Different With You

Different With You
Perjanjian



Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt...


Anaya terbangun mendengar suara hp nya berdering, dengan malas-malasan Anaya mengangkat telponnya lalu menempelkannya di kuping.


"Hallo," sapa Anaya sambil setengah bergumam


"Pagi Anaya," sapa seseorang disebrang sana


Anaya langsung beranjak dari tidurnya dan melihat kearah jam dinding, baru pukul 04.45, untuk apa Moyra menelpon Anaya sepagi ini? namun sedetik kemudian, Anaya tersadar, pasti ini tentang Raya dan Bara.


"Temen-temen kamu mau ngomong katanya, sebentar," ucap Moyra, lalu hening sejenak


"Anaya?" sapa Raya, dengan suara yang sedikit bergetar


"Raya, lu dimana?" tanya Anaya


***


Dipelipis Raya menempel sebuah moncong pistol, tentu saja Moyra yang memegangnya.


"Awas aja kalau sampe kamu bilang, kamu ada dimana," ucap Moyra penuh penekanan, Raya mengangguk


Bara terlihat lemas dan tertidur disudut ruangan, setelah melakukan upaya untuk Kabur, namun ketahuan, Bara akhirnya dipukuli hingga tak sadarkan diri.


"Anaya?" sapa Raya, dengan suara yang sedikit bergetar


"Raya, lu dimana?" tanya Anaya


"G-gue... Gue gatau, yang jelas, jangan lakuin apa yang Moyra suruh," ucap Raya sambil menahan rasa takutnya


Prakk


"Aww," ringis Raya


Raya dipukul oleh senapan yang dipegang Moyra, kemudian Moyra mengambil telponnya dan mulai berbicara dengan Anaya.


"WOY LU APAIN TEMEN GUE?!" teriak Anaya ditelpon, membuat Moyra sedikit terperanjat


"Waw, gue kagum, lu bisa ngamuk," ucap Moyra sambil terkekeh


"LU APAIN?" tanya Anaya dengan nada semakin meninggi dan penuh tekanan


"Gak gue apa-apain paling cuma lecet di–" ucapan Moyra terpotong


"JANGAN NGELES, SEKARANG KASIH TELPONNYA KE RAYA LAGI," bentak Anaya


Moyra mengerling malas, menghadapi Anaya yang terbawa emosi secara berlebihan.


"Lu siapa ngatur gue? Oh ya, Lu kan anak orang kaya hasil korup—" lagi-lagi ucapannya terpotong


"Mau lu apa sih? to the point cepet," ucap Anaya kesal


"Good girl, lu mau ketemu temen lu lagi kan? Kemarin, Kris bilang sama gue, gue gak bisa ganggu dia lagi, karna hari ini dia mau nembak lu," ucap Moyra


"Terus? Mau lu apa?" tanya Anaya


"Tolak Kris," balas Moyra dengan tekanan disetiap kata


"Lu lagi ngemis sama gue?" tanya Anaya yang berhasil membuat Moyra menggerakkan giginya


"Lu yang ngemis sama gue supaya temen-temen lu dibebasin," balas Moyra santai


"Oke, tapi satu syarat," ucap Anaya


"Apa?" tanya Moyra


"Biarin Kris sama gue tetep sahabatan," balas Anaya, Moyra mengangguk-angguk


"Oke, tapi kalau lebih, lu? bakal nanggung yang lebih dari ini, dan gak usah lapor polisi, karna saat gue denger sirine, atau liat mobil polisi gue bakal bunuh temen-temen lu ini," ancam Moyra


"Yaudah, Selamat mengejar balon terbang yang pernah lu lepas," ucap Anaya setelah itu Anaya mematikan teleponnya sepihak


"IH NGESELIN BANGET SIH?!" kesal Moyra sambil menjerit-jerit


***


Anaya mematikan telponnya dengan perlahan, kemudian dia menatap gambar Kris yang dia ambil diam-diam, entah tiba-tiba perasaan tak rela menghampirinya.


Anaya bangkit dan melakukan kegiatan paginya, hari ini tidak libur sekolah, jadi Anaya harus bersiap dengan cepat.


06.30, Anaya sudah siap dengan seragam sekolahnya, Anaya lalu keluar rumah untuk menunggu Kris, karna Kris yang memintanya.


Tak lama, motor Kris datang, Anaya hampir melompat kegirangan, tapi dia urungkan niatnya takut disangka yang tidak-tidak.


