
Anaya memperhatikan artikel yang sudah dia buat, setelah dipikir-pikir rasanya Anaya tidak tega menempelkan artikel itu di mading. Apalagi itu adalah masalah pribadi Kris.
"Anayaaa," ucap Raya yang datang tiba-tiba sambil menggebrak meja, membuat Anaya sedikit terlonjak
"Raya apa sih ngagetin aja," ucap Anaya, setelah itu Anaya memperhatikan artikelnya lagi
"Kenapa sih pagi pagi udah bengong?" tanya Raya sambil duduk di dekat Anaya
"Gue ngerasa jahat sama Kris," balas Anaya, kali ini dia menatap Raya
"Jahat kenapa?" Raya mengerutkan dahinya
"Artikel ini, gak tau ganjel aja gitu," ucap Anaya, Raya tersenyum lebar
"lu cuma lagi badmood kali," Raya menenangkan
"Apa iya?" tanya Anaya, Raya mengangguk mantap
Seorang laki-laki bertubuh jangkung menghampiri Anaya dan Raya, dia adalah Vano.
"Udah jadi artikelnya?" tanya Vano, Anaya hanya mengangguk lalu memberikan artikelnya pada Vano
"Bagus," ucap Vano lalu hendak berjalan meninggalkan Anaya
"Gue udah resmi jadi anggota club mading?" tanya Anaya
Langkah Varo terhenti, dia lalu tersenyum dan berbalik ke arah Anaya.
"Tunggu keputusannya lusa," ucap Vano, lalu pergi
Anaya hanya membalasnya dengan menghela nafas, mungkin benar kata Raya, saat ini Anaya sedang badmood.
tuk
Dua buah coklat mendarat di meja Anaya dan Raya, membuat keduanya serentak melihat siapa yang memberikannya.
"Pagi-pagi udah pada cemberut aja, tuh makan coklat," ucapnya lalu berjalan menuju bangkunya
"WAAA COKLAT INI, MAKASIH BARA," ucap Raya membuat seisi kelas menoleh padanya dan mulai berbisik
"Hayoloh nanti digosipin pacaran sama Bara," ucap Anaya
"Ih biarin aja kali, Anaya ku yang baik hati, denger ya, gak selamanya omongan orang itu harus didenger, apalagi kalau cuma gosip," ucap Raya santai, membuat Anaya tersenyum samar
Bukankah Anaya pindah-pindah sekolah hanya karna gosip yang beredar? Anaya menghela nafas, bagaimana pun gosip itu bersangkutan dengan harga diri keluarga nya.
"Ini coklat apa?" tanya Anaya, Anaya belum pernah melihat coklat itu dimana pun
"Bara sama Kris itu kerja paruh waktu, di kedai, kedai nya rame terus, soalnya mereka terkenal sama coklat nya yang enak," ucap Raya sambil memakan coklatnya
Anaya lalu melihat kearah jendela, dia melihat Kris yang sedang memberikan coklat pada Risa dan salah satu teman Risa.
"Jangan cemburu, mereka yang minta," ucap Kris setengah berteriak dari luar, membuat Anaya terbelalak kaget dia pun buru-buru mengalihkan pandangannya.
Tidak ada yang berbisik mengenai Anaya dan Kris, entah karna takut, cemburu atau bagaimana.
Kris lalu masuk kelas sambil menatap Anaya dengan tatapan jail, Anaya lalu mengancam Kris lewat sorot mata.
Kring... Kring... Kring...
bel upacara berbunyi, membuat sebagian besar siswa siswi menghela nafas berat.
"Anaya, ayo," ajak Raya, Anaya lalu mengikuti Raya.
Sesampainya di lapangan, Anaya melihat wali kelas sedang berdiri di depan barisan anak muridnya sambil mencatat sesuatu. Disekolah Anaya tidak pernah ada hal ini sebelumnya.
"Itu Bu Lesy sama guru yang lain lagi apa?" tanya Anaya pada Raya
"Itu Nay, mereka nyatetin anak-anak yang gak lengkap atribut nya," balas Raya
"Bukannya ada anak osis?" tanya Anaya
"Kalau disini, setiap anak yang gak lengkap atributnya, bakal dicatet langsung, terus nanti di rapor juga ada keterangan berapa kali kita pake atribut gak lengkap," ucap Raya, Anaya hanya ber 'Oh' ria saja.
Setelah selesai pendataan, upacara pun dimulai, matahari mulai terik membuat keringat dingin mengucur dari dahi Anaya, wajah Anaya pun jadi sedikit pucat.
"Anaya?" tanya Raya
"y-ya?" sahut Anaya dengan lemas
"Kebelakang aja yuk? lu kayanya sakit deh," ucap Raya
Nafas Anaya tiba-tiba tersengal-sengal, pandangannya menguning, dia ingin mengangguk tapi rasanya sulit sekali. Kaki Anaya melemas dan Anaya pun jatuh pingsan.
sebelum Anaya menutup matanya, dia mendengar Raya memanggil namanya, lalu setelah itu, dia tak sadarkan diri.
***
Anaya terbangun, nafasnya masih sesak, dia lalu mengedarkan pandangannya ke seisi ruang UKS, dia lalu melihat pada seseorang yang sedang berusaha menaikkan bantal Anaya.
