Different With You

Different With You
Ekskul?



“Tak perlu mengakui jika kau mementingkan gengsi, biarlah waktu yang bicara sebagai saksi,”


***


Kris berjalan di lorong sekolah, tujuannya pagi ini adalah ruang Osis. Tugasnya kemarin belum selesai, dan harus selesai hari ini.


Kris berhenti beberapa meter didepan ruang Osis. Dia melihat seorang perempuan sedang duduk didepan pintu ruang Osis.


'bukan setan kan?' ucap Kris dalam hati


Kris tersadar, lalu membulatkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya, setan? Kris ingin tertawa atas kebodohannya pagi ini.


Kris melangkah menuju ruang Osis, dan terkejut begitu melihat perempuan itu.


"Lu ngapain?" tanya Kris pada Anaya yang tak kalah terkejutnya dengan Kris


"Mau lihat-lihat daftar ekskul, katanya, Osis nyimpen daftar ekskul," balas Anaya enteng sambil malas-malasan


Kris lalu membuka pintu dan mempersilahkan Anaya masuk, Anaya menurut saya. Anaya terkejut begitu melihat ruang Osis, yang bagaikan kapal pecah, apalagi meja yang paling ujung penuh berkas dan tak terawat.


"Sorry, berantakan, bentar lagi pensi, jadi banyak berkas yang harus diurus—" Kris segera tersadar, Kris merasa bicara terlalu banyak.


"ekhem! tunggu, gue cari berkasnya," Kris berdehem, setelah itu mulai mengobrak-abrik rak yang berisi berkas-berkas


"Butuh bantuan?" tanya Anaya


"Boleh," balas Kris sambil memberikan Anaya ruang.


Anaya tertawa melihatnya, bukan begitu maksudnya. Kris yang melihatnya terpaku sebentar. Anaya memang perempuan biasa yang wajahnya standar, namun saat tertawa, bagi Kris, Anaya terlihat lebih manis.


"Yakin ada disitu? Gue liat, disana juga bejibun berkas-berkas," Anaya menunjuk meja yang tak jauh darinya, yang sebenarnya itu adalah meja Kris.


Kris terdiam sebentar, ia tak pernah mengizinkan siapapun menyentuh mejanya.


"Boleh gue cari disana?" tanya Anaya sambil terus memandang Kris, dia tak tahu itu meja Kris


"Cari aja, sekalian beresin," balas Kris jail, sambil mengulum senyum, Anaya hanya menatap Kris dengan tatapan sebal.


Anaya mulai bergerak menyentuh meja Kris. satu-satu berkas mulai dia kumpulkan menurut kelompok berkas itu. Ada proposal Pensi, proposal literasi, dan berbagai proposal lainnya.


Pintu ruang Osis tiba-tiba terbuka menampakkan seorang perempuan yang Anaya lihat kemarin, ya dia adalah Risa. Risa lumayan terkejut sekaligus kecewa melihat Anaya, terkejut karna Anaya menyentuh meja Kris dan kecewa karena dia tak bisa berduaan dengan Kris.


"Kris, gue bawa berkas anak yang mau tampil pas Pensi," ucap Risa sambil menyodorkan kertas yang ada ditangannya.


"Simpen aja di meja," balas Kris cuek sambil terus mengobrak-abrik rak berkas.


Risa memajukan bibirnya, lalu melempar berkasnya ke meja Kris.


"Gak usah dilempar," ucap Anaya sambil menatap Risa dengan datar


Risa mendelik saja, lalu berpangku tangan, Anaya menyentuh berkas yang Risa bawa. Anaya berniat untuk merapikannya bersama berkas lain.


"Eh! Ngapain lo pegang-pegang? Itu berkas penting, kalau ada yang ilang gimana?" tanya Risa ketus namun sedikit berbisik, menjaga image nya didepan Kris.


"Kalau penting kenapa dilempar?" Tanya Anaya datar


"Suka-suka gue dong, anak baru kok belagu?" Risa balik bertanya dengan penuh penekanan


Mau sepelan apapun mereka berselisih, Kris tetap dapat mendengarnya. Kris lalu berbalik menghadap mereka berdua.


"Kalau kalian mau ribut, mending keluar," ucap Kris jengkel dengan dua perempuan dihadapannya yang berdebat dengan hal tak penting.


"Gue gak mau, gue mau benerin proposal pensi," ucap Risa sok sebal


"Mending anak yang gak berkepentingan yang keluar," sambung Risa


Tanpa ambil pusing, Anaya melangkahkan kakinya keluar, sedangkan Risa duduk di kursinya.


