


"Aufa, Nadya," balas Anaya


"Kok bisa sih? Bukannya mereka antek-anteknya Risa?" tanya Raya


"Risa, Nadya, sama Aufa lagi musuhan, mangkanya tadi dia ke kamar mandi bareng gue," timpal Sabrina


Raya hanya mengerutkan dahinya dan menatap Anaya, apa sebenarnya yang membuat Anaya jadi begini.


"Anaya, mereka nge bully lu gara-gara apa?" tanya Raya, membuat Anaya tersentak.


Anaya tersenyum sambil menatap lurus ke depan, bagaimana pun Raya harus tahu karna cepat atau lambat Raya akan tahu dengan sendirinya.


"Lu pilih aja dulu, mau denger langsung dari gue atau dari orang-orang," ucap Anaya pada Raya, Raya hanya mengedikkan bahunya


"Gue lebih percaya sama orang yang ngomong langsung daripada sama gosip, jadi harus lu yang cerita," ucap Raya, Anaya lalu mengangguk


"Janji gak akan jauhin gue setelah tau," ucap Anaya sambil mengacungkan jari kelingking


"Janji," balas Raya


"Ini tentang gosip papa gue yang beredar Ray, dulu dia salah satu pegawai PNS yang banyak korupsi," Anaya tersenyum sambil menahan air mata


"Gue juga dulu anak yang arogan, karna kekayaan orang tua gue yang sama sekali gue gak tau kalau itu hasil korupsi," air mata Anaya mulai turun dengan sendirinya


"Gue juga dulu punya temen banyak, gue juga pernah ikutan bully orang, tapi cuma sekali, itu pun ngata-ngatain aja," Anaya mulai terisak


"Setelah itu, gak lama polisi datang ke rumah, nangkep papa, pegawai bank, KPK juga sering bolak-balik datang ke rumah, saat itu gue ancur-ancuran," Anaya mulai menangis


Raya lalu memeluk Anaya dengan erat, Raya tidak tahu Anaya yang sering itu punya masalah serumit ini.


"Jadi ini, alesan lu pindah sekolah?" tanya Raya, Anaya mengangguk


"SMP, SMA, udah gak keitung berapa kali gue pindah," Anaya terkekeh


"Sejak waktu papa gue ketahuan korupsi di sekolah kejadian kaya gini selalu terulang, bahkan kadang lebih parah," kali ini Anaya menangis


"Ray, gue harus apa? apa ini karma buat gue? padahal Ray gue udah minta maaf sama orang yang pernah gue kata-katain," sambung Anaya


Bara yang sedari tadi hanya menyimak, langsung ikut bergabung dan mengusap punggung Anaya, mencoba menyalurkan kekuatan.


"Anaya, dari apapun cara papa lu dapet duit, itu bukan salah lu, karna lu gak nyuruh dan lu jangan pernah ngerasa sendirian, kita bakalan ada terus buat lu," ucap Bara


"Nay, papa lu dimana sekarang?" tanya Raya


"Papa meninggal waktu kecelakaan mobil, tapi waktu itu papa udah bener-bener berubah, papa udah gak ngambilin uang kotor lagi," balas Anaya


Bara dan Raya saling berpandangan, mereka tidak bisa membayangkan sesakit apa rasanya dibully padahal bukan kita yang melakukan, lalu kabar buruk yang beredar padahal papa Anaya sudah meninggal.


"Nay, jangan pindah sekolah," ucap Raya menahan tangis, Anaya menggeleng lalu memeluk Raya


"Mana bisa gue ninggalin sahabat kaya lu Ray," ucap Anaya


"Yah gue digaringin," Bara menggeleng


klik


seseorang baru saja selesai merekam apa yang diucapkan Anaya tadi lalu tersenyum licik.


"Kira-kira siapa yang nyebar gosip itu disini?" tanya Bara


Raya dan Anaya pun Saling mengernyitkan dahi, mereka yang semula tidak memiliki pertanyaan seperti itu langsung memikirkannya.


