
"Kau memang tidak bisa mengulang masa lalu namun jika kau ingin memperbaiki keadaan maka maafkanlah apa yang sudah berlalu"
~Anaya
***
Anaya dan Kris sudah berada di rooftop rumah sakit sekarang, dengan makanan ringan yang ditenteng oleh Kris.
Anaya menghela nafas panjang, lalu duduk di salah satu bangku yang tersedia disana, bangku-bangku usang yang ditata rapi membuat rooftop itu terlihat cantik.
Kris mengikuti Anaya dan duduk dihadapan wanita itu. Dibawah cahaya temaram seperti ini Anaya terlihat jauh lebih cantik, atau mungkin hanya perasaan Kris saja?
"Nih," Kris memberikan Snack dan langsung disambut oleh Anaya.
"Kris," panggil Anaya.
"Apa?" tanya Kris sambil memandang lurus lampu-lampu kota yang seperti bintang di depan sana.
"Boleh gak gue ngomong sesuatu? Tapi gue minta lu gak boleh nyela ataupun marah sampe gue selesai ngomong," pinta Anaya.
Kris terkekeh lalu mengacak rambut gadis dihadapannya itu, memangnya ia pernah benar-benar marah ya pada Anaya?
"Yaudah ngomong aja, semoga bisa gue terima dengan mudah," ucap Kris dengan cengiran khasnya membuat Anaya mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha, iya deh iya, apapun yang lu bilang ke gue bakal gue terima dengan lapang dada," ucap Kris, membuat Anaya tersenyum lebar, kali ini binar di wajahnya membuat Kris gemas
"Janji?" tanya Anaya sambil mengacungkan kelingkingnya.
"Apaan? Kaya bocah aja," Kris menggelengkan kepalanya.
"Ck lu tuh ya," dengan gemas Anaya menarik tangan Kris dan langsung mengaitkan kelingking mereka.
deg...
deg...
deg...
Perasaan aneh dirasakan oleh Anaya dan Kris, padahal hanya menautkan kelingking, tapi jantung mereka sudah seheboh ini.
"Ekhem!" Anaya berdehem untuk mencairkan suasana, lalu melepas tautan kelingkingnya.
"Pokoknya karena tadi kita udah nautin jari kelingking berarti lu setuju gak akan nyela dan marah ya?" pinta Anaya, Kris mengangguk sambil mengunyah keripik kentangnya.
"Lu masih benci sama Moyra?" tanya Anaya, bibir Kris mengatup rapat, namun rahangnya mengeras.
"Bahas yang lain," balas Kris kemudian melanjutkan kembali kegiatannya.
set
Anaya menangkup pipi Kris dan membuat wajah Kris berhadapan dengan wajahnya.
"Jawab yang jujur Krisean Samudra," ucap Anaya
Jantung Kris berpacu lebih cepat begitu tangan mungil Anaya menyentuh pipinya dan mata gelapnya bertemu dengan mata coklat terang milik Anaya. Kris langsung menirukan Anaya dan menangkup pipi Anaya.
"Iya," balas Kris, "dan lu tau apa penyebabnya," lanjutnya
Kali ini gantian, jantung Anaya yang berpacu lebih cepat, tangan besar milik Kris memenuhi pipinya yang mungil. Cepat-cepat Anaya melepas tangkupan tangannya, begitu pula Kris.
"Kenapa?" tanya Anaya.
"Lu tau jawabannya," balas Kris dengan wajah kesal, jujur dia tidak suka membahas ini, tapi apa daya? Dirinya sudah berjanji tadi.
"Kris itu masa lalu," ucap Anaya.
"Tapi dampaknya sampai hari ini," balas Kris, dalam hati Anaya membenarkannya.
"Lu harus coba maafin dia," ucap Anaya.
"Dengan maafin dia, lu pikir ibu gue bakal bangun dari koma? Keluarga gue bakal utuh lagi?" tanya Kris dengan nada sedikit marah.
Anaya terkejut dan langsung memundurkan posisi duduknya, susah payah ia menelan salivanya, Kris terlihat berbeda saat marah.
"Lu pikir gue seneng kayak gini?" tanya Kris dengan nada merendah, teringat akan janjinya tadi.
Kris menunduk menatap lantai yang dia injak, rasanya benar-benar melelahkan.
"Kris, kalau gitu gue juga mau tanya, apa dengan lu membenci Moyra, papa lu, tantenya Moyra, bakal ngebalikin keadaan?" tanya Anaya
Kris menunduk ucapan Anaya ada benarnya juga. Bagaimana pun semuanya sudah terjadi mau sekeras apapun Kris membenci mereka, Kris tak akan bisa mengubah keadaan.
