
Kring... Kring... Kring...
bel pertanda pulang sekolah telah berdering, semua siswa-siswi berhamburan kelas, termasuk Kris, dia buru-buru keluar kelas karna dirinya tidak nyaman berdampingan dengan Moyra.
"Kris! Tunggu! mau kemana sih?" tanya Moyra sambil menarik tangan Kris yang langsung dihempas begitu saja oleh Kris
"Ruang OSIS," balas Kris sambil melenggang meninggalkan Moyra
Tak lama kemudian, Anaya dan Raya juga melewati Moyra, dengan santainya Moyra berdiri menghadang Raya dan Anaya.
"Minggir," ucap Anaya dingin, Moyra hanya tertawa miris mendengarnya
Moyra maju beberapa langkah lalu menekan kedua pipi Anaya.
"Lu mau kemana? jangan bilang lu mau ke ruang OSIS juga," ucap Moyra lalu menghempaskan tangannya
"Emang kenapa?" tanya Anaya sambil melipat tangan diatas dada
"Gak boleh?" sambung Anaya lagi, Moyra tersenyum miring
"Udah berani lu sama gue?" tanya Moyra dengan menekan setiap kata-katanya
"Ya berani lah, inget disini lu sendiri," balas Anaya kemudian mendekati Moyra
"Lu gak bisa berkuasa disini," bisik Anaya lalu melenggang meninggalkan Moyra dan diikuti oleh Raya.
***
Semua anggota OSIS sudah berkumpul, mereka akan membicarakan perihal pensi.
"Sore semuanya, disini saya akan membahas susunan acara PENSI kita," ucap Kris sambil menunjuk infokus yang menunjukkan tulisan "Pensi" besar-besar
Namun sedetik kemudian, Bu Ely masuk kedalam ruang OSIS membawa seorang murid perempuan.
"Semuanya, hari ini, Moyra bakal bergabung dengan OSIS, dia anak baru jangan bikin dia tidak nyaman," ucap bu Ely tanpa permisi pada Kris
"Bu, tapi, kita udah pas buat kepanitiaan," bantah Kris, sudah cukup dikelas Kris risih oleh Moyra jangan sampai di Osis pun menjadi tak nyaman berkat makhluk satu ini
"Kris, ikut ibu," ucap Bu Ely sambil membetulkan kacamatanya yang melorot, kemudian melenggang meninggalkan ruang OSIS
"Gak ada yang gak bisa gue lakuin," ucap Moyra setengah berbisik pada Kris
Kris hanya menghentakkan kakinya lalu pergi mengikuti Bu Ely, keluar.
"Ada apa Bu?" tanya Kris sambil menutup pintu ruang OSIS
"Dengar ya Kris, Moyra harus diterima di Osis bagaimanapun kondisinya," pinta Bu Ely dengan alis tertaut membuat wajahnya terlihat galak
"Tapi bu, OSIS mau ngadain pensi dan—" ucapan Kris terpotong oleh Bu Ely
"Kris! Moyra itu anak dari donatur terbesar di sekolah ini," Bu Ely menegaskan yang langsung dihadiahi kerumitan tajam dari Kris
"Bu? bukannya selama ini papa saya donatur terbesar?" tanya Kris "Gimana bisa dalam 1 hari donasi orang tua Moyra sudah melebihi pemberian dari papa saya?" tanya Kris, membuat Bu Ely sedikit tersadar dan mengerjap
"Kamu tidak usah tahu soal itu, pokoknya sekarang buat Moyra senyaman mungkin," ucap Bu Ely sambil meninggalkan Kris
Seketika Kris mematung seolah tersambar petir disiang bolong.
***
"Mana meja Kris?" tanya Moyra
"Tuh yang itu," balas cewek berbehel sambil menunjuk meja Kris, sepertinya cewek itu tertarik berteman dengan Moyra
Moyra berjalan mendekati Risa lalu menggebrak meja Risa yang bersebelahan dengan meja Kris.
"Minggir Lo!," usir Moyra, membuat Risa terkesiap
"Apaan sih? ini ruang OSIS yang sopan," ucap Risa sambil menahan geram
"Gue bisa berbuat apa aja, jadi minggir Lo sebelum Lo dapat masalah," ancam Moyra sambil tersenyum
Risa yang tak terima langsung berdiri dan mencengkeram kuat kerah baju Moyra.
