Different With You

Different With You
Home



“tidak semua rumah memiliki kehangatan yang sama, bahkan terkadang mengandung banyak kepahitan, yang harus kita lakukan hanyalah menerimanya.”


***


Pintu rumah terbuka setelah matinya suara mesin motor dihalaman. Kris baru saja pulang dari sekolahnya, sudah jam 7 malam dan Kris baru pulang. Itulah kebiasaannya, kalau tidak ekskul, dia pasti pergi kerumah Bara.


Kris melewati ruangan yang biasa digunakan keluarganya untuk berkumpul, sudah ada ibu dan adik tirinya yang masih kecil.


"Makan Kris, ibu udah masak," ucap ibu baru Kris


Kris tak membalas, menatap pun tidak. Kris langsung melenggang menuju kamarnya. Kris menutup pintu kamarnya, lalu bergegas merebahkan tubuhnya.


Ia melihat kearah bingkai foto yang bertengger dinakas kamarnya. Setelah itu dia menghela nafas dalam.


"Kris? Ini bibi bawa makanan," ucap ART di rumah Kris


"Kris udah makan di rumah Bara," balas Kris


"Bibi yang buat makanannya," ucap bi Ria lagi


Kris bangkit, lalu membukakan pintu, setelah itu Kris meraih makanan yang dibawakan Bi Ria.


"Maaf ngerepotin," ucap Kris lalu beringsut mundur hendak menutup pintu.


"Kris?" panggil bi Ria, Kris menatap wanita paruh baya itu.


"Makan yang banyak, kamu kelihatan kurus," ucap bi Ria sambil menatap Kris dengan tulus, bisa Ria berusaha sebisa mungkin untuk menahan air mata yang hendak menetes dari matanya.


Kris hanya mengangguk dan tersenyum samar, setelah itu ia menutup pintu. Kris mulai memakan makanannya tanpa minat.


Sebenarnya Kris sudah kenyang, namun dia berusaha menghormati bi Ria yang sudah membuatkannya masakan.


Kris menatap foto disebelahnya, sudah lama sekali rasanya sejak ia terakhir kali memakan masakan Mama kandungnya.


Mamanya selalu merawatnya penuh sayang, bahkan Kris tidak pernah merasakan kesepian, sampai insiden itu terjadi.


Insiden yang menggantikan kehangatan menjadi kedinginan yang menusuk, menggantikan keramaian yang selalu dia rindukan.


Tok.. tok.. tok..


pintu kamar Kris kembali terketuk. Kris tak menghiraukannya, sampai sebuah suara terdengar.


"Kris, sekali-kali makan masakan ibu, ibu udah masak capek-capek, hargain sedikit aja," ucap papa Kris di luar kamar


Kris hanya menghela nafas, ibu tirinya mengadu lagi? lagi pula pernahkah papanya menanyakan kabar ataupun bagaimana keseharian kris? tidak. Yang papanya pikirkan hanyalah istri barunya.


"Kris buka pintunya sekarang!" ucap suara diluar sana


Kris langsung beranjak dari duduknya dan membukakan pintu untuk papanya.


"Kris, hargain ibu ka—" ucapan papanya terpotong oleh Kris


"Dia bukan ibunya Kris, pa," balas Kris sambil menatap papanya dingin


Plak!


Satu tamparan papa mendarat di pipi Kris. Tak apa, ini bukan pertama kalinya Kris mendapat tamparan, bahkan sebelumnya Kris sempat mendapat tamparan yang lebih keras dari ini.


Namun tetap saja, terasa sakit, masih terasa seperti pertama kali ia ditampar.


"Papa sekolahin kamu bukan buat ngelawan orang tua, sia-sia aja papa sekolahin kamu kalau kamu jadi anak berandalan kaya gini," ucap papanya sambil berlalu dihadapan Kris


Kris hanya berusaha tak mempedulikan perkataan papanya. Seingatnya Belum pernah papa bicara sekasar ini. Kris hanya terdiam sebentar lalu menutup pintu kamarnya.


