Cause I'M Yours

Cause I'M Yours
Taman Bermain



Javier mengemudikan mobilnya dengan Ivy yang duduk di sampingnya.


"Daddy, hari ini kita mau ke mana?" tanya Ivy.


"Ke tempat yang paling kau sukai di Philadelphia ini," jawab Javier.


Ivy mengernyitkan dahinya dan mencoba berfikir. "Kebun binatang?"


"No no." Javier menggeleng.


"McD?"


Javier langsung menatap tajam putrinya sekilas. "Dari mana kau tahu McD?"


"Sepulang sekolah, Nany kadang-kadang mengajakku makan siang di sana!" jawab Ivy dengan penuh semangat. "Di sana aku makan burger yang enak dan ada tempat bermain!"


"Jangan sering-sering ke sana! Itu makanan tidak sehat!" omel Javier.


Ivy mengkerut. "Bagaimana mungkin makanan seenak itu disebut makanan tidak sehat?"


Javier menghela nafas sambil menggeleng. Dia harus mengingatkan Nany agar tidak terlalu sering mengajak Ivy makan makanan cepat saji.


Tak lama, mereka sampai di satu-satunya taman bermain termegah di Philadelphia.


"Taman bermain!" teriak Ivy kegirangan.


"Kau akan bertemu seseorang di sana," ucap Javier.


"Siapa Daddy?"


"Let's go!"


Javier dan Ivy sudah keluar dari mobilnya dan mereka berjalan masuk menuju taman bermain. Taman bermain di hari Minggu sangatlah ramai.


Di depan bianglala, seseorang bercelana jeans pendek dan kaos hitam dengan bandana telinga Minnie Mouse sudah menunggu kedatangan mereka.


"Akh! Jo!" teriak Ivy lalu segera melepaskan genggaman tangannya dari ayahnya dan berlari menghampiri Jo.


Jo jongkok dan menerima pelukan hangat dari Ivy dengan bahagia. "Hai, Princess! Lama tak bertemu, sekarang kau sudah lebih tinggi dari bayanganku!"


Ivy terkekeh menerima gelitikan kecil dari Jo. "Stop it! Hahaha!"


Jo menghentikan gelitikannya bersamaan dengan Javier yang sudah ada di hadapan mereka berdua. Ivy menatap telinga Minnie Mouse di kepala Jo. "Wow! Kau jadi Minnie Mouse!"


"Kau mau berubah sepertiku?" tawar Jo yang langsung dijawab dengan anggukan kepala Ivy. Dia merogoh tas karton di sampingnya dan mengeluarkan sebuah mahkota dan sayap peri.


"Dengan ini, kau akan menjadi seorang putri peri!" seru Jo sambil memasangkan mahkota dan sayap peri pada Ivy.


"Hore!!" Ivy berlarian sambil memutari Jo dan Javier dengan bahagia.


Jo berdiri lalu menatap Javier yang sedari tadi tersenyum takjub melihat bagaimana Jo memperlakukan putri kesayangannya. Jo merogoh sesuatu dalam tas kartonnya dan mengeluarkan bandana Mickey Mouse.


"Kau mau memakainya?" tanya Jo.


Javier menatap bandana itu dengan tatapan horornya.


"Pakai Daddy! Pakai!" teriak Ivy.


Javier tak dapat menolak jika Ivy yang menginginkannya. Dengan berat hati, dia pun memakai bandana Mickey Mouse di kepalanya. Jo dan Ivy tertawa serentak.


"Hahahaha..!"


"Let's go!" seru Jo, lalu menggandeng tangan Ivy.


Pada akhirnya, Javier menerima dengan pasrah dan memakai bandana itu. Mereka bertiga menikmati area permainan satu per satu. Mulai dari bianglala, komedi putar, rumah hantu, sampai bermain basah-basahan di permainan arum jeram.


"Yeaaayy!!!" teriak Ivy dan Jo saat baju mereka basah.


Javier hanya tersenyum, menahan mulutnya untuk tidak terbuka agar air tidak masuk.


Mereka berjalan keluar arena dengan baju yang basah kuyup.


"Tenang saja, ini pasti akan segera kering. Ayo kita duduk di bangku itu sambil mengeringkan baju!" mereka bertiga duduk di bangku kayu panjang.


Sesaat setelah duduk, Jo berdiri lagi. "Tunggu sebentar!"


Javier dan Ivy menatap kepergian Jo menuju penjual permen kapas.


"Daddy?" kata Ivy.


"Kalau saja Mommy seperti Jo. Pasti akan menyenangkan!" Ivy tertawa kegirangan membayangkan.


Javier tersenyum. Pernyataan polos dari seorang anak kecil itu merupakan suatu perwujudan sebenarnya dari sikap Mary yang tidak memperhatikan Ivy.