"Bara, lu kan jago banget cari informasi," ucap Raya sambil tersenyum


"Terus?" tanya Bara sambil mengangkat sebelah alisnya


"Bantuin," balas Anaya dan Raya sambil.mengeluarkan puppy eyes


"iya deh nanti gue cari tahu," ucap Bara sambil menggeleng


klek


pintu UKS terbuka, menampakkan Risa yang membawa 5 teh botol dikantong kresek.


"Sabrina, setahu gue lu lagi gak tugas, kenapa ada disini? bukannya tadi udah bell masuk?" tanya Risa


Risa lalu menaruhnya teh botol didekat Sabrina, dan ia membagikan teh botol juga pada Bara, Raya, Anaya dan dirinya sendiri.


"Udah baikan?" tanya Risa pada Anaya, Anaya hanya mengangguk-angguk


"Lain kali kalau mau kemana-mana jangan sendiri, kalau Bara, Raya, sama Kris lagi sibuk, lu bisa minta anter sama gue," kata Risa


"Makasih," ucap Anaya


"Yaudah gue ke kelas dulu, yang nemenin mau Bara apa Raya?" tanya Risa


"Raya aja," balas Bara


Risa dan Bara kemudian beranjak dan langsung meninggalkan UKS.


"Gue masih gak abis pikir," ucap Raya dengan tatapan lurus dan kosong


"kenapa?" tanya Anaya


"Orang-orang pada ngebully lu, padahal bukan kesalahan lu," Raya berdecak dengan geram


"Gapapa Raya, terkadang manusia itu lebih percaya sama telinga daripada sama mata dan hati," ucap Anaya


"Tapi gue tau satu hal kayanya," ucap Sabrina sambil bertopang dagu


"Apaan?" tanya Raya dan Anaya bersamaan


"Orang yang nyebarin gosip itu orang yang bener-bener pengen lu minggat dari sekolah ini," balas Sabrina


"Risa?" tanya Raya, setahu Raya Risa sangat ingin Anaya lenyap dari sekolah ini agar dia bisa bebas bersamaan dengan Kris, Sabrina hanya menampakan senyuman miring


"Gue gatau, yang jelas itu clue pertama," balas Sabrina lalu kembali sibuk mencatat daftar hadir UKS yang sedikit di manipulasi


Anaya dan Raya hanya menatap Sabrina dengan tatapan datar, Sabrina benar-benar berhasil membuat tanda tanya besar dikepala Anaya dan Raya.


***


Langkah Raya terhenti, Raya kemudian menarik Bara juga untuk berhenti.


"Kenapa?" tanya Bara


"Anaya ngomong apa aja di UKS tadi?" tanya Risa


"Ngapain lu nanya kayak gituan? Jangan-jangan lu mau sebarin lagi gosip tentang Anaya," ucap Bara


"Gosip? Lu pikir gue yang nyebar berita buruk kayak gitu? Lu pikir gue sepicik itu?" tanya Risa


"Gue gak tau," balas Bara


"Coba aja tanya sama diri lu," lanjut Bara


"Kalau lu bilang lu nggak nyebar, berarti yang nyebar, ya budak Lo," setelah itu Bara langsung meninggalkan Risa yang terbakar emosi


Risa mengejar Bara lalu Risa berhenti tepat dihadapan Bara.


"Apaan?" tanya Bara


Plak


Risa menampar Bara, keras sekali. Nafas Risa pun tersengal-sengal.


"Kenapa gak lu cari tau aja siapa yang nyebarin berita itu," ucap Risa


"Percuma, pas gue temuin itu pasti bukan lu, tapi orang bayaran lu," balas Bara


Saat Risa hendak menampar lagi, Bu Rina, guru BK menghampiri Risa dan menahan tangannya.


"Tolong jangan pakai kekerasan disekolah Risa," ucap Bu Rina


Risa menatap Bara penuh emosi, lalu Risa melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Bara dan Bu Rina.


"Bara, kamu juga masuk kelas sana," ucap Bu Rina


"siap Bu, permisi," ucap Bara sambil meninggalkan Bu Rina.