
Mary segera menelepon pengacaranya untuk membuat surat gugatan cerainya. Langkah ini akan menjadi penebus dosanya terhadap Javier. Mary akhirnya mengerti bagaimana menderitanya Javier selama tujuh tahun bertahan dalam pernikahan yang dipaksakan. Bahkan Mary tidak dapat menahannya selama dua bulan, Javier benar-benar seorang yang penyabar.
Mary duduk di hadapan meja kerja di ruangan Javier. Javier hanya duduk dan tak memandang mata Mary sedikit pun. Mary mengeluarkan berkas dari dalam tasnya, kemudian menyimpannya ke atas meja dengan perlahan. Barulah Javier menatapnya setelah berkas itu mencapai penglihatannya.
“Apa ini?” tanya Javier.
“Aku mengajukan surat gugatan cerai. Aku sudah menandatanganinya, kini tinggal kau yang menandatanganinya,” kata Mary dengan nada bergetar.
Dadanya terasa sesak, detik-detik menuju perpisahannya dengan cinta pertamanya, suami pertamanya atau mungkin satu-satunya. Mary merasa tidak akan sanggup lagi menjalani hubungan pernikahan lainnya karena dia tidak dapat bertahan dalam sebuah komitmen.
“Mary, aku sudah bilang bahwa aku memaafkanmu. Kau tidak usah…”
Belum sempat Javier melanjutkan kalimatnya, Mary sudah menyela. “Jika kau memikirkan Ivy, aku sudah bicara padanya soal ini.”
Javier menggeleng. “Mary, Ivy masih kecil.”
“Tidak Javier,” Mary tersenyum mengingat putri kecilnya. “Dia sudah besar. Ivy sangat dewasa menghadapi ini. Kau pasti bangga padanya.”
Javier menatap Mary yang tersenyum meski matanya berkaca-kaca.
“Aku akan memberikan hak asuhnya padamu. Aku tahu kau dapat menjaganya lebih baik daripada aku,” tambah Mary.
Javier menutup berkas itu dan menggeleng. “Mary, sudahlah. Jangan teruskan ini.”
Air mata Mary jatuh, perlahan dia memegang tangan Javier. “Javier, biarkan aku melakukan sesuatu yang benar, yang tidak pernah aku lakukan selama ini padamu. Kumohon, tandatangani ini.”
Perlahan, Javier meraih ballpointnya dan menandatangani berkas perceraian itu di tempat yang semestinya.
Mary menghapus air matanya kemudian tersenyum. “Terima kasih, Javier.”
Mary berdiri dari kursinya, begitu pun Javier. Javier berjalan memutari mejanya, kemudian memeluk Mary.
“Mary, maafkan aku selama ini,” kata Javier.
“Aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Aku sudah sangat egois selama ini. Aku harap kau bahagia,” Mary merasakan pelukan terakhir dari suami yang tak lama lagi akan sah menjadi mantan suaminya.
“Aku pun ingin kau bahagia.”
Mary melepaskan pelukan Javier, kemudian pergi dari ruangan itu membawa berkas perceraiannya untuk diserahkan kepada pengacaranya. Tak lama lagi, perceraiannya akan sah setelah dua kali persidangan. Mary akan mempermudah segalanya agar Javier terbebas darinya. Inilah persembahan terakhir yang dapat Mary berikan pada mantan suaminya itu. Persembahan terbaik, yang selama tujuh tahun ini tidak pernah dia berikan pada Javier.
***
Javier berdiri bersandar pada pintu mobilnya dan tersenyum menatap Ivy keluar dari gedung sekolahnya. Ivy berjalan santai sambil terus tersenyum menghampiri ayahnya. Ivy sekarang sudah besar, usianya memang masih kecil, 7 tahun.
Tapi entah apa yang telah dilakukan Nany hingga membuat Ivy tumbuh menjadi gadis manis dengan pembawaan yang tenang dan dewasa. Dahulu, Ivy sangat mudah berlari dan memeluk siapa saja, tapi sekarang Ivy sudah dapat membedakan siapa yang berhak mendapatkan pelukan darinya dan siapa yang tidak berhak.
“Kau mau Pizza?” tanya Javier saat Ivy sudah berada di hadapannya.
“Let’s go, Daddy!” seru Ivy bersemangat.
Javier sudah sah menjadi seorang ayah tunggal beberapa bulan yang lalu. Nyatanya, setelah berpisah malah membuat hubungannya dengan Mary berjalan lebih baik daripada saat menikah. Ivy pun terlihat lebih bahagia melihat kedua orangtuanya seperti ini, daripada melihat mereka bersama tapi terkesan berjauhan satu sama lain.
