Different With You

Different With You
I'm Tired



Pagi ini, kamar Anaya masih tampak seperti malam, tirainya masih tergerai, lampunya masih menyala, dan Anaya pun masih berbalut selimut.


Anaya memeluk boneka bebek putih pemberian mamanya, Anaya menggenggam kaki bonekanya yang berwarna kuning cerah itu.


"Anaya kamu gak sekolah?" tanya mama dari luar sambil mengetuk pintu


Anaya pun buru-buru menarik selimut sampai menutupi kepalanya, Anaya lupa tadi dia tidak mengunci pintu kamar.


Tak lama mama masuk dan duduk di tepi kasur Anaya. mama mengusap-usap punggung Anaya dengan lembut.


"Anaya, kamu kenapa sayang?" tanya mama, Anaya menggeleng dari dalam selimut


"Anaya gak enak badan aja ma," balas Anaya tanpa menatap mamanya


mama menyibak sedikit selimut Anaya, lalu menempelkan telapak tangannya di kening Anaya, tapi Anaya tidak panas sama sekali.


Mama tersenyum sendu melihat putrinya yang tengah mencoba berbohong, padahal mama tau jika begini, Anaya pasti sedang memiliki masalah.


"Anaya, ayo cerita sama mama," ucap mama sambil mengusap rambut Anaya, Anaya menggeleng cepat


"Mama harus ke kantor, bukan masalah besar kok, gak usah dipikirin," ucap Anaya sambil terkekeh


Mama menghembuskan nafasnya perlahan, mungkin kejadian yang sama telah menimpa Anaya kembali.


"Kejadian yang sama lagi?" tanya mama, Anaya hanya tersenyum sebagai jawaban


"Mau pindah sekolah lagi?" tanya mama lagi, Anaya menggeleng


"Anaya gak mau lari ma, Anaya pengen semuanya selesai karna kemana pun Anaya pergi, Anaya pasti bakal Nemu hal yang seperti ini," balas Anaya


mama tersenyum haru, mendengar penuturan Anaya, kini Anaya yang dulunya adalah gadis kecil manja, sekarang sudah tumbuh menjadi remaja yang mulai dewasa.


"Kalau gitu kamu cuma perlu tutup telinga kamu jangan dengerin keburukan apapun yang mereka bilang," ucap mama


"Kalau aja masalahnya cuma gosip itu, Anaya gak bakal ambil pusing ma," ucap Anaya sambil menenggelamkan wajahnya kebonekanya.


"Masalahnya banyak yang bilang kalau sahabat deket Anaya yang nyebarin itu semua," lanjutnya


"Anaya percaya?" tanya mama, Anaya mematung bingung mau jawab bagaimana


"Anaya bingung ma, Anaya pengen gak percaya tapi mereka punya bukti," balas Anaya


"Anaya, gak semua bukti itu bener, kamu harus ikutin hati kamu jangan ego kamu, kalau kamu emang mereka salah, tapi mereka nyesel kenapa gak kamu maafin? Atau bisa jadi kan mereka gak ngelakuin?" tanya mama


Anaya terdiam, kemarin Anaya salah, dia terlalu cepat menyalahkan teman-temannya yang belum tentu benar melakukan hal itu.


"Anaya, mama kira, kamu butuh waktu sendiri, mama berangkat ke kantor ya," pamit mama


"Maaf ma, jadi telat ya?" tanya Anaya, mama hanya tersenyum dan menggeleng


"Nggak kok Nay, mama pamit ya, assalamualaikum," ucap mama sambil beranjak dari duduknya


"Waalaikumsalam," balas Anaya sambil melambaikan tangan


***


Kring... Kring... Kring...


Bel istirahat berbunyi, buru-buru Kris bangkit dari duduknya dan langsung memakai Hoodie nya.


"Mau kemana?" tanya Bara


"Mau nemuin Anaya," balas Kris


"Percuma, dia gak bakal dengerin lu," ucap Raya


"Seenggaknya gue pernah berusaha buat jelasin sama dia," balas Kris lalu Kris melangkah lebar-lebar meninggalkan kelas.


Kris meminta surat izin keluar dengan alasan yang tentu saja berbohong, karna Kris bilang dia akan pergi mengurus sponsor yang baru mau memberikan persetujuan.


Setelah mendapat perizinan, Kris langsung mengendarai motornya dengan kecepatan penuh.


***


Anaya mengetuk-ngetuk jarinya ke nakas kamar, Anaya merasa bodoh, dia tidak masuk kelas hanya karna menghindari teman-temannya, tapi dia benar-benar merasa lelah sekarang, Anaya hanya ingin dirinya istirahat sejenak.


tok... tok... tok...


