
Anaya dan Raya mulai memasukkan bukunya kedalam tas, mereka sedikit malas hari ini, karna mereka sudah menghadapi masalah masing-masing tadi pagi. Raya yang menghadapi genk-an Risa, atau Anaya yang menghadapi Dhita dan Dhira.
"Oh iya Nay, lu belum cerita kejadian tadi pagi sama gue," ucap Raya menatap Anaya sanksi, Anaya lalu terkekeh sebentar, tadinya Anaya ingin menyembunyikan kejadian ini dari Raya, takutnya Raya semakin khawatir terhadapnya.
"Jadi gini tadi pagi tuh—" ucapan Anaya terpotong oleh Kris yang memanggilnya
"Anaya," panggil Kris sambil berjalan mendekati Anaya
"Kenapa Kris?" tanya Anaya
"Osis kekurangan anggota, lu mau ikut Osis gak? Lagian lu kan belum punya kegiatan apa-apa," tawar Kris
"Di Osis ada yang namanya Dhita? Dhira?" tanya Anaya
Kris berpikir sejenak, mungkin Anaya masih terus mengingat kejadian tadi pagi, setelah itu, Kris terkekeh geli mengingat dirinya yang terlihat seperti pahlawan.
"Ada," ucap Kris, membuat wajah Anaya terlihat sedikit muram
"Tapi kan ada gue," ucap Kris menenangkan
"Dhita? Dhira? Anaya lu berurusan sama tuh dua tuyul?" tanya Raya, Anaya menggeleng
"Sayangnya mereka manusia," kekeh Anaya
"Iya, mereka tuh manusia tuyul, tau gak?" tanya Raya sambil melipat tangannya diatas dada
"Tuyul gimana sih?" tanya Bara yang menghampiri mereka
"Dhira, sama Dhita tuh cewek matre, jadi kalau dia bikin gara-gara berarti ada bayarannya," ucap Raya dengan se excited mungkin
"Heh, selow aja kali, kaya mereka mau ngancurin dunia aja," ucap Bara, membuat Raya dan Anaya melotot kearahnya
"Salah lagi dah gue," Bara menggelengkan kepalanya
Sementara Kris masih terus berpikir mengenai apa yang dikatakan Raya, mungkin Kris terlalu sibuk dengan dirinya sendiri selama ini, hingga dia saja baru mendengar hal seperti ini.
"Kris, kok bengong?" tanya Anaya
"Eh? Ya sorry," ucap Kris sambil menggelengkan kepalanya
"Jadi boleh gak?" tanya Anaya lagi
"Boleh apaan?" Kris balik bertanya, Raya menghembuskan nafasnya kasar
"Anaya sama gue mau ikut Osis," ulang Raya dengan sabar
"Bara, lu gak ikut sekalian?" tanya Anaya pada Bara, Bara mengedikkan bahunya dengan Ringan
"Gue harus kerja part time di Kedai, jadwal gue kan hari ini sama besok," ucap Bara
"Gue pulang duluan," pamit Bara, ketiga temannya pun mengangguk
"Kris, bukannya kamu juga punya kerjaan paruh waktu?" tanya Anaya
"Kalau gue ngambil Sabtu sama Minggu doang, Bara ngambilnya 4 hari," ucap Kris
"Heh, malah ngobrol, ini jadi gak masuk osis?" tanya Raya, dirinya merasa sudah seperti nyamuk
"Yaudah ayo," ucap Kris sambil berjalan mendahului Raya dan Anaya.
Raya, Anaya, dan Kris berjalan menelusuri lorong sampai ke ruang Osis, semua yang ada di ruang Osis menatap Anaya dan Risa dengan berbagai macam tatapan.
"Mereka masuk sini?" tanya Risa menahan geram, Kris hanya mengangguk sebagai jawaban
"Tanpa seleksi?" Dhira menambahkan
"Kita lagi butuh anggota buat pensi, kalian mau pensi berjalan lancar kan?" tanya Kris yang sontak membuat semuanya terdiam
"Bagus, mulai kerja dari sekarang, Raya sama Anaya bakal jadi seksi acara, karna yang kita butuhin itu seksi acara," ucap Kris
"Tapi lu gak bisa seenaknya ngambil orang dong Kris," ucap Risa tak terima
"Lu ada saran? Siapa yang kira-kira bisa bertanggungjawab buat seksi acara?" tanya Kris mengangkat sebelah alisnya
"Oke, Raya sama Anaya jadi anggota osis jalur bantuan, tapi jangan sampe gagal," ucap Risa
Kris menggeleng, dia benar-benar tak menyangka Risa akan sepicik itu.