"Nga... Ngapain?" tanya Anaya dengan nafas tersengal, dia pun sadar bahwa itu Kris
"Ngebenerin posisi lu biar gak sesek," balasnya, setelah selesai, Kris lalu beralih menatap Anaya
"Kris, kenapa... kenapa gak Raya yang jagain gue?" tanya Anaya
"Karna yang lagi upacara gak diizinin buat nemenin temennya," balas Kris sambil duduk disamping Anaya
"Terus lu?" tanya Anaya
"Btw, Lu, punya asma?" tanya Kris
"iya, udah cukup parah," Anaya menghela nafas
"Jangan ngehela nafas gitu dong," ucap Kris
"Gue ngerasa gak adil aja dunia sama gue, lu, sama yang lain bisa nafas dengan normal kapanpun, lah gue? nafas aja kadang susah," ucap Anaya mengeluh
"Gak adil? Terus gimana sama orang lain yang punya penyakit lebih berat dari lu?" tanya Kris sambil menatap mata Anaya
Anaya dan Kris lama saling berpandangan, awalnya Anaya hanya ingin mencari jawaban lewat mata Kris, lama-lama dia merasakan sesuatu berdebar dalam dadanya.
Anaya lalu mengalihkan pandangan, dia kalah telak oleh Kris hari ini. Kris lalu tertawa karna berhasil menangkap ekspresi kesal Anaya.
"Banyak-banyak bersyukur Anaya," ucap Kris, Anaya hanya mengangguk saja
"Anaya ayo ke kelas, ucap Raya yang sudah ada di ambang pintu UKS
"Iya," ucap Anaya
Anaya bangkit dari duduknya, namun kepalanya pening sekali, tubuh Anaya terhempas kembali ke ranjang UKS.
"Ray, bawain tas Anaya kesini," ucap Kris
"Oke," balas Raya sambil melangkah pergi
"Ngapain?" tanya Anaya
"Balik," balas Kris
"Gak ada orang di rumah, cuma ada di bibi, gak akan ada yang jemput," ucap Anaya
"Gue yang anter," balas Kris
Tak lama, Raya datang dengan membawa tas Anaya.
"Anaya, lu mau balik?" tanya Raya
"Kayaknya gitu," balas Anaya
Bara lalu masuk ke dalam UKS sambil membawa selembar kertas.
"Kalian butuh ini kan?" tanyanya sambil mengacungkan surat izin
"Tumben lu gak lambat," ucap Kris setengah meledek
"Gue yang kasih tau," ucap Risa yang tiba-tiba muncul
"Anaya, gue denger tadi Lo pingsan, GWS ya," ucap Raya dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya, tanpa mendekat kearah Anaya
"Kok jadi kumpul disini?! bubar!!" ucap seorang petugas PMR bernama Sabrina
"Kan lagi jenguk," Raya membantah
"Oke, saya catet," ucap Sabrina yang sudah memegang pulpen
"Eh? enggak, kita mau pergi kok," ucap Bara
Risa, Bara, dan Raya dengan terpaksa meninggalkan UKS.
"Ayo pulang," ucap Kris sambil bangkit dari duduknya dan memakai Hoodie nya.
"Kuat jalan?" tanya Kris, Anaya hanya tersenyum dan mengangguk
"Pegang aja hoodie gue, kalau takut jatoh," ucap Kris, Anaya pun bangkit perlahan dan mulai memegang hoodie Kris
"Sabrina, gue duluan," ucap Kris, Sabrina hanya melambaikan tangan.
Kris lalu mengantarkan Anaya ke rumahnya.
"Boleh gue masuk dulu? 10 menit aja, mau ketemu siapa kek yang bisa ngurus lo" tanya Kris
"Masuk aja," ucap Anaya sambil jalan pelan-pelan
Seorang Art keluar dari rumah Anaya dengan setumpuk pakaian, ia langsung meletakan pakaian itu begitu melihat Anaya.
"Anaya, ya ampun, kenapa kamu?" tanya nya
"Anter Anaya duduk ya bi sum?" pinta Anaya sambil menggandeng tangan bi Sum
Anaya, bi Sum, dan Kris lalu masuk dan duduk di ruangan favorit Anaya dan keluarganya saat berkumpul, ya di ruang Ps.
"Bi Sum, Anaya ini demam sama asma, bibi kompres dahi Anaya pake air anget kalau badan Anaya panas lagi, terus kalau asma nya kambuh, bibi jangan biarin Anaya terlentang, usahain buat posisi kepala Anaya lebih tinggidari badannya, terus jangan biarin Anaya minum es dingin sama makanan yang kepanasan," ucap Kris panjang lebar menjelaskan
"Wah, perhatian banget ya sama Anaya, pacar nya ya?" tanya bi Sum
"Aamiin," balas Kris sambil terkekeh
"Apaan sih?" tanya Anaya jutek
"Lagi sakit juga masih jutek," Kris menggelengkan kepalanya
"Itu aja ya, bi, Anaya gue pamit, assalamualaikum" ucap Kris sambil berjalan meninggalkan bi Sum dan Anaya
"Waalaikumsalam,"
***