
Hari ini Javier telah lengser dari jabatannya sebagai senator. Maka dengan begitu, dia pun akan fokus dalam pertarungannya menuju kursi Gubernur. Kantornya sudah berpindah tempat. Bukan lagi di kantor parlemen, melainkan di kantor yang disewa sebagai markas besar tim pemenangan Javier.
“Tom, apa aku ada waktu untuk berlibur? Aku butuh waktu untuk mengistirahatkan pikiranku sebelum mulai kampanye,” tanya Javier pada Tom.
Tom membuka notebooknya dan melihat agenda untuk kegiatan kampanye Javier. Tom mengangguk-anggukan kepalanya. “Bisa Tuan, Anda punya waktu selama seminggu untuk berlibur. Dalam dua minggu ke depan, kita sudah mulai memasukkan berkas pencalonan.”
Javier sumringah. Dia membuka laptopnya dan memesan tiket pesawat penerbangan menuju Sydney, Australia.
“Jo, aku akan mencarimu,” gumam Javier.
***
Daniel sudah memantapkan hatinya untuk menyatakan cintanya pada Jo. Dia bahkan sudah membayangkan dirinya dengan Jo berdiri di altar dan mengucapkan janji suci pernikahan. Daniel berharap Jo akan menjadi pelabuhan terakhirnya. Entah datang dari mana keyakinan itu, tapi begitu dia menatap Jo, dia sudah yakin akan hal itu.
“Hai,” sapa Daniel pada Nick yang sedang duduk di kafetaria sambil menikmati kopi sorenya.
“Hai, Bro!” balas Nick sambil mengacungkan kepalan tangannya.
Daniel membalas kepalan tangan itu dengan kepalan tangannya kemudian duduk di hadapan Nick dengan secangkir Espresso di tangannya.
“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Daniel dengan hati-hati.
“Tentu. Tanyakanlah apa yang ingin kau tanyakan!” Nick bersandar di badan kursi dan duduk dengan santai.
Daniel menatap cincin kawin di jari Nick. “Apa kau sudah menikah?”
Nick merentangkan telapak tangan kirina dan melihat cincin kawin di jari manisnya. “Ya. Aku sudah menikah.”
“Wow, kau diizinkan oleh istrimu untuk berada di Green Peace ini selama satu tahun?”
“Ya. Dia sangat mendukungku melakukan bakti sosial di bidang lingkungan seperti ini. Dia adalah seorang Botani,” jawab Nick dengan tatapan menerawang.
“Kalau begitu kenapa istrimu tidak ikut ke sini? Dia pasti senang,”
Nick menyeruput kopinya. “Dia ikut.”
Daniel mengernyitkan dahinya. “Dia ikut?”
Nick mengeluarkan kalung dari balik kaosnya. Kalung berliontin yang dapat dibuka dan di dalamnya berisi foto istrinya. “Dia ikut bersamaku.”
Melihat foto istrinya Nick, Daniel merasa tidak enak hati telah menanyakan hal itu karena dengan Nick memperlihatkan foto istrinya dan bilang bahwa istrinya bersamanya, maka itu berarti istrinya Nick sudah meninggal
dunia. “I’m so sorry, Nick.”
“Yeah, it’s okay!”
Daniel menyeruput kopinya.
“Dia meninggal enam bulan yang lalu karena meningitis. Aku ke sini karena ini adalah cita-citanya. Maka aku akan mewujudkannya,” kata Nick.
“Kau sangat mencintainya.”
“Sangat.”
Daniel dan Nick terdiam beberapa waktu. Daniel mengagumi kecintaan Nick pada istrinya.
“So, bagaimana rasanya menikah?” tanya Daniel, mengalihkan pembicaraan mengenai mendiang istri Nick.
“Rasanya sangat indah. Kau akan menjadi seseorang yang baru, setelah berstatus menjadi suami dari orang yang kita cintai. Kau akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik demi kebahagiaan istrimu.”
Daniel tersenyum membayangkan dirinya menjadi sosok yang digambarkan Nick.
“Kau berencana untuk menikah?” tanya Nick.
Daniel mengangkat kedua bahunya. “Well, semua orang pasti punya rencana untuk itu kan?”
Daniel terkekeh. “Hahaha.. Oke-oke, sebelum melangkah jauh ke pernikahan, aku akan menyatakan perasaanku dulu padanya. Aku tidak tahu apakah dia memiliki perasaan yang sama padaku atau tidak, but ya aku harus mencobanya.”
