
Ivy masuk ke dalam rumahnya dan melihat Javier sudah pulang sore itu. "Hai Daddy! Kau pulang lebih awal?"
"Aku ingin makan malam dengan putriku!" jawab Javier yang duduk di sofa sambil membaca buku.
"Ok Daddy!" seru Ivy lalu berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
"Kau mau kemana? Kau belum menciumku!" teriak Javier lalu menutup bukunya dan melihat putrinya bertingkah aneh.
"Nanti saja Daddy!" teriak Ivy lalu masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.
Javier baru pertama kali merasa tertolak oleh putrinya sendiri dan itu terasa sakit. Javier menoleh pada Nany.
"Apa yang terjadi di rumah sakit?" tanya Javier pada Nany.
"Ivy sedang terobsesi dengan peri gigi Tuan!" ucap Nany sambil melengos ke dapur dengan sekantong strawberry di tangannya.
"Peri Gigi?" Javier semakin bingung.
Javier menatap Ivy yang memakan makan malamnya dengan cepat. "Hati-hati sayang, kau bisa tersedak nanti!"
Ivy minum dan mulai melambatkan makannya. "Baik Daddy!"
"Jadi, kau sudah tidak takut ke dokter gigi?" tanya Javier.
Ivy menggeleng. "Aku tidak takut Daddy! Dokternya baik padaku. Yah, meskipun dicabut gigi tetap sakit."
Javier mengusap Ivy di samping kanannya. "Anak Daddy hebat!"
"Itu berkat malaikat pelindungku Daddy! Tadi dia ada di rumah sakit dan membuatku berani menemui dokter gigi!"
Javier mengernyitkan dahinya. "Malaikat pelindung?"
"Ya! Dia malaikat yang selalu datang di saat aku membutuhkannya!"
Javier semakin bingung dengan ucapan anak berusia lima tahun itu. "Apa dia orang yang sama saat kau tersesat di taman bermain?"
Ivy mengangguk. "Ya! Tadi dia ada saat aku menangis tidak mau menemui dokter gigi."
Javier semakin penasaran dengan siapa orang itu. Lagi-lagi orang itu telah membantu anaknya. Ivy sudah selesai menghabiskan makanan di piringnya. Dia segera turun lalu mencium pipi ayahnya.
"Good Night Daddy!" ucap Ivy lalu berlari kecil menuju tangga.
Mary pulang saat Ivy menaiki tangga.
"Hai Mommy! Bye Momny!" seru Ivy lalu masuk ke dalam kamarnya.
Mary bingung melihat Ivy lalu menghampiri Javier di ruang makan.
"Hai, Honey!" sapa Mary lalu mengambil segelas jus dari dalam kulkas.
"Kau sudah makan malam?" tanya Javier lalu menghabiskan makan malamnya.
Mary duduk di samping suaminya. Lalu seorang asisten yang bekerja di dapur datang menghampiri. "Bawakan aku makan malam!"
"Baik Nyonya," ucap asisten perempuan yang seumuran dengan Nany itu seraya memberikan seporsi makan malam untuk Mary.
Mary mulai melahap makan malamnya.
"Bagaimana dengan yayasanmu?" tanya Javier.
"Berjalan dengan baik. Istri gubernur kita mengerahkan kolega-koleganya untuk ikut berdonasi di yayasan. Tak lama lagi aku akan terbang ke Ethiopia dan di sana selama beberapa hari," jelas Mary.
Javier mengangguk-ngangguk mendengarnya. "Baiklah, hati-hati selama di sana!"
Mary mengangguk sambil menghabiskan makan malamnya.
"Kau tidak lupa janji kita untuk menghadiri Farmer Festival?" tanya Javier.
Mary menepuk jidatnya, lalu menatap Javier dengan tatapan meminta maaf. "I'm so sorry! Malam itu adalah malam pelelangan. Mungkin di festival tahun depan aku akan ikut ke sana!"
"Sudah kuduga."
"I'm so sorry!"
Mary mengangguk sambil menghabiskan makanannya. "Ya, nanti aku akan membelikannya mainan baru."
Javier hanya bisa menggeleng sambil berjalan menuju kamar Ivy. Kenapa dia menyamakan kasih sayang dengan mainan?
Javier masuk ke dalam kamar putrinya. Ivy sudah tidur di atas ranjangnya. Javier duduk di tepi ranjang putrinya, lalu mengelus rambut Ivy. "I love you."
