Cause I'M Yours

Cause I'M Yours
J.J



Pagi ini Jo terbangun dengan perasaan aneh. Perasaan berbunga-bunga layaknya gadis remaja yang jatuh cinta. Dia tahu Javier masih mencintainya dan dia pun sudah mengakui bahwa perasaannya pun masih sama seperti dahulu. Tapi, mereka tidak menjalin hubungan seintim dahulu.


Jo tetap berusaha jaga jarak karena Daniel masih menjadi bahan pertimbangannya. Perasaan berbunga-bunga itu muncul ketika getara-getaran kecil yang dihasilkan saat Jo dan Javier bertemu dan berinteraksi atau bahkan saat mereka saling membayangkan satu sama lain.


Drrtt Drrtt


Ponsel Jo berbunyi dan dia segera mengangkat panggilan telepon dari Meg, ibunya Daniel.


“Halo Nyonya Meg?” kata Jo.


“Oh, jangan panggil aku Nyonya Meg! Panggil saja aku Mom, seperti Daniel memanggilku. Kau sudah menjadi tunangan anakku!” balas Meg dengan nada cerianya.


Jo terkekeh mendengarnya. “Baik, Mom.”


“Apa siang ini kau ada acara?”


Jo mengernyitkan dahinya, kemudian menggeleng. “Tidak.”


“Baiklah kalau begitu, ayo ikut aku ke pengrajin tembikar. Aku ingin membeli tembikar untuk bunga-bunga di balkonku.”


Jo mengangguk. “Baiklah. Aku akan menjemputmu siang nanti.”


Jo pun menghampiri Bibi Ema di meja makan yang siap dengan sarapannya. Bibi Ema terlihat pucat hari ini, tidak secerah biasanya.


“Bi, apa bibi sakit? Ayo kita ke rumah sakit!” ucap Jo, mengkhawatirkan kondisi bibinya.


Bibi Ema menggeleng. “Tidak, apa-apa. Ah, aku sudah semakin tua. Aku hanya butuh istirahat!”


“Bibi yakin?”


Bibi Ema berusaha meyakinkan Jo dengan wajah senyumnya.


“Kalau begitu, hari ini bibi istirahat dan tidak usah membuka kios. Aku ingin bibi berhenti berjualan. Penghasilanku dari rumah kaca sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan kita,”


Bibi Ema terkekeh. “Jika aku tidak membuka kios, lalu apa yang kulakukan?”


“Lakukanlah apa yang bibi suka!”


“Aku suka berjualan di kiosku,” Bibi Ema bersikeras.


Jo menggeleng dan menghela nafas. Sudah berkali-kali Jo membujuk Bibi Ema untuk berhenti berjualan. Tentu saja hasilnya selalu nihil.


“Bi, siang ini aku akan pergi ke rumah Nyonya Meg. Dia memintaku untuk mengantarnya pergi,” kata Jo.


“Baguslah. Kau akan memiliki keluarga baru, kau harus dekat dengan Nyonya Meg dan Tuan Chris. Anggap mereka kedua orangtuamu.”


Jo mengangguk, meski sebenarnya dia belum yakin kalau mereka akan menjadi ibu dan ayah mertua masa depannya. Bibi Ema nampaknya menangkap gelagat meraguukan dari Jo.


Bibi Ema memegang punggung tangan Jo. “Apa kau mencintai Daniel?”


Jo menatap Bibi Ema. “Kenapa bibi bertanya seperti itu?”


“Entahlah, bibi merasa kau tidak memandang Daniel seperti orang yang kau cintai.”


Jo mulai gelagapan menanggapi Bibi Ema yang sepeka itu.  “Tahu dari mana aku tidak memandang Daniel seperti orang yang kucintai?”


“Bibi bisa merasakannya. Matamu berbinar saat memandang seseorang yang kaucintai. Bibi pernah menatap matamu seperti itu,” Bibi Ema memutar bola matanya ke atas seakan tengah berpikir. “Ah ya, saat kau menatap Tuan Javier!” Bibi Ema terkejut sendiri dengan apa yang baru saja dia katakan.


Jo segera bangkit, tak ingin meneruskan percakapan itu. “Aku sudah selesai sarapan! Aku mandi dulu!”


Jo pun segera pergi menuju kamar mandi, sementara Bibi Ema duduk termenung. Bibi Ema mulai membuat kesimpulan dari setiap kejadian yang pernah terjadi sebelum Jo pergi ke Australia. Di saat Javier sering datang ke rumahnya, mencari Jo. Yang membuat Bibi Ema merasa tidak enak hati adalah jika memang kedekatan itu benar maka itu saat Javier masih menjadi milik orang lain.


“Apa benar Jo dan Tuan Javier….” Bibi Ema segera menutup mulutnya sendiri.


***


Jo mengemudikan mobilnya menuju sebuah kawasan yang khusus memproduksi tembikar dari tanah liat bersama Meg yang duduk di sampingnya. Sesampainya di sana, nampaknya kawasan itu sangat ramai hari ini. Bahkan di parkiran pun terdapat mobil dari salah satu channel berita di Philadelphia.


