
Anaya mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, setelah ia mengobati luka goresan yang melintang dilehernya akibat ulah Moyra.
Anaya tidak menyangka semuanya akan serumit dan serunyam ini, Anaya tidak pernah menyangka bahwa ada orang sekejam dan sepicik Moyra.
"Nay," suara kakaknya mengagetkan Anaya, membuat Anaya menengok cepat-cepat kearah pintu kamarnya
"Aw," ringis Anaya sambil memegangi lehernya yang baru saja selesai dia obati
"Lu kenapa Nay?" tanya Adlan sambil menghampiri Anaya, namun Anaya mengibaskan tangannya dengan cepat
"gak apa," balas Anaya "Anaya cuma pegel," balas Anaya, buru-buru Anaya menyambar selimut dan menyelimuti semua badannya kecuali kepala
"Kenapa pake selimut?" tanya Adlan yang semakin curiga
"Dingin lah," balas Anaya sambil terkekeh, namun secepat kilat Adlan menarik selimut Anaya membuat Anaya berguling terlepas dari selimutnya.
Adlan lalu melotot melihat luka dileher Anaya, Anaya pun hanya menempelkan telunjuknya dibibir Adlan.
"Abang jangan teriak, jangan berisik, jangan bilang mama," pinta Anaya sambil sedikit berbisik, Adlan menepis tangan Anaya dan langsung melihat luka itu
Adlan menatap Anaya dengan serius, membuat Anaya mengalihkan pandangannya, Anaya takut sekali jika ekspresi Adlan sudah seperti itu.
"Siapa yang bikin goresan ini?" tanya Adlan sambil menatap Anaya yang mengalihkan pandangan
"Itu cuma jat—" ucapan Anaya lagi-lagi dipotong Adlan
"Jangan bohong Anaya!" bentak Adlan, membuat Anaya terkesiap, Anaya menatap Adlan dengan tatapan takut dan hampir menangis
"Eh Nay, Abang gak maksud mau bentak kamu," balas Adlan sambil mengusap kepala Anaya
"Yaudah, sekarang, cerita sama Abang," ucap Adlan
"Anaya janji bakal cerita sama Abang, tapi gak sekarang," ucap Anaya
Adlan hanya menghela nafas lelah, Anaya selalu begini dan Adlan tak mungkin memaksanya untuk bercerita.
Adlan ingat dirinya hampir membunuh seseorang yang membully Anaya disekolah lamanya, dan keadaan malah semakin memburuk.
"Yaudah, kalau gitu Abang keluar ya?" ucap Adlan, Anaya mengangguk
Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt...
ponsel milik Anaya bergetar, Anaya buru-buru menyambar ponselnya, nomor tak dikenal memanggilnya, buru-buru Anaya mengangkatnya.
"Hallo?" sapa Anaya
"HALLO, ANAYA HIKS GUE KANGEN," Ucap suara disebrang sana, membuat mata Anaya membulat bahagia
"RAYAAA GUE JUGA KANGEN," balas Anaya sambil mengusap bulir air matanya yang tiba-tiba menetes di pipi
"Dirumah gue gak ada siapa-siapa, boleh gue kerumah lu?" tanya Raya
"Gue aja ya yang kerumah lu? Lagian lu kan masih lemes gitu," tawar Anaya
"Gak ngerepotin?" tanya Raya
"Gak, gue kesana sekarang, titik," balas Anaya setelah itu Anaya mematikan telponnya
Anaya keluar kamar setelah memakai Hoodienya, kemudian Anaya mengetuk-ngetuk pintu kamar kakaknya.
"BANG!! BANG ADLAN!!" ucap Anaya, membuat Adlan cepat-cepat membuka pintunya
"Apa sih? berisik banget," Adlan menggelengkan kepalanya
"Anterin Anaya bang," pinta Anaya, membuat kening Adlan mengernyit
"Kemana?" tanya Adlan lagi
"Kerumah Raya, ayo, Anaya mau nginep, nanti Anaya yang tunjukkin jalannya," balas Anaya
"Yaudah tunggu," balas Adlan sambil berlari ke kamar mama, untuk meminta izin
Tak lama, Adlan keluar sambil menarik tangan Anaya menuju motornya, mereka pun memakai helm dan mulai melaju kerumah Raya.
***
Raya memakan mie instan yang ada di kulkas, sangat lapar sekali, rasanya Raya sudah berabad-abad tidak menemukan makanan.
uhuk!
Raya tersedak begitu pintu rumahnya diketuk, buru-buru Raya minum untuk meredakan batuknya dan membukakan pintu.