“Siapa wanita yang beruntung itu?”
“Coba tebak!”
“Jo?” Nick sudah tahu kedekatan mereka berdua selama berada di Green Peace. Bukan hanya dirinya yang tahu bahkan anggota volunteer yang lainnya pun sudah tahu. Kedekatan Daniel dan Jo sudah bukan rahasia lagi.
Daniel mengangguk. “Bagaimana menurutmu?”
Nick bertepuk tangan tiga kali dengan ketukan yang lambat. “Nice!”
“Aku akan membuat kejutan untuknya. Aku tidak tahu apakah dia suka atau tidak.”
“Hey, dia wanita. Setiap wanita pasti suka kejutan!”
Daniel tertawa. Rencananya, akhir pekan ini dia akan menyatakan perasaannya pada Jo.
***
Javier mendarat d bandara internasional Sydney, Australia. Perasaannya menggebu-gebu begitu dia menginjakkan kakinya di Australia. Dia sudah tidak peduli dengan Mary, yang diingankannya adalah Joana March. Sudah tiga bulan dia menahan diri untuk tetap komitmen dengan pernikahannya. Namun sepertinya Mary sudah menjadi pribadinya yang sebenarnya. Seorang istri yang selalu penuh ambisi dengan pekerjaan ketimbang rumah tangganya.
“Selamat siang,” sapa resepsionis hotel berpapan nama Amanda.
“Selamat siang. Saya sudah memesan untuk tiga hari dua malam atas nama Javier Thompson,” balas Javier dengan senyuman berlesung pipi khas dirinya.
“Baik, sebentar Tuan.” Amanda mengutak-atik komputer di hadapannya.
Tak lama seorang bellboy datang menghampiri dan menerima kunci yang diberikan Amanda.
“Selamat datang di Australia, Tuan Javier Thompson! Bellboy kami akan mengantar ke kamar Anda. ” akhir Amanda.
Javier mengangguk. “Terima kasih.”
“Mari Tuan!” ucap bellboy itu sambil mendorong koper milik Javier.
Javier pun berjalan menyusuri koridor hotel bersama bellboy. Hotel itu terlihat sepi di bulan Februari. Padahal bulan Februari di Australia adalah musim panas, kebalikan dengan Amerika yang masih termasuk musim dingin. Biasanya musim panas adalah musim liburan, tapi hotel itu tidak seramai hotel di musim liburan pada umumnya yang begitu padat pengunjung.
Javier dan bellboy itu masuk ke dalam lift. Keheningan pun terjadi.
“Pertama kali ke Sydney, Tuan?” tanya bellboy itu, memecah keheningan.
Javier mengangguk. “Ya.”
“Anda datang untuk berlibur?”
Javier tersenyum. “Tidak, aku datang untuk mencari seseorang.”
Bellboy itu menangkap senyuman yang muncul di wajah Javier. “Nampaknya seseorang yang spesial,”
Javier terkekeh, tak menjawab lagi. Sampai di lantai 5 mereka pun keluar dari lift dan kembali menyusuri koridor sampai di depan pintu kamar bernomor 505. Bellboy itu membukakan pintu kemudian memasukkan koper Javier. Javier merogoh sakunya dan mengeluarkan lima dolar Australia sebagai tip.
“Terima kasih, Tuan!” ucap bellboy itu seraya memasukkan uang tipnya ke dalam saku. “Semoga pencarian Anda membuahkan hasil.”
Bellboy itu pun keluar dan pintu tertutup. Javier masuk ke dalam kamar hotelnya, kemudian menjatuhkan diri ke atas kasurnya yang empuk. Dia buka ponselnya kemudian membuka galeri dan memandang potret Jo dengannya ketika berkencan di New York. Javier memperbesar wajah Jo yang tersenyum lebar penuh kebahagiaan. Javier ikut tersenyum memadanginya.
“Jo, aku akan membawamu kembali ke pelukanku dan aku tidak akan pernah melepasmu lagi. Sampai kapanpun,” ucap Javier pada layar ponselnya.
Malam ini dia akan beristirahat setelah enam belas jam penerbangan Amerika – Australia. Besok malam dia akan memberi kejutan pada Jo atas kedatangannya ke mes Green Peace.
***