Cause I'M Yours

Cause I'M Yours
So Be It!



BRAK


Javier membanting majalah sosialita ke atas meja kerjanya. Tom melihat tuannya begitu emosi atas berita yang terpampang di majalah tersebut.


Penasaran, Tom pun melihat majalah itu dan membacanya. Di sana terpampang wajah Mary dan Ivy dengan tajuk berita Pemilik Yayasan Sosial Yang Cinta Keluarga.


Javier merogoh ponselnya dan menelpon istrinya sambil menghadap kaca jendela.


"Halo sayang?" jawab Mary dari sambungan telepon.


"Ternyata kau mengantar Ivy ke sekolahnya hanya untuk konten berita agar melambungkan namamu?" ucap Javier dengan nada tinggi.


"Kau keberatan?"


"Tentu! Kenapa kau tidak bilang padaku sebelumnya? Aku tidak ingin wajah Ivy jadi konsumsi publik dan menjadi sasaran tindak kejahatan!"


"Ah.. hahaha.. kau berpikir terlalu jauh sayang!"


"Kau ingat? Beberapa minggu lalu Ivy hampir kecelakaan!"


"Tapi itu murni kecelakaan kan? Kau hanya berspekulasi seolah-olah itu disengaja oleh seseorang. Siapapun bisa mengalami hal naas seperti itu!"


Javier semakin kesal. "Tapi tidak untuk putriku. Dia harus aman!"


Javier menutup sambungan telepon dengan kasar kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Sudah kuduga! Kukira dia benar-benar berubah menjadi ibu yang baik bagi Ivy. Ternyata itu semua hanya topeng! Sial! Kenapa aku bisa menikahi wanita sepertinya!" gerutu Javier.


Tom tak dapat berkomentar apapun soal rumah tangga tuannya.


"Tom, aku ingin kau menghubungi redaksi majalah ini. Suruh mereka menyensor wajah Ivy," perintah Javier.


"Baik Tuan!" Tom pun keluar dari ruangan itu.


Tring


Jo : Hari ini aku ada pengantaran sayuran ke Pizza Planet. Kalau kau mau makan siang bersama, kabari aku.


Sebuah pesan singkat dari Jo seakan menjadi oase di tengah gurun sahara. Di balik rasa kesalnya terhadap Mary, Jo datang sebagai penawarnya.


Jika orang menganggapnya sebagai lelaki serakah, so be it! Persetan dengan itu. Jo adalah sosok yang dibutuhkan olehnya dan dia mencintai wanita itu, bukan Mary bahkan sejak pernikahannya dimulai.


Javier : Kita makan siang di La Francè jam 12.30.


Jo mendapatkan balasan pesan singkat di ponselnya. Dia melirik Patrick di sampingnya.


"Siang ini aku ada janji makan siang bersama teman di La Francè. Kau mau ikut?" ajak Jo pada Patrick.


"Bersama siapa? La Francè itu restoran Perancis kan? Pasti mahal makan di sana!" kata Patrick sambil terus mengemudi.


"Javier yang mengajakku."


Patrick melirik Jo. "Senator?"


"Ya."


"Kau ke restoran seperti itu dengan celana jeans robek dan T-Shirt seperti itu?"


Jo menoleh malas pada Patrick. "Biarkan saja. Aku percaya diri dengan styleku seperti ini!"


"Hahaha.. Oke oke. By the way, kalian sepertinya semakin akrab ya?"


"Ya, dia sudah menjadi temanku."


Patrick berdeham. "Berhati-hatilah, Jo."


"Kenapa? Apa dia penjahat?"


"Maksudku, berhati-hatilah kau. Jangan sampai kau jatuh cinta padanya. Dia sudah berkeluarga dan kau sendiri yang akan tersakiti nantinya."


Jo menimpuk kepala Patrick dengan koran di dashboard.


BUK


"Aw!" Patrick menggusap kepalanya. "Sana makan siang berdua saja! Aku ada janji dengan pacarku!"


Jo membelalak. "Kau punya pacar? Psstt...hahahaha.."


"Haha. Jangan mengejekku! Aku selangkah lebih maju darimu! Hari ini adalah pertemuan pertamaku dengannya."


"Pantas saja kau tampan hari ini. Dari mana kau mendapatkannya?"


"Dari Tinder!"


Jo tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha..."


Setelah percakapan dengan Patrick selesai, Jo mulai menelaah lebih dalam perkataan sahabatnya barusan. Jangan sampai kau jatuh cinta padanya. Dia sudah berkeluarga dan kau sendiri yang akan tersakiti nantinya.


Apa yang dikatakan Patrick benar. Tapi tenang saja, perasaanku ini dapat dikendalikan. Ucap Jo dalam hati.


***


Restoran Perancis itu berada di gedung tinggi di lantai 17. Restoran Perancis yang hanya kalangan berdasi dan sosialita yang mampu makan mewah dengan menu khas Perancis di sana.


