Cause I'M Yours

Cause I'M Yours
Terbongkar



Jo masih tidak mengerti dengan penculikannya yang hampir empat hari ini. Dia tidak tahu siapa yang menculiknya dan untuk apa serta kenapa dia dibebaskan begitu saja seperti ini.  Kali ini dia kan menunggu mobil yang lewat di


pinggir jalan.


Tak lama sebuah mobil truk datang dan Jo segera melambaikan jempolnya untuk menumpang. Mobil truk itu berhenti dan Jo pun dapat bernafas dengan lega karena malam ini dia bisa pulang.


Jo masuk ke dalam ruko dan Bibi Ema terlihat sedang menyiapkan makan malam di dapur.


“Kau sudah pulang Jo?” tanya Bibi


Ema dengan wajah santai seperti tak terjadi apa-apa. “Duduklah. Bibi sudah


menyiapkan sup ayam.”


Apa? Kenapa ini? Apa bibi tidak


sadar kalau aku hilang selama empat hari?


Meski banyak pertanyaan  di kepalanya, tapi dia tidak mengatakan yang sebenarnya terjadi pada Bibi  Ema. Jo duduk di meja makan dan mulai memakan sup ayam dan roti yang telah Bibi Ema persiapkan. Jo makan dengan lahap. Dia sudah tidak ingat kapan terakhir kali dia makan.


“Pelan-pelan makannya,” ucap Bibi


Ema yang ikut menikmati makan malamnya di samping Jo.


Jo mengangguk dan terus makan.


“Bagaimana dengan bisnismu bersama Tuan Javier?” tanya Bibi Ema.


Jo berhenti menyuap sup. Apa Javier


tahu soal penculikannya dan dia membuat Bibi Ema tidak khawatir?


“Lancar,” ucap Jo membalas pertanyaan Bibi Ema.


“Lain kali, jika ada urusan dengannya. Kau saja yang mendatanginya. Tuan Javier tidak boleh ke desa ini.”


Ada apa ini? Kemana rasa kagum terhadap Javier yang selama ini dimikili Bibi Ema?


“Memangnya kenapa?”


“Kau tidak tahu? Dia telah


mengesahkan pendirian pabrik di kawasan hutan.”


Sup di mangkuknya belum habis, Jo segera pergi dan menuju rumah Elena.


“Hey! Kau baru saja pulang!” teriak Bibi Ema yang sudah tidak didengar keponakannya.


Tok Tok Tok


Elena membuka pintu dan dia terkejut melihat Jo berdiri di hadapannya.


“Ya Tuhan Jo! Kau tidak apa-apa?” Elena segera memeluk Jo.


“Kau tahu aku kenapa?” tanya Jo.


“Kau diculik kan? Tuan Javier datang beberapa hari lalu memberitahuku. Lalu dia menyuruhku untuk bilang pada Bibi Ema bahwa kau pergi karena urusan bisnis supaya Bibi tidak khawatir,” jelas Elena.


Terjawab sudah kenapa Bibi sampai


sesantai itu melihatnya pulang. Jo segera masuk ke dalam rumah Elena.


“Tuan Javier menepati janjinya


membebaskanmu,” kata Elena setelah mereka berdua duduk di sofa.


“Ternyata benar dugaanku! Aku dijadikan senjata untuk melumpuhkan Javier!” kata Jo.


“Apa maksudnya?”


“Aku sama sekali tidak mengenali


para penculik itu dan aku tidak tahu untuk apa aku diculik. Aku tidak memiliki pesaing bisnis sekejam itu. Setelah tahu bahwa Javier tahu soal penculikanku, maka dugaanku benar. Aku diculik sebagai kelemahan Javier.”


Elena mengernyitkan dahinya. “Apakah


itu berarti ada yang tahu soal hubungan kalian selain aku?”


Jo terdiam dan mengangguk.  “Elena, boleh aku meminjam ponselmu?”


“Tentu.”


Elena mengambil ponselnya yang


tergeletak di atas meja kemudian memberikannya pada Jo. Jo pun menekan tombol beberapa nomor dan menelepon.


“Halo?” ucap Jo saat panggilannya tersambung.


“Sayang? Apakah itu kau?” suara Javier


terdengar penuh kekhawatiran.


“Iya ini aku,” mata Jo berkaca-kaca.


Jo mengangguk walau anggukan kepalanya tidak dapat dilihat Javier. “Aku ada di rumah Elena.”


