Cause I'M Yours

Cause I'M Yours
Bonus Chapter



Jo menghirup angin laut di pagi hari. Kakinya yang tanpa alas membuatnya dapat merasakan pasir di permukaan kulit telapak kakinya. Deruan ombak terdengar nyaring berirama. Jo memakai kacamata hitamnya lalu mulai berjalan mendekati lautan untuk merasakan air laut menyentuh kakinya.


Jo menunduk dan menatap air laut terasa dingin di kakinya. Dia tidak dapat melihat kakinya dengan jelas karena terhalang perutnya yang membuncit. Saat menunduk, dia merasakan kedua tangan memeluknya dari belakang. Tangan itu akhirnya mengelus perut Jo dan Jo merasakan pergerakan dari dalam perutnya.


“Dia senang disentuh oleh ayahnya,” kata Jo, lalu menoleh pada seseorang di belakangnya.


Javier tersenyum manis. Dia merasakan kebahagiaan berkali-kali lipat, melihat Jo mengandung buah cintanya. Usia kandungan Jo sudah menginjak usia ke tujuh bulan. Saat ini mereka sedang menikmati babymoon agar Jo tidak terlalu stress menghadapi kelahiran yang tak akan lama lagi.


"Nama apa yang akan kau berikan padanya nanti?" tanya Jo sambil meletakkan kedua telapak tangannya pada punggung tangan Javier yang tengah mengelus perutnya. .


Javier mengernyitkan dahinya. "Um.. jika perempuan, bagaimana kalau  Adaline? Adaline Michelle Thompson."


Jo merasakan nama itu tidak asing baginya. "Wait, bukankah Adaline itu nama ibumu dan Michelle adalah nama ibuku?"


"Ya, nama yang indah bukan?"


Jo terkekeh. "Mhm... jika laki-laki?"


"Reagan Joseph Thompson," ucap Javier menggambungkan nama dari ayahnya Reagan dan ayah Jo, Joseph.


"Aku tidak sabar menunggu kelahirannya. Dia akan menjadi anak yang hebat seperti ayahnya."


Javier mencium puncak kepala Jo. "Dan menjadi anak yang mempesona seperti ibunya."


Jo tersenyum. "Apa Ivy akan menyayanginya?"


"Dia akan saaaangat menyayanginya. Ivy akan menjadi kakak yang sangat menjaga adik kecilnya."


Jo mengangguk setuju. "Menikah denganmu, aku langsung punya dua orang anak."


"Hahaha... kau sangat beruntung mendapatkanku!"


Jo berbalik menghadap Javier yang kini menjadi suaminya. Javier hanya memakai celana pendek tanpa atasan. Sebuah luka yang sudah lama berbekas di dadanya. Jo membelai bekas luka itu, lalu memeluk suaminya dengan penuh rasa cinta dan lega. Peristiwa dua tahun lalu tidak akan pernah dia lupakan.


***


Dua tahun lalu, ruang operasi Philadelphia Hospital.


“Dokter, jantungnya melemah!” seru perawat yang berjaga di hadapan layar monitor pendeteksi detak jantung.


Perawat yang lain segera mengambil defibrillator untuk mengalirkan listrik pada jantung Javier agar detak jantungnya kembali normal.


“Satu!”


Deg! Tubuh Javier terpental ketika defibrillator ditempelkan ke dadanya.


“Dua!”


Deg!


“Tiga!”


Deg!


Tiiiiiittt.


Terdengar suara nyaring dari salah satu alat medis di ruangan itu dan layar monitor menunjukkan garis lurus.


Di luar ruang operasi, Jo duduk dengan mata terpejam namun air matanya masih terus mengalir.


“Ya Tuhan, selamatkan Javier. Selamatkan cintaku. Tuhan selamatkan dia. Aku tidak bisa hidup tanpanya,” gumam Jo berkali-kali dengan kedua telapak tangan dilipat dan ditempelkan di dadanya.


Tiit Tiit


“Dokter, detak jantungnya kembali!” seru perawat yang memantau monitor detak jantung di ruang operasi.


Dokter pun segera membuat Javier kembali stabil kemudian menutup luka dan mengakhiri operasi.


Seseorang berlari menghampiri Tom, lalu membisikkan sesuatu pada Tom.


“Penembak itu sudah ditangkap polisi. Dia dibayar oleh pesaing Tuan Javier di pemilihan gubernur,” bisiknya.