Sesaat, dia merasakan kehampaan menyerang hatinya. Melihat putri kecilnya yang memiliki ibu tapi tidak mendapatkan curahan kasih sayang dari ibunya.
Lalu menatap dirinya sendiri dari pantulan cerim menja rias putrinya. Dia memiliki istri, tapi tak ada kisah romantis di antara mereka berdua. Mereka menjalani ini semua hanya sebatas kewajiban dan mengikuti rel yang seharusnya.
Nany datang ke dalam kamar Ivy dan terkejut dengan adanya Javier di sana.
"Oh Tuan! Kupikir hantu!" seru Nany dengan volume suara yang terjaga agar tidak berisik.
Javier menatap Nany membawa semangkuk strawberry. "Apa yang kau lakukan malam-malam begini?"
Nany menyimpan mangkuk berisi strawberry di tangannya ke atas meja lampu di samping ranjang Ivy. "Beginilah cara kerja peri gigi Tuan."
Javier mengernyitkan dahinya.
Dengan perlahan, Nany merogoh sesuatu di balik bantal yang dipakai Ivy. Ivy sudah sangat lelap sampai tidak merasakan Nany menggeser posisi kepalanya.
Javier melihat Nany mengambil gigi dari balik bantal Ivy. "Itu gigi Ivy?"
"Ya Tuan, dia akhirnya mau dicabut gigi demi semangkuk strawberry yang akan diberikan peri gigi!"
Javier terkekeh. "So, peri giginya adalah kau Nany!"
Nany terkekeh dengan mulutnya yang dibungkam oleh jari tangannya sendiri. "Itu berkat nona yang dulu menyelematkan Ivy sewaktu tersesat di taman bermain Tuan!"
"Oh ya?" Javier yang sudah tahu dari Ivy tadi sore, ingin mendengar cerita itu lagi dari Nany.
"Awalnya Ivy menangis dan dia tidak mau masuk ke dalam ruangan dokter gigi Tuan! Dia memelukku sangat erat sampai aku susah bergerak. Lalu nona itu datang dan menceritakan kisah peri gigi pada Ivy. Dia bilang peri gigi akan mengganti gigi yang telah tercabut dengan makanan kesukaan Ivy. Setelah itu, Ivy langsung menarikku untuk masuk ke dalam ruang dokter padahal kami masih dalam antrian Tuan! Hahaha.." Nany menceritakannya sambil memperagakan adegan demi adegan.
"Hahaha.. Aku jadi penasaran dengan orang itu," Javier melipat kedua lengannya di dada.
"Ya Tuan, kau harus bertemu dengannya. Dia sangat hebat menghadapi putrimu!"
"Jika kau bertemu dengannya lagi, jangan lupa untuk memintanya nomor telepon. Aku belum berterima kasih padanya setelah kejadian di taman bermain itu."
"Baik Tuan! Dia pasti akan datang di saat Ivy membutuhkannya! Dia bagaikan malaikat pelindung putrimu Tuan!" Nany pun keluar dari kamar Ivy.
Javier menggeser tubuh kecil Ivy, lalu tidur di samping putri kecilnya. Malam ini dia ingin tidur bersama putri kesayangannya itu.
"Daddy! Bangun Daddy!" teriak Ivy.
Cahaya matahari menembus di balik tirai jendela. Javier terbangun setelah Ivy berkali-kali menggoyangkan tubuhnya sambil sesekali mencubit pipinya.
"Daddy bangun!" seru Ivy lagi.
Javier mengucek kedua matanya lalu menguap besar. "Ada apa sayang?"
"Daddy! Look! Pergi gigi benar-benar ada!" Ivy menunjuk semangkuk strawberry di atas meja di samping ranjangnya.
Javier tertawa mengingat kejadian semalam, tapi dia tidak ingin menghancurkan hati putrinya. "Ya, peri gigi sudah mengambil gigimu dan menggantinya dengan strawberry semalam!"
Ivy turun dari ranjangnya lalu mulai memakan strawberry itu. "Kau bertemu dengannya semalam?"
Javier bangkit lalu duduk di samping putrinya. "Ya."
"Oh ya? Seperti apa rupa peri gigi Daddy? Apa dia punya sayap?" tanya Ivy dengan mulut penuh strawberry manis.
"Dia... Seperti Nany," Javier berdiri dan keluar dari kamar Ivy.
Ivy duduk tertegun. "Apa peri gigi itu gemuk seperti Nany? Bagaimana dia bisa terbang kalau begitu?"
🤔
â™§â™§â™§