
Cerita pertama.
Di hadapannya adalah Mary, dengan gaun berwarna merah marun dan dandanan elegan seperti biasa. Namun di pikirannya saat ini adalah Jo, mengingat restoran yang dipesan Tom adalah restoran yang pernah Javier pesan untuk makan malam bersama Jo di New York. Javier tidak fokus karena terlalu lelah saat ditelpon oleh Tom untuk mengonfirmasi reservasi restoran yang ia perintahkan. Tom tidak tahu soal kencan pertamanya bersama Jo di New York.
Javier menghela nafas, kemudian meminum wine putihnya dan memotong tenderloin di atas piring.
“Kita harus memanfaatkan waktu luang untuk quality time. Setelah ini, kau akan sibuk untuk kampanye,” kata Mary.
“Hm.. ya,” jawab Javier.
“Bagaimana kalau akhir pekan ini kita ajak Ivy ke pantai?”
Javier menggeleng. “Udara bulan ini masih dingin. Kita bisa ke pantai saat liburan musim panas.”
Mary mengangguk setuju. “Baiklah.”
“Ivy suka bermain di taman bermain,” Javier tersenyum mengingat Ivy dan Jo saat bermain bersama di taman bermain dahulu.
“Kalau begitu, kita ke sana saja! Tidak jauh dari rumah bukan?”
Javier mengangguk.
Sesuai janjinya, hari ini Javier, Mary dan Ivy pergi ke taman bermain.
“Daddy!” Ivy berteriak sambil melambaikan tangannya saat dia menaiki komedi putar bersama ibunya, Mary.
Javier berdiri dan melihat Mary dan Ivy terlihat bahagia menghabiskan waktu bersama. Saat dia melihat penjual permen kapas di kejauhan, bayangan Jo yang memakai bandana telinga Minnie Mouse sedang membeli permen kapas terlihat jelas di matanya. Javier tersenyum saat bayangan itu mendekatinya dan memberinya permen kapas.
“Daddy! Ayo kita bermain air!” teriak Ivy yang telah selesai bermain komedi putar.
Teriakan Ivy membuyarkan lamunannya tentang Jo. Mary menautkan tangannya ke lengan suaminya dan berjalan mengikuti kemana Ivy pergi.
"Makan siang nanti kira-kira apa yang enak untuk dimakan dan Ivy suka?" tanya Mary pada Javier.
Javier tersenyum dan tatapannya menerawang. "Pizza."
Javier berjanji tidak akan melupakan Jo yang sudah membuat hidupnya semakin berwarna. Jo sudah menjadi bagian dari dirinya meski ia tidak dapat dimiliki. Cintanya terhadap Jo akan selalu berada di tempat yang semestinya di dalam hatinya.
***
Cerita kedua
Jo turun dari lantai empat bersama Maya dan Lucy untuk sarapan di kafetaria. Di bawah tangga, Daniel sudah menunggu. Maya dan Lucy tertawa kecil menggoda Jo, kemudian mereka pergi lebih dulu untuk membiarkan Jo dan Daniel bersama.
“Hey,” sapa Jo membalas senyuman selamat pagi dari Daniel.
“Hey, manis!” balas Daniel.
“Haha.. hentikan. Itu terdengar konyol!”
Daniel melingkarkan lengannya ke atas bahu Jo dan mereka pun berjalan bersama menuju kafetaria.
“Can I kiss you?” bisik Daniel saat berjalan menyusuri koridor.
Jo kembali menyerahkan pipinya untuk dicium oleh kekasih barunya itu.
Jo mendongak, kemudian mencium pipi Daniel. Ciuman yang dipaksakan rasanya sungguh aneh. Daniel terus tersenyum setelah mendapat ciuman pertamanya dari kekasih barunya itu meskipun yang dia dapatkan adalah ciuman di pipi. Daniel hanya ingin mengikuti ritme Jo dalam hubungan ini. Jika Jo ingin menjalaninya secara perlahan, maka dia pun akan melakukannya.
“Misi hari ini adalah misi yang tidak terlalu berat. Kita akan menanam satu juta benih pohon oak di lahan yang sudah clear dari api,” kata Liz di kafetaria menggunakan pengeras suara. “Setelah sarapan, persiapkan diri kalian dan kita berangkat.”
