Cause I'M Yours

Cause I'M Yours
Crazy in Love



Jo segera kembali ke ruang riasnya setelah cincin di jari manisnya melingkar. Pesta belum berakhir, tapi Jo sudah tidak sanggup menahan air matanya.


Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi?


Jo meletakkan telapak tangan kanannya pada dadanya, menahan sesak yang ada.


Jglek!


Pintu terbuka, Jo segera menyeka air matanya, kemudian berbalik.


“Jo,” Javier berjalan mendekat setelah dia menutup kembali pintunya.


Jo mundur sampai punggungnya menempel pada dinding karena Javier terus mendekat. Javier meraup kedua pipi Jo dengan kedua tangannya.


“Hentikan Javier,” ucap Jo, lirih dan air matanya kembali mengalir.


Javier menyeka air mata Jo dengan kedua jempolnya.


“Aku menunggumu selama ini,” mata Javier mulai berkaca-kaca.


Jo menggenggam kedua tangan Javier dengan tangannya, dan cincin pertunangan terlihat jelas melingkar di jemari Jo, menyadarkan Javier bahwa Jo sudah menjadi milik orang lain. Javier kembali merasakan karma karena telah membuat Jo berada di posisi ini di masa lalu. Dahulu Javier yang berstatus sebagai suami orang lain, kini  Jo yang berstatus sebagai tunangan orang lain.


“Hubungan kita sudah berakhir Javier,” ucap Jo menghentikan air matanya.


Perlahan Javier melepaskan tangannya dari Jo, kemudian menggeleng.


“Tidak Jo,”


Jo menatap tak mengerti apa yang Javier maksud.


“Kita sama sekali belum berakhir!” ucap Javier tegas dengan tatapan mata yang mampu menusuk hati siapapun, kemudian menempelkan bibirnya pada bibir yang selama ini dia rindukan.


Javier menyerang Jo dengan ciuman yang begitu kasar, ******* bibirnya dengan penuh tekanan. Saat mulut Jo terbuka untuk mengambil nafas, Javier segera memainkan lidahnya menyusuri satu per satu gigi dan lidah Jo. Javier bagaikan orang gila yang tak dapat mengontrol dirinya sendiri. Dia gila karena cinta.


“Jo, aku mencintaimu,” ucap Javier di sela-sela ciumannya.


Jo tidak membalas ciuman itu namun tidak juga menolak. Jantungnya berdegup kencang, hingga rasanya ingin meledak. Jo meremas rambut Javier dengan jemarinya. Dia semakin terlena dengan ciuman yang Javier berikan. Ciuman yang membuat jantungnya berdebar, yang tidak dia rasakan apabila Daniel yang melakukannya. Jo menarik rambut Javier hingga membuat Javier mendongak untuk melepaskan bibirnya yang bertautan.


“Aku pun mencintaimu, Javier,”  balas Jo pada akhirnya.


Kini Jo mulai membalas ciuman Javier. Hatinya bahagia bukan kepalang. Setelah sekian lama dia menunggu, setelah banyak hal yang dilaluinya selama Jo tidak ada di sisinya, pada akhirnya Jo-lah yang membuatnya mampu melewati itu semua. Jo adalah wanita pertama dan satu-satunya yang mampu memiliki Javier jiwa dan raga.


***


Jo kembali ke area pesta dengan dandanan barunya. Dia berusaha kembali senormal mungkin, seperti sedia kala setelah kejadian di ruang rias tadi.


“Hey, kau dari mana saja?” tanya Daniel, merangkul pinggul Jo.


“Aku merasa tidak enak badan, jadi aku istirahat dulu sejenak,” jawab Jo mencari alasan.


“Kau sakit? Apa kau ingin ke dokter?” Daniel mulai khawatir.


Jo menggeleng. “Tidak, Daniel. Sekarang aku baik-baik saja.”


Daniel mencium puncak kepala Jo singkat kemudian kembali mengikuti rangkaian acara pertunangannya.


Javier datang setelah memperbaiki rambutnya di toilet. Kini dia sudah merasa lebih tenang meski melihat Jo bersama pria lain, karena dia tahu betul bahwa Jo masih miliknya. Namun hal lain kembali menjadi pikirannya.


Bagaimana dengan Daniel?


Dia bahkan tidak memikirkannya saat dia sudah tergila-gila oleh cinta. Saat ini yang ada dalam pikirannya hanyalah kejelasan bahwa cintanya telah kembali.


“Tuan Javier?”


Javier menoleh dan melihat Bibi Ema yang terlihat semakin tua. Javier segera meraih kedua tangan Bibi Ema dan menciumnya sebagai tanda hormat.