Meg dan Jo turun dari mobil. Meg memakai kacamata hitamnya.


“Sepertinya, ada selebriti yang sedang berkunjung!” kata Meg kemudian berjalan menuju workshop tembikar yang sudah menjadi langganannya.


“Itu Javier!” bisik Meg menunjuk seseorang yang sedang menjadi selebriti di depan kamera. “Apa ini bagian dari kampanye?” gumamnya.


Jo ikut menatap apa yang Meg tatap. Javier dengan kharismanya, tengah berdialog soal masa depan usahanya dengan para pengrajin tembikar. Jo tersenyum melihat Javier yang terlihat begitu menikmati waktu kebersamaannya bersama para warga.


“Tuan, apa kau mau mencoba membuat sesuatu dari tanah liat?” tanya salah satu pengrajin.


Javier mengangguk. “Tentu!”


Meg menuntun Jo untuk masuk dan bertemu dengan pemilik workshop.


“Nyonya Meg!” seru wanita pemilik workshop yang sepertinya seusia dengan Meg.


“Linda!” balas Meg. “Ramai sekali tokomu hari ini.”


“Ah, iya! Tuan Javier Thompson sedang melakukan kunjungan untuk kampanye. Apa kalian mau ikut mengikuti workshop bersama mereka?” tanya Linda.


Meg begitu antusias, lalu menarik Jo untuk ikut. Setelah Jo dan Meg masuk ke dalam area pembuatan tembikar, barulah Javier melihat kedatangan keduanya. Meg segera memberi isyarat pada Javier agar tidak usah menyapa dan bertindaklah selayaknya kepada pengunjung biasa. Javier mengangguk kemudian tersenyum. Matanya tak lupa untuk melirik Jo yang ikut tersenyum padanya.


Jo dan Meg memakai apron yang sama dengan Javier. Lalu duduk di bagian lain di workshop itu namun Jo dan Javier masih dapat saling memandang dari kejauhan. Jo dan Meg dibimbing oleh pemilik workshop sedangkan Javier dibimbing oleh karyawan terbaik di workshop itu. Javier berlatih membuat cangkir teh sedangkan Jo dan Meg membuat mangkuk.


Jo dan Javier merasa begitu bahagia saat menghabiskan waktu bersama di tempat yang sama meski seperti tidak saling mengenal. Sesekali Jo dan Javier saling mencuri pandang dan melempar senyum.  Meg sempat melihat itu dan merasakan sesuatu yang tidak biasa antara Javier dan calon menantunya itu.


Pembuatan tembikar dari tanah liat berakhir setelah satu jam kemudian. Masing-masing dari mereka dapat membawa hasil karyanya pulang. Meg pun mendapatkan vas bunga untuk bunga-bunganya di balkon.


“Mom, aku permisi ke kamar mandi dulu,” bisik Jo pada Meg.


Meg pun mengangguk dan kembali mengobrol dengan Linda.


Jo berjalan terus menuju sebuah lorong sepi yang mengantarkannya pada sebuah pintu bertuliskan toilet. Sebelum Jo masuk ke pintu itu, seseorang memegang lengannya sontak Jo pun berbalik.


“Maaf mengagetkanmu,” kata Javier diselingi dengan senyuman.


“Javier, apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kalau crew televisi mengikutimu?” tanya Jo setengah berbisik.


Javier terkekeh. “Really? Mereka tidak akan mengikutiku ke toilet!”


Eh, benar juga! Jo mengakui kebodohannya.


Javier merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah lingkaran sebesar koin terbuat dari tanah liat. “Aku membuatnya tadi. Ini untukmu.”


Jo menerima koin tanah liat itu dari Javier. Di atasnya, bertuliskan insial J.J yang tak lain adalah inisial nama depan mereka. Joana dan Javier.


Jo tentunya senang mendapatkan koin tanah liat itu dari Javier. “Thank’s.”


Javier tersenyum manis, kemudian pergi dari sana dengan hati yang berbunga-bunga.


Saat Javier keluar dari lorong, dia terhenyak ketika melihat Meg berjalan ke arahnya.


“Javier, apa kau melihat Jo?” tanya Meg.


“Oh, dia masuk ke dalam toilet! Aku baru saja keluar dari toilet saat Jo datang.” Javier menunjuk ke arah pintu toilet itu berada.


Meg mengangguk kemudian.


***


Jo menyetir dengan senyuman yang tidak terlepas dari wajahnya. Meg melirik Jo dan penasaran dengan apa yang calon menantunya itu rasakan.


“Apa yang terjadi?” tanya Meg.


Jo melirik Meg sekilas. “Kenapa Mom?”


“Kau nampaknya seperti sedang bahagia.”


Jo menghentikan senyumannya kemudian berdeham pelan. “Aku senang karena Mom mengajakku ke workshop itu. Aku baru pertama kali membuat kerajinan dari tanah liat dan ternyata itu menyenangkan. Daniel harus mencobanya suatu hari nanti!”


Meg pun akhirnya menerima jawaban dari Jo, meski prasangkanya berkata lain.


***