“Baiklah akan kujemput sekarang juga.”


“Tidak. Jangan sekarang. Biar besok aku yang akan ke apartemen,” akhir Jo.


Jo mengembalikan ponsel Elena.


“Kau benar Jo. Sebaiknya Tuan Javier jangan dulu datang ke desa ini.”


“Apa karena pabrik itu?”


Elena mengangguk. “Apakah mungkin


kalau yang menculikmu itu adalah mereka yang ingin pabrik itu berdiri?”


Jo mengernyitkan dahinya. “Aku


tidak punya buktinya.”


“Buktinya, setelah Tuan Javier mengesahkan keputusannya, kau dibebaskan!”


Itu bisa saja benar. Tapi


dipikirannya saat ini adalah siapa orang yang mengetahui soal hubungannya dengan Javier selain mereka sendiri dan Elena.


Sementara Elena tidak mungkin melakukan


hal sekejam itu pada dirinya dan urusan pabrik bukanlah kapasitasnya.


***


Javier terpaksa harus mengganti ban mobilnya terlebih dahulu sebelum dia berangkat menuju apartemen. Taka da yang


dapat membantunya untuk melakukan itu, mau tidak mau dirinya sendirilah yang


melakukannya.


Di bagasi mobilnya tak ada dongkrak yang dia butuhkan untuk mengganti ban mobil. Dia pun masuk ke dalam rumah dan mengambil kunci mobil Mary.


Mary dan Ivy masih asyik dengan kegiatan akhir pekannya di kolam renang. Javier masuk ke dalam mobil Mary dan mencari tombol pembuka bagasi.


Saat di dalam mobil, Javier melihat selembar kertas menjulur di sela-sela pintu dashboard yang tertutup. Javier membuka


dashboard itu dan kertas-kertas jatuh berserakan.


Javier sangat terkejut saat melihat beberapa lembar foto yang ikut terjatuh beserta kertas. Dalam foto itu terlihat potret kemesraannya bersama Jo. Javier meraih foto-foto itu dan tertegun.


“Sejak kapan Mary tahu hubunganku


dengan Jo?” gumam Javier. “Apa mungkin dia yang melakukan penculikan itu?”


Javier sudah akan meledak saat ini. Dia keluar dari mobilnya dengan lembar foto di tangannya. Dia masuk ke dalam rumah dan menghampiri Mary yang sudah beranjak dari kolam renang bersama Ivy.


“Nany!” teriak Javier.


Segera setelah teriakannya terdengar, Nany pun datang.


“Iya Tuan?” tanya Nany yang melihat tuannya sedang dalam mood yang tidak baik.


“Bawa Ivy bermain di kamar,” perintah Javier.


Nany pun segera membawa Ivy ke kamarnya. Mary berdiri dan menghampiri Javier yang terlihat marah. Setelah Ivy dan Nany masuk ke dalam kamar dan Mary berada di hadapannya, Javier pun memperlihatkan foto yang dia temukan dari dalam mobil istrinya. Raut wajah Mary pun berubah masam.


“Sejak kapan kau tahu soal ini?” tanya Javier tegas.


Mary tahu dia tidak bisa mencari-cari alasan lagi. “Sejak aku memutuskan untuk berubah menjadi ibu dan istri yang baik.”


“Apa kau yang merencakan penculikan Jo?”


Mary semakin naik pitam. Di saat permasalahan rumah tangganya yang seharusnya menjadi inti dari pertengkaran ini, Javier malah membicarakan soal Jo.


“Ya!” teiak Mary. “Kenapa, hah? Apa kau akan menjebloskanku ke penjara?”


Javier menutup mulutnya dan giginya bergeretak memendam amarah. “Tindakanmu sudah di luar batas Mary!”


“Silahkan jebloskan aku ke penjara! Pikirkan bagaimana Ivy melihat ibunya di balik jeruji besi!”


Javier kalah telak apabila sudah


menyangkut nama Ivy.  Javier terdiam,


lalu balik badan. Mary mulai mengeluarkan air mata dan berjalan ke hadapan


suaminya.


“Aku mencintaimu sejak dulu Javier! Aku yang merengek pada ayahku agar aku dijodohkan denganmu! Tapi kau tidak


pernah mencintaiku bahkan selama pernikahan ini!” Mary pun akhirnya meluapkan segalanya.


♤♤♤