"Santai aja Risa, gue bakal jadi seksi acara bareng mereka," ucap Kris
"Hah?! terus? seksi konsumsi yang megang siapa?" tanya Risa
"Kan ada lu sama yang lain," balas Kris, Risa hanya mendecak kecewa
"Udah mulai aja rapatnya Kris, Risa, lu duduk biar cepet balik," ucap Bagas wakil ketua Osis, Kris mengangguk, setelah mempersilahkan Anaya dan Raya untuk duduk, Kris memulai rapatnya.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 17.30, semua anggota osis sudah diperbolehkan untuk pulang.
"Kris, pulang bareng gue ya hari ini? udah lama kan gak pulang bareng," ucap Risa sambil berlagak manja, didepan Anaya, mungkin tujuannya untuk membuat Anaya iri.
"Sorry sa, gue mau pulang cepet-cepet, disuruh papa," balas Kris sambil melepaskan tangan Risa
Risa hanya menatap Kris dengan mata puppy eyes nya berharap Kris bisa merubah pikirannya.
"Kris, bisa keruangan ibu sebentar?" tanya Bu Ely, Kris hanya mengangguk dan mengikuti langkah Bu Ely.
Risa lalu memajukan bibirnya, ia ingin protes pada Bu Ely yang seenaknya memotong Drama Risa, Anaya dan Raya pun menahan tawa melihat Risa yang seperti itu.
"Apa Lo? mau ketawa?" tanya Risa dengan jutek
"Kenapa? Lo merasa pantas ditertawakan?" balas Raya dengan wajah mengejek
"Ray udah Ray," balas Anaya sambil terkekeh dan menepuk punggung Raya
"Dasar sinting," Risa mendelikkan matanya
"Mana ada orang waras ngobrol sama orang sinting, kalau pun ada berarti sebenernya sama-sama sinting," Anaya melipat tangannya, tampaknya Anaya mulai geram
"Jadi lu berani sama gue?!" tanya Risa
"Sama-sama makan nasi kenapa harus takut?" balas Anaya
Risa yang tak sabar pun buru-buru menghampiri Anaya hendak menjambak rambutnya, namun dia terjatuh, tersandung kaki Raya.
Risa pun hendak berdiri dan membalas perlakuan Anaya dan Raya, namun dia melihat Kris sedang berjalan ke arahnya, diapun menjatuhkan dirinya lagi.
"Aw," erangnya, membuat Kris bertanya-tanya
"Risa, lu kenapa?" tanya Kris, Risa hanya mengaduh, pura-pura menahan sakit
"Tadi gue mau lewat, eh malah disandung sama kakinya Raya," Risa mulai menunjukan wajah ketakutan, Kris mengerutkan kening dan menatap kearah Raya
"Lewat? jelas-jelas lu mau ngejambak Anaya," Raya mulai gemas dengan Risa
"Ada bukti gak kalau gue mau jambak Anaya? Gue cuma mau lewat lu nya aja yang ke geeran," ucap Risa sambil menghapus air mata buayanya
Kris lalu memegang kepalanya dengan dramatis, Kris tidak mengerti kenapa perempuan begitu cerewet dan berisik, Kris lalu melihat Anaya yang tertunduk sedari tadi, itulah yang membuat Anaya menarik, dia diam tapi bisa mencairkan semua suasana.
"Udah deh," ucap Anaya yang bingung melihat dua temannya yang sedang bersitegang
"Oke kalau kita salah paham, kita minta maaf, karna cuma lu sama tuhan yang tau kebenarannya," ucap Anaya sambil menarik Raya
"Kris, kita duluan ya, Risa kayanya bener-bener mau dianter sama lu," ucap Anaya lalu menarik Raya menjauh
Kris lalu menatap datar Risa yang memegangi lutut kanannya, padahal jelas-jelas lutut kirinya yang terbentur.
"Kris gue gak bisa jalan," ucap Risa dengan manja, mungkin dia ingin di gendong Kris, namun ingat, Kris tidak pernah mau menggendong siapapun setelah insiden cinta pertamanya.
"Mau gue panggilin Bagas buat gendong lu?" tanya Kris, Risa menggeleng, lalu dia buru-buru bangkit.
"Gue ngerasa agak baikan, anterin gue pulang aja," ucap Risa, membuat Kris menghela nafas jengah