"Lo siapa? sok berkuasa amat," ucap Risa
"Sekolah ini ada dibawah kendali bokap sama nyokap gue sekarang, kalau mau gue tinggal minta mereka buat mecat bapak Lo, mau?" tanya Moyra dengan nada datarnya
"Bisanya main jabatan orang tua," kesal Risa sambil menarik tasnya
"Oh ya, biasanya orang sok berkuasa kayak Lo itu hidupnya kesepian, haaah kasian," ucap Risa lagi sambil tersenyum puas
"Jaga mulut lo!" Moyra menyeringai tajam
Moyra yang kesal pun langsung menarik rambut Risa yang terurai bebas, Risa yang merasa tertantang pun langsung menjambak rambut Moyra.
Terjadilah aksi jambak-menjambak, Anaya pun langsung bangkit dari duduknya.
"BERHENTI!" teriak Anaya membuat semua menoleh padanya, namun bukannya berhenti, Moyra malah mencekik Risa
Dari arah pintu ruang OSIS Kris datang, ia langsung berlari kearah Moyra dan Risa yang sedang bertengkar, begitu pula Anaya, Kris menarik Moyra, sedangkan Anaya menahan Risa.
Moyra sudah berhasil ditarik oleh Kris, namun tangannya terus bergerak, hingga akhirnya—
Srett!
Kuku-kuku panjang Moyra menggores pipi mulus milik Anaya, membuat darah mengalir di pipinya.
Raya langsung berlari dan menutup luka Anaya menggunakan dasi.
"Anaya, lu gak apa-apa?" tanya Raya, Anaya mengangguk sambil memegangi pipinya
"AWAS LU RISA!" Moyra masih berteriak saat Kris sudah membawanya menjauh
Sesampainya diluar, tanpa perasaan iba, Kris langsung membenturkan Moyra ke dinding.
"SADAR LO! ANAK ORANG HAMPIR MATI!" Bentak Kris
tubuh Moyra seketika menggigil, Moyra merasa udara disekitarnya berubah sesak, oh! Moyra benci ketergantungan obat mahal itu.
Tanpa menjawab, Moyra langsung berlari menuju kamar mandi.
Kris hanya memijat kepalanya dengan frustasi, apa dia sekasar itu sampai Moyra gemetar dan berlari? Kris hendak menyusul Moyra namun tangannya ditahan oleh seseorang, yang membuat Kris menoleh.
"Ada obat buat sesak nafas kan di UKS? Risa sesak nafas banget kayanya," ucap Anaya dengan nada Khawatir
"Ya ampun Anaya, lu juga luka itu, kenapa masih mikirin orang?" tanya Kris, Anaya memegangi pipinya bermaksud untuk menutupi lukanya
"Ini gak begitu sakit dibanding sama Risa yang lagi berjuang buat nafas, cepet ambil obatnya," pinta Anaya, Kris menghela nafas lalu mengangguk
"Eh, Kris gue ikut deh," ucap Anaya sambil mengejar Kris yang sudah berlari didepannya.
***
Risa sedang membuka tutup mulutnya berusaha membuat sesaknya berkurang, sampai Kris datang membawa obat untuk Risa.
"Raya, nih kasih sepupu lu obat!" titah Kris sambil menyerahkan air dan pil
Raya menerimanya dan langsung memberikannya pada Risa. Tiba-tiba Anaya datang dan langsung mengangkat kepala Risa.
"Kalau dibaringin bakal tambah susah nafasnya," ucapnya
"Yang lain bubar aja, rapat diundur besok, hari ini udah terlalu sore buat rapat," ucap Kris
Siswa yang lain hanya berdecak kesal sambil membawa tas mereka dan pergi meninggalkan ruang OSIS.
"Sorry," ucap Risa yang terlihat lebih baik
"Gak apa-apa," balas Kris santai
"Kris lu balik duluan aja sekalian angkut Anaya," pinta Raya
"Elah Raya, terus gue dianter siapa?" tanya Risa
"Lu kan ada Bagas, dia kan masih main basket," Raya menggelengkan kepalanya membuat pipi Risa memerah
"Yaudah, Ayo Nay," ajak Kris sambil menggenggam tangan Anaya
Namun saat Anaya menengok kearah pintu OSIS, Anaya melihat Moyra yang menatapnya dengan tajam.
"Gak usah deh, aku dijemput kak Adlan," ucap Anaya berbohong, Kris mengangguk
"Yaudah Nay, gue balik," pamit Kris, Anaya mengangguk
Kris berjalan dengan santai, namun begitu dia melewati Moyra, Kris seolah sangat tak acuh pada Moyra.
Moyra langsung menarik tangan Kris membuat langkah kaki Kris terhenti.
"Lu mau ketemu mama lu kan?" tanya Moyra, Kris mematung, jelas dia sangat ingin
"Kalau mau, gue tunggu lu dirumah jam 7 malam ini," ucap Moyra sambil pergi meninggalkan Kris.
***