Perjalanan politik Javier? Masih berlanjut dan dukungan semakin berdatangan. Masyarkat dan media lokal sudah tahu soal perceraian Javier dan istrinya. Namun, Mary masih bisa menyempatkan diri untuk hadir di momen-momen tertentu mendampingi Javier, yang malah membuat heran orang-orang saat melihatnya.
Mary tersenyum dan menanggapi pertanyaan dengan tenang. “Perceraian tidak membuatku menghentikan dukunganku pada Javier. Dia adalah lelaki yang baik dan pemimpin yang pantas untuk Pennsylvania.”
Mendapatkan pujian dari mantan istri adalah hal yang dapat membuat simpati masyarakat semakin menggila. Javier digadang-gadang akan menjadi gubernur terpilih pada pemilihan akhir tahun ini. Isu lingkungan pun kembali diangkat oleh Javier. Jo rupanya memberinya dampak besar untuk berkontribusi pada alam.
Di setiap spanduk yang Javier pasang di pelosok desa, dia selalu menanamkan dua bibit pohon di tiangnya. Maka setelah kampanye berakhir dan spanduk kampanyenya dicopot, tanaman yang tumbuh tetap tinggal di sana dan akan terus tumbuh selamanya memberikan manfaat untuk warga di sekitarnya.
***
Sudah lama sekali Jo tidak mendengarkan kabar Javier dari Elena. Bahkan saat Elena membuka obrolan yang menyangkut Javier, Jo selalu menghentikannya. Dia tidak ingin kembali terlena dalam kisah masa lalu. Daniel rupanya masih bertahan dengannya meski Jo tidak pernah memberikan raganya pada Daniel di saat dia menginginkannya.
Pelajaran yang sangat berharga dari hubungannya bersama Javier dahulu adalah jangan pernah menyerahkan tubuhmu pada lelaki yang belum resmi menjadi milikmu. Ketika kau berpisah dengannya, rasanya bagaikan menguliti kulit sendiri—perih dan sulit.
Saat ini, semua volunteer duduk di lobi salah satu hotel berbintang di kota Sydney, Australia. Para volunteer yang biasanya hanya memakai kaos dan celana jeans kini memakai stelan rapi dan gaun malam yang elegan. Malam ini adalah malam perpisahan sesama volunteer dan pengurus yayasan Green Peace Australia karena telah menyelesaikan satu tahun masa bakti pengabdiannya untuk alam di Australia.
Prok! Prok! Prok!
Semua orang bertepuk tangan saat seorang wanita cantik berambut panjang kecokelatan naik ke atas panggung. Wanita itu memakai gaun sederhana berwarna putih. Senyuman yang dia pancarkan membuat siapa saja akan mencintainya pada pandangan pertama.
“Dia adalah Sasha Trump, pemilik yayasan ini,” bisik Maya pada Jo sambil terus bertepuk tangan.
“Setelah satu tahun di sini, akhirnya bertemu juga dengan pemiliknya,” balas Jo terpesona dengan aura positif yang dipancarkannya.
“Apakah itu suaminya?” tanya Lucy sambil mengarahkan pandangannya pada seorang lelaki yang duduk di meja VIP dengan tatapan penuh cinta menatap istrinya naik ke atas panggung.
“Iya, itu suaminya,” jawab Maya.
“Huhu.. so sweet sekali!” Lucy histeris sendiri.
“Selamat malam semua, para volunteer Green Peace Australia dari seluruh penjuru dunia,” ucap Sasha setelah sampai di podium. “Malam ini adalah malam terakhir kita berkumpul bersama dalam program penyelamatan kebakaran hutan di Australia. Tidak terasa satu tahun kalian mengabdikan diri untuk alam dan lingkungan yang membutuhkan. Saya sebagai pendiri yayasan ini merasa terharu dan takjub atas segala semangat yang kalian sumbangkan terhadap alam. Dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan, hutan yang telah gersang karena bencana kebakaran, akan kembali hijau berkat kalian. Berbanggalah, karena kalian telah menjadi pahlawan hutan kami. Dari hati kami yang terdalam, saya ucapkan terim kasih,”
Sasha menutup pidatonya dengan menunduk hormat pada para volunteer sebagai wujud rasa terima kasihnya. Semua audien berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah.
“So, setelah kalian kembali ke Negara kalian masing-masing, apa yang akan kalian lakukan?” tanya Lucy pada teman-temannya yang duduk dalam satu meja bundar.
“Kembali untuk menata hidup yang baru,” jawab Nick.
“Mencari cinta yang baru,” jawab Maya.
“Well, aku pun akan melakukannya!” seru Lucy.
Daniel menatap Jo, kemudian menggenggam tangan Jo. Semua menantikan jawaban dari kedua pasangan ini.
“Apa kalian akan menikah?” tanya Nick, blak-blakan.
***
The Senator who will be the next Governoor.