“Apa kabarmu Bibi Ema?” tanya Javier.


Javier terkekeh. “Kau pun masih manis seperti dulu.”


“Hahaha… Oh ya, mana istri dan anakmu?” tanya Bibi Ema yang kurang update dalam mengikuti berita politik.


Javier memperlihatkan jemarinya yang sudah tak ada cincin kawin. “Aku dan Mary sudah berpisah. Saat ini Ivy sedang bersama ibunya,”


Bibi Ema menutup mulut dengan telapak tangannya.  “Oh ya ampun! Maafkan aku, aku tidak tahu soal itu.”


“Tidak apa-apa,” Javier menghela nafas panjang. “Takdirku seperti ditulis oleh penulis novel, penuh lika-liku, aku hanya bisa mengikuti alurnya.”


Bibi Ema tertawa mendengarnya, kemudian menatap Jo dan Daniel dari kejauhan yang terlihat bahagia. “Hm… dulu aku ingin Jo memiliki pendamping sepertimu,”


Javier melirik Bibi Ema. Sekaranglah saatnya.


“Aku tidak menyangka kalau bumi sesempit ini, hingga ternyata yang menjadi tunangan Jo adalah saudaramu sendiri,” tambah Bibi Ema.


Javier menatap Daniel dari kejauhan. Wajahnya begitu bahagia, menggandeng tunangannya. Rasa bersalah mulai menyeruak ke dalam dadanya. Namun rasa cintanya masih lebih besar dari rasa bersalahnya.


***


Bruk!


Jo menghempaskan tubuhnya ke atas sofa di rumah Bibi Ema setelah serangkaian pesta pertunangannya berakhir. Malam ini dia akan mendengkur dalam tidurnya karena kelelahan. Bukan hanya fisiknya yang lelah, melainkan batinnya pun lelah karena kembali bertemu dengan Javier. Dan ciuman itu, merusak rencana indahnya hidup bahagia bersama Daniel.


“Jo, apa kau tahu kalau Daniel itu bersaudara dengan Tuan Javier?” tanya Bibi Ema sambil duduk di sofa satunya lagi dengan secangkir air hangat.


Jo menggeleng. “Aku pun baru tahu hari ini. Begitu mengejutkan!”


“Ckckck… Bibi tidak menyangka kalau ternyata Javier sekarang sudah bercerai,” kata Bibi Ema.


Jo terdiam lalu membenarkan posisi duduknya. “Apa?”


“Tadi kami mengobrol. Bibi bertanya kemana istri dan anaknya, dia bilang mereka sudah berpisah. Apa yang terjadi dengan mereka? Apa mungkin Tuan Javier memiliki wanita idaman lain? Atau sebaliknya?”


Jo menatap Bibi Ema yang menerka-nerka. Hebatnya terkaan Bibi Ema 100% benar. Jo segera berdiri dan masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamarnya, Jo segera menelepon Elena untuk memastikan.


“Elena, apa benar Javier dan Mary sudah bercerai?” tanya Jo segera setelah Elena mengucapkan “halo”.


“Iya. Sudah hampir setengah tahun mereka berpisah,” jawab Elena.


“Kenapa kau tidak bilang padaku?”


“Hey! Siapa yang menyuruhku bungkam saat aku hendak membicarakannya?!”


Jo terdiam. Saat itu, Jo memang tidak ingin mendengar apapun soal Javier.


“Bagaimana dengan Ivy?” tanya Jo kemudian.


“Menurut Tom, hak asuhnya Mary serahkan pada Javier, tapi Mary masih bisa menghabiskan waktunya bersama Ivy. Setelah bercerai, mereka menjalin hubungan yang lebih baik daripada saat mereka berstatus suami-istri. Hubungan pertemanan, maksudku. Ivy pun tampak baik-baik saja.”


Jo merasa lega mendengar Ivy baik-baik saja.


“Kenapa kau menanyakan itu? Apa kau dan Javier…”


Belum sempat Elena melengkapi kalimatnya, Jo segera mengucapkan sesuatu. “Elena, stop!”


“Baiklah Jo, jika itu terjadi. Segalanya akan tambah kacau. Bagaimana tidak? Kau sudah resmi menjadi tunangan Daniel!”


Jo mengurut dahinya karena pusing. “Elena, aku sudah lelah. Aku harus istirahat.”


“Baiklah, kalau begitu. Bye!”


Sambungan telepon pun terputus, Jo kembali menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur, meraih selimut untuk menyelimutinya dan memejamkan mata. Pakaian dan make upnya  masih terpasang sempurna. Dia sudah sangat lelah.


***