
“Saat sudah saling menyukai, Kita tak pernah tahu kapan semuanya berawal,”
***
Kring... Kring... Kring...
Bel pulang sekolah berbunyi, Anaya dan Raya sedang mengemas peralatan sekolah mereka.
"nay, ayo kumpul dulu, soalnya club mading kumpul tiap hari Rabu," ucap Raya
"Oke," balas Anaya dengan semangat
Raya dan Anaya kemudian berjalan menuju ruang berita, tempat yang selalu dipakai club mading untuk dijadikan tempat kumpul.
Namun, sebelum ke ruang berita, mereka melewati ruang Osis. Anaya terkejut begitu melihat Kris yang tertunduk dan dihadapannya berdiri seorang guru perempuan berkacamata tebal dengan wajah marah.
Kemudian Anaya mendengan percakapan dari dua siswi yang melewatinya.
"Itu kak Kris kenapa ya?" tanya siswi yang satu
"Katanya proposal Pensi gitu, kelupaan, harusnya tadi pagi dia selesain," balas temannya
Anaya melongo. Jadi Kris pagi tadi itu ke ruang Osis untuk menyelesaikan tugas? Dan gara-gara Anaya, Kris jadi tidak mengerjakan tugasnya? Anaya merasa bersalah mengenai itu.
"Anaya, kenapa?" tanya Raya bingung melihat Anaya yang berhenti sambil menghadap Kris
"Eh? Eng... Enggak kok," balas Anaya sambil melanjutkan langkahnya
Akhirnya mereka sampai di ruang berita. Mereka lalu masuk kedalam ruangan itu. Sudah ada banyak orang disana.
Anaya terkejut melihat Vano dan Bara juga ada disana.
"Loh Anaya? Ikut club mading?" Tanya Bara, Anaya hanya tersenyum lalu mengangguk.
"Duduk semuanya, kita bakal mulai sekarang," ucap Vano, membuat para anggota club mading duduk dikursi masing-masing
"Oke, karna kita kedatangan anggota baru, buat anggota barunya, silahkan perkenalan diri," ucap Vano
Anaya melangkah kedepan anggota club mading.
"Hallo, kenalin gue Anaya, gue mau ikut club ini, mohon bantuannya," ucap Anaya
"Oke, Anaya boleh duduk," ucap Bara
"Gak gitu dong, dia juga harus ngeliput berita pertama kaya kita sebelum jadi anggota resmi club mading," ucap Vano, yang lain mengangguk setuju
"Tapi gue baru disini, kecuali kalau kalian mau nentuin beritanya apa," ucap Anaya
"Gue ada usul," ucap Risa, Anaya terkejut karna Risa juga ada disini.
"Apa?" sambar Anaya
"Lu liput berita selebschool, kan lagi ada gosip rame tuh tentang Kris yang dimarahin, coba lu liput itu," ucap Risa dengan nada menantang
"Nah gue setuju sama Risa," ucap Vano mengangguk-angguk
"Gue enggak setuju," sanggah Bara
"Itu kesalahan dalam Osis, lagian juga kan itu sifatnya personal," ucap Bara tak terima dengan usulan Risa
"Selama ini juga kalau tentang Selebschool sifatnya kan personal, kalau gak setuju berarti lu pandang Kris sebagai temen lu," ucap Risa menyudutkan Bara
"Kok jadi ajang debat sih? Yaudah gue yakin Anaya bisa ngeliput berita kecil kaya gitu," ucap Raya sambil berpangku tangan
"Iya kan, Anaya?" tanya Raya sambil memandangi Anaya
Anaya terdiam, sebenarnya dia yang menyebabkan Kris seperti ini, lagi pula Kris juga tidak akan menyukai ini.
"Anaya, gue bakal bantu lu, lagian Kris gak akan kaya yang lu bayangin," ucap Raya sambil tersenyum pada Anaya
"Yaudah gue bakal dapetin beritanya," ucap Anaya, Bara hanya menghela nafas sambil menyenderkan kepalanya ditembok
"Karna gue belum jadi anggota resmi, gue pergi duluan," ucap Anaya
***
Sementara itu disisi lain, Kris sedang bermain basket dilapangan, sendirian. Beberapa kali dia menembakkan bolanya, namun selalu saja melesat.
Kris memang begini setiap kali dirinya sedang marah dan kecewa, pasti dirinya selalu tidak bisa fokus.
Kris tidak sadar, dipinggir lapangan, seorang wanita sedang memperhatikan dirinya, ya, dia adalah Anaya.
Kris mendribble bolanya lagi kemudian dia menembakkan bolanya, kali ini tidak melesat, tembakannya tepat sasaran, setelah itu Kris merebahkan tubuhnya diatas lapangan.
Kris menutup matanya, silaunya matahari di langit membuat matanya terpaksa terpejam.
Srettt... Duk...
"Aw!" ringis seseorang, membuat Kris terbangun lalu terduduk.
Kris terkejut melihat Anaya yang terbaring dilapangan, mungkin Anaya tadi terjatuh sampai terbaring.
Kris buru-buru menghampiri Anaya dan mengulurkan tangannya.