"Kris, gue bawa ini, nih buat lo satu," ucap Risa sambil menyodorkan sebuah minuman kaleng


Mata Kris membulat, kertas itu berisi daftar ekskul. Tanpa pikir panjang, Kris keluar meninggalkan ruangan.


"Kris mau kemana?" tanya Risa, Kris cuek saja dan tidak menggubris pertanyaan Risa.


***


Saat ini, Anaya berdiri didekat kelasnya, bersama seorang pria. Tangan Anaya sedang memegang kertas yang berisi daftar ekskul.


"Boleh gue pinjem dulu gak kertasnya?" tanya Anaya pada cowok dihadapannya


"Bawa aja, salinannya banyak kok," ucap cowok tadi sambil tersenyum


langkah lebar Kris berhenti mendadak tepat dihadapan Anaya dan cowok itu. Buru-buru Kris menyembunyikan kertas tadi dibelakang badannya.


"Kris? ada perlu apa?" tanya cowok yang berada di dekat Anaya, Kris lalu mengangkat bahu dengan ringan, seolah bukan apa-apa


"Gue mau masuk kelas," balas Kris enteng sambil melewati mereka berdua


Kris mengenal cowok itu. Dia wakil ketua panitia pensi, namanya Vano.


Srettt


Kertas yang sedari tadi disembunyikan oleh Kris direbut Bara yang baru datang.


"Kertas apa nih?" tanya Bara


Kris hendak merebut kertas itu dari Bara, namun dengan cekatan Bara menangkis tangan Kris.


"DAFTAR EKSKUL—" ucapan Bara terhenti, dia kira itu surat cinta


"Elah daftar ekskul doang, kenapa harus disembunyiin?" Tanya Bara, Kris buru-buru merebutnya, wajahnya memerah, dia lalu melenggang masuk kedalam kelasnya.


Bara mengernyitkan dahinya, apa yang sebenarnya terjadi? Dia lalu mengedarkan pandangannya dan melihat kearah Anaya dan Vano yang sedang terpaku.


"Si Kris kenapa si?" tanya Bara pada Anaya, Anaya tak menjawab, dia hanya melirik kertas dihadapannya lalu tersenyum geli, jadi itu alasan kenapa Kris melangkah tergesa-gesa kearahnya?


"Anaya?" panggil Vano, Anaya tersadar lalu setelah itu dia mengucapkan terimakasih, lalu dia masuk kedalam kelas


Anaya langsung duduk disebelah Raya, dia melihat kris yang sedang menatap keluar jendela agar wajah merahnya tak terlihat. Lucu rasanya melihat Kris seperti itu.


"Katanya Lo gak tertarik sama Kris, sekarang liatin dia ampe senyum-senyum gitu," Raya menyadarkan Anaya.


Anaya yang tersadar pun hanya mengernyit geli, pasti dirinya sedang sakit hari ini, sehingga dia lama memandangi Kris.


"Apasih Ray, orang senyum gara-gara bunga cantik yang ada disana," ucap Anaya pura-pura


Raya menatap Anaya dengan ngeri, lalu sedikit menjauhkan kursinya, ini membuat Anaya mengernyit heran.


"Kenapa sih Ray?" tanya Anaya bingung


"Lu gak indigo kan?" tanya Raya intens, membuat Anaya tambah bingung


"Disana gak ada bunga Anaya," ucap Raya sambil menunjuk jendela yang berada di dekat Kris.


Anaya gelagapan, lalu dia mencebik, dia lupa ini adalah sekolah barunya, bukan sekolah lamanya yang diserap jendela dipenuhi pemandangan bunga-bunga indah.


"Lu gak indigo kan An?" tanya Raya


"Ish gatau ah," balas Anaya kesal sambil mengedikkan bahu


Raya tertawa. Jadi benar dugaannya bahwa Anaya menatap Kris dari tadi. Kris pun sebenarnya tahu, bahwa sejak tadi dirinya ditatap, mangkanya dia mengalihkan pandangan agar wajah merahnya tak terlihat.


"Eh Anaya, lu mau ngambil ekskul apa btw?" tanya Raya sambil menatap kertas Daftar Ekskul


"Mungkin Club mading," balas Anaya semangat, membuat Raya tersenyum


"Gue juga ikut itu," balas Raya namun setelah itu dia menatap Kris, mungkin akan ada sebuah kejutan untuk Anaya saat ia masuk Club' Mading nanti.