"Anggap saja Jo sebagai ibumu. Bagaimana menurutmu?" tawar Javier. Karena sudah sepantasnya kau menganggapnya demikian, Nak.


Ivy cekikikan lalu menggeleng. "No Daddy! Jo terlalu keren!"


Javier terkekeh, lalu mengacak-acak rambut Ivy. Tak lama Jo datang dengan dua permen kapas berwarna pink. Permen kapas itu menggumpal tinggi bagaikan awan.


"Horee!!" teriak Ivy seraya meraih satu permen kapas dari Jo.


Jo menyodorkan permen satunya lagi pada Javier. Sesaat sebelum Javier meraihnya, Jo menariknya kembali dan segera memakannya. Javier menghela nafas sambil terkekeh. Kalau saja tidak ada Ivy, Jo sudah habis oleh Javier.


Baju mereka mulai mengering dan waktu makan siang sudah tiba.


"Saatnya makan siang! Kalian mau makan apa?" tanya Javier.


Ivy dan Jo saling menatap penuh arti, lalu menjawab dengan jawaban yang sama. "Pizza!"


"Wow! Kalian kompak sekali!"


Mereka pun pergi ke food court pizza yang masih dalam area taman bermain. Melihat kedekatan Jo dan Ivy, Javier merasa tenang dan bahagia. Tak ada hal lain lagi yang diinginkannya di dunia ini selain mereka berdua.


Ckrek! Cekrek!


Seorang fotografer bayaran telah memotret momen-momen bahagia mereka dari kejauhan tanpa diketahui oleh Javier. Foto-foto itu akan dibayar sangat mahal oleh majikannya.


***


Ivy tertidur pulas di jok belakang setelah seharian puas bermain. Javier yang sedang mengemudi menggenggam tangan Jo di sampingnya sambil sesekali mencium punggung tangan wanita itu.


"Terima kasih untuk hari ini," ucap Javier memecah keheningan.


Jo menoleh. "Untuk apa?"


"Ivy sangat bahagia karenamu."


"We had so much fun. Aku tak sabar lagi untuk mendapatkan kesempatan lain bermain bersama Ivy lagi."


Javier tersenyum. "Ya, akan aku rencanakan perjalanan lainnya."


Akhir-akhir ini hujan turun dengan intensitas yang sering dan lebat. Javier menepikan mobilnya di seberang ruko Bibi Ema. Hari masih sore dan matahari belum tenggelam, tapi sudah gelap karena hujan yang deras.


Jo menoleh pada Ivy yang tertidur pulas setelah dia membuka sabuk pengamannya. Setelah menoleh pada Ivy, dia menoleh pada Javier.


"Kau tidak mau masuk dulu?" tawar Jo.


Javier menatap putrinya di jok belakang, lalu menggeleng. "Sepertinya, lain kali saja."


Jo mengangguk. "Ya, dan kemarin kau baru saja ke sini. Akan mencurigakan jika kau terlihat terlalu sering."


Javier mengernyitkan dahinya, merasa tidak suka dengan nada bicara Jo. "Hei.. jangan begitu. Jalanilah hubungan ini senormal mungkin. Aku tidak suka kau terlalu ketat dalam membatasi hubungan ini."


Jo menggeleng tak habis pikir. "Normal? Aku harus selalu mengontrol hubungan ini agar kau dan keluargamu aman dari gossip."


Pertengkaran seperti ini bukanlah hal baru bagi mereka berdua. Jo yang selalu ketat dan membatasi diri ketika berada di depan publik dan Javier yang cenderung tidak menyukai hal yang ditutup-tutupi. Rasanya sama bagaikan koruptor.


"Hei.. Hei.." Javier menarik Jo agar mendekat dengannya.


Jo menatap Javier meski sudah malas denfan perdebatan. Perdebatan ini akan menghancurkan kebahagiaan yang dia rasakan seharian ini.


"Baiklah, aku mengalah," ucap Javier. "Lakukan apa yang membuatmu tenang."


Javier menempelkan keningnya pada kening kekasihnya. Jo menatap ke bawah dan mengangguk pelan. Setelah anggukan itu, Javier menempelkan bibirnya pada bibir Jo. Jo pun membalas ciuman itu.


Srek...


Dalam tidurnya Ivy bergerak hingga menimbulkan suara, membuat keduanya segera melepaskan bibir yang bertautan. Javier menoleh pada Ivy yang masih terlelap.


"Okay, sampai jumpa!" akhir Jo, seraya keluar dari mobil dengan berlari cepat agar tidak terlalu basah kehujanan.


Setelah Jo masuk ke dalam rumah, barulah Javier memacu kembali mobilnya menuju jalan pulang.


♧♧♧