
“Hai, Javier!” Daniel menghampiri Javier. “Apa yang kau lakukan di sini?”
“Ah… aku membawakan ini,” kata Javier sambil menyodorkan sekotak pizza ukuran besar kesukaan Jo. Dia datang dengan harapan memberikan kejutan untuk Jo, tapi malah sebaliknya.
Jo akhirnya muncul dari balik tubuh Daniel dengan perasaan campur aduk antara rasa bersalah dan malu. Javier menyodorkan kotak pizza itu pada Jo dengan tatapan dingin.
“Terima kasih,” kata Jo sambil menerima pizza.
Daniel merangkul kakak sepupunya itu. “Kemarilah, kita makan pizza itu bersama!”
Dalam hatinya, Jo berharap Javier tidak menerima ajakan itu. Dia ingin menyelesaikan masalahnya satu per satu.
“Baiklah,” jawab Javier menerima ajakan itu.
Jo mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Shit!
Jo mengambil tiga botol bir dalam lemari es kemudian membuka kotak pizza itu di meja depan sofa, lalu duduk di sofa panjang. Daniel dan Javier menghampiri kemudian duduk bersamaan mengapit Jo di sisi kanan dan kiri. Jo kini duduk dengan tidak nyaman di tengah-tengah dua laki-laki yang berurusan dengannya. Daniel tunangannya dan Javier kekasihnya. Membuat Jo ingin meledak.
Jo melirik Javier sambil memberikan isyarat mata yang berarti. “Javier, maafkan aku. Kumohon beri aku waktu untuk menyelesaikan urusanku dengan Daniel.”
Lalu Javier pun membalas dengan isyaratnya yang berarti. “Well, well, setelah aku memergoki kalian berciuman, aku tidak akan pergi dari sini!”
“So, kau sering ke sini dulu?” tanya Daniel pada Javier, membuyarkan Jo dan Javier yang saling melemparkan isyarat.
Javier menatap Jo, lalu tersenyum. “Ya. Aku sering ke sini. Aku punya sebuah villa di desa ini.”
“Oh ya? Rupanya tunanganku ini sudah lebih dulu mengenalmu sebelum aku,” kata Daniel di selingi tawa.
“Ya, tunanganmu sangat mengenalku sebelum dia mengenalmu,” kata Javier seraya meminum birnya.
Jo hanya menatap ke depan, tak melirik kanan dan kirinya sedikit pun sambil terus memakan pizza di tangannya. Javier sepertinya sedang marah padanya.
“Ternyata memang benar, dunia ini sangat sempit!” Daniel meminum birnya. “Apa kau menyukai tunanganku?” tanya Daniel tiba-tiba.
Jo langsung melirik Daniel di samping kirinya.
“Ya, aku menyukai tunanganmu,” jawab Javier yang sontak membuat Jo melirik ke samping kanan dimana dia berada.
Daniel terdiam beberapa saat sampai akhirnya dia tertawa dan Javier pun ikut tertawa.
“Maksudku, siapa yang tidak menyukai gadis seperti Jo,” tambah Javier dengan nada bercanda.
“Ya, aku setuju itu!” sahut Daniel.
Jo menggeleng tak habis pikir dengan kedua kakak beradik yang mempermainkan dirinya saat ini.
Drrt Drrtt
Ponsel Daniel bergetar. Dia pun merogoh sakunya dan panggilan dari Paula masuk. Daniel pun segera keluar menuju balkon untuk mengangkat teleponnya meninggalkan Jo dan Javier.
Jo segera menatap Javier yang masih menatapnya dingin.
“Javier, maafkan aku. Aku tidak menyangka kalau dia akan men…”
Belum sempat Jo melanjutkan kalimatnya, Javier segera menyela. “Kapan kau mengatakan yang sejujurnya pada Daniel?”
“Javier, kumohon beri aku waktu. Aku masih dalam keadaan berduka,” jawab Jo.
Javier menghela nafas, kemudian mengangguk. “Baiklah,” lalu dia mendekat pada Jo.
“Apa?” tanya Jo yang gelagapan saat Javier mendekat.
“Jaga jarakmu dengan Daniel,” bisik Jo.
Andaikan dia tahu bahwa Jo selama ini sangat menjaga dirinya dari Daniel karena Javier, mungkin dia tidak akan mengatakan itu. Ciuman yang didapatkan Daniel, bukan apa-apanya dibandingkan dengan apa yang telah didapatkan Javier dari Jo.
Javier kembali duduk dengan tegak, mengambil pizza dan memakannya. Daniel selesai menelepon dan kembali duduk di samping Jo. Tak lama setelah Daniel kembali duduk, Elena muncul dari pintu dan terkejut melihat Jo duduk di antara dua lelaki tampan yang keduanya memiliki hubungan spesial dengan wanita di tengahnya.