***


Papa Anaya sudah meninggal sejak Anaya umur 6 tahun, walaupun mama Anaya singgle parent, dia tak pernah membiarkan Anaya kehilangan kasih sayang.


"Anaya, hari kamu disekolah gimana?" tanya mama Anaya sambil merapikan belanjaan.


"Baik ma, walaupun ada cowok nyebelin," balas Anaya sambil memajukan bibirnya dengan sebal.


"Ngadu deh," ucap kakaknya sambil mengisi gelas dengan air minum.


"Ish kakak, apa sih, dia emang ngeselin kok, tengil lagi, abis itu banyak yang muji-muji dia, bahkan temen sebangku aku juga muji dia," sebal Anaya.


Dikehidupan Anaya cowok menyebalkan hanya satu-satunya, yang tak lain adalah Kris.


"Ganteng gak?" tanya Adlan, kakak Anaya.


"Gak!" sambar Anaya cepat, ya walaupun tak sepenuhnya yang Anaya ucapkan itu sesuai dengan pendapat hatinya.


"Gantengan siapa sama kakak?" Tanya Adlan jail, Anaya mendengus saja.


Anaya berubah pikiran. Cowok menyebalkan dikehidupannya bukan hanya Kris, tapi kakaknya pun termasuk.


Adlan pun tertawa melihat ekspresi Anaya yang lucu.


"Aduh, Anaya kenapa bilang cowok itu tengil?" tanya Mama


"Ma, cowok itu bilang Anaya mau modus pas Anaya nyari kelas," tutur Anaya


"Mana pas dikelas bukannya minta maaf malah natap nantang," lanjut Anaya dengan menggebu-gebu


"Lah, emangnya kamu gak dianter guru ke kelasnya?" tanya mama


"Anaya mau nyampe duluan ma, tadinya, biar pas gurunya datang, gak usah motong jam nya gara-gara perkenalan Anaya doang," Anaya menjelaskan


Mama dan kakaknya berpandangan, lalu terbahak-bahak.


"Anaya... Anaya... Lagian kan perkenalan gak nyampe ngebuang-buang banyak waktu, aduh kamu ini ada-ada aja," tawa mama Anaya meledak


"Aduh ogeb banget sih punya adek," tawa Adlan meledak-ledak


"Apanya yang lucu?" Anaya memajukan bibirnya lagi


"Udah ah Anaya capek, Anaya mau ke kamar," dengan wajah sok sebal Anaya meninggalkan ruangan, padahal dia menutupi rasa malunya


Anaya mulai melangkah, namun dihentikan oleh panggilan mamanya.


"Anaya?" panggil mama. Anaya lalu berbalik menatap mama.


"Jangan terlalu benci sama cowok itu, mungkin ada alasan tertentu, kenapa dia ngeselin kaya gitu," ucap mamanya


"Awas benci sama cinta beda beda tipis loh hahahaha," Adlan lagi-lagi menertawakan Anaya


Anaya menyipit lalu mengarahkan telunjuknya dan jari tengah ke arah kakaknya. Seolah-olah mengancam. Setelah itu, Anaya melangkah menuju kamarnya.


Didekat pintu kamarnya Anaya memandang foto keluarga dengan 4 anggota, lalu ia tersenyum.


"Andai ada papa, pasti makin lengkap," ucap Anaya


"Papa ada kok, papa gak pernah kemana-mana, nanti kita pasti ketemu lagi," ucap mama


Anaya hanya tersenyum samar, mengangguk, lalu masuk kamarnya.


Anaya tiba-tiba saja teringat Kris begitu menutup pintu kamarnya. Dulu, saat papanya belum lama meninggal, Anaya pun memiliki sifat dingin dan kaku pada orang lain. Apa Kris juga mengalami hal yang sama? Anaya menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Untuk apa dia memikirkan cowok tengil itu?


***