Setelah sarapan dan bersiap-siap, semua volunteer pun naik ke dalam mobil jeep dengan kelompoknya masing-masing menuju hutan yang akan mereka tanam benih. Semua volunteer pergi dengan perasaan bahagia sebagai pecinta lingkungan.
Sesampainya di sana, mereka dibagi tim dan setiap tim terdiri dari dua orang. Satu orang bertugas menggali, satu orang lagi bertugas menanam benih. Tentunya, Liz memasangkan Daniel dan Jo sebagai satu tim. Daniel bertugas menggali tanah, Jo bertugas menanam benih. Mereka berdua menikmati kegiatan itu.
“Hutan ini akan kembali lebat dalam lima atau sepuluh tahun ke depan,” kata Daniel. “Aku bangga menjadi bagian dari hijaunya kembali hutan ini.”
Kemudian Jo membayangkan hutan gersang itu menjadi lebat. Tiba-tiba bayangannya melayang menuju hutan di Desa Forks, dimana dalam bayangan itu terdapat dirinya dan Javier berciuman dengan penuh cinta di tengah hutan. Jo pun tersenyum melihat bayangan indah itu.
"Are you okay?"
Lamunannya buyar, dia menatap Daniel dan mengangguk. "I'm fine."
Perlahan hatinya mulai terbuka mendapatkan perhatian dari Daniel, meski bayangan Javier masih tetap membersamainya. Jo tidak akan berusaha sekuat tenaga lagi untuk menghilangkan bayangan Javier dari hidupnya karena semakin dia melupakan, maka semakin kuat bayangan itu bercokol dalam hatinya. Javier adalah sosok terbaik yang telah menjadi bagian dalam hidupnya. Jo akan mencoba mengalihkan rasa cintanya terhadap Javier pada Daniel.
***
Cerita ketiga.
“Kau sedang bahagia?” tanya Alfonso sambil mengelus bahu Mary dengan jemarinya.
Mary sedari tadi tersenyum tiada henti. “Sekarang aku sudah benar-benar menang. Javier menepati janjinya untuk meninggalkan Jo. Aku tidak pernah mendengar lagi soal wanita itu."
Alfonso merasa tidak senang mendengarnya. Bagaimanapun juga dia dan Mary sudah menyatu. Dia mencintai Mary dan mulai merasakan cemburu pada Javier yang memiliki Mary secara sah. Kini dia menyesal telah ikut andil memisahkan Javier dan Jo.
"Apa pabrikmu masih berlanjut di Desa itu?" tanya Mary.
"Tentu. Aku harus mewujudkannya supaya tidak sia-sia. Aku anggap itu sebagai investasi."
Mary beranjak dari tempat tidur dan memunguti pakaiannya satu per satu dari atas lantai lalu masuk ke dalam kamar mandi. Alfonso melilitkan handuk di tubuh bagian bawahnya kemudian berjalan menuju balkon untuk merokok. Disesapnya roko itu dalam-dalam, lalu dia meniupkan asapnya ke udara.
Mary keluar dari kamar mandi sudah dengan pakaian lengkapnya. Di tatapnya wanita yang telah bercinta dengannya itu. Dia tidak habis pikir kenapa Javier tidak mencintai wanita berkelas seperti Mary. Si senator bodoh itu malah mencintai gadis desa yang biasa saja seperti Jo. Dalam hatinya, Alfonso mulai menginginkan Mary untuk menjadi miliknya seutuhnya.
Mary selesai berdandan, kemudian dia berjalan mendekati Alfonso dan mencium pipinya.
“Aku harus pulang,” kata Mary.
Alfonso memegang lengan Mary dan menghentikan langkahnya. “Mary, bolehkah aku meminta sesuatu?”
Mary mengernyitkan dahi. “Apa?”
“Ceraikanlah Javier, kau bahagia bersamaku.”
Mary terdiam beberapa detik kemudian tertawa. “Haha! Alfonso apa kau belum puas dengan apa yang kita lakukan barusan?”
Mary menganggap apa yang dikatakan Alfonso hanyalah bualan. Baru saja dia mendapatkan Javiernya kembali, tidak mungkin dia menceraikannya. Alfonso baginya hanyalah pemuas fantasi liarnya yang selama ini tidak dia dapatkan dari Javier. Mary kembali mencium Alfonso, lalu benar-benar pergi dari kamar hotel itu.
"Kemana pun kau pergi, kau akan selalu kembali padaku, Mary."
***