Anaya mencebik lalu meraih tangan Kris, memalukan sekali rasanya harus seperti ini saat dia mau memberi minum pada Kris.
Anaya sudah terduduk sekarang, namun rasanya ngilu sekali.
"Jalan tuh hati-hati, udah tau musim hujan, banyak genangan air," ucap Kris sambil menyirami luka di kaki Anaya dengan air mineral yang Anaya bawa tadi.
"Orang jatoh bukannya ditanya sakit apa enggak, malah dinasehatin," ucap Anaya sebal, Kris terkekeh melihatnya, membuat Anaya terpaku seketika.
"Ngapain sih basa-basi kaya gitu? Emang ada ya orang jatoh rasanya nikmat?" tanya Kris, Anaya mencebik saja, menyadari bahwa Kris tetaplah Kris, cowok menyebalkan dihidupnya
"Emang mau kemana sih? Ampe gak hati-hati gitu," tanya Kris lalu menutup botol mineral tadi.
"Mau ke elu," balas Anaya jujur
"Ngapain?" Tanya Kris
Anaya terdiam. Apakah dia harus mengatakan bahwa ia membawakan air mineral atau mengatakan bahwa ia mau minta maaf dan memintanya untuk jadi narasumber beritanya?
Entahlah, keduanya sama-sama buruk, mungkin Anaya akan memilih yang sedikit tidak terlalu buruk.
"Gue mau minta maaf," ucap Anaya sambil menatap lurus Kris
"Seinget gue, belum lebaran malah," balas Kris yang juga menatap Anaya, Anaya tak menyangka Kris yang terlihat sangat serius ternyata sebenarnya sangat sulit serius.
"Ih gue serius tau," ucap Anaya
"Emang gue bercanda?" tanya Kris
"Dih, yaudah deh, intinya gue minta maaf soal pagi tadi bikin tugas lu terabaikan," ucap Anaya
"Gitu doang? Lu kesini minta maaf yang manis kek, bawa minum kek, apa kek," ucap Kris dengan nada jailnya.
Anaya melongo. Serius? Selain menyebalkan, Kris juga itungan?
"Gue bawain lu minum kok tadi, cuma minumnya lu pake buat bersihin luka gue," ucap Anaya kesal
Anaya pun tersadar, lalu membulatkan matanya, apa yang dia katakan barusan? Hal memalukan yang tak seharusnya dikatakan.
Kris tertawa sekarang, melihat wajah Anaya yang memerah.
"Ih gak lucu, udah ya, gue udah minta maaf, lu harus maafin gue gak mau tau, dan gak ada penolakan," ucap Anaya, membuat Kris menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakan Anaya
"Gue gak mau maafin lu kayanya," ucap Kris
"Tadi gue dimarahin habis-habisan soalnya," lanjutnya, dengan mata yang mengerling jahil
"Ih Kris, cowok biasanya kalau ada cewek minta maaf tuh pasti bilang 'Yaudah gak apa-apa, bukan salah lu kok,' gitu," kesal Anaya
"Tapi kan gue kenapa-kenapa terus juga lu yang salah," ucap Kris tersenyum jahil
"KRIS YA AMPUUUUUN," teriak Anaya kesal, bingung harus bagaimana menghadapi cowok dihadapannya.
"Gue harus apa biar dimaafin?" tanya Anaya
"Sebrangin samudra Pasifik pake sampan," balas Kris
"Yang bener Kris," Anaya menyipitkan matanya
"Gue pikir-pikir dulu deh lu harus ngapain, siniin aja nomor lu, nanti gue kasih tau lewat chat," ucap Kris sambil memberikan handphone nya supaya Anaya bisa menyimpan nomornya sendiri.
Raya dan Bara menghampiri Anaya dan Kris, membuat Kris kelabakan, namun mau bagaimana lagi? Bara dan Raya sudah melihatnya.
"Oh mulai tukeran kontak," ucap Bara dengan wajah yang dibuat sejahil mungkin
"Iri deh," ucap Raya sambil memperhatikan Anaya yang baru selesai menyimpan kontaknya di handphone Kris.
"Raya, ketikin aja nomor lu di hp gue," ucap Bara sambil menyodorkan handphone nya
"Ogah, yang ada gue ketularan virus ogeb," balas Raya sambil menjulurkan lidahnya, Bara pun tertawa geli atas kelakuan bodohnya.
Anaya melihat arloji nya, sudah sore ternyata, Anaya mencoba bangkit, berhasil memang, namun langkahnya tertatih-tatih.
"Lah Anaya lu kenapa?" Tanya Raya khawatir
"Enggak, tadi gue cuma jatoh, eh pulang aja yuk? udah sore," Ajak Anaya
"Naik angkot? Kaki lu lagi begitu An," ucap Raya
"Eh Kris, lu bawa motor kan? Anterin Anaya bisa?" tanya Raya
"Gak usah Raya," tolak Anaya merasa tak enak
"Buruan, gue anterin, sebut aja alamat rumah lo," ucap Kris mulai berjalan didepan Anaya.
"Udah lo ikut aja sama Kris, gue bareng Bara," balas Raya
Anaya menurut, setelah itu, diapun mengikuti Kris untuk diantar pulang.
***