"Anaya ayo berangkat," ajak Kris sambil menyerahkan helm nya


"Kenapa senyum-senyum? Dapet kupon?" tanya Kris menyadarkan Anaya bahwa mereka sudah sampai disekolah


"Senyum itu ibadah," ucap Anaya sambil bersmirk ria


"Tapi kalau kebanyakan senyum itu, gila kah?" tanya Kris sambil menahan tawa, Anaya sendiri hanya memukul bahu Kris


Mereka pun berjalan beriringan kekelas. Tangan Anaya ditarik kedekat pintu kelas mereka, membuat Anaya menyadari sesuatu, mungkin sekarang Kris akan menyatakan cintanya.


"Anaya gue mau ngomong se—" ucapan Kris terpotong


"Argh," Anaya memegangi perut bagian kanannya dengan berekspresi kesakitan, agar Anaya tidak perlu menolak Kris


"Lu kenapa?" tanya Kris pada Anaya yang memegangi perutnya


"Sakit, biasa cewek," ucap Anaya sambil menjentikkan jarinya


Kris menautkan alisnya sejenak ia tak paham pada apa yang diucapkan Anaya, namun sedetik kemudian, Kris tersadar.


"Oh datang bulan?" tanya Kris, dengan suara yang besar tanpa sadar, membuat sebagian orang yang ada di lorong menoleh sambil menahan tawa


"ish," Anaya memelototi Kris, Kris sendiri hanya menutup mulutnya


Hal ini berhasil membuat Kris lupa tujuannya untuk menyatakan cinta.


***


"Pagi anak-anak," sapa bu Lesy


"Pagi bu," balas anak XI MIPA 1


Bu Lesy pun mengabsen satu persatu anak murid yang ada dikelasnya, setelah selesai, Bu Lesy menyadari Raya dan Bara sudah 2 hari tidak masuk sekolah tanpa keterangan.


"Mana temen deket Bara sama Raya?" tanya Bu Lesy, semua anak menoleh pada Kris dan Anaya, yang mengangkat tangan


"Kemari," pinta Bu Lesy


Anaya dan Kris berjalan beriringan menuju Bu Lesy.


"Iya Bu?" tanya Anaya


"Ini Bara sama Raya kenapa gak masuk 2 hari? kalian tahu kenapa?" tanya Bu Lesy, Kris dan Anaya mengangguk


"Kenapa?" tanya Bu Lesy, Anaya dan Kris sudah siap beralibi


"Ada urusan keluarga," balas Anaya dan Kris bersamaan, ya memang alibi klise, keduanya saling berpandangan, padahal mereka tidak bermaksud untuk kompak


"Dua-duanya ada urusan keluarga? Kenapa gak izin?" tanya Bu Lesy tanpa menaruh curiga, karna yang dihadapinya adalah seorang ketua OSIS teladan, Krisean Samudra.


"Mendadak," balas Anaya dan Kris bersamaan lagi, keduanya berpandangan lagi


"Loh memangnya mereka satu keluarga?" tanya Bu Lesy


"Ya,"


"Bukan,"


ucap Anaya dan Kris bersamaan, celaka, mereka bisa ketahuan berbohong.


"Ya apa bukan?" tanya Bu Lesy, keduanya menggeleng bersamaan


"Kasih tau sama mereka cepet buat surat," pinta Bu Lesy tanpa menaruh curiga


mereka pun diperbolehkan kembali ke kursi masing-masing dan Bu Lesy pun mulai mengajar.


***


Kring... Kring... Kring...


Bel istirahat berbunyi, Kris menghadap Anaya, dan menatap bola mata Anaya, Anaya tidak bisa memikirkan hal apa yang harus diucapkannya agar Kris tidak mengutarakan sesuatu padanya, tapi bertatapan dengan Kris, otak Anaya seketika seolah berhenti untuk bekerja.


"Anaya," panggil Kris dengan lembut, Anaya hanya menggigit bibir bawahnya, dan berharap-harap cemas, Anaya sangat tidak mau menolak Kris


Anaya tidak sanggup menatap Kris lebih dalam, dan akhirnya memilih untuk mengalihkan pandangannya, namun Kris malah mengejar pandangan Anaya.


"Anaya gue–"


***


Oke, tunggu kelanjutannya ya :))


vote komen jangan lupa hehe


baru kali ini nyapa setelah cerita.