Javier sudah menunggu di meja paling pojok di samping jendela dengan view pemandangan kota Philadelphia. Seorang wanita menjadi pusat perhatian saat masuk ke restoran.


Bagimana tidak? Hampir semua pengunjung memakai stelan jas dan baju formal, hanya wanita itu yang memakai T-shirt dan celana jeans robek di bagian lutut dan paha membuat kulit lutut dan pahanya sedikit terlihat. Rambut cokelat panjang bergelombangnya dia biarkan tergerai.


Javier tersenyum melihat kedatangan Jo.


"Hai. Mungkin lain kali, kau jangan mengajakku ke restoran seperti ini saat jadwalku mengantar sayuran," kata Jo saat tiba di hadapan meja dimana Javier berada.


Jo duduk dan tak lama setelah itu seorang pelayan datang dengan membawa menu. Semua menunya berbahasa Perancis yang tak dimengerti oleh Jo.


"Um.. aku ingin pasta," ucap Jo yang langsung mendapat lirikan dari Javier dan pelayan. "Apa.. di restoran Perancis tidak ada pasta?"


"Tentu Nona. Pasta seafood adalah menu signature kami," sahut pelayan laki-laki berwajah khas Eropa.


"Good. Aku pesan itu!"


"Anda Tuan?"


"Bawakan aku pesanan yang sama!" ucap Javier sambil tersenyum pada Jo.


Ohh sudah hentikan senyuman mematikan itu! Aku tidak akan mampu menahan diri! Teriak Jo dalam hati.


"Kau sendiri? Bukannya setiap mengantar sayuran kau selalu bersama Patrick?" tanya Javier.


"Dia ada janji dengan pacar yang baru didapatkannya dari Tinder."


Javier terkekeh. "Kenapa kau tidak melakukan hal yang sama dengannya?"


"Mencari pasangan melalui aplikasi? Oh maaf, aku tidak seputus asa itu."


"Hahaha.. Kau lucu sekali Jo. Setiap lelaki suka dengan gadis yang memiliki sense of humor."


"Benarkah?"


Tak lama pelayan datang dengan menu yang telah dipesan dan segelas air putih dan segelas wine merah. Mereka berdua pun mulai menyantap makanannya.


"Oh ya, aku mendapatkan kontrak baru selain dengan Pizza Planet," kata Jo di sela-sela makan.


"Bagus. Tak lama lagi kau akan menjadi pebisnis hebat."


"Haha.."


"Restoran mana lagi yang bekerja sama denganmu?"


"Bukan restoran, tapi club malam."


Javier mengernyitkan dahinya. "Apa di club malam ada menu salad?"


"Aneh kan? Tapi katanya dia ingin menambahkan menu seperti taco dan burito sebagai camilan pendamping minuman."


"Apa nama Club malam itu?"


"Lux. Akhir pekan nanti aku diundang untuk datang ke sana."


"Undangan apa?"


"Pemiliknya mengadakan pesta ulang tahun dan aku diundang ke sana."


"Siapa nama pemiliknya?"


"Steve. Dia sepertinya lelaki yang mudah bergaul dan gampang diajak bicara. Aku nyaman berinteraksi dengannya."


Javier menggeretakkan giginya. Dia merasa tidak suka mendengarnya.


Drrt Drrtt


Ponsel Javier bergetar dan terlihat nama Mary di layar. Sesaat dia melirik Jo, lalu dia mengangkat teleponnya dengan menyenderkan tubuhnya ke badan kursi.


"Ya?"


"Apa kau menghubungi redaksi majalah yang meliputku?" tanya Mary dari dalam sambungan telepon.


"Ya. Aku menyuruh mereka menyensor wajah anak kita."


Mendengar kata 'anak kita' Jo dapat menyimpulkan bahwa yang menelpon Javier saat ini tak lain adalah istrinya. Dia segera meminum air putih di samping kanannya. Entah kenapa tenggorokkannya terasa sangat kering.


Jo! Sadarlah! Kau tidak boleh mencintai Javier! Dia milik orang lain!


Kata-kata itu selalu dia camkan dalam hatinya.


Javier selesai menelpon bertepatan dengan habisnya makanan di piring Jo.


"Apa terjadi sesuatu soal Ivy?" tanya Jo basa-basi.


"Ya.. selalu terjadi masalah di antara kami soal Ivy."


"Apa Ivy baik-baik saja?"


"Ya dia baik. Hari ini adalah hari pertamanya dia masuk preschool."


"Kalau begitu," Jo merogoh sesuatu di tas pinggangnya. "Ini hadiah untuk Ivy."


Pensil berwarna pink dengan hiasan kupu-kupu yang dapat menyala di ujungnya.


"Tidak mahal sih.."


"No, Ivy pasti menyukainya."


Ivy membutuhkan perhatian kecil tapi tulus seperti yang Jo berikan. Pikir Javier dalam hati.


♧♧♧


Jo