“Hai, Elena! Mau pizza?” tanya Daniel menawari Elena pizza.
“Hahaha,” Elena tertawa renyah.
Jo berkacak pinggang dan menatap Elena dengan malas. “Tertawalah sepuasnya!”
“Ohh Jo, kau sedang ada dalam masalah!” kata Elena setelah menghentikan tawanya.
Jo menatap Elena lekat. “Elena, aku telah kembali berhubungan dengan Javier.”
Elena terperangah dengan mulut dan kedua mata membulat seperti huruf O. “Apa yang kau lakukan Jo? Lalu bagaimana dengan tunanganmu?”
Jo menghela nafas panjang. “Aku lelah membohongi diriku sendiri Elena, aku masih mencintai Javier begitu pun dengan dia.”
“Oke, aku tahu itu. Lalu Daniel?”
Jo menggeleng. “Aku sedang menunggu momen yang tepat untuk membatalkan pertunangan ini. Daniel, dia begitu baik dan aku tidak tahu bagaimana cara bicara padanya,”
“Hm… aku tidak bisa membantumu soal itu. Hanya kau yang tahu jawabannya.” Elena menepuk bahu Jo sebagai bentuk simpatinya.
***
Jo dan Daniel saat ini sedang duduk di kursi kayu panjang di area pemakaman. Sudah lima hari semenjak kepergian Bibi Ema, kini Jo sudah mulai dapat menerima kenyataan bahwa dia sudah benar-benar sebatang kara di
dunia ini.
Suasana di komplek pemakaman memang begitu damai. Pantas saja orang-orang menyebutnya tempat peristirahatan karena memang sebegitu damainya dan siapapun pasti dapat beristirahat dengan tenang di tempat itu.
Jo melirik Daniel di sampingnya. Inilah saat yang tepat.
“Daniel,” kata Jo memulai percakapan.
Daniel menoleh. “Ya?”
“Aku mau mengatakan sesuatu padamu,”
Daniel menangkap ekspresi Jo yang mulai serius. “Katakanlah.”
“Daniel, aku minta maaf padamu. Kau begitu baik padaku dan aku sangat jahat padamu.”
“Apa yang kau lakukan padaku?”
Jo menghela nafasnya. “Aku tidak bisa mencintaimu, Daniel. Kau sangat baik padaku dan aku sangat menyayangimu, tapi aku tidak bisa memberikan cinta sebanyak yang telah kau berikan padaku. Maafkan aku, aku tidak bisa meneruskan pertunangan ini.”
Daniel merubah raut wajahnya menjadi datar, lalu menatap sekeliling. Daniel merasakan kecewa dan sakit. Namun dia berusaha untuk tidak menampakkannya pada Jo saat ini.
Jo menggenggam tangan Daniel. “Daniel, katakanlah sesuatu.”
Baruah Daniel menatap Jo. “Apa kau sungguh ingin membatalkan pertunangan ini?”
Jo menutup matanya, lalu mengangguk. Saat dia kembali membuka mata, dia melihat Daniel menitikan air mata kekecewaan seraya mengambil kembali cincin pertunangan yang dipakai Jo. Melihat Daniel seperti itu, membuat Jo ikut bersedih. Setelah cincinnya terlepas, Jo segera berhamburan memeluk Daniel dan ikut bersedih merasakan pelukan itu untuk yang terakhir kali.
“Maafkan aku Daniel,” bisik Jo. “Maafkan aku karena telah menyakitimu. Aku sungguh tidak ingin kehilanganmu, tapi aku tidak bisa menikah denganmu.”
Daniel membalas pelukan Jo dan membenamkan wajahnya di bahu wanita yang sudah bukan lagi tunangannya itu. Daniel menghentikan air matanya seraya melepaskan pelukan Jo dan mulai tersenyum.
“Aku sudah memprediksi itu. Sebanyak itukah kau mencintai mantan kekasihmu? Sehingga aku tidak bisa membuatmu mencintaiku?” tanya Daniel.
Jo menghapus air matanya dan apa yang dikatakan Daniel benar adanya. Mantan yang dimaksudkan oleh Daniel bukan lain adalah Javier, hanya saja Daniel belum mengetahui itu. “Maafkan aku, Daniel. Kau pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku.”
Daniel menghela nafas panjang. “Baiklah. Lagi pula, aku tidak ingin membuatmu menjalani pernikahan yang tidak bahagia.”
Sebaik itulah sosok Daniel. Sungguh dia berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari Jo.
“Kau akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku Daniel, dan wanita itu akan mencintaimu sebanyak kau mencintainya,” itulah doa yang Jo berikan pada Daniel dari lubuk hatinya yang paling dalam.
***