Tom pun mengangguk. “Pastikan mereka semua mendapatkan ganjaran yang setimpal!”


Pintu ruang operasi terbuka dan dokter pun keluar dari ruangan. Tom dan Jo segera berlari mendekati dokter.


“Dokter bagaimana?” tanya Tom.


Dokter itu membuka maskernya. “Tadi kami hampir kehilangannya, tapi sekarang dia sudah kembali stabil. Sepertinya dia memiliki motivasi yang kuat untuk hidup.”


Jo dan Tom pun menghela nafas panjang dan merasakan kelegaan yang luar biasa.


***


Javier sudah tersadar dan Jo selalu ada di sampingnya selama dua hari dia tak sadarkan diri pasca operasi. Javier mengelus rambut Jo. Wanita itu tidur di pinggiran kasurnya. Jo yang merasakan belaian di rambutnya, segera bangun.


"Sayang," ucap Jo, lalu mennggenggam tangan Javier.


"Aku senang mendengar sebutan itu," ucap Javier pelan.


Jo tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Segera setelah itu, Jo memanggil dokter untuk memastikan bahwa Javier sudah baik-baik saja.


***


Jo duduk di samping Javier sambil terus menggenggam tangannya.


"Kau terlihat sangat kacau," kata Javier.


"Aku takut kehilanganmu," balas Jo.


"Itulah yang aku rasakan saat kau kecelakaan karena menyelmatakan Ivy."


"Kini aku pun merasakannya. Kau membalasku dengan kejam!"


Javier tertawa kecil mendengarnya. "Aku ingin menikahimu secepatnya."


Jo menggeleng. "Aku ingin kau pulih seratus persen dulu, lalu kita bicarakan soal itu."


Javier mengangguk. "Bagaimana dengan Ivy?"


"Dia bersama Mary. Ivy baik-baik saja bersama ibunya."


"Syukurlah,"


***


Sore itu adalah sore yang paling indah yang pernah Jo dan Javier rasakan. Angin laut berhembus lembut, deruan ombak yang terdengar dari kajauhan dan matahari berwarna jingga menerangi. Di sebuah resort yang terletak di bibir pantai  Maldives, semua orang-orang terdekat Jo dan Javier sudah berkumpul.


Tom bersama Elena, Marry, Nany, Patrick dan Daniel yang ternyata bersedia hadir di acara pernikahan Jo dan Javier. Beberapa orang temannya dari Green Peace Australia pun ikut hadir di sana. Tak banyak tamu di acara itu sehingga membuat suasana terasa begitu sakral dan suci.


Javier berdiri di depan penghulu di altar pernikahan. Tak lama, Javier berbalik dan semua mata tertuju pada Ivy yang memakai gaun putih berjalan di depan sambil menebarkan kelopak bunga di sepanjang karpet merah. Jo berjalan di belakangnya dengan mengenakan gaun putih sederhana dan anggun dengan wajah yang tertutup tudung transparan.


Setelah sampai di depan altar, Ivy lalu berlari ke kursi dimana ibunya berada. Javier mengulurkan tangannya dan Jo meraih tangan itu untuk naik ke atas altar. Penghulu pun memulai acara. Tudung penutup wajah Jo sudah Javier buka.


“Aku memilihmu, Joana March, menjadi istriku untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama lamanya,” ucap Javier dengan pasti sambil menatap kedua mata pasangannya.


“Aku memilihmu, Javier Thompson, menjadi suamiku untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya,” balas Jo dengan pasti sambil menatap kedua mata suaminya.


“Sekarang, kalian sudah resmi menjadi sepasang suami-istri. Tuan, kau boleh mencium pengantinmu,” ucap penghulu.


Javier pun langsung mencium bibir Jo dengan penuh cinta. Semua tamu undangan bertepuk tangan bahagia melihat pemandangan indah itu.


Prok! Prok! Prok!


Elena bertepuk tangan sambil menghapus air mata di sudut matanya. Tom meliriknya, lalu melingkarkan sebelah lengannya pada bahu Elena.


Javier dan Jo selesai berciuman, mereka berdua bertatapan kemudian saling berpelukan satu sama lain dengan perasaan luar biasa bahagia.


“Aku mencintaimu, suamiku,” ucap Jo dalam pelukan.


“Aku mencintaimu, istriku,” balas Javier tanpa melepaskan pelukannya.


_Selesai_


Kali ini bener-bener selesai ya, Gaes! Muach ;*