Suara pintu rumah Anaya diketuk, Anaya mulai melangkah, namun langkahnya sedikit diseret, bukan karna malas, sekali lagi, Anaya hanya merasa lelah.


Anaya membuka pintu rumahnya, namun betapa terkejutnya Anaya ketika melihat Kris yang ada dibalik pintu tersebut.


"Nay, izinin gue masuk," pinta Kris


Tanpa bicara, Anaya membukakan pintu untuk Kris.


"Gue cuma mau bilang—" ucapan Kris dipotong Anaya


"Kalau mau bahas tentang desas desus disekolah mendingan lu balik kesekolah," potong Anaya dengan dingin


"Nay ayolah, jangan menghindar, menghindar gak akan nyelesain masalah," ucap Kris yang langsung dihadiahi tatapan tajam dari Anaya


"Nay, screenshootan waktu itu ada yang janggal," ucap Kris namun tak ada respon dari Anaya


"Lu inget kan itu Screenshootan adanya pas gue lagi ngurusin sponsor?" tanya Kris


"Di jam segitu, gue lagi masa sibuknya, dan gue gak pegang hp sama sekali," ucap Kris


Anaya mengernyitkan dahinya dari tadi Anaya tidak merespon Kris, namun tetap saja Kris tidak marah ataupun menuntut Anaya untuk melakukan sesuatu, tanpa sadar Anaya mengamati Kris terlalu jauh.


"Jadi menurut lu gimana?" tanya Kris sambil melihat Anaya


Kris mengulum senyum ketika Kris berhasil menangkap Anaya yang sedang menatapnya tanpa berkedip, saat pandangan mereka beradu, Anaya pun cepat-cepat mengalihkan pandangan.


"Nay, lu dengerin apa yang gue omongin kan?" tanya Kris, Anaya menggeleng dengan polosnya


"Mangkanya jangan terlalu fokus sama kegantengan gue," ucap Kris bergurau, membuat Anaya mendelik


"Apaan sih kadar PD nya gak bisa dikurangin?" tanya Anaya


"PD itu harga seorang Kris," ucap Kris, Anaya terkekeh pelan mendengarnya


"Oke back lagi sama topik, jadi waktu itu gue nyari sponsor sama Bagas, sama Vano juga, berarti kita punya 2 tersangka," ucap Kris sambil mencatat di note nya


Tersangka


~Vano


~Bagas


Anaya menggeleng melihat Kris yang berlagak seperti detektif.


"Udah mirip sama canon belum?" tanya Kris sambil terus pura-pura mencatat


"Canon?" Anaya mengernyitkan dahinya


"Itu, tokoh utama yang ada di komik lu yang dipinjem si Bara," balas Kris dengan penuh percaya diri, hal ini membuat Anaya tertawa pelan


"Itu Conan Kris," tawa Anaya pecah, Kris pun membelalakan matanya, dan mendadak gelagapan


"Lah, gue juga ngomongnya Conan perasaan," ucap Kris sambil menggaruk tengkuknya


"Tadi bilangnya Canon Kris," balas Anaya


"Conan kok, lu nya aja salah denger," ucap Kris sambil mencubit hidung Anaya


Namun, tangan Kris mendadak kaku, Anaya pun langsung terbelalak kaget membuat Kris langsung menarik tangannya kembali.


"Sorry kelepasan, lu ngegemesin sih," ucap Kris


"Eh maksud gue—, ah udahlah," Kris mengeluarkan ekspresi sebalnya yang terlihat lucu, membuat Anaya sedikit tersenyum


"Balik sama topik," ucap Anaya


"Ok," balas Kris dengan bersemangat


"Apa jaminannya kalau bukan lu yang nyebar gosip tentang gue?" tanya Anaya


"Leher gue boleh lu potong kalau gue bohong," balas Kris


"Hus jangan kayak gitu, yang bener," ucap Anaya


"Kenapa? gak tega ya motong leher gue, yang ada lu nanti kangen," Kris memainkan alisnya membuat Anaya sebal


"Oke, kalau gue bohong, gue berani dicoret dari kartu keluarga," lanjut Kris, Anaya tertawa mendengarnya, Kris benar-benar berlebihan


"Oke kalau gitu," balas Anaya


"Nay gue punya rencana buat ngungkap siapa sebenernya yang bikin gosip sama mau buat Lu, gue, Raya, Bara, pisah," Kris menyeringai menunjukkan giginya yang rapi.


"Oke tapi sebelum itu, apa bener tersangkanya cuma dua?" tanya Anaya sambil tertawa dia merasa seperti sedang main detektif-detektif an.


Kris menggeleng lalu menuliskan 2 nama lagi dibawah Vano dan Bagas.


"Bukannya cuma cewek yang bisa masuk grup gibah itu?" tanya Kris, Anaya tersenyum


"Pasti ada kerjasama ini,"


***