Tanpa mengatakan apapun, Anaya langsung memeluk Raya dengan erat, membuat Adlan yang berada dibelakang Anaya mengernyit heran.
"Kaya orang yang udah lama gak ketemu aja," gumam Adlan polos, padahal ucapannya ada benarnya.
"Yaudah girls, gue balik ya," pamit Adlan
"Hati-hati kak," pesan Raya, Adlan hanya mengacungkan tangannya saja setelah itu pergi
Anaya dan Raya langsung masuk kedalam rumah yang sudah sedikit berdebu.
"Ada yang nanyain gue ilang?" tanya Raya sambil tersenyum miris, Anaya menggeleng
Mereka lalu memasuki kamar Raya yang bernuansa biru dan serba Doraemon, kamar yang selalu diidam-idamkan Anaya ternyata memang ada, sayangnya itu milik sahabatnya.
"Sama ya seleranya kaya gue," ucap Anaya sambil tersenyum senang kemudian merebahkan dirinya di kasur yang berbalut seprai Doraemon
Raya pun duduk dihadapan meja rias yang memiliki kaca besar sambil mengobati lukanya di sekitar pipi dan hidung.
"Lu gak ikut Kris buat nolongin gue sama Bara?" tanya Raya dengan nada kecewa yang dibuat-buat, membuat Anaya tertawa mendengarnya
"Gue terlalu pengecut buat ngadepin Moyra," balas Anaya yang tak sadar memegangi lehernya
"Aw," desis Anaya saat jarinya tak sengaja menyentuh lukanya yang masih basah
Raya buru-buru menyudahi kegiatannya lalu menghampiri Anaya, setelah itu Raya menyingkirkan tangan Anaya dan melihat dua goresan yang cukup panjang melintang dileher Anaya.
"Dasar tukang bohong," gemas Raya sambil menjitak Anaya, Anaya sendiri hanya pura-pura mengaduh kesakitan.
"Ini kalau dibiarin gini bisa infeksi, lu tau gak?" tanya Raya sambil mengambil kotak P3K.
"Eh jangan! udah gue obatin pake obat merah," ucap Anaya yang membuat Raya ingin mengumpat seketika
"Belepotan kaya gini," Raya memijat pelipisnya sambil menunjuk leher Anaya yang belepotan dengan obat merah, Anaya sendiri hanya terkekeh
"Gue bukan anak PMR jadi gak tau," timpal Anaya
"Meskipun bukan anak PMR lu harus tau dasar-dasar nanganin luka," balas Raya sambil melenggang meninggalkan Anaya
Anaya hanya memajukan bibirnya sambil berguling-guling di kasur empuk milik Raya. Tak lama, Raya pun datang sambil membawa air hangat.
"Ya ampun Anaya! Luka lu nanti kegulung-gulung," decak Raya, membuat Anaya menghentikan aksinya
Raya pun menaruh air hangat itu di nakas dan mulai mengelap leher Anaya yang penuh dengan obat merah itu.
"Aw Raya, perih," ucap Anaya
"Huh anak manja," Raya menjitak Anaya lagi membuat Anaya meringis
"Rayaaaa," panggil Anaya, Raya hanya mengangkat alisnya sebagai respon
"Maafin gue ya, gara-gara gue, lu, Bara, Kris, jadi susah," lanjut Anaya, Raya tersenyum sambil terus mengobati leher Anaya dengan benar
"Gak perlu minta maaf, yang nyuruh gue sama Bara kan bukan lu, lu juga udah berusaha nyelamatin gue, itu udah lebih dari cukup," balas Raya
Anaya tersenyum getir mendengarnya, setitik buliran bening mengalir di pipinya, Anaya tidak pernah menemukan sahabat sebaik dan sepengertian Raya, harapan Anaya saat ini hanya satu, semoga Raya juga merasakan apa yang Anaya rasakan.
"Jangan nangis, lebay," cibir Raya sambil merebahkan dirinya disamping Anaya
"Apa sih, menghayati tau gak?"kesal Anaya sambil.memukul pelan bahu Raya
"Tebusan apa yang Lo kasih buat bikin Moyra ngelepasin gue sama Bara?" tanya Raya
"Mahal pokoknya," kekeh Anaya, namun Raya malah mendengarnya sebagai tawa miris
"Apaan tuh?" tanya Raya, Anaya menggeleng, Anaya sedang tidak mau membebani Raya untuk saat ini
"I Miss You Ray," ucap Anaya sambil tertawa geli
"I Miss You too, Nay," balas Raya, setelah itu mereka bercanda sampai tertidur pulas.
***