"Papa gue pernah berbuat dosa, dia kena kasus korup, tapi gimana lagi? semuanya udah berlalu," ucap Anaya membuat Kris menghembuskan nafasnya.
"Kasus gue sama kasus papa lu beda," ucap Kris
Anaya hanya mengusap wajahnya kasar, susah sekali bicara dengan kepala batu dihadapannya ini.
"Gue tau lu bukan tipe orang yang sulit buat maafin orang lain, lu cuma butuh waktu," ucap Anaya, Kris mengangguk tersenyum.
"Kris..." panggil Anaya lirih.
"hm?" tanya Kris.
"Lu gak mau kasih kesempatan sekali lagi buat Moyra tinggal di hati lu?" tanya Anaya sambil menunduk.
Kris langsung menatap Anaya yang menunduk itu, kenapa tiba-tiba Anaya terlihat seperti itu?
"Gak, gue gak akan pernah balik sama dia," balas Kris dengan yakin.
"Kenapa?" tanya Anaya kali ini dia menatap lurus kearah Kris.
"Karna gue maunya lu yang ngisi hati gue," ucap Kris. Namun, diiringi tawa.
Anaya hanya terpaku menatap Kris, rasanya dia beku di tempat setelah Kris mengatakan itu, namun pipinya pun menghangat.
"Pipi lu?" Kris menunjuk pipi Anaya yang memerah.
Anaya yang sadar akan hal itupun, langsung menutupi pipinya dengan kedua tangan. Dalam hati, Anaya merutuki dirinya yang mudah terbawa perasaan. Padahal Kris hanya mengatakan itu.
"Kris ayo pulang, nanti gue dicariin mama," ucap Anaya sambil berjalan mendahului Kris yang tengah menahan tawa.
Kris mengejar Anaya lalu menarik tangannya, hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa cm saja.
Deg
Deg
Deg
"Mau dianter gak?" tanya Kris
Anaya menghembuskan nafasnya dengan perasaan lega, ternyata Kris menariknya bukan untuk menciumnya. Ah Anaya bodoh! Ketua OSIS panutan seperti Kris tidak akan melakukan hal itu ditempat umum.
"Boleh," balas Anaya sambil melepas tangannya
"Yaudah ayo," Kris kembali menggenggam tangan Anaya. Awalnya, Anaya sedikit terkejut, namun Anaya sama sekali tidak berusaha melepas genggaman tangan Kris, sampai ke parkiran.
***
Mama Anaya sedari tadi duduk dihalaman rumah sambil mengetuk-ngetukkan jarinya, kopi di sebelahnya pun sudah kosong.
Berulang-ulang ia menelpon Anaya, namun tak kunjung ada balasan dari Anaya.
Tak lama kemudian, sebuah motor berhenti dihalaman, membuat wajah mama menjadi jauh lebih berbinar, ia pun langsung berlari kearah Anaya.
"Nay? Kamu kemana aja?" tanya mama.
"Nay kalau mau pulang malem izin dulu sama mama, kasian mama nunggu dari tadi," ucap Adlan yang sudah ada diambang pintu.
"Maaf ma, kak, tadi Kris yang bikin dia pulang terlambat," ucap Kris.
"Sebenernya gak apa-apa asal bilang, kamu janjinya pulang sore kan? mama telpon juga gak diangkat," ucap mama
"Maaf ma," ucap Kris dan Anaya bersamaan
"Ponsel Anaya mati tadi," Anaya terkekeh malu
"Iya gak apa-apa jangan diulangi," pinta mama
Ya ampun, demi apapun, Anaya merasa seperti Anak kecil yang baru saja bermain lumpur sampai mengotori baju.
Anaya melirik Kris, namun cowok itu malah memasang wajah senang dan berbinar.
Oh ya, harusnya Anaya lebih banyak bersyukur karena dia lebih beruntung dari Kris. Setidaknya Anaya tidak pernah dipisahkan dengan mamanya.
"Kris mau masuk dulu?" tanya mama membuat lamunan Anaya tersadar.
"Udah malem ma, kasian mama Kris sendiri," kekeh Kris sambil menyalami tangan mama.
"BYE ADIK IPAR," Adlan melambaikan tangannya pada Kris yang sudah berada diatas motornya, membuat Kris tersenyum dan melambaikan tangannya juga.
"ABANG APAAN SIH?" tanya Anaya sambil berlari mengejar Adlan yang lari secepat kilat.
"ckck, hati-hati ya Kris," ucap mama Anaya sambil menepuk bahu Kris.
"Makasih ma," Kris pun pergi meninggalkan halaman rumah Anaya.
***
HALLOO!
Hahaha aku sibuk ujian sampai cerita ini terlantarkan :)
oh iya aku mau promosi nih
ada karya temenku, cek akunnya @Raisa_tn, judulnya "Destiny